Cara Mengikuti Perkembangan Situs/Blog Berplatform WordPress Melalui Umpan RSS

Mengikuti perkembangan artikel sebuah situs WordPress tidak perlu dengan mengunjunginya setiap saat. Sederhananya, Anda dapat memasukkan URL berpola http://alamat-situs/feed pada sebuah aplikasi pembaca RSS. Namun, WordPress memungkinkan Anda untuk memantau hanya bagian-bagian yang Anda minati.

Sebenarnya, di posting kali ini saya hanya ingin memberikan informasi bagaimana cara mengikuti situs web saya ini. Namun, karena situs saya ini dibangun di atas platform WordPress, maka kiranya informasi ini dapat berguna untuk mengikuti semua situs ataupun blog yang juga berplatform WordPress.

Jenis-jenis Situs WordPress

Untuk mengetahui sebuah situs web berjalan dengan platform WordPress, biasanya dengan cara melihat kode sumbernya. Jika di antara tag <HEAD> dan </HEAD> terdapat frase “/wp-content/”, maka sudah dapat dipastikan bahwa situs teserbut dibuat dengan WordPress. Secara umum, kita dapat mengelompokkan situs berplatform WordPress menjadi tiga jenis:

  1. Jenis pertama, adalah situs web yang alamatnya bersubdomain “.wordpress.com” yang dapat dibuat secara gratis melalui http://www.wordpreess.com.
  2. Jenis kedua, adalah situs yang dibuat melalui http://www.wordpreess.com, tetapi pemiliknya membayar ke WordPress.com sehingga mendapatkan domain sendiri dan ditambah berbagai kemudahan.
  3. Jenis ketiga, adalah situs yang dibuat dengan kode sumber yang tersedia di situs http://www.wordpress.org. Di sini WordPress berfungsi sebagai sistem manajemen konten (content management system – CMS). Agar dapat diakses dari Internet, kode-kode sumber tersebut harus diunggah ke server web. Karena itu, situs ini juga dikenal dengan nama “self-hosted WordPress”.

Situs web jenis pertama dan kedua memiliki karakteristik yang hampir sama. Pemilik keduanya sama-sama harus masuk log (login) ke situs WordPress.com untuk mengelola situs. Sedangkan untuk mengelola WordPress jenis yang ketiga, pemiliknya harus login ke situs yang bersangkutan.

Mengikuti Situs WordPress

Ketika berkunjung ke situs WordPress jenis pertama dan kedua, pengguna WordPress.com yang sudah masuk log dapat mengklik tombol “Follow” pada adminbar di layar bagian atas untuk mengikuti perkembangan situs. Namun, ketika mengunjungi situs jenis yang ketiga, biasanya tombol “Follow” tidak tersedia, karena memang secara default tidak ada. Harus ditempuh cara lain untuk dapat mengikuti sebuah self-hosted WordPress.

Yang dimaksudkan dengan mengikuti (bahasa Inggris: follow) sebuah situs web adalah memantau perkembangan artikel situs tanpa harus berkunjung terlebih dahulu ke situs yang sudah diikuti tersebut. Sesuatu yang dapat diandalkan untuk mengikuti sebuah situs adalah sebuah perangkat yang disebut “umpan web” (bahasa Inggris: web feed). Dua jenis umpan web yang terkenal adalah RSS dan Atom. Umpan web yang digunakan di situs-situs berplatform WordPress adalah jenis RSS. RSS sendiri merupakan singkatan dari “Really Simple Syndication”.

Sebagian pemilik situs menyediakan cara untuk berlangganan posting melalui email. Untuk saat ini, saya masih menghindari cara tersebut, karena masih dalam tahap migrasi dari Multiply. Setidaknya sampai akhir tahun ini, saya masih akan menambah isi situs ini dengan banyak posting.

Kategori dan Tag

Pemilik situs berplatform WordPress dapat mengelompokkan posting dalam kategori dan tag. Penggunaan kategori dan tag oleh masing-masing pemilik situs dapat berbeda.

