Inovasi Baru Batik Semarang: Geliat Daerah Menggagapi Identitasnya

Pindahan dari Multiply

Penulis: galeri publik
URL: http://galeripublik.multiply.com/journal/item/11/Batik_Semarangan

Oleh Irma HS


Gambar dari BatikSutikno.com

 PERNAH mendengar sebutan Batik Semarang? Mungkin orang sama sekali tak bisa membayangkan seperti apa tampilan batik semarang  itu. Menyebut sentra-sentra batik yang lain bukan hal yang susah bagi kita. Pekalongan, misalnya, akan membuat kita teringat pada batik gaya pesisiran dengan pengaruh Arab dan Cina yang kental. Atau Cirebon, yang memiliki keterpengaruhan serupa namun dengan variasi  pewarnaan maupun penggarapan yang berbeda. Menyebut Solo, orang akan teringat gaya batik pedalaman dengan warna-warna yang lebih menjurus ke nuansa alam. Banyak sekali untuk menyebut masing-masing daerah yang memiliki ciri khas tersendiri, sesuai dengan kondisi dan potensi yang ada di daerah tersebut.

Diperkirakan di Indonesia ada lebih dari 3000 pola klasik. Semua menyebar di berbagai wilayah Indonesia dengan stilisasi yang beragam. Namun pada intinya kebanyakan batik-batik tradisional yang diproduksi dari berbagai daerah itu memiliki ornamen yang tetap dipertahankan dalam bentuk gambar meru, garuda, tetumbuhan atau pohon hayat, dengan berbagai isen-isen dan cecek sesuai dengan selera dan gaya setempat.

Batik memang tidak lagi hanya memiliki makna filosofis sebagaimana awal-awal pembuatannya dulu kala, namun sejalan dengan perkembangan jaman nilai estetis, ekonomis, juga melangkah beriring. Terlebih lagi kini, orang kembali melirik ke batik karena ia pun punya fungsi rekreatif dan edukatif . Intinya karya batik dan pengerjaannya, sudah menjadi semacam kebutuhan, terlebih kebutuhan untuk mengukuhkan jati diri. Salah satunya adalah Batik semarangan gaya kontemporer yang memiliki motif-motif unik.

Kilas Balik Batik Semarang

Batik Semarang adalah varian dari batik pesisiran, yang sebenarnya bukan pemain baru dalam dunia seni batik. Batik Semarang pernah berjaya pada abad 18-abad 19, karena waktu itu batik Semarang telah dipakai oleh semua kalangan, baik dari kelas bawah, menengah maupun atas. Motif masa itu yang dikuak pada tahun 1980-an– terutama didominasi motif tetumbuhan atau semen yang berasal dari kata semi atau tumbuh dalam bentuk sarung kepala pasung.  Di wilayah lain istilah ini biasa dikenal dengan nama kepala tumpal, pucuk rebung atau sorotan Motif ini didominasi warna cokelat dan hitam  yang menampilkan kesan agung. Uniknya, motif batik semarangan justru diketahui dari hasil repro Los Angeles Country of Art, yang menampakkan motif sarung kepala pasung yang pernah dibuat tahun 1910.

Melihat motif-motif yang ada, telihat sekali pengaruh Belanda, karenanya banyak juga yang menyebut batik-batik Semarang sebagai batik kolonial. Namun sebelum itu awalnya produksi batik kebanyakan didominasi keturunan Tionghoa, dengan batiknya yang bercirikan warna merah, berhiaskan bung-bunga teratai ataupun burung merak. Burung merak ini sebagai pengganti dari burung hong atau phoenix yang menjadi simbol keberutungan dan keabadian bagi masyarakat China. Tapi kemudian tak seorang pun tahu kenapa gaya batik seperi ini tiba-tiba menghilang.

Baru kemudian pada sekitar awal abad 19, sebagaimana disebutkan Rens Heringa dan Harman C. Veldhuisen  dalam buku mereka Fabric of enhancement: Batik From The North Coast of Java, dua  perempuan Belanda mengembangkan batik tulis di Semarang. Mereka adalah  Nyonya Van Oosterom dan Carolina JosephinaVon Franquemont. Dari nama Franquemont itulah barangkali sebutan batik prankemon untuk batik semarangan waktu itu menjadi populer. Batik prankemon bercirikan warna merah dan biru atau  perpaduan di antara keduanya. Nyonya Franquemont menambahkan warna hijau dalam karyanya yang  memperkaya kombinasi warna dalam batik tersebut.

Pada awal abad ke-20, industri  batik di Semarang didominasi oleh perusahaan milik Tan Kong Kien yang beristrikan Raden Ayu Dinartiningsih salah seorang keturunan bangsawan keraton Yogjakarta. Motif-motif yang terlahir waktu itu adalah motif yang merupakan  adaptasi dan akulturasi antara budaya pesisiran yang realis dan terbuka dengan motif keraton yang mengekspresikan peradaban penuh simbolisme, seperti terlihat dalam perpaduan antara ornamen burung merak dengan parang.

Namun kalau dirunut lebih jauh lagi, seperti disebutkan dalam buku Seni Kerajinan Batik Indonesia (1973) tulisan pakar batik dan tekstil S.K. Sewan Susanto, batik Semarang sudah ada  sekitar abad 10 dengan ditemukannya patung Budha Manjusri di daerah Ngemplak, Simongan. Patung itu mengenakan pakaian batik bermotif Liris atau Lereng.

