Kilas Balik Memburu Perjumpaan (10): Suasana Agamis Jelang Aksi “Soneta”

Sumber: fokusjabar, 12-01-2015

Lain lagi dengan dendang ceria. Atraksi tiupan suling Hadi jadi bumbu penyedap irama joget. Tiba di depan studio foto, Hadi bergegas membayar jasa tukang becak. Pemain suling ini pun berbaik hati, menanggung ongkos cuci-cetak foto. Saya lalu dibawanya mampir ke rumah makan “Bandung”, hanya untuk sekedar minum kopi dan merokok. Hadi ceria dan asyik membuka sejumlah foto, yang baru selesai dicetak. Pemain suling yang bersahaja ini, mendahului Rhoma Irama dan pemusik “Soneta” lainnya untuk melihat foto-foto itu.

Hadi minta beberapa lembar foto, setelah semua dilihat Rhoma di hotel. Selepas Shalat Maghrib, Rhoma memilih foto-foto aksi pentas “Soneta” waktu di Garut. “Bagus-bagus ‘ya…! Bisa saya minta cetak lagi untuk dibagikan sama penggemar?” tanyanya sambil menunjukkan beberapa lembar foto pilihannya. “Boleh..! Insya Allah saya cetak lagi nanti. Berapa banyak, Kang Haji..?” Rhoma sebentar terdiam, lalu tersenyum. “Seratus lembar deh cukup…” katanya. Di Sumedang, baru saya tahu kepemimpinan Rhoma Irama yang kharismatik di mata pasukan “Soneta”.

(Gambar tidak tersedia di fokusjabar.)

Potret awal perjumpaan Tati Hartati (membelakangi lensa), Rita Sugiarto dan Yoyo Dasriyo di Hotel “Kota” Garut,24 Oktober 1977, jelang rombongan “Soneta” memburu Sumedang.(Foto: Cang Anwar)

Tak seorang pun turut campur, waktu Rhoma berbincang. Saya dibiarkan berdua. Kalau tidak diminta, awak “Soneta” tak pernah menampakkan sosoknya. Lebih kongkrit lagi, saat Benny Mucharam memberi komando untuk Shalat Isya berjamaah. Kesolidan dalam suasana Islami sangat mengental. Semua pemain “Soneta” mendadak sibuk berkemas. Berwudhu, dan mengenakan kain sarung. Sebagian memakai kopiah. Menyambar kain sorban.Saya ingin memotret kesibukan suasana religi seperti itu.

Tetapi saya pun tak mau ketinggalan shalat berjamaah. Apalagi Rhoma Irama sebagai imam. Bagi saya, itu peristiwa langka! Cepatsaja menjejeri shaf ma’mum di belakang imam. Saat-saat seperti itu, dimungkinkan massa mulai mengalir ke arena pergelaran musik “Soneta” di pusat kota. Sumedang. Mereka tak pernah tahu, sang “Raja Dangdut” tengah khusuk memimpin shalat di sebuah ruangan hotel. Usai shalat, kami disiapkan makan malam bersama. Dalam jeda waktu jelang meluncur ke Alun-alun, Benny sibuk berbagi jatah rokok kretek “Dji Sam Soe”.

“Merokok dulu, ‘Kang…!” Benny tertawa kecil, sambil menyodorkan sebungkus rokok Jalinan kedekatan dengan keluarga “Soneta’ terasa kian terbangun. Benar juga, jelang aksi pentas dangdut digelar, massa penggemar “Soneta di Sumedang, terhampar padat di depan pentas terbuka. Terdukung lagi dengan cuaca malam yang bersahabat. Pak Gunawananggota Kopasus, yang turut mengawal perjalanan rombongan “Soneta”, sigap membantu pengamanan massa. Di antara jejelan massa, saya bisa nyaman menuturi langkah para insan “Soneta’ menaiki tangga panggung terbuka.

Terdengar gegap-gempita massa, menjemput kehadiran Rhoma Irama. Sang “Raja Dangdut” ini memecah sepi sambutan massa di Sumedang, yang sebelumnya konon tak pernah terjadi. Musik dendang “Soneta” membahana. Sejumlah lagu hit penggosok pamor “Soneta”, bergema silih berganti.. Sambutan massa dangdut di Sumedang amat mengesankan. Hangatnya kenangan pentas musik itu, serasa memupus lelah dalam perjalanan malam memburu Ciawi, Tasikmalaya.

Namun di balik kehangatan kesan dan gairah awak “Soneta”, justru tersembunyi aksi “perang dingin” di antara Rita Sugiarto dan Tati Hartati. Dalam keseharian di belakang layar, kedua “bunga” pentas Soneta” ini tak pernah menampakkan keharmonisan.Gelagat tak sedap itu saya tanya ke Rhoma Irama sebelum meninggalkan Sumedang. “Saya tidak tahu, ada apa mereka..! Tapi itu biasa, sengketa anak-anak. Saling tidak berteguran..” katanya tenang. Rhoma yakin, “aksi dingin” Rita dan Tati, tidak berbuntut panjang ***

Yoyo Dasriyo

(Bersambung)

Bagikan artikel ini:
Share