M. M. Billah Tentang Ahmadiyah: Butuh Waktu Lama Mengubah Pola Pandang

Pindahan dari Multiply

URL: http://sraten.multiply.com/journal/item/12/M.-M.-Billah-Tentang-Ahmadiyah-Butuh-Waktu-Lama-Mengubah-Pola-Pandang

Judul Asli: M. M. Billah Tentang Ahmadiyah: Butuh Waktu Lama Mengubah Pola Pandang
Sumber: islamlib.com, 08-01-2007
http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=1190

Ahmad Abdul Haq menyalin wawancara jaringan Islam Liberal (JIL) dengan M. Mu’tashim Billah (Mas Tasim – ahmad) dengan tema Ahmadiyah ini karena beliau adalah asli anak Desa Sraten. Artikel ini pun cukup bercerita untuk menggambarkan kultur Desa Sraten menurut Mas Tasim.

Ada orang-orang yang yakin sekali bahwa Ahmadiyah itu berbahaya. Prinsip ajarannya mereka anggap sudah bukan Islam lagi. Dalilnya, Nabi Muhammad dianggap bukan nabinya lagi, dan seterusnya. Itulah persepsi orang-orang tertentu. Ketika berinteraksi langsung dengan pimpinan-pimpinan dan kyai-kyai Ahmadiyah, mereka mengatakan bahwa nabi mereka tetap nabi Muhammad, Tuhannya juga sama dengan orang Islam umumnya, kiblatnya juga sama, Qurannya juga sama.

Merasakan pengalaman hidup dalam kultur yang berbeda-beda tak serta-merta mengubah pola pikir dan tindakan seseorang dari yang lama ke yang baru. Namun pengalaman tersebut tetap merupakan modal penting untuk bersikap terbuka dan toleran terhadap orang lain. Demikian penuturan M. M. Billah, anggota Komnas HAM, tentang pegalaman keberagamaannya, kepada Novriantoni dari Kajian Islam Utan Kayu (KIUK), Kamis (15/12) lalu.

Pak Billah, dalam kultur masyarakat seperti apa Anda tumbuh?

BillahKalau dikilas-balik, posisi saya agak unik dalam komunitas-komunitas keagamaan. Saya lahir dalam komunitas santri tulen Salatiga. Penduduk desa kami dikenal 100% beragama Islam. Tidak sekadar Islam abangan, tapi Islam yang saleh. Dalam Pemilu 1955, nyaris 100% orang desa saya menyalurkan suaranya ke Partai NU. Jadi lingkungan saya adalah santri dan NU. Ayah saya juga seorang santri. Jabatan terakhirnya adalah Ketua Peradilan Agama Semarang dan Salatiga. Di usia mudanya, beliau sempat nyantri di berbagai pesantren Jawa Timur. Konon, beliau seorang hafidz (penghafal Alqur’an, Red), yang saat itu masih langka.

Jadi, sejak lahir hingga usia 5 tahun, saya hidup dalam komunitas santri. Tapi kemudian, ayah saya bertugas di komunitas pinggiran hutan sebagai penghulu Kantor Urusan Agama (KUA). Di pinggir perhutanan itu, kelompok masyarakat yang dominan adalah orang Partai Komunis Indonesia (PKI). Artinya, saya berpindah dari komunitas Islam santri ke komunitas Islam abangan yang PKI, sampai tamat SD. Setelah tamat SD, saya tinggal di Salatiga yang kulturnya priyayinya sangat kuat. Jadi, saya telah melalui proses sosialisasi masa kecil dari komunitas santri tulen, ke abangan, lalu ke priyayi. Setelah lulus SMA, saya melanjutkan studi di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW).

Apakah Anda pernah menjadi santri benaran, dalam pengertian belajar agama Islam secara sistematis di pesantren?

Ya, karena ayah saya juga dianggap sebagai kyai. Saya menjadi santrinya ayah saya. Saat itulah saya sempat mengkaji kitab-kitab kuning yang elementer secara sorogan, seperti Sullamut Tufiq dan Safinatun Najat dengan ayah saya. Kebetulan, Pakde saya juga punya pesantren. Di Jawa umumnya, ada istilah santri kalong yang tinggal di pesantren hanya sesaat. Saya sempat menjadi santri kalong. Sekitar tahun 1950-an, saya juga pernah mengikuti apa yang saat itu disebut sebagai sekolah Arab, tapi hanya sampai kelas 2. Setelah itu, saya pindah ke daerah abangan.

Apa pengaruh beragam kultur keagamaan itu dalam pembentukan kepribadian Anda?

