Kilas-Balik Memburu Perjumpaan (6): Perseteruan Menyulut Dangdut Dan Rock

Sumber: fokusjabar, 06-01-2015

Masa-masa itu saya senang berpetualang. Mungkin juga masih keasyikan memproses identitas diri. Tanpa berharap imbalan dari panitia maupun dari pihak “Soneta”,  saya menuturi lintasan romantika perjalanan “Soneta Grup” sebatas kemampuan yang saya miliki. Faslitas yang diberikan panitia, hanya akomodasi, konsumsi, biaya pembelian 2 rol negatif film hitam putih dan batu baterey kecil untuk kebutuhan pemotretan, yang banyak menggunakan kilatan lampu blitz . Perangkat kamera masih manual.

Keterangan Foto (6): Wawancara Yoyo Dasriyo dan Elvy Sukaesih, di balik pentas dangdut “Soneta Grup” di Gedung “Sumbersari” Garut, 1975. Tampak rekan Cang Anwar masih berambut gondrong, dan Man King’S ( jongkok). Pebincangan diseling Elvy dengan menguatkan “backing vocal”, untuk dendang Oma dari balik pentas. (Dokumentasi: Yodaz)

Keterangan Foto (6):
Wawancara Yoyo Dasriyo dan Elvy Sukaesih, di balik pentas dangdut “Soneta Grup” di Gedung “Sumbersari” Garut, 1975. Tampak rekan Cang Anwar masih berambut gondrong, dan Man King’S ( jongkok). Pebincangan diseling Elvy dengan menguatkan “backing vocal”, untuk dendang Oma dari balik pentas. (Dokumentasi: Yodaz)

Belum ada kamera digital dengan kemudahan fasilitasnya. Proses cuci cetak foto pun membutuhkan waktu di studio foto. Beruntung, Cang Anwar punya kamar gelap, dan bias memproses foto di rumahnya. Setiba kembali di Garut, saya minta beberapa foto bernilai jual seperti aksi Oma Irama, Elvy Sukaesih dan Veronica, secepatnya disiapkan untuk melengkapi pengiriman laporan show dan profil mereka. Dengan mesin tik merk “Royal” yang belum lama saya miliki, tulisan profil Veronica, saya buat untuk penerbitan Majalah “Aktuil” Bandung.

Pikir saya, tulisan itu bisa jadi terobosan untuk menulis Oma Irama di majalan musik bergengsi tersebut. Sungguhpun begitu, saya masih harus menunggu momentum yang pas. Membaca dulu perkembangan yang dicapai “Soneta Grup”, di tengah gelombang persaingan pentas grup band musik hingar-bingar, yang membesarkan nama grup The Rollies, “AKA”, “God Bless”, “Giant Step” serta sederet nama lainnya. Saya yakin, tulisan profil Veronica berkadar adaptif. Kapan pun bisa diluncurkan. Tidak akan basi. Terbukti gaung pembaharuan dangdut Soneta Grup kian membahana.

Reputasi Oma Irama makin menggetarkan pentas musik Indonesia. Dangdut “Soneta” fasih membaca selera konsumen musik. Sejumlah lagunya yang terus mengalir, begitu cepat mengigit pasar dalam pergolakan kancah musik grup band. Terlebih, setelah Oma Irama menyulut sensasi besar yang meninggikan nilai komersiaitas “Soneta Grup” -nya, manakala pasangan duetnya bergeser dari Elvy Sukaesih ke Rita Sugiarto, sang pendatang bergelar juara pertama Festival Penyanyi Pop Indonesia” di Semarang.

Kecuali itu, penampilan Oma Irama pun berambut lebih pendek dan namanya berganti Rhoma Irama,setelah menunaikan ibadah haji. Pemusik dangdut berdarah ningrat dari pasangan R Burdah Anggawirya dan Ny Hj R. Tuti Juariah ini, terusik menyembunyikan gelar haji dan keningratannya ke balik RH (Raden Haji), hingga lahir nama baru Rhoma Irama. Tatanan musik dangdutnya yang beraroma rock, dikuatkan lagi dengan lagu-lagu bernapas Islami. Pergelaran pentas musiknya, senantiasa sarat dengan semangat syiar  menggemakan “amal ma’ruf nahyi munkar”!

Terobosan konsep musik dangdut “Soneta”, sangat mengejutkan! Kekaguman dan pujian selalu memandikan pentas musik Rhoma Irama dan “Soneta Grup”-nya yang makin solid. Sukses itu sangat terdukung dengan kemampuan Rhoma menulis lagu-lagunya, yang sesuai dengan kapasitas dan karaktersitik suaranya. Arus pemberitaan seputar Rhoma Irama menyita penerbitan beragam media cetak. Pamor “Soneta” pun berkilat. Nilai jualnya makin tinggi. Semua itu melicinkan pemasaran album rekaman  “Darah Muda”, dan album “Soneta” lainnya.

Kemasyhuran lagu-lagunya tak terbendung lagi, seperti “135.000.000”, “Rupiah”, “Hak Azazi”, “Ingkar”, Terpaksa”, “Haram”, “Darah Muda”, berlapis lejitan sukses kehadiran Rita Sugiarto mendendang “Hitam”, “Percuma”, “Biduan”, “Cuma Kamu”, “Cup-Cup”, maupun “Mati Aku”. Itu momentum yang pas, untuk meluncurkan stok tulisan tentang Veronica. Benar juga, “Aktuil” 205 edisi 27 September 1976, langsung memuat profil Veronica Irama bertajuk “Di Balik Sukses Rhoma Irama”. Majalah musik ini, lalu membuka lahan pemberitaan tentang pembaharu dangdut itu.

Saya tak sungkan lagi mengirim tulisan tentang Rhoma Irama, yang kesuksesannya dalam mengangkat martabat musik dangdut mengalirkan banyak pengakuan. Bahkan, aksi Rhoma dan Rita menembus gambar sampul majalah musik legendaris itu. Rhoma tak pernah tahu, diam-diam saya turut bangga, karena “Aktuil” sangat selektif. Tidak sembarang artis atau grup band, dilirik untuk dipajang di sampul majalah terkemuka itu. Pemberitaan tentang Rhoma makin gencar, saat Benny Soebardja pemusik hard-rock dari grup band “Giant Step” menyulut polemik di tengah pesatnya pamor “Soneta Grup”.

Kedua pemusik kondang asal Tasikmalaya yang berlainan kiblat musiknya, bersitegang tentang derajat musik mereka. “Giant Step” dengan formasi Benny Soebardja. Triawan Munaf (ayah Sherina), Jelly Tobing, Albert Warnerin dan Erwin Badudu, saat itu tengah diposisikan sebagai kelompok pemusik elit di jajaran musik hingar-bingar. Persaingan citra musik “Giant Step” dengan pendatang “Soneta Grup” yang mengusung dangdut rock, tergoda menyulut “perseteruan”. Rhoma Irama yang berbangga dengan sukses perjuangannya mengangkat martabat dangdut, tak menerima musiknya direndahkan dari musik lain ***

Yoyo Dasriyo

(Bersambung)

Bagikan artikel ini:
Share