Saya sendiri menggunakan kategori untuk mengelompokkan posting berdasarkan jenis posting. Karena saya merupakan pindahan dari Multiply, maka saya memiliki kategori blog, foto, musik, video, dan lain-lainnya yang saya sesuaikan dengan jenis posting asal saya di Multiply. Sementara, semua posting yang merupakan pindahan dari Multiply, saya memiliki kategori khusus “Pindahan dari Multiply”. Sedangkan tag saya gunakan untuk mengelompokkan posting berdasarkan topik. Misalnya, tag “Soneta Group”, saya pergunakan untuk menandai posting yang terkait dengan Soneta Group.

Permalink

Permalink Posting dan Halaman

WordPress memiliki aturan yang khas untuk pola URL pada posting dan halamannya. WordPress menamakan pola URL ini sebagai permalink (permanent link). Pada dasarnya, permalink untuk posting dan halaman statis pada situs-situs berplatform WordPress terbagi menjadi dua sebagai berikut:

  1. Pola pertama, yaitu permalink yang masih mengandung parameter di dalamnya. Polanya adalah http://alamat-situs/?p=id-posting atau http://alamat-situs/?p=id-halaman.
  2. Pola kedua, yaitu permalink yang sudah dikonfigurasi menjadi tanpa parameter, tergantung selera pemilik website. Permalink jenis ini disebut juga “URL cantik”. Beberapa contoh pola permalink kedua adalah:
    • http://alamat-situs/tahun/bulan/tanggal/nama-posting
    • http://alamat-situs/tahun/bulan/nama-posting
    • http://alamat-situs/archives/id-posting
    • http://alamat-situs/nama-posting

Situs saya ini termasuk yang permalinknya menggunakan pola http://alamat-situs/nama-posting. Sedangkan situs yang bersubdomain wordpress.com, polanya adalah http://alamat-situs/tahun/bulan/tanggal/nama-posting.

Permalink untuk halaman statis (static page) sedikit berbeda dengan posting. Pada halaman statis dikenal adanya halaman induk (parent page). Untuk halaman yang berdiri sendiri, permalinknya adalah http://alamat-situs/nama-halaman. Sedangkan halaman yang menginduk ke halaman lain, permalinknya menjadi http://alamat-situs/nama-halaman-induk/nama-halaman.

Permalink untuk Kategori dan Tag

Permalink dasar untuk menampilkan daftar posting yang termasuk dalam sebuah kategori tertentu pada situs WordPress adalah http://alamat-situs/?cat=id-kategori. Sedangkan untuk menampilkan daftar posting yang termasuk dalam sebuah tag tertentu adalah http://alamat-situs/?tag=nama-tag. Perhatikan bedanya: Permalink kategori menggunakan ID, sementara permalink tag menggunakan nama.

Ketika permalink posting untuk situs sudah dimodifikasi menjadi URL cantik, kategori dapat diakses dengan pola http://alamat-situs/category/nama-kategori. Tidak perlu lagi menyebutkan ID kategori. Sedangkan tagnya berpola http://alamat-situs/tag/nama-tag. Namun, pola ini sebenarnya masih dapat diubah pula oleh pemilik situs. Kalau mau, pemilik situs dapat mengubah permalink kategori menjadi semacam http://alamat-situs/topik/nama-kategori dan permalink tag menjadi http://alamat-situs/kaitan/nama-tag.

Multikategori dan Multitag

Tidak hanya mampu menampilkan daftar posting dalam satu kategori, WordPress juga mampu menampilkan daftar posting dalam beberapa kategori terpilih. Namun, setahu saya, cara ini hanya dapat dilakukan pada situs WordPress yang permalinknya sudah diubah menjadi URL cantik. Caranya, dengan menambahkan tanda “+” di antara kategori-kategori atau tag-tag yang ingin ditampilkan.

