Berita Seputar Mobil Berplat Nomor “B-1544-AJA”

Berikut saya sajikan tiga buah kliping media berita dari beberapa harian di Jawa Tengah. Coba dicermati keterkaitan antara berita pertama dan dua berita lainnya.

Silakan menganalisis dan mengambil kesimpulan sendiri-sendiri 🙂


3 Terduga Teroris Digulung di Solo: Densus 88 Temukan Bahan Peledak di Mojosongo

Sumber: Solopos, 28-10-2012
URL: http://datacenter.solopos.com/berita.asp?kodehalaman=m01&id=167996

SOLO
Kawasan Mojosongo, Jebres, Solo kembali jadi sasaran penggerebekan Densus 88 Antiteror Mabes Polri. Tiga orang ditangkap, salah satunya pentolan kelompok Harakah Sunni untuk Masyarakat Indonesia (Hasmi).

Mengenai nama mereka, terdapat perbedaan antara yang dirilis Polri dan yang didapat wartawan di Mojosongo. Selain itu, Densus 88 juga meringkus delapan terduga teroris lain di Madiun (Jatim), Bogor (Jabar) dan Jakarta. Total 11 orang ditangkap.

”Ada tiga orang, seorang di antara mereka Abu Hanifah yang ju­ga pimpinan ditangkap di Jl La­wu Timur, Mojosongo, Jebres, Solo,” kata Kadiv Hu­mas Mabes Polri Irjen Pol Suhardi Aliyus dalam jum­pa pers di Mabes Polri, Jakarta, Sabtu (27/10).

Se­lain Abu Hanifah, Densus 88 juga menangkap Harun dan Budiyanto alias Ari alias Ahmadun.

Di Mojosongo, Densus menggeledah dua lokasi. Lokasi pertama adalah rumah milik Bahrun, 70, di RT 005/RW 009, Marengan, Mojosongo. Di tempat itu, selain Densus, petugas Brimob juga mengamankan lokasi. Wartawan dan warga hanya diizinkan mendekat pada jarak 100 meter dari lokasi.

Penggeledahan rumah Bahrun dimulai sekitar pukul 13.00 WIB. Setiap gang yang menuju ke lokasi sasaran dijaga aparat. Ketua RT, ketua RW, lurah dan camat diminta masuk ke lokasi diantar polisi.

Satu jam kemudian terdengar suara ledakan keras, tepatnya pukul 14.08 WIB. Ledakan itu berasal dari bahan peledak aktif yang ditemukan petugas. Ledakan kedua dan terakhir terdengar tak begitu keras pada pukul 14.26 WIB.

Banyak warga bertanya-tanya tentang dua ledakan keras itu. Sekitar 30 menit berlalu, tim Brimob dan Densus keluar dari Gang Lawu Timur IV diikuti empat mobil berpelat nomor hitam. Keempat mobil itu terdiri atas Toyota Kijang Innova warna hitam R 1437 TO, Toyota Avanza warna hitam B 1544 AJA, mobil Elf AB 7843 YE dan mobil boks AD 5473 DF.

Tak seorang pun digelandang tim Densus dari lokasi itu. Warga setempat, Supriyanto, 53, saat dijumpai wartawan, menerangkan kondisi Bahrun sudah tua dan menderita sakit stroke. Selain Bahrun, juga ada seorang pemuda bernama Mustaqbilal, 30. Bujangan itu disebut-sebut warga sebagai alumnus Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo. Pemuda itu dikenal warga sekitar sering me-sweeping pemabuk.

“Mus itu jarang srawung dengan tetangga. Aktivitas keluarga itu tertutup. Banyak pendatang yang main ke rumah itu. Tapi dari mana tak tahu. Dari tiga kelompok di kampung ini, ya kelompok Mus itu yang tak jelas,” ujarnya.

Seorang mantan murid Bahrun yang enggan disebut namanya menerangkan Bahrun adalah pensiunan pegawai Kementerian Agama. Bahrun sering mengajarkan cara salat dan baca Alquran. Langkah Bahrun itu diikuti anaknya, Mustaqbilal. Beberapa warga lain menyatakan pernah ada aktivitas latihan di belakang rumah. Di kebun kosong itu terdapat beberapa sarana latihan fisik, seperti barbel sederhana, tempat keseimbangan dan seterusnya.

