Kilas-Balik Memburu Perjumpaan (16): Kekuatan Produser Menaklukkan Rhoma

Sumber: fokusjabar, 18-01-2015

Saya naik Vespa boncengan. Berdua membelah kesunyian wajah perkotaan Tasikmalaya,“Sudah malam begini, apa Rhoma Irama masih bisa nerima tamu?” tanya Ade ragu. “Kita coba saja..!” balas saya. Benar, memang bukan waktunya bertamu di tengah malam seperti itu. Namun keyakinan saya mematahkan keraguan, semata-mata karena sudah janjian di pentas. Vespa pun melaju.memburu lokasi Hotel “Priangan”.

Lokasi hotel terpandang itu, agak jauh dari keramaian perkotaan. Sepi mendekap suasana di sekitar halaman dan bangunan hotel. Deru Vespa menembus sepi. Beberapa aparat keamanan pun terusik. Wajah tak bersahabat segera mendekat, dan menghadang langkah kami,, setelah Vespa diparkir. “Rhoma Irama lagi istirahat…! Sudah malam, ‘nggak bisa diganggu, ‘Pak!” sambut petugas itu datar. “Saya diminta datang malam ini juga sama Bang Haji. Tadi sudah bilang di panggung…” desak saya.

Potret kenangan lawas Rhoma Irama bersama SK Marta, rekan wartawan film, dan Benny Muharam, di lokasi syuting film “Kemilau Cinta Di Langit Jingga”. Film ini tercatat sebagai salah satu film Rhoma, yang tidak menjual judul kemasyhuran namanya. (Dokumentasi Yodaz)

Potret kenangan lawas Rhoma Irama bersama SK Marta, rekan wartawan film, dan Benny Muharam, di lokasi syuting film “Kemilau Cinta Di Langit Jingga”. Film ini tercatat sebagai salah satu film Rhoma, yang tidak menjual judul kemasyhuran namanya. (Dokumentasi Yodaz)

Seorang di antara mereka, mengabari Rhoma ke lantai atas. Sesaat kemudian, petugas itu kembali dengan wajah penuh tanya. Mungkin heran, seorang bernama besar sekelas Rhoma Irama, masih mau menerima tamu lewat tengah malam seperti saya, yang berpenampilan lapangan. Dalam gigitan dingin Tasikmalaya, tampil berjaket biru menutup kaos oblong merah. Rambut kelimis dan wajah berkilat terbasuh keringat. Kami diizinkan naik ke lantai atas hotel itu.

Rhoma yang sudah berpakaian tidur warna merah muda, tersenyum akrab menyambut kami. “Saya terharu main di Tasikmalaya ini. Saya tidak menyangka akan mendapat sambutan sedemikian hebatnya di kota kelahiran saya..” Rhoma membuka perbincangan, sambil melepas lelah. Keringatnya masih berkilau Tanpa banyak berbasa-basi lagi, saya mengajak Rhoma berbincang tentang dunianya. Rhoma bertutur tentang bermacam prinsip rekaman dan film-filmnya, yang tidak sejalan dengan konsep semula.

Rhoma tidak menampik kenyataan itu. “Bukan saya ‘nggak mau konsekwen. ‘Yo! Prinsip tinggal prinsip deh.., tapi karena desakan dari ‘Yukawi’ yang hubungannya sama saya sudah amat familiar, akhirnya saya menyerah” Rhoma Irama tertawa datar. Penjudulan film-filmnya pun, terpaksa dibiarkannya bermunculan dengan menjual kemasyhuran nama Rhoma Irama. Di luar sederet film yang dibintangi Rhoma, tercatat beberapa film nasional lain turut menjual kepopuleran lagunya.

Lagu hit “Begadang” dihadirkan dalam film “Krisis X” dan “Ganasnya Nafsu” karya (alm) Turino Junaedi. Lagu “Terajana” memvisualkan keceriaan adegan film “Melawan Badai” (1974) karya (alm) Sofia WD, dengan aksi jenaka Jaja Miharja berkepala gundul. Bahkan (alm) Syumanjaya mengemas lagu “Penasaran” dan “Terajana” dengan gaya Urip Arphan di film “Laila Majenun”. Rhoma tersentak. “Ah masak sih..! Saya kaget kalau benar lagu ‘Terajana’ pake Urip Arphan di film itu..” Rhoma sesaat termangu..

“Soalnya, waktu unit manajer film itu minta izin, dia cuma bilang lagu saya mau dipake di film ‘Laila Majenun’, yang seakan-akan berkumandang melalui radio.. Kenapa tidak bilang sejara jujur ya? Saya sesali sikap dia” ungkap Rhoma yang mengaku belum pernah menonton film-film itu, dengan nada sesal. Kekagetan Rhoma, sama seperti Benny Mucharam abang kandungnya. “Saya ‘nggak tahu kalau film ‘Melawan Badai’ juga pake lagu dangdut itu, kenapa nggak minta izin dulu ya…” Rhoma Irama tersenyum datar sambil bergeleng kepala ***

Yoyo Dasriyo

(Bersambung)

Bagikan artikel ini:
Share