Berikut contoh yang saya ambil dari situs saya sendiri:

Pola Umpan RSS

Umpan RSS yang umumnya digunakan adalah umpan yang dapat memantau keseluruhan posting pada situs tersebut. Pola dasar untuk mengakses umpan RSS pada situs WordPress adalah dengan menambahkan parameter feed=rss di belakang alamat situs. Contoh: http://ahmad.web.id/?feed=rss. Untuk situs WordPress yang permalinknya sudah dimodifikasi menjadi URL cantik, dapat diakses dengan pola http://alamat-situs/feed. Contoh: http://ahmad.web.id/feed.

Namun, yang menyenangkan, di website WordPress tersedia pula umpan-umpan parsial yang hanya berlaku pada kategori, tag, atau posting tertentu. Hal ini bermanfaat bagi pengikut situs yang hanya ingin mengikuti topik-topik yang diminatinya saja. Intinya, hampir semua URL yang dapat menampilkan halaman di situs WordPress, dapat pula diambil umpan RSS-nya. Untuk lebih jelasnya, mari perhatikan tabel berikut, yang contohnya diambil dari situs saya ini.

Contoh Topik yang Dipilih URL Umpan RSS
Semua posting http://ahmad.web.id http://ahmad.web.id/feed
Semua komentar Tidak tersedia di situs WordPress. http://ahmad.web.id/comments/feed/
Posting dalam kategori Blog http://ahmad.web.id/category/blog http://ahmad.web.id/category/blog/feed
Posting dan halaman dalam tag Soneta http://ahmad.web.id/tag/soneta http://ahmad.web.id/tag/soneta/feed
Komentar pada posting “Terlalu” Bukan dari Rhoma Irama http://ahmad.web.id/terlalu-bukan-dari-rhoma-irama http://ahmad.web.id/terlalu-bukan-dari-rhoma-irama/feed
Komentar pada halaman Blogroll http://ahmad.web.id/blogroll http://ahmad.web.id/blogroll/feed
Posting dan halaman yang mengandung frase Rhoma Irama http://ahmad.web.id/?s=Rhoma+Irama http://ahmad.web.id/?s=Rhoma+Irama&feed=rss

Cara Menggunakan Umpan RSS

Umpan RSS yang sudah didapatkan dari sebuah situs web dapat digunakan di banyak aplikasi pembaca RSS (RSS reader) baik yang berbasis web maupun nonweb. Penggunaannya pun tidak terbatas pada perangkat komputer (PC), melainkan juga pada perangkat-perangkat mobile seperti smartphone dan tablet.

Di artikel ini saya hanya akan memberikan contoh penggunaannya pada WordPress reader dan Blogger reading list. Cara yang sama dapat diterapkan pada aplikasi RSS reader lainnya.

Penggunaan pada WordPress Reader

Bagi pengguna WordPress.com, WordPress reader adalah perangkat pada situs WordPress.com yang digunakan untuk memantau perkembangan blog yang diikuti. WordPress reader dapat diakses dengan alamat http://wordpress.com/#!/read.

Namun, lebih daripada itu, sebenarnya WordPress reader juga dapat digunakan untuk memantau perkembangan situs web lain yang telah menyediakan umpan web, termasuk situs self-hosted WordPress seperti milik saya ini. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengedit daftar blog yang dikuti. Klik link “Edit List” atau akses http://wordpress.com/#!/read/edit. Masukkan umpan web pada kotak “Enter a blog URL”, lalu klik tombol “Follow”.

Kembali pada contoh di atas, jika kita ingin mengikuti perkembangan posting terbaru yang di dalamnya terdapat kata-kata “Rhoma Irama”, maka yang dimasukkan ke kotak “Enter a blog URL” adalah http://ahmad.web.id/?s=Rhoma+Irama&feed=rss. Hasilnya akan seperti pada gambar di bawah ini.

 

Penggunaan pada Blogger (Blogspot) Reading List

Fungsi reading list pada Blogger (Blogspot) sangat mirip dengan WordPress reader. Alat ini digunakan oleh pengguna Blogspot untuk memantau perkembangan blog sesama blogger.

Untuk menambahkan umpan RSS pada reading list, klik tombol “Add” di bawah judul “Reading list” pada Blogger Dashboard.

Kemudian, masukkan alamat umpan RSS pada kotak “Add from URL”.