Pistol Disita

Lingkungan RT 002/RW 031, Tegal­arum, Mojosongo menjadi sa­sa­ran penggeledahan berikutnya. Perhatian tim Densus tertuju pada lapak sederhana dengan plakat tertulis servis kompor gas. Bangunan berdinding papan dan seng itu milik Harun, 30. Ia menempati tanah milik ayahnya, Paiman, 55. Harun dikenal warga sebagai orang temperamen karena sering marah-marah kepada orang lain.

“Biasanya istri dan seorang anaknya juga ikut di tempat itu. Ia jarang bergaul dengan warga sekitar. Istrinya pernah mengantar anaknya beli makanan ringan ke warung saya. Ia hanya membayar dan pulang. Tapi Harun itu bukan pendatang. Ia asli Tegalmulyo. Cuma alirannya apa saya tak tahu,” jelas Suti, 49, pemilik warung yang berdekatan dengan lokasi penggeledahan.

Warga RT 001/RW 031, Hery, 56, menyebut empat orang yang ditangkap polisi berseragam preman sekitar pukul 10.00 WIB. “Saat itu tak banyak orang. Salah satu dari empat orang itu sempat melarikan diri tapi berhasil ditangkap. Saya tak tahu dibawa ke mana,” paparnya.

Kapolresta Solo, Kombes Pol Asjima’in, saat dijumpai wartawan, menerangkan ada dua lokasi yang digeledah tim Densus dan Polresta Solo. Dia mengatakan di Marengan, Densus menemukan dua bahan peledak aktif dan diledakkan di luar rumah.

Selain itu, lanjut dia, Densus juga menyita pistol Baretta dan bahan bom seperti cairan kimia 10 botol, pupuk urea, kabel dan timbangan. “Semua barang itu milik terduga teroris yang ditangkap di Madiun tadi pagi sekitar pukul 05.00 WIB. Saya tak tahu namanya. Di sekitar lokasi ada tempat olahraga juga. Tidak ada kerusakan dengan dua ledakan itu. Peledakan itu disaksikan lurah, camat dan ketua RT dan RW. Silakan dicek sendiri,” tandas Kapolres.

Di Tegalarum, Kapolres mengungkapkan ada 14 barang bukti yang disita. Sejumlah barang bukti itu di antaranya urea 15 kg, tabung berbentuk pipa besi panjang 15 cm lima buah, belerang 5 kg, bubuk arang 0,5 kg, arang satu karung, satu dus korek api, senapan angin dua unit, pistol mainan dua unit, parang, listrik kejut, mesin bor, regulator, masker multifungsi, blender dan kabel pendek-pendek.

“Barang bukti itu milik Harun yang kini masih diteliti Densus. Soal penangkapan empat orang, itu urusan Densus. Selain barang bukti itu, kami juga menyita sepeda motor Suzuki Thunder warna biru berpelat BH 5872 KT. Motor itu belum dipastikan siapa pemiliknya,” ujarnya yang diamini Lurah Mojosongo Agus Triyono.

Agus juga menyebutkan 14 barang bukti itu saat dimintai konfirmasi Espos. Ia mengaku sudah menerima informasi tentang aktivitas Mustaqbilal di Marengan. Namun soal penangkapan di Tegalarum, Agus menyatakan tidak tahu sebelumnya. – Oleh : (Detik) redaksi@solopos.co.id/ Tri Rahayu


Ngaku Polisi, Main Todong

Sumber: Kedaulatan Rakyat, 29-10-2012
URL: http://krjogja.com/read/148620/ngaku-polisi-main-todong.kr

UNGARAN (KRjogja.com)-
TAP (35) warga Sendangmulyo, Kota Semarang, ditodong pistol orang tak dikenal dan mengaku polisi. Kejadian ini menimpanya saat melintas di Sruwen, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang.

Selain ditodong pistol, korban juga dipukul tepat di ulu hatinya hingga sempoyongan. Saat melapor ke Polres Semarang, Senin (29/10) korban menceritakan dirinya sedang mengemudikan mobil mengantar rombongan keperluan hajatan di Boyolali.

Entah apa sebabnya, ia dihentikan sebuah mobil berpelat nopol Jakarta dan dua orang langsung mendatanginya dan menodongkan pistol. Satu orang lagi, langsung memukulnya. “Saya mendengar salah satunya menyebut bahwa dirinya polisi,” ujar korban TAP yang juga pengurus Lembaga Cegah Kejahatan Indonesia (LCKI) Jawa Tengah di Mapolres Semarang, Senin (29/10).

