KH Mustofa Bisri: Kita Dilanda Krisis Silaturahmi

Sumber: Majalah Sabili tahun 2003

Syawal identik dengan bulan silaturahim. Di tengah sibuknya arus balik, Eman Mulyatman dari SABILI berkesempatan untuk bersilaturahim ke Pondok Pesantren Roudhotul Tholibin, Rembang. Di pesantren ini, SABILI menemui Pengasuhnya, Kiai Haji Mustofa Bisri. Kiai teduh yang dijuluki Penyair Balsem dan gemar melukis kaligrafi ini merindukan Indonesia yang damai. Gus Mus, begitu panggilan akrabnya, berpendapat krisis yang melanda Indonesia ini bisa diselesaikan jika semua pihak saling bersilaturahim. Berikut petikannya:

Tentang perjalanan umat Islam di tahun 2002, apa komentar Anda?
Di satu sisi, kita bersyukur, karena perkembangannya semakin marak. Dulu kelihatannya cuma orang desa saja yang beragama Islam. Sekarang justru sebaliknya. Di kota besar, pengajian tidak kalah dengan di desa-desa. Di sisi lain kita prihatin, bangsa kita ini, sedang sakit. Ini tidak terlepas dari umat Islamnya sendiri yang mengalami krisis. Antara lain krisis silaturahmi. Umat Islam itu silaturahminya berjauh-jauhan; lewat tulisan, lewat pernyataan. Tidak muwajahah, tidak melihat wajah. Padahal dengan silaturahmi kita bisa memahami satu sama lain.

Kelemahan dari ukhuwah umat Islam Indonesia ini apa?
Yang pertama, krisis silaturahmi, jadi setiap orang berpendirian kullu hizbin bima ladayhim farihun, masing-masing bangga dengan dirinya. Kadang-kadang kita merasa berbeda dengan saudara kita dan menganggap saudara kita tidak muslim. Lalu tidak ada komunikasi. Misalnya saya lebarannya Kamis dan sampeyan Jum’at. Itu lantas dianggap sebagai sesuatu yang besar, lalu menyebabkan saya tidak bersilaturahmi kepada Anda. Itukan salah besar.

Kita pilih-pilih dalam bersaudara. Jadi, kacamata kita itu macam-macam. Kalau kacamata saya kacamata Golkar, sampeyan bukan Golkar, maka saya anggap sampeyan kurang Islami-lah. Islam itu sendiri sebenarnya, menurut saya, hanya wasilah (sarana). Lalu ghoyah (tujuan)nya apa? Dialah Allah SWT. Sekarang, kalau Islam masih dianggap ghoyah, itu masih lumayan. Tapi kemudian di bawahnya ada partai politik, ini wasilah juga. Dan ini sudah dianggap sebagai ghoyah. Karena parpol kita anggap sebagai ghoyah, maka orang tidak melihat Islamnya. Meski Islam, tapi partai beda, akhirnya mereka saling menyebut yang lainnya itu sebagai Islam yang jahanam!

Di bawahnya lagi, ada organisasi kemasyarakatan, maka akan semakin jauhlah dari ghoyah tadi. Ini merusak ukhuwah, kenapa?
Karena di dalam berpolitik, tidak sepenuhnya menggunakan ilmu politik, tapi menggunakan agama. Agama juga dalam tanda kutip. Dalihnya agama ini mencakup urusan politik. Jadi sah-sah saja, berpolitik dengan agama. Tapi dalam hal apa agama Anda pakai dalam berpolitik? Ndalil, membenarkan partainya sendiri, sedangkan partai Islam itu banyak. Kelompok dalam Islam itu terlalu banyak.
Setiap orang yang tidak setuju dengan satu partai, lalu dia bikin lagi.

Jadi Politik yang Islami itu yang bagaimana? 
Ya, budaya politik yang sehat, yang lil maslahatin ummah, kepentingan umat untuk rahmatan lil ‘alamin. Tapi itu tidak dibudayakan. Dari dulu politik di Indonesia ini untuk kepentingan golongan. Mereka berdalil untuk kepentingan golongan.