Batik Semarang Kini

Sekalipun pada perkembangan selanjutnya Batik Semarang tidak terlalu menonjol dalam percaturan dunia batik. Kini sebagai dampak positif dari peran media masa yang begitu gencar memberitakan tentang aktivitas berbagai sanggar dan komunitas yang memiliki kepedulian serta keprihatinan akan perkembangan batik sekarang ini, maka batik menjadi sebuah pilihan edukatif dan rekreatif bagi sebagian kalangan masyarakat.

Demikian pula dengan animo masyarakat Semarang yang kembali mencoba untuk menggali potensi dan jatidirinya melalui media batik. Dari kreatifitas para pemerhati batik di Semarang maka lahirlah beberapa motif baru yang mencerminkan karakter dari kota Semarang tersebut. Diantaranya adalah motif motif unik seperti motif yang dinamakan Tugu Muda Kakiteran Sulur. Motif ini menggambarkan Monumen Perang 5 Hari di Semarang pada masa Agresi Belanda I yang dinamakan Tugu Muda. Ornamen Tugu Muda dalam batik ini dilukiskan secara sederhana, namun menjadi semarak karena adanya semen-an berupa sulur-sulur tanaman dan bunga yang menghampar di sekitarnya. Dengan motif ini, orang seakan diingatkan bahwa pernah ada semangat patriotisme masyarakat di Jawa Tengah waktu itu.

Pada motif yang dinamakan Cheng Ho Neng Klenteng, tergambar seorang panglima Cina dengan latar belakang Klenteng yang menjadi lambang dari kehadiran budaya Cina di Semarang. Penerimaan akan kehadiran sesuatu yang asing, justru menciptakan akulturasi budaya yang harmonis.

Motif unik lainnya adalah Blekok Srondol. Blekok adalah burung yang biasa hidup di sawah. Tetapi ada sebuah jalan di kota Semarang di daerah Srondol, Semarang  yang pepohonan di pinggiran jalannya merupakan habitat para blekok itu. Ketidaklaziman seperti inilah yang kerapkali memunculkan ide-ide segar bagi mereka yang kreatif. Sesuatu yang sederhana namun justru bisa menggambarkan  kota Semarang adalah justru motif yang dinamakan dengan “Asam Arang”, karena diduga dari kata asam dan arang (buah asam yang jarang) itulah, sebutan kota Semarang berasal.

Selain motif-motif tersebut di atas, masih banyak lagi karya lain yang bermunculan dengan nama-nama yang tidak kalah uniknya, seunik watak penduduk wilayah Semarang yang terbentuk dari perpaduan antara kota industri dan pelabuhan sekaligus memiliki kontur perbukitan. Akan tetapi  sayang sekali tak disebutkan secara jelas siapa pencipta karya-karya baru gaya semarangan tersebut.

Batik Semarang 16

Salah seorang dari pemerhati dan pekerja batik yang inovatif dalam menciptakan karya-karya batik semarangan  adalah Ibu Umi Sumiyati. Dia banyak mengadakan pelatihan dan mendirikan perusahaan kerajinan batik yang dikenal dengan nama Batik Semarang 16. Ilmu yang dia peroleh dari Museum Tekstil di Jakarta dikembangkannya dan ditularkannya kepada masyarakat sekitar kota Semarang. Dia tidak hanya mengeksplorasi motif Landmark Semarang saja namun juga menggali lebih jauh lagi elemen-elemen dekoratif pada bangunan-bangunan di kota tua tersebut.

Umi tidak sendiri. Dia juga menggandeng lembaga-lembaga lain seperti Universitas Diponegoro dan juga Museum Ronggowarsito (Jawa Tengah).Bersama lembaga-lembaga tersebut dia kerap mengadakan pelatihan membatik untuk anggota karang taruna dan siswa sekolah maupun mahasiswa UNDIP.

Pendorong  Antusiasme Kota-kota Lain

Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap daerah pasti memiliki sentimen primordialisme masing-masing. Mereka ingin tampil beda. Hal itu bisa saja diwujudkan dengan kelatahan dalam menentukan hari jadi kotanya,misalnya. Cara lain adalah  dengan menampilkan potensi daerah itu melalui karya seni yang salah satunya berupa Batik. Fenomena seperti ini memang tidak hanya di Semarang saja yang memang sejak dulunya sudah memiliki tradisi batik meskipun sempat tenggelam oleh perjalanan waktu.

Daerah-daerah yang tidak memiliki tradisi batik pun pada akhirnya ingin unjuk gigi, seperti di Kota Depok Jawa Barat, yang baru-baru ini menyelenggarakan lomba design batik untuk daerahnya. Bahkan Museum Tekstil pun pernah mengadakan lomba serupa untuk menggali penciptaan Batik Betawi. Kala itu peserta lomba kebanyakan mengeksplor ciri khas budaya betawi yang tertuang dalam simbol-simbol seperti Ondel-ondel, Kembang Mayang (kembang kelapa), pagar khas rumah betawi, dan lain-lain.

Ini tentu merupakan fenomena menggembirakan yang menandai bangkitnya kesadaran masyarakat Indonesia akan kekayaan tradisi leluhurnya. Batik sudah sejak dulu mendunia. Akan menjadi dosa kita bersama jika sebagai pemiliknya membiarkan saja harta karun ini tidak digali dan dimanfaatkan untuk masa depan generasi selanjutnya. Jangan hanya bangsa lain yang bisa mengerogoti dan menikmati kekayaan bangsa kita. Siapa kalau bukan kita sendiri yang harus mengembangkan lebih tinggi lagi, apa yang pernah dimiliki oleh para tetua kita.***(ihas)