Ia juga mengatakan dari hasil pantaunya, mobil yang digunakan adalah jenis Daihtasu Avanza nopol B-1544-AJA. Setelah menodong dan memukul, kedua pelaku langsung melanjutkan perjalanan.

Kasat Reskrim Polres Semarang, AKP Agus Puryadi mengatakan pihaknya telah menerima laporan tersebut dan langsung melakukan penelusuran. Pelat mobil pelaku nopol B-1544-AJA tersebut, setelah dicek ke pelayanan satu atap (samsat) Polda Metro Jaya tidak teregister. “Kami akan mengusutnya dan menyelidiki. Nopol mobil yang dicatat korban tidak terdaftar di Samsat TMC Jakarta,” tandas Agus Puryadi. (Sus)


Aktivis LCKI Ditodong dan Dipukuli: Pelaku Ngaku Polisi

Sumber: Suara Merdeka, 30-10-2012
URL: http://www.suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=203627

UNGARAN-
TAP (35), pengurus Lembaga Cegah Kejahatan Indonesia (LCKI) Jateng, Bidang Desk Pertanian, Peternakan, Perikanan, dan Lingkungan Hidup bersama adiknya, AN (30), warga Sendangmulyo, Kota Semarang ditodong orang tak dikenal dengan menggunakan pistol, Minggu (28/10) sore.

Peristiwa itu terjadi saat keduanya melintas di Tengaran, Kabupaten Semarang. Adapun pelaku, diketahui berpakaian sipil. Tidak hanya ditodong dengan pistol, korban juga mendapatkan pukulan di ulu hati dan kepala. Akibatnya, korban mengalami luka lebam dan memar. “Pelaku mengeluarkan pistol dan langsung menodongkan ke arah saya yang saat itu membawa rombongan ibu-ibu hendak pergi kondangan ke Boyolali. Saat bersamaan, rekan pelaku memukul dari arah belakang,” kata TAP kepada wartawan, Senin (29/10).

Mendapatkan perlakukan itu, korban melaporkan kejadian tersebut ke Polres Semarang. Saat melapor, dia sekaligus membawa hasil visum dari Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Kariadi Semarang.

Kepada petugas Polres Semarang, korban mengaku mendengar salah satu pelaku mengatakan, bahwa mereka merupakan anggota polisi. “Salah satu pelaku sempat menyebutkan dirinya anggota polisi yang melakukan pengawalan. Setelah memukul, para pelaku langsung meneruskan perjalanan. Kami sempat memotret kendaraan yang dikendarai pelaku, nopol yang teridentifikasi yakni B-1544-AJA,” katanya.

Terkait peristiwa tersebut, Ketua LCKI Jateng, Adhi Siswanto Wisnu Nugroho meminta polisi mengusut tuntas kasus yang menimpa pengurusnya. “Kami sudah lapor ke Propam Polda Jateng dan Polres Semarang. Yang jelas, LCKI Jawa Tengah akan mengawal kasus ini hingga tuntas,” tegasnya saat dihubungi wartawan.

Dua Saksi

Sementara itu, Kapolres Semarang AKBP IB Putra Narendra melalui Kasat Reskrim Polres Semarang, AKP Agus Puryadi menjelaskan, sampai saat ini, pihaknya telah melakukan pemeriksaan dua orang saksi korban, yakni TAP dan AN. Berdasarkan hasil pelacakan petugas, nomor polisi kendaraan yang digunakan pelaku tidak terdaftar di Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (Samsat) TMC Polda Metro Jaya. “Kedua saksi korban sudah kami periksa, tentang kepemilikan senjata pelaku masih kami telusuri,” jelasnya.

Ditambahkan Kanit I Satuan Reserse dan Kriminal Polres Semarang, Iptu Achmad, untuk melengkapi data penyelidikan, pihaknya berencana akan menggelar prarekonstruksi di TKP, tepatnya di Sruwen, Tengaran. Namun karena kondisi kesehatan korban belum fit, petugas akan menunggu korban sehat. “Senin (29/10) pagi saya menghubungi korban untuk mengajak keduanya menunjukkan lokasi kejadian guna keperluan prarekonstruksi. Hanya saja, korban mengatakan masih pusing dan belum fit.” (H86-64)