Apakah Partai Idaman Akan Benar-benar Damai dan Aman?

Oleh Agus Santoso

Sumber: Tulisan Agus Santoso di Facebook Bagian 1 (https://www.facebook.com/groups/1176676065692010/permalink/1243166505709632/) dan Bagian 2 (https://www.facebook.com/groups/1176676065692010/permalink/1251702061522743/)

1 Muharam 1437 H bertepatan Rabu, 14 Oktober 2015 menjadi saksi sejarah dalam perpolitikan Indonesia dimana Raja Dangdut Rhoma Irama mendeklarasikan partai bentukannya yaitu PARTAI IDAMAN (ISLAM DAMAI AMAN) di Tugu Proklamasi Jakarta. Hari itu tepat sehari 42 tahun silam Soneta mengibarkan bendera the voice of moeslem yaitu 13 Oktober 1973. Tidak diragukan lagi perjuangan Rhoma dan Soneta sejak the voice of moslem menjadi misi utama tanpa lelah beliau menyampaikan kebenaran dan memerangi kebatilan melalui nada dan dakwah, tak ternilai dengan harta bahkan jiwa pun jadi pertaruhan.

Politik bagi Bang Haji adalah bagian darah nadinya, sebagai warga negara yang punya hak politik Rhoma telah melabuhkan hak politiknya sejak tahun 1977 dimana saat itu PPP (Partai Persatuan Pembangunan) menjadi pilihannya karena Islam sebagai azas PPP dan ini sesuai dengan panggilan jiwanya untuk ikut andil mensyi’arkan Islam sebagaimana tersurat dalam ratusan syair lagu ciptaannya.

Kalau sekarang Bang Haji mendirikan Partai tentu bukan tanpa sebab, salah satunya karena partai Islam yang ada justru tidak memperkuat umat Islam namun sebaliknya membuat Islam semakin lemah karena terkotak kotak dalam kepentingan pribadi dan golongan. Andai PKB, PPP, PKS, PAN, PBB mau bersatu dan berpolitik demi kemajuan umat Islam, secara khusus demi kemajuan bangsa dan negara barangkali Bang Haji tidak perlu repot repot harus bersusah payah mendirikan partai.

Belum lagi arah bangsa yang semakin tidak jelas, umat Islam yang semakin lama jauh dari pencerminan agama yang Rahmatan Lil’alamin karena terjebak oleh kepentingan duniawi sehingga menyeret beberapa politisi Islam masuk ke jeruji besi. Keadaan ini tentu bagi seorang Rhoma yang telah puluhan tahun malang melintang berpolitik, berdakwah dan berkesenian semakin bertambahnya umur tidak membuatnya semakin mengendur namun justru semakin berapi api.

Beliau pernah di Senayan mewakili utusan golongan dan yang membuat kita merinding disaat rumahnya harus diawasi oleh tentara karena dijadikan markas PPP yang tidak setiap orang berani malakukan hal seperti itu di era Orde Baru. Kalau kemudian Rhoma dianggap mencampuradukkan agama dan politik dengan konsep Partai Idaman yang membawa misi Islam rahmatan lil’alamin barangkali orang tersebut perlu “ngaji” di pesantren agak lama. Atau kalau masih ada yang meragukan keimanan Rhoma ketika kelak masuk dalam lingkaran politik (baca Kekuasaan) karena politik identik dengan cara kotor untuk merebut kekuasaan atau berkuasa, tentu sama dengan menggali kubur bila Rhoma berani berbuat korupsi atau kecurangan lainnya.

Kiranya waktu yang telah berbicara nyata puluhan tahun menguji keimanan dan ketaqwaan seorang Rhoma Irama, dan tidak mudah mampu istiqomah dalam menjalankan syariat Islam sebagaimana tuntunan Allah dan Rasulnya. Hanya Hidayah Allah yang menggerakkan Rhoma Irama sehingga seperti sekarang, dan seharusnya kita patut berbangga mempunyai aset bangsa sekaliber Rhoma Irama yang sejak tahun 70 an sampai detik ini masih juga MAU memikirkan nasib bangsa dan rakyatnya.

Dalam usia mendekati angka 70 masih mampu dan mau puluhan jam menyusuri hutan, sungai, laut, darat dan udara keliling Nusantara hanya untuk menemui umat, berdakwah melalui musik adalah hal yang sangat Luar Biasa yang secara fisik di usia seperti ini banyak yang sudah tidak mampu berjalan, sakit sakitan, pikun, bahkan sudah lunglai tapi bang Haji seperti tidak punya rasa lelah, kobaran api jihadnya tetap terjaga menyala bagai “api nan tak kunjung padam”. Subhanallah.

Apa yang Dicari?

Apa sesungguhnya yang dicari Bang Haji? Ketenaran sudah dicapai, kesuksesan telah digapai, sebagai Raja di dunianya juga tak pernah tergantikan, harta lebih dari cukup bahkan tak sedikit yang disedekahkan. Namun, sebagai pejuang kemanusiaan tak berlebihan bila moto “selama nyawa masih bersatu dengan raga” tak ada kata berhenti berjuang di jalan Allah. Usia tua bukanlah batasan untuk berhenti menyuarakan kebenaran melalui seni yang memang sudah mengakar dalam jiwanya, melalui dakwah yang memang sudah menjadi bagian separo nafasnya.

