Kilas-Balik Memburu Perjumpaan (14): Harga Mati Untuk “Tipuan Kamera”

Sumber: fokusjabar, 15-01-2015

Muncul kemudian film seperti “Gitar Tua”, “Berkelana”, “Darah Muda”, “Begadang”, “Raja Dangdut”, “Satria Bergitar”, “Kemilau Cinta di Langit Jingga”, “Pengabdian” serta sederet judul film lainnya. Padahal, serampung film pertamanya, Rhoma mengaku tipis kemungkinan meneruskan karier filmnya. ”Bagi saya, ternyata main film itu terlalu banyak meminta waktu! Misalnya kalau datang waktu Shalat Dhuhur, kebetulan cuacanya bagus, Shalat terpaksa mesti ditangguhkan..” Rhoma bergeleng kepala.

Aktor watak El-Manik dan Yatie Octavia, dalam sebuah adegan film Rhoma Irama. Pola “trik kamera” selalu diterapkan dalam adegan kemesraan Rhoma dan Yatie Octavia yang identik dengan tokoh “Ani”, (Istimewa)

Aktor watak El-Manik dan Yatie Octavia, dalam sebuah adegan film Rhoma Irama. Pola “trik kamera” selalu diterapkan dalam adegan kemesraan Rhoma dan Yatie Octavia yang identik dengan tokoh “Ani”, (Istimewa)

Kondisi di lokasi syuting film seperti itu sangat dipahaminya. “Sebab matahari di tempat syuting itu mahal! Disampng itu, dengan main film, berarti tawaran-tawaran show untuk ‘Soneta Grup’ tidak bisa saya layani” katanya dalam obrolan di Hotel “Kota” Garut. Rhoma pun keberatan atas penjudulan film-filmnya, yang selalu saja menjual kepopuleran namanya. “Saya ingin ‘nggak usah kayak Benyamin, yang terus-terusan dipake judul film, model ‘Benyamin Brengsek’, ‘Benyamin Tukang Ngibul’ dan sebagainya. Cukup sekali saja, waktu ‘Oma Irama Penasaran’….”

Sebagai figur artis yang kental dengan napas keagamaan, dan bergelar haji, Rhoma menegaskan prinsipnya untuk tidak melakukan adegan cium kemesraan dengan Yatie Octavia. Artis berbibir mungil pemeran tokoh “Ani” dalam serial lakon film Rhoma Irama. Adegan kemesraan dengan wanita bukan muhrimnya itu, seringkali mengusik usilan sumbang dari kalangan fanatik agama. Rhoma Irama tersenyum menyikapi usilan itu. “Bagaimanapun manfaatnya tetap ada! Tapi jika dibandingkan dengan mudzarat-nya, maka manfaat itu lebih kecil dari mudzorat-nya…”

Bagaimana tentang anggapan “zinah mata” dengan pasangan main film? Taktis sekali Rhoma menanggapinya. “Zinah mata itu saya kira merupakan dosa-dosa yang tidak tertulis! Seperti misalnya minum bir, ataupun makan daging babi, manfaatnya tetap ada, tapi celakanya lebih besar. Ingat, dosa itu banyak sekali tingkatannya. Zinah mata dari goyang pinggul umpamanya, atau minum-minum bir itu, entah masuk tingkatan dosa yang keberapa.” Karenanya, adegan kelembutan cinta “Rhoma” dan “Ani”, selalu disiasatinya dengan tipuan kamera.

Trik kamera, jadi prinsip berharga hati. “Saya selalu minta dibikin trik kamera! Masih ada jarak beberapa senti lagi, yang memisahkan bibir saya dan Yatie…” tandas Rhoma Irama. Kekuatan prinsipnya diberlakukan juga dalam menangani karier gadis kecil Debby Veramasari “Saya tidak akan melepas Debby untuk jadi artis penyanyi, sebelum dia punya iman yang kuat! Kalaupun jadi artis nyanyi, dia akan nyanyi sendiri. ‘Nggak harus bergaya Yoan dan Tanty, yang sahut-sahutan..” Rhoma menegaskan lagi prinsipnya.

Tetapi banyak prinsipnya terpaksa harus dipatahkan kehendak lain dari pihak produser. Film-film Rhoma mengalir, dengan mendagangkan penjudulan nama Rhoma Irama. Sederet lagu rekaman pop Debby Veramasari pun, diwarnai lagu sahut-sahutan dengan Rhoma Irama, seperti “Idih Papa Genit”, “Indandip”, maupun “Cok Galigacok”. Saya lalu terpanggil kembali memburu Rhoma Irama, untuk mengupas semua prinpsipnya yang harus berpaling dari kenyataan.

Peluang yang menjanjikan perjumpaan-ulang, tergelar medio Januari 1979, di Tasikmalaya. Waktu itu terkabar Rhoma Irama dan “Soneta Grup” siap menggelar show “Soneta” di sana. Pikir saya, itu momentum penting! Saya harus bisa menyaksikan aksi Rhoma di kota kelahirannya, setelah eksistensinya mendapat banyak pengakuan, dan dipujikan. Kebetulan saya kenal dekat dengan (alm) Ade Kostaman, rekan wartawan dari Harian “PIkiran Rakyat” di Tasikmalaya. Sambil menenteng kamera Qanonet QL-17, seorang diri meluncur naik bis dari Garut ke Tasikmalaya ***

Yoyo Dasriyo

(Bersambung)

Bagikan artikel ini:
Share