Ditambah lagi ada krisis kepemimpinan?
Ya, itu sudah jelas. Annassu ‘ala dinnu mulki, orang itu tergantung agama pemimpinnya. Kalau pemimpinnya baik, rakyatnya baik. Yang lebih spesifik lagi, kita sedang mengalami krisis keteladanan. Anda lihat orang beli TV-Radio, tidak pernah membaca buku panduan, tapi bisa nyetel dan ngatur saluran. Kenapa? Karena dia langsung melihat contohnya. Kita ini tidak melihat buku panduan, ditambah lagi tidak ada contoh.

Padahal ketika Soeharto tumbang kita berharap keadaan akan lebih baik?
Ini yang keliru, mestinya ketika orde itu tumbang, dibersihkan sampai ke bawah. Yang tumbang baru kepalanya, badan dan ekornya masih hidup, segar bugar. Ya enggak bisa.

Ada semacam sindrome seperti putri yang jatuh cinta pada penculiknya? 
Ya, sama seperti pada zaman Soeharto, kita mengatakan bahwa saat zaman Belanda lebih hebat. Ha ha ha….

Jadi?
Itu karena reformasinya tidak tuntas, karena ketika kita mengadakan perbaikan, yang kita lihat itu orang lain saja. Tidak pernah memperbaiki diri sendiri. Ini yang salah, tidak ada yang mengatakan ini salahku! Umat Islam harusnya mengatakan saya sebagai umat mayoritas di negeri ini, maka saya yang paling bertanggung jawab, saya harus melihat perilaku saya sendiri. Apa yang kira-kira menyebabkan keadaan seperti ini. Kalau terus begitu, sampai kiamat kurang dua hari lagi, tak akan selesai!

Konflik meski diredam tapi terus menyimpan bara?
Ya, meski sudah merdeka, kita tidak terbiasa dengan demokrasi. Kita selama 32 tahun dididik untuk seragam. Bahkan mengecat tembok pun harus seragam. Ini yang membuat kita berbeda dengan bangsa lain. Coba Anda perhatikan, bangsa Indonesia dalam memandang perbedaan itu berbeda dengan bangsa lain. Seolah-olah perbedaan itu haram. Contohnya perbedaan hari raya tadi, itu bisa menjadi sangat tajam.

Di bidang hukum?
Ini juga, akar masalah. Berkali-kali saya ingatkan, dalam hubungan berbangsa dan bernegara ini, satu yang tidak boleh ditinggalkan, yaitu keadilan. Itu yang dilecehkan di Indonesia selama ini. Akibatnya sangat kita rasakan sekarang ini. Kehancuran kita sekarang ini akibat pelecehan kita terhadap keadilan.

Anehnya ketika ada lembaga yang bagus seperti KPKPN bersikap maka akan diganti dengan lembaga baru? 
Itu yang saya maksudkan, kepala orang Indonesia ini harus dicopot semua. Ganti dengan kepala baru. Semua kita ini satu sekolahan, guru besarnya Soeharto. Dia ciptakan pemikiran bahwa dunia sangat mulia, kepentingan kelompok itu sangat penting. Untuk menjaga keharmonisan itu kita harus seragam. Banyak sekali pelajaran-pelajaran yang terserak. Anda lihat, sampai dalam beragama pun di bawah sadarnya bukan untuk akhirat, tapi dunia. Orang baca al-Qur’an karena piala, orang berbuat ini-itu karena kelompoknya. Atau dengan bahasa yang halus, kita perlu mengadakan revolusi mental.

Teror pun bermunculan di mana-mana?
Semua itu karena ketidakadilan. Amerika tidak adil dalam menyikapi persoalan dan semua itu orang lihat. Kalau saya bisa melawan Amerika, maka saya lawan. Sama saja kalau saya tidak berani melawan seseorang, saya lempari rumahnya, kan begitu. Sama seperti seorang adik tidak berani dengan kakaknya, apalagi orang tuanya membela, dia merasa dizalimi, dia tidak berani melawan, maka rumahnya yang dilempari. Dia tidak sadar akan ikut kebocoran. Akibat ketidakadilan ini akan sangat besar. Jadi, teror itu, atau yang dianggap sikap teror oleh Amerika, yang menciptakannya adalah teroris besar.

