Cuti Bersama Adalah Bentuk Egoisme Pejabat Jawa

Artikel ini sebanarnya hanyalah sebuah balasan saya untuk posting saya yang lain tentang cuti bersama. Namun, dalam rangka menyambut cuti bersama setelah libur 1 Muharram mendatang dan agar topik ini lebih mengemuka, ijinkan saya menyajikannya lagi dalam sebuah posting tersendiri.

Cuti bersama pernah diklaim pemerintah bisa membangkitkan sektor pariwisata. Saya sendiri tidak begitu yakin cuti bersama bisa cukup signifikan mendongkrak pariwisata.

Bagi saya, cuti bersama adalah sebentuk egoisme para pekerja dan pejabat di tanah Jawa, terutama di Jakarta, yang menginginkan tetap libur resmi pada hari-hari terjepit nasional.

Di sebuah talkshow TV memang pernah kita saksikan sekelompok pegawai ditanya tentang persetujuannya mengenai cuti bersama Idul Fitri. Ya terang saja mereka setuju, karena mereka terdiri atas pegawai-pegawai Pemerintah DKI yang rata-rata memiliki kampung di Jateng-Jatim. Mereka tidak butuh cukup banyak tabungan cuti tahunan untuk pulang kampung. Biaya mudik pun tidak semahal pegawai asal Jawa yang ditempatkan di luar Jawa.

Cobalah pembuat kebijakan cuti bersama itu mengedarkan kuesioner di kalangan pegawai negeri yang bekerja di remote area. Niscaya akan terdengar jeritan-jeritan. Mereka pekerja perantau itu banyak yang tidak mampu pulang kampung di hari lebaran karena mahal dan sulitnya transportasi. Banyak di antara mereka terpaksa bengong di perantauan. Kalau tidak dipotong cuti bersama, seharusnya mereka bisa memanfaatkan tabungan cuti tahunan untuk pulang kampung di luar musim hari raya yang transportasinya relatif murah dan mudah.

Lihat Pula

Pranala Luar

Bagikan artikel ini:
Share