Kaitkan Kemewahan Istana Erdogan dengan Kehidupan Masyarakat Turki, Kesehatan “Kompas” Dipertanyakan Ferdiand Rahmadya

Sumber: Status Facebook Ferdiand Rahmadya, 22-07-2016

Sekian lama berseliweran di wall, saya tidak tertarik baca artikel Kompas ini[1], karena dari judulnya saja sudah tendensius. Dan saat akhirnya saya “terpaksa” membaca artikel ini, muncul pertanyaan di benak saya….

KOMPAS, KAMU SEHAT?

Mengaitkan kemewahan istana Presiden Turki dengan “kehidupan masyarakat Turki saat ini”, tapi ujug-ujug menyebut penderitaan “pengungsi Suriah” akibat serangan teror dan kekerasan politik.

Apa Kompas tidak tahu kalau Turki dan Suriah itu dua negara yang berbeda?

Apa Turki harus menanggung beban atas serangan teror dan kekerasan politik yang terjadi di Suriah?

Turki adalah negara di dunia yang secara resmi paling banyak menampung pengungsi Suriah, apa itu belum cukup untuk menuai sedikit pujian?

Kemudian Kompas menyebut bahwa kudeta, “walaupun gagal, menjadi bukti betapa tak stabilnya kondisi Turki”.

Apa maksud pernyataan ini selain justru untuk menyalahkan si korban (blaming the victim)?

Bukankah kegagalan kudeta itu hasil dari ketahanan nasional Turki antara kekuatan politik sipil, militer (yang memang punya gen tukang kudeta), dan rakyat yang justru layak dipuji, dan tidak mungkin terjadi tanpa kekuatan kepemimpinan nasionalnya?

Kompas juga mengulas panjang lebar gosip, yang entah dari mana sumbernya, tentang gaya hidup mewah istri Erdogan, padahal di bagian lain artikel ini Kompas menyebut kekayaan Erdogan yang sebesar 2,4 trilyun hasil dari bisnis properti dan saham.

Apakah dengan kekayaan sebesar itu keluarga Erdogan harus pura-pura miskin?

Lucunya, Kompas tidak pernah tertarik mengulas gaya hidup istri seorang presiden di negara anu yang sering tampil dengan tas berharga puluhan atau ratusan juta rupiah di saat suaminya sering berusaha mencitrakan dirinya sebagai seorang yang amat sangat sederhana sekali.

Dan terakhir, Kompas berusaha menampilkan Turki yang miskin dengan menyebut bahwa “dua dari tiga anak di Turki, hidup dalam kemiskinan menurut standar Eropa”. Standar Eropa! Sementara Turki adalah negara yang secara geografis separuh Asia dan separuh Eropa. Dan Eropa adalah benua yang paling banyak negara majunya, dan paling tinggi standar kesejahteraannya.

Kalau memang ingin menunjukkan capaian Erdogan, kenapa Kompas tidak membandingkan kondisi ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Turki sebelum dan sesudah masa pemerintahan Erdogan?

Apa jadinya kalau kesejahteraan masyarakat Indonesia diukur dengan garis kemiskinan Eropa?

Penduduk miskin Indonesia menurut BPS sekitar 30 juta, dengan garis kemiskinan tidak sampai 1 dolar per hari. Kalau dengan garis kemiskinan 1,5 dolar perhari, jumlah penduduk miskin Indonesia sudah terhitung 96 juta atau sekitar 38%. Kalau pakai garis kemiskinan Bank Dunia yang 2 dolar per hari, maka terhitung 49% penduduk Indonesia hidup dalam kemiskinan.

Berapa penduduk miskin Indonesia kalau pakai “standar Eropa” seperti yang digunakan Kompas untuk menunjukkan kemiskinan Turki akibat pemerintahan Erdogan itu?

Dengan standar Eropa, rasanya lebih dari sekedar “dua dari tiga anak” di Indonesia hidup dalam kemiskinan. Atau setidaknya sama saja dengan Turki.

Sekali lagi…

KOMPAS, KAMU SEHAT?

Catatan

  1. [1]Artikel dimaksud adalah Antara Erdogan, Istana Presiden, dan Istrinya, yang ditayangkan di Kompas .com pada 21-07-2016.
Bagikan artikel ini:
Share