Hasilnya nanti akan seperti pada gambar berikut.

URL Situs Saja Belum Tentu Cukup

Ketika dimasukkan alamat halaman web, misalnya http://ahmad.web.id, aplikasi pembaca umpan web biasanya akan mencari sendiri alamat umpan web yang ada. Bila umpan webnya tidak ditemukan, maka situs web tersebut tidak dapat dipantau dengan menggunakan aplikasi pembaca tersebut.

Namun, tak jarang ditemui pula kondisi di mana sebuah halaman web memiliki lebih dari dua alamat umpan web. Bila demikian, biasanya aplikasi akan mengambil umpan web yang lebih dahulu ditemukan. Akibatnya, daftar artikel yang ditampilkan bisa tidak sesuai dengan harapan, manakala umpan web yang diambil tersebut ternyata bukan umpan web utama.

Kondisi semacam itu bisa terjadi pada situs WordPress yang halaman mukanya digantikan dengan sebuah halaman statis. Contohnya adalah situs saya ini. Saya menggunakan halaman “home” sebagai halaman muka, sehingga mengakses http://ahmad.web.id/home akan dialihkan ke http://ahmad.web.id saja.

Ketika kita mengambil umpan http://ahmad.web.id/feed, maka yang ditampilkan adalah semua posting dalam situs. Sementara, kalau yang diambil http://ahmad.web.id/home/feed, maka yang ditampilkan adalah komentar-komentar pada halaman “home” tersebut. Sayangnya, berdasarkan pengalaman menggunakan WordPress reader, http://ahmad.web.id/feed tidak dianggap sebagai default yang seharusnya diambil untuk memantau semua artikel. hasilnya, WordPress reader tidak pernah menampilkan artikel-artikel saya yang terbaru, malah menampilkan perkembangan isian buku tamu.

Dengan demikian, dapat disimpulkan, bahwa untuk mengikuti semua artikel pada situs WordPress tidak cukup hanya dengan memasukkan URL dengan pola http://alamat-situs. melainkan harus selengkap http://alamat-situs/feed.

Bagikan artikel ini:
Share
  • Sipp. Detail banget. Ternyata tidak memang tidak cukup URL-nya saja.

    • Iwan Yuliyanto,

      wahh… lha kok overtypo komenku di atas.
      Ini yg bener: “Ternyata tidak memang …”

      • Iwan Yuliyanto,

        Lho kok gak ngaruh html-nya? Test lagi ah…
        Ini yg bener: “Ternyata tidak memang …”

        • Iwan Yuliyanto,

          Lha emang tadi pake apa, Mas? Harusnya, kalo nggak <strike> ya <s> ‘kan?

          Mungkin lain kali perlu coba-coba dulu di Hello World saya tuh.
          🙂

          • aa_haq,

            awalnya pake [s] tapi gak mucul coretnya, kemudian coba pake [strike] baru bisa muncul, aneh ya.. padahal fungsinya sama 🙂

  • pake reader di wordpress.com pasti tampilnya full entries jadinya rempong di bandwith saya pake aplikasi RSS reader yang disinkronisasi sama google reader

    • anotherorion,

      Daripada Google Reader, sebenarnya saya lebih suka iGoogle. Sayangnya, iGoogle akan berakhir setahun lagi.

      BTW iGoogle lebih manusiawi daripada Multiply. Mau bubar, tapi ngasih tahu ke penggunanya sejak jauuuh-jauh bulan sebelumnya. Pengumumannya kira-kira pertengahan 2012 ini.

  • Pingback: Ahmad Abdul Haq pindah ke http://ahmad.wikiapbn.org/ | Ahmad Abdul Haq()

  • artikelnya sangat membantu bagi pemula seperti saya. terimakasih

  • mantab gan makasih ah nambah nih pengetahuan…

  • Hahaa,ada saja blogger nih..ada juga yang telaten begini yah nulis sampai detil…sippp lah,numpang belajar gaan….semoga terus lancar berbaginya…

    • aa_haq

      Terima kasih, Gan 🙂