Berpuluh tahun sejak usia muda beliau ikut membenahi negeri ini melalui seni dan dakwah bahkan jalur politik sudah dilaluinya namun belum juga mencapai titik yang diharapkan. Jeritan hati mayoritas rakyat disuarakan melalui lagu yang cukup pedas dan menyengat Penguasa kala itu sebut saja: Indonesia, Hak Azasi, Pemilu, namun hingga kini cuma sebatas asyik dinikmati hanya lewat gendang telinga tanpa meresap ke dalam relung jiwa, begitu pula kemakmuran yang menjadi “Ruh” terciptanya UUD 1945 dan Pancasila oleh founding fathers hanya terombang ambing di tengah lautan tanpa mampu bersandar di dermaga kehidupan rakyat Indonesia.

Politik adalah media untuk mengatur masyarakat melalui Pemerintahan karena yang berhak mengelola negara adalah Pemerintah. Maka lahirnya Partai Idaman adalah salah satu bentuk usaha anak negeri menjawab tantangan hidup di negeri sendiri. Betapa tidak, Indonesia yang digambarkan sebagai Negeri Zamrud Khatulistiwa dengan sumber daya alam membentang dari wilayah timur sampai ujung barat, belahan hijau terhampar dengan kekayaan laut dan darat yang dikuras tiap hari namun justru pada saat yang sama hutang negara tak kunjung lunas ibarat sebuah rumah tangga kita semakin terperangkap racun rentenir. Subsidi untuk rakyat kecil semakin dikurangi bahkan ada upaya ditiadakan sementara jutaan rakyat miskin semakin tak bertenaga karena tidak punya keterampilan untuk bekerja.

Menjamurnya partai di rra kebebasan ternyata tidak serta merta membuat rakyat sejahtera sebagaimana harapan lahirnya “Reformasi”, justru sebaliknya makin antri di lereng lereng kemiskinan akibat nilai rupiah semakin tak berharga, lapangan kerja semakin sempit biaya hidup semakin mahal sementara kegaduhan politik menambah terseoknya roda pembangunan. Kita diambang krisis kepemimpinan yang seharusnya terlahir dari sebuah partai politik yang bersih dan berwibawa, tentu lahirnya Partai Idaman di antara partai islam sangat didambakan dan menjadi alternatif pilihan karena rakyat butuh pemimpin yang mempunyai sifat siddiq, amanah, tabligh, fathonah dan bukan tidak mungkin terlahir seorang pemimpin besar dari partai ini.

Namun, tidak mudah menjadikan Partai Idaman mampu menjadi partai yang benar benar sesuai dengan harapan Sang Raja, karena pengurus dari tingkat pusat sampai tingkat desa nanti terdiri dari berbagai elemen masyarakat yang tentu berbeda karakter dan sifatnya. Harapan para pecinta Bang Haji dan Soneta adalah semua pengurus Partai Idaman mampu ikhlas berjuang bersama sama menciptakan partai yang bersih dari sarang KKN, berjuang hanya niat beribadah kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa sehingga bermuara pada kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia.

Kelak pasti tak sedikit pula yang menginginkan partai Idaman “mampus” di tengah jalan apalagi andai Partai Idaman ditakdirkan menjadi partai besar yang mampu menyatukan umat Islam. Harapan kita semoga Partai Idaman di isi orang orang amanah yang punya komitmen tinggi menjadikan Partai Idaman sesuai dengan kepanjangannya Islam Damai Aman yang membawa Islam sebagai agama rahmatan lil’alamin bukan orang munafik yang berkedok islam untuk kepentingan pribadi dan golongannya.

Apabila anda salah satu yang dipercaya Bang Haji menjadi pengurus Partai Idaman di tingkat manapun maka anda harus siap berjuang dan harus mampu menjaga nama besar Rhoma Irama, karena beliau menanam kepercayaan dan kejujuran di masyarakat tidak dalam waktu singkat juga dalam syi’ar islam harus bertaruh nyawa bahkan lebih sering bertemu umat dari pada keluarganya.

Akhirnya teriring do’a di Bulan Muharram ini sebagai Tahun Baru Umat Islam bisa diartikan sebagai tonggak sejarah baru bagi Rhoma Irama apalagi di deklarasikan di depan Tugu Proklamasi (Soekarno-Hatta) sebagai tokoh Proklamator bangsa yang membidani lahirnya NKRI, UUD 1945 dan Pancasila, beliau Bismillah berjuang melalui partainya sendiri dalam rangka membentuk karakter bangsa yang Pancasilais dalam bingkai agama yang sesungguhnya yaitu Islam rahmatan lil’alamin (rahmat bagi seluruh alam semesta) semoga Allah menghadirkan Rahmat Nya kepada Rhoma Irama dan jajaran pengurus partainya demi kamakmuran rakyat penghuni negeri Nusantara. Amin.

Bagikan artikel ini:
Share
  • Madu Rizal

    Insha Allah