Apa Anda percaya bahwa pelakunya umat Islam? 
Sekarang kenapa orang berbuat main hakim sendiri, itu karena aparat tidak menegakkan keadilan. Saya kalau mau melapor mikir-mikir, karena makin susah nanti. Makanya konon Umar bin Abdul Aziz mentradisikan dalam khutbah, innallaha ya muru bil adli wal ihsan (sesungguhnya Allah memerintahkan kita untuk berbuat adil dan baik, red). Tapi kalau di kita khatib-khatibnya sebagian besar mbeleweh. Waktu baca ayat itu, sudah pada ngantuk semua jamaahnya. Penting bagi kita memahaminya, bagaimana mau berbuat ihsan (baik), kalau adil saja tidak bisa? Ihsan itu kakaknya adil. Kalau sampeyan pukul saya sekali dan sampeyan saya pukul sekali, itu adil. Tapi kalau saya pukul sampeyan dua-tiga kali, zalim saya. Tapi kalau sampeyan saya maafkan, saya sudah muhsin (berbuat baik). Kita mau adil saja sulit, bagaimana mau mau ihsan? Harus ada revolusi mental. Darimana mulainya, ya dari diri sendiri.

Apakah pemimpin kita ini berjalan ke arah yang sebenarnya, atau justru sebaliknya? 
Pemimpin kita yang mana, pemerintah, formal atau informal? Pemerintah sekarang belum bisa berpikir apa-apa. Mereka baru bisa nembel-nembeli akibat dari reformasi yang tidak tuntas. Karena orde itu hanya kepalanya saja. Bawahnya masih utuh. Sehingga ndak bisa reformasi. Ibarat cicak, masih gerak-gerak ekornya. Keadilan masih jauh, bagaimana seorang pencuri ayam langsung masuk sel tanpa diadili dan pencuri kakap yang sudah divonis, bisa bebas!

Mungkin perlu ada koreksi terhadap metode dakwah selama ini?
Soal dakwah itu, saya tanya pada Anda, apa masih ada dakwah di Indonesia? Dakwah itu dalam al-Qur’an disebutkan ud’u ila sabili robbika, ajaklah ke jalan Tuhanmu. Logikanya yang diajak itu orang yang belum ke jalan Tuhan, kan begitu. Kalau sekarang orang yang belum ke jalan Tuhan dikerasi, di mana letak dakwahnya? Siapa yang didakwahi. Zainuddin MZ, AA Gym, itu siapa yang didakwahi? Kaum muslimin. Apa mereka tidak di jalan Tuhan? Mereka di jalan Tuhan. Mau diajak ke mana lagi? Jadi ada beberapa konsep yang perlu direformasi. Kita sering berbicara tanpa menyepakati apa yang kita bicarakan. Orang bicara politik bisa sampai kelahi. Ternyata ketika diusut yang sampeyan maksud politik A, sedangkan yang saya maksud B.

Jadi enggak nyambung ….
Syariat Islam, Anda menentang, saya memperjuangkan. Ternyata setelah silaturahmi, yang kamu maksud syariat Islam itu apa? Ternyata ini dan ini. Lho lain, menurut saya syariat Islam itu, begini. Jadi kita karena tidak pernah silaturahmi, jadi ndak tahu.
Sekarang malah ada dikotomi Islam garis keras dan garis lunak?
Itu karena kita memang kesukaannya begitu. Setiap kita berbeda dengan saudara kita, kita tidak silaturahmi, lalu kita mendirikan kelompok sendiri. Dulu pernah ada orang yang mengajak saya. Ini supaya bersatu, marilah Pak Kiai mendukung kami, mendirikan organisasi baru. Saya ketawa, sampeyan ini lucu sekali, mau mempersatukan umat malah bikin lagi. Sekarang saja kita sudah kebanyakan. Kalau sampeyan ingin cepat mempersatukan kita, datangi pemimpin-pemimpin organisasi, suruh bubarkan lalu jadi satu. Ha ha ha….

