Kilas-Balik Memburu Perjumpaan (18): “Dilarang Melarang” Menembus Pop Jawa

Sumber: fokusjabar, 20-01-2015

Rhoma Irama memecahkan kekesalannya. “Memang Elvy pernah nelepon saya, tapi isinya bukan seperti yang dimuat di koran-koran, bahwa dia pernah minta izin! Itu sama sekali tidak benar. Elvy nelepon saya, setelah dia rekam lagu itu! Katanya, ‘Oma kalau situ mau nuntut ke pengadilan, gue jangan kena getahnya dong. Ah saya benar-benar menyesali sikap itu” ungkap Rhoma kemudian. Walau begitu, Rhoma mengakui Elvy sebagai pasangan duetnya yang paling serasi, di antara pasangan sebelumnya.

Aktor pemeran antagonis dalam film Rhoma Irama, Soultan Saladin (kanan) dan Yoyo Dasriyo (1980), dalam perjumpaan lawas berlatar Bukit Ngamplang Garut,  (Fotor Harold Simatupang)

Aktor pemeran antagonis dalam film Rhoma Irama, Soultan Saladin (kanan) dan Yoyo Dasriyo (1980), dalam perjumpaan lawas berlatar Bukit Ngamplang Garut,
(Fotor Harold Simatupang)

Dalam awal karier duetnya, Rhoma pernah dipasangkan dengan Titing Yeni, (alm) Ellya Khadam, lalu duet pop bersama Inneke Kusumawaty dan Lily Junaedi, serta Rita Sugiarto. “Elvy punya teknik penjiwaan lagu yang bagus. Tapi sama Rita pun, saya mulai menemukan keserasian” Rhoma berlega hati. Tetapi kekecewaan lagi-lagi mengganjalnya, selepas membuka peluang Rita Sugiarto untuk rekaman lagu pop. “Kesempatan itu sengaja saya berikan, biar Rita bisa melanjutkan potensinya sebagai penyanyi pop..”katanya.

Rhoma kaget, saat “Yukawi Record” meluncurkan album rekaman Pop Jawa dari Rita Sugiarto (1978), memuat 8 lagu iringan band “Family Grup”. Materi lagunya hanya alih bahasa dari lagu dangdut rekaman terdahulu, seperti “Dendang Ria”, “Begadang II”, “Beku”, “Hitam”, Joget” serta “Dilarang Melarang”. “Sebenarnya saya kaget sekali, tapi karena kasetnya terlanjur beredar, ya… apa boleh buat deh! Mau saya, Rita itu rekaman pop yang betul-betul Pop Indonesia. Bukan mempop-Jawakan lagu milik Soneta…” Rhoma bergeleng kepala

Di kesempatan terpisah, Rita mengaku gembira, dengan peluang rekaman lagu pop. “Saya senang sekali dapat kesempatan rekaman pop, untuk kembali merintis karier pop yang pernah saya terjuni” tutunya. Tetapi Rita belum tahu tentang kelangsungan karier pop-nya, “Bagi saya, sebetulnya bagaimana Mas Oma saja! Pokoknya saya akan berusaha memanfaatkannya sebaik mungkin.setiap peluang yang saya dapatkan, Biar pun saya ada dalam grup dangdut, tapi cinta saya untuk pop tetap ada” Rita berderai tawa.

Penyanyi dangdut ini pun berminat main film, dan mendendangkan lagunya sendiri ”Tapi semua itu terserah bagaimana Mas Oma saja deh!”. Rita Sugiarto senantiasa hangat dan akrab dalam berbincang..Tutur katanya mengalir. Derai tawanya memecah suasana. Luwes dan dewasa. Di luar “Soneta”, sukses lagu “Penglaris” dan “Hujan Duit”, pernah membintangkan Latief M di film nasional. Ingat pula (alm) A Rafiq), yang dihadirkan dalam film, yang menjual kepopuleran lagu dangdutnya,“Pengalaman Pertama” dan “Karena Dia” (Nico Pelamonia).

Apa yang menggoda Rhoma bermain film? ”Misi saya tetap. Menyebarkan syiar Islam dan musik dangdut” balasnya tandas. Rhoma memilih Yatie Octavia sebagai patner dalam filmnya. “Saya punya taktik sendiri dalam menerjuni film. Saya mau mewujudkan sesuatu, yang bisa meninggakan kesan khusus untuk masyarakat penonton filmnya” katanya. Apa daya tarik Yatie Octavia untuk jadi pasangan tetap dalam film? Rhoma tersenyum dan bertutur lirih.

“Saya merasa cocok main film sama Yatie. Lagi pula, saya pikir Yatie itu pasangan pertama dalam film pertama saya. Selain itu, saya menilai Yatie sudah pengalaman di film. Sedikitnya saya pun bisa mengambil pelajaran dari dia” katanya terbuka. Rhoma sukses menciptakan kondisi, untuk diidentikan sebagai “pasangan abadi” Yatie Octavia. Terdukung lagi dengan ketenaran Yatie yang berharga jual tinggi. Bahkan di era-1980, Yatie Octavia terjaring ke dalam kelas “The Big Five” bersama Roy Marten, Robby Sugara, Jenny Rachman dan Doris Callebaut ***

Yoyo Dasriyo

(Bersambung)

Bagikan artikel ini:
Share