Kilas Balik Memburu Perjumpaan (23): Hanya Tuhan Yang Tahu, Sayang

Sumber: fokusjabar, 28-01-2015

Agaknya benar, “Satria Bergitar” itu Rhoma Irama. Tiada lelah “Berkelana” di kancah musik pop, hingga perkasa dengan dangdut-rock di negeri ini. Denting “Gitar tua” dalam “Soneta Grup”-nya, bukan untuk memanjakan suasana “Begadang” atau main “Judi”, yang terbuai “Nyanyian Syetan”. Itu “Haram”, kata hukum agama! Dendang lagu dan musik Soneta pun tak hanya menembang “Melodi Cinta”, yang mendenyutkan “Darah Muda”. Lebih dari itu, mengobarkan semangat “Nada Dan Dakwah” di pentas hiburan, dalam “Perjuangan Dan Doa” menebar syiar Islam, menegakkan pencitraan dangdut.

Rhoma Irama dan Rica Rachim, isterinya yang disunting dari dunia film. Rica Rachim jadi pasangan baru dalam kehidupan Rhoma di luar keartisannya. (Foto Istimewa)

Rhoma Irama dan Rica Rachim, isterinya yang disunting dari dunia film. Rica Rachim jadi pasangan baru dalam kehidupan Rhoma di luar keartisannya.
(Foto Istimewa)

“Kegagalan Cinta” tokoh “Rhoma” dan “Ani”, bukan hanya sebatas lakon dalam film. Dalam kehidupan sebenarnya, Rhoma Irama pun berpisah dengan (alm) Veronica. Saya hanya dengar kabar perceraian itu, dalam rentang perpisahan lama. Terkabar pula, mantan isteri “Raja Dangdut” yang pernah dikenal jadi “primadona” grup band wanita “The Beach Girls” itu berpulang ke alam keabadian. Begitu panjang rangkaian peristiwa, yang mewarnai eksistensi dan keteguhan prinsip Rhoma Irama.

Tetapi tak ada orang tahu, pencekalan yang pernah menjerat kelangsungan karier Rhoma Irama, sebenarnya bukan hanya untuk penampilan Rhoma dan Soneta Grup di layar TVRI Pusat. Tidak pula hanya pelarangan edar lagu “Rupiah” di masa kekuasaan pemerintah Orde Baru. Aliran karya tulis dalam profesi saya tentang Rhoma Irama pun, pernah “dicekal” di suratkabar harian terbitan Jakarta, yang tampil berbeda haluan. Dalam kehangatan suhu politik, jelang Pemilu 1982, siang itu di kantor redaksi koran itu, saya, diminta agar mau memahami pergolakan politik.

Saat ketiga parpol besar kontestan Pemilu: Golkar, PPP dan PDI tu berkibar, diketahui Rhoma Irama diketahui gabung dengan PPP, kubu parpol berlambang Ka’bah pimpinan H DJ Naro. Sampai batas waktu yang belum ditentukan, saya diingatkan untuk tidak menulis kegiatan Rhoma Irama di media cetak itu. Walau begitu, masih banyak jalan menuju Roma. “Dicekal” di satu media cetak, tidak berarti saya berhenti menulis “Raja Dangdut” itu. Banyak tulisan tentang Rhoma Irama, saya alirkan ke beberapa media cetak independen, seperti di Harian “Sinar Harapan”, Majalah “Violeta” Jakarta, dan Harian Umum “Pikiran Rakyat” Bandung.

Perjumpaan dengan Rhoma Irama berulang lagi tahun 1988, ketika pentas musik “Soneta” kembali berlaga di Stadion “Jayaraga” Garut. Rhoma pun sudah menyunting Rica Rachim, seorang pemain film. Saya hanya memburu perjumpaan keesokan harinya, di Hotel ”Paseban”. “Masih ingat saya, Kang Haji…?” Rhoma tertawa sambil manggut dan melingkarkan tangannya ke pundak saya. Lalu memperkenalkan Rica Rachim. “Semalam sempat nonton juga..?” tanya Rhoma. Saya bermohon maaf. Tak sempat menyaksikan pentas dangdut Soneta.

Dalam pertemuan sekilas itu, Rhoma berbincang tentang karier filmnya. “Insya Allah, film baru saya, ‘Hanya Tuhan Yang Tahu, Sayang’!” katanya. Penjudulan film itu menjanjikan penyegaran baru dalam perwajahan film Rhoma, karena nama (alm) Drs H Asrul Sani penulis cerita dan skenario filmnya, berpeluang menghadirkan filmnya berbobot dakwah Islam. Selama ini, film maupun skenario karya Asrul kental dengan napas keagamaan. Ingat lagi sukses film Islami karya peninggalannya seperti “Di Bawah Lindungan Ka’Bah (1978), atau “Titian Serambut Dibelah Tujuh” (1982).

Film religi lain dari skenario karya Asrul Sani, bertajuk “Al-Kautsar” (1977) igarapan (alm) Chaerul Umam, tercatat paling menawan. Saya meyakini, “Al- Kautsar” yang membintangkan (alm) Wahab Abdi, (alm) WS Rendra, Soultan Saladin dan Yulinar Fidaus, merupakan wajah film nasional religi terbaik, yang belum tertandingi hingga kini.

Halaman belakang hotel itu, ternyata memanjangkan perpisahan dengan Rhoma Irama hingga kekinian. Di rentang waktu itu, rekan Ade Kostaman, wartawan dari Tasikmalaya, yang pernah mengantar ke Hotel “Priangan” menjumpai Rhoma, terkabar sudah lama tiada. Saya menaruh harapan besar untuk film “Hanya Tuhan Yang Tahu, Sayang” sebagai film religi berwajah lain dalam film Rhoma Irama. Sangat harmonis, andai kelangsungan film Rhoma, berduet dengan karya Asrul Sani. Bahkan sutradara dan penulis skenario film ini pula, yang membangun lakon dan skenario film komedi pujian “Kejarlah Daku Kau Kutangkap” dan “Naga Bonar” pertama. Film “Hanya Tuhan Yang Tahu, Sayang” disiapkan sebagai garapan Acok Rachman. ***

Yoyo Dasriyo

(Bersambung)

Bagikan artikel ini:
Share