Tampaknya perbedaan akan semakin tajam, apalagi menjelang pemilu 2004?
Makanya kita harus koreksi diri. Apa benar kita berjuang untuk Islam? Atau memperjuangkan diri sendiri, gengsi kita, kelompok kita? Kalau saya mengatakan revolusi mental, pertama kali yang harus kita benarkan adalah niat kita. Seperti kata Rasulullah saw, “Yang paling aku takutkan nanti pada umatku adalah syirik pada Allah, tapi ingat saya tidak mengatakan, kalian akan menyembah matahari, bulan, berhala, tapi amal tidak karena Allah, karena nafsu yang tersembunyi.” Karena itu semangat beragama yang besar harus diimbangi dengan pendalaman agama yang kuat.

Apakah dakwah model Aa Gym lebih mendapat tempat? 
Ya, sebenarnya masyarakat yang terimbas saja. Kalau kita terlalu sering disuguhi hal-hal yang keras, otomatis akan rusak. Apa pun akan kembali pada fitrahnya, ajaran Rasulullah, rahmatan lil ’alamin. Kenapa Nabi sukses dalam waktu sesingkat itu mengajak orang? Karena beliau melandasi dakwahnya dengan kasih sayang. Tidak dengan kebencian.

Kenapa radikalisme itu tercipta?
Itu tadi, karena adanya ketidakadilan. Secara global oleh Amerika.

Bagaimana kita melawannya?
Ya, kita jangan melawannya dengan cara yang zalim. Air tidak bisa dipadamkan oleh api. Tapi air bisa memadamkan api.

Bagaimana langkah kita ke depan?
Kita harus kembali kepada Allah Ta’ala. Tidak hanya umat Islam saja, seluruh komponen bangsa ini segera kembali pada Allah. Ini saya betul-betul serius! Kalau saya bisa ketemu penguasa saya akan bilang juga. Segera seluruh bangsa ini dari mulai presiden sampai yang bawahnya sekali, segera beristighfar pada Allah SWT. Taubat yang nasuha. Kalau dengan Allah mudah sekali. Kalau menyangkut sesama hamba Allah, harus minta ikhlasnya. Mereka yang pernah mencuri duitnya rakyat, kembalikan! Kalau sudah habis dimakan, minta ikhlasnya pada rakyat. Daripada diadili juga sulit. Bilang saja, pada rakyat, saya pernah makan sekian, sudah habis sekarang! Kalau mau begitu, nanti saya yang kampanye mengajak rakyat ini untuk mengikhlaskan. Ini untuk kepentingan bangsa.

Bagaimana dengan musibah yang terjadi belakangan ini?
Sudah azab. Dalam al-Qur’an disebutkan kalian dikacaukan dengan kelompok-kelompok yang fanatik. Itu azab juga. Kemudian masing-masing kelompok ini menampakkan kekejamannya pada kelompok lain. Maka yang bisa menolak azab ini cuma dua, yaitu kehadiran Rasulullah saw dan istighfar. Abu Jahal yang begitu jahal tidak diapa-apakan ketika berkumpul bersama Rasulullah di Makkah. Tapi begitu Rasulullah saw hijrah ke Madinah, mereka kejar sampai Badar. Barulah mereka diazab. Sekarang Rasulullah saw tidak ada. Kalau kita mau menghadirkan, hadirkan akhlaknya, ajarannya. Atau yang paling mudah: istigfar! Allah tidak akan mengazab mereka selama mereka masih beristighfar. Kita untuk beristighfar tidak mau, kenapa? Karena ini kiat setan yang terakhir. Ketika Allah begitu pemurah dengan manusia, pokoknya minta maaf dimaafkan, Istighfar diampuni, setan itu lalu punya kiat yang terakhir. Karena mereka jengkel, sudah menggoda habis-habisan lalu manusia itu mau istighfar. Lalu mereka mengadakan seminar dan mereka putuskan untuk menggoda anak cucu Adam, supaya tidak merasa bersalah. Sehingga tidak ada istighfar dan minta maaf. Karena itu, Anda lihat, orang berkelahi, semuanya mengaku benar. Ha ha ha….

Sebagai bangsa kita sudah tidak punya harga diri
Lha bagaimana mau punya harga diri, kalau kita sendiri tidak menghargai diri kita sendiri. Orang akan menghargai diri kita kalau kita sendiri menghargai diri kita sendiri.

Itu tergantung diri kita. Citra kita sangat buruk, dulu kita dihargai sebagai bangsa yang ramah tamah. Tapi sekarang siapa yang bisa menjelaskan pada mereka bahwa kita itu ramah tamah. Pencuri ayam saja dibakar. Kekerasan sudah sampai pada puncak.

Juga, disebabkan hilangnya ulama Panutan?
Kalau diibaratkan Rasulullah itu mata air, masa ini sudah mendekati muara. Airnya sudah sangat keruh. Setiap orang yang mau memperbaiki maka harus membawa air yang jernih. Karena, kejernihan inilah yang akan menolong keadaan.
Sekarang kita tidak punya teladan dan tidak mau melihat buku panduan. Sayangnya yang melihat panduan tidak komplet, tidak sempurna. Lalu merasa paling benar.

Bagaimana dengan wakil kita di Legislatif?
Ndak karu-karuan. Bagaimana orang yang tidak kenal rakyat mewakili rakyat. Itu karena, seperti saya katakan tadi, kita dididik Soeharto. Didikannya sebagai akar penyebab kerusakan adalah mencintai dunia secara berlebihan. Mencintai dunia secara berlebihan adalah sumber dari segala malapetaka. Kerja mereka orientasinya dunia.

Apa sudah ada umat Islam yang bertindak konkret untuk menyelamatkan?
Semua kita yang merasa sebagai bangsa Indonesia, mestinya harus bersama-sama. Sekali lagi kita krisis silaturahmi. Kalau kita saja tidak bisa silaturahmi, apalagi sebagai bangsa. Padahal bangsa ini milik semua.

Bagaimana Anda menanggapi tulisan Ulil di Kompas?
Saya sudah menanggapi. Di surat kabar yang sama. Jadi kolom itu semacam wacana. Harus ada dialog. Seperti saya katakan, kita krisis silaturahmi.

Banyak kalangan menilai Ulil sudah keluar jalur?
Saya yakin dia mempunyai semacam kemarahan juga. Jadi dia ingin melampiaskan, dalam istilah kita musyakalah. Tapi tidak tepat, karena dia menulis di Kompas. Karena yang membaca belum tentu orang yang dituju. Maka orang terkaget-kaget. Kok begini, padahal idealnya tulisan itu untuk orang yang menjengkelkannya, yang tidak bisa diajak dialog. Lalu dia menggunakan musyakalah dengan cara yang sama, membuat mereka marah, itu saja. Ternyata yang marah bukan hanya sasarannya tapi juga yang lain. Orang semacam Ulil itu hanya melempar wacana. Karena ndak mungkin dia itu dari pesantren. Itu seperti saya dengan Anda, saya tahu bahwa Anda tidak suka dengan sesuatu lalu saya katakan semua yang tidak sampeyan senangi. Itu membuat sampeyan marah.

Tapi ini berbahaya?
Itu harusnya musyabahah dengan ruh Islami semua. Kalau memang mau mendapat kebenaran. Itu tidak urgen menurut saya. Ada yang lebih urgen: keadilan belum jalan, masih banyak yang nganggur, banyak lah urusan lain.

Lalu bagaimana perasaan Anda sebagai mertua Ulil dan apa kewajiban yang sudah Anda lakukan?
Sudah saya tulis di Kompas. Jadi begitu saya baca, saya langsung kirim itu.

Bagikan artikel ini:
Share