Kilas Balik Memburu Perjumpaan (9): Rhoma Irama Membakar Sepi Sumedang

Sumber: fokusjabar, 11-01-2015

Serasa tersanjung. Benny Mucharam memberi kehormatan. Saya diminta naik ke dalam colt. Ditempatkan di jok tengah, diapit Rita Sugiarto dan Tati Hartati. Harum varfum kedua artis, seketika menyapu penciuman. Kendaraan memang belum ber-AC. Desir udara nyaman, hanya bertiup dari celah daun jendela yang digeserkan, Konvoi kendaraan mulai melaju. Sepanjang perjalanan Garut – Sumedang, saya leluasa mendua perbincangan dengan Rita dan Tati. Kilas-balik karier Rita sejak menggeluti pentas musik pop hingga gabung dalam “Soneta” terurai lepas.

“Saya paling suka dengar kamu nyanyi ‘Cuma Kamu’, “Hitam’ dan ‘Biduan’! Ekspresif..” Saya membuka percakapan. Rita tersenyum. Lalu notes kecil yang memuat wawancara dengan tulisan stenografi, dan sebuah pulpen, saya sodorkan. “Untuk kenangan saya, tolong kamu tuliskan syair lagu ‘Cuma Kamu’ di sini..” Rita manggut sambil tersenyum, dan menarik notes itu. Artis ini menulis dan bersenandung kecil lagu “Cuma Kamu”, Rita menulis syair lagu di atas tas perangkat alat kecantikan yang didekapnya. Saya tak pernah menduga, bakal mendampingi Rita Sugiarto, dalam kisah perjalanan pemusik dangdut sekaliber “Soneta Grup”.

Aksi Rhoma Irama di depan publik dangdut Sumedang, 1977.  Tim “Soneta” sukses menghipnotis penontonnya. Padahal waktu pawai artis digelar, sunyi dari sambutan masyarakat setempat (Foto: Yodaz)

Aksi Rhoma Irama di depan publik dangdut Sumedang, 1977. Tim “Soneta” sukses menghipnotis penontonnya. Padahal waktu pawai artis digelar, sunyi dari sambutan masyarakat setempat (Foto: Yodaz)

Belum lagi dengan program show lanjutan ke Ciawi, Tasikmalaya. Tak banyak orang tahu, saya pernah jadi orang di balik lintasan pergelaran musik “Soneta”. Syair lagu tulisan kenangan Rita Sugiarto dalam secarik kertas kecil itu pun, sampai kini masih tersimpan. “Sebelum menerjuni lagu dangdut, saya berkarier sebagai penyanyi pop. Saya pernah jadi juara utama dan favourite di Demak tahun 1971.Habis itu, saya beberapakali menjuarai lomba nyanyi dangdut dan keroncong di ‘Semarang Fair’.Lalu terpilih jadi juara Pop Singers se-Jawa Tengah tahun 1974/75, untuk mewakill Jateng ke tingkat nasional di Jakarta” Rita mengalirkan tuturannya.

Namun penyanyi kelahiran Mranggen Semarang, 19 September 1958 bernama lengkap Rita Derta Kismiarti Sugiarto ini, terpaksa membatalkan kesiapannya tampil di pentas festival penyanyi pop tingkat nasional, karena terpilih jadi pasangan duet Rhoma Irama menggantikan Elvy Sukaesih. Ternyata karier Rita memang unik! “Saya ini suka nyanyi serabutan, Kak…! Tidak cuma nyanyi satu jenis lagu saja. Pop boleh, dangdut mau, keroncong siap.. Pokoknya apa sajalah. Yang penting, saya ada kemampuan” Rita lalu berderai tawa nyaring

Dalam perjalanan ke Sumedang, saya pun berbagi perrhatian dengan Tati Hartati. Penyanyi pendamping ini saya ajak bicara tentang titian kariernya di pentas musik dangdut. Jelang sore hari, kami tiba di Kota Tahu Itu. Pihak panitia mendadak meminta rombongan “Soneta” menggelar pawai keliling kota. Saya masih berada dalam konvoi kendaraan artis dangdut. Sempat heran, sambutan massa di Sumedang, tak sehangat Garut. Sepi massa penggemar dangdut di keramaian pusat kota itu. Tetapi apapun kondisinya, tidak menyurutkan semangat para pemusik “Soneta”.

Terlebih, setelah Ketua DPRD Sumedang, Achmad Mustofa, bertandang ke hotel persinggahan kami. Mustofa minta Rhoma Irama tidak berkecil hati, karena diyakininya warga Sumedang akan tumpah saat tiba waktu show. “Tapi harap maklum, penonton di Sumedang ini mahal tepuk tangan! Kemarin ini waktu grup band ‘Panbers’ manggung, mereka tampak diam-diam saja. Nah kalau para penonton di Sumedang diam, itu tandanya setuju dengan aksi musik yang mereka saksikan…” tuturnya kemudian.

Di saat tim “Soneta” melepas lelah perjalanan, saya mencuri waktu memburu studio foto, untuk membeli 1 rol negatif hitam putih dan empat batu baterey kecil. Di tempat itu pula, saya memproses cuci cetak foto pergelaran aksi pentas “Soneta” di Jayaraga, Garut. Saya minta selesai setengah jam, sebelum waktu Maghrib, agar Rhoma bisa melihat dulu hasil foto shownya. “Mas, boleh dong lihat foto-fotonya..? Ada yang sudah dicetak? Ada saya ‘nggak…?” sambut Hadi pemain suling sambil tertawa. Saya bilang, semua foto sedang diproses di toko foto. Tak jauh dari lokasi hotel.

Rupanya Hadi tak sabar. Pemain suling yang selalu tampil beda di panggung musiknya ini, semangat mengajak saya untuk bersama ke tempat proses foto. “Saya mau lihat-lihat dulu foto-fotonya, sebelum masuk majalah.” Hadi tertawa akrab. Saya berdua Hadi naik becak menembus wajah perkotaan Sumedang. Hadi tak perduli, beberapa orang mengenali sosoknya. Memang, Hadi jadi bagian dari pesona pentas “Soneta”. Tiupan sulingnya memiliki karakteristik kuat. Dalam kesenduan lagu Rhoma Irama dan Rita Sugiarto, alunan sulingnya merawankan sukma ***

Yoyo Dasriyo

(Bersambung)

Bagikan artikel ini:
Share