Dari situ saya punya banyak teman di semua komunitas. Saya jadi belajar dan mengerti kultur masing-masing. Di komunitas santri, kalau berantem biasanya sampai menggunakan sumpah seperti wallahi atau ”demi Allah” dengan fasihnya. Sementara di lingkungan abangan atau PKI, kulturnya agak lain. Di lingkungan ini, saya jadi akrab dengan wayang, reog, dan semua kesenian yang saat itu jadi ujung tombak seni kelompok komunis.

Kalau nonton wayang bersama teman-teman, saya suka sekali dekat dengan dalangnya. Dari situ saya tahu, semua cerita-cerita Islam juga sudah banyak yang masuk dalam kisah wayang sebagaimana cerita dan moral wayang sendiri. Kita tahu, wayang diklaim sebagai kesenian non-santri meski dulunya dipercaya juga digunakan oleh Sunan Kalijaga dalam menyebarkan Islam di Jawa.

Nah, dalam perjalanan selanjutnya, di lingkungan Kristen UKSW, saya belajar agama Kristen, filsafat Kristen, dan etika Kristen. Dengan demikian, hal yang saya pelajari sangat bervariasi. Saya tak tahu kultur mana yang paling kuat membentuk kepribadian saya. Tapi yang pasti, ada hal-hal universal yang dapat saya tangkap dari berbagai macam lingkaran komunitas yang berbeda-beda tadi.

Otomatis Anda tidak bisa lagi menjadi santri totok, tapi sudah menyerap berbagai kebudayaan, ya?

Ya. Tapi dalam prosesnya perubahan kebudayaan itu tidak mudah. Sebab ketika di SMA, tepatnya tahun 1963, saya pernah menjadi aktivis dan ketua Pelajar Islam Indonesia (PII). Di tahun 1960-an itu, konflik antara kelompok komunis dengan kelompok Islam sangat tajam. Jadi, perdebatan-perdebatan ideologis dan politik, betapapun masih terbatasnya, sudah sangat tegang. Ketika berhadapan dengan teman-teman komunis, mereka pasti menyebut-nyebut Karl Marx dan segala macam rujukan berpikir.

Tapi dengan begitu, saya ikut terdorong untuk memperlajari pemikiran Marx. Sebab, waktu itu, kalau kalah berdiskusi, kan jadi malu. Fakta itu memberi dorongan kuat untuk mempelajari ”kitab suci-kitab suci” mereka juga. Meski dengan susah payah, saya juga terpaksa membaca karangan Marx, dll. Nah, pergulatan dan persaingan ideologis seperti itu ternyata membawa dampak positif untuk belajar lebih serius memahami pola pikir mereka. Mula-mula dengan niat untuk mengalahkan. Tapi positifnya, orang yang belajar akan jadi tahu lebih banyak tentang orang lain.

Tampaknya, pilihan ideologis masa itu hanya antara Islam dengan komunisme, ya?

Ketika itu, kita memang masih remaja dan pengetahuan pun masih terbatas. Kaum remaja sering kali tidak bisa melawan arus yang begitu kuat. Di PII, saya diberi pelajaran tentang pertentangan ideologis seperti itu, sehingga jangan kaget kalau PII itu seakan-akan bukan lagi kependekatan dari Pelajar Islam Indonesia, tapi Partai Islam Indonesia. Kalau sudah menjadi istilah partai, sudah tentu menjadi gerakan politik. Kalau gerakan politik, berarti ada persaingan politik yang diperebutkan. Pada masa itu, sisi militansi itu memang ditanamkan kuat sekali, karena lawannya juga militan. Jadi, ada suasana persaingan yang kadang-kadang mencekam, dan itu searah dengan arus Perang Dingin.

Karena itu, waktu itu belum terbayang adanya kemungkinan berdamai antara Islam dengan komunisme. Tapi dari yang saya pelajari, ternyata perhatian terhadap orang-orang yang tertindas dan kaum miskin, saat itu datang dari orang-orang PKI. Mereka mampu menciptakan nyanyian-nyanyian yang sangat sederhana dan mudah dihapal oleh kalangan jelata. Di sebuah kecamatan abangan, saya sering mendengar bagaimana anggota Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) memberi pendidikan politik kepada orang-orang yang kebanyakan buta huruf. Misalnya lewat nyanyian: ”Ayo, poro konco ojo lali sinahu podo noto negoro (mari kawan-kawan, jangan lupa belajar menata negara, Red).”

Nah, ini kan pesan politik untuk ikut berpartisipasi menentukan kebijakan-kebijakan yang ditentukan negara. Nah, di dalam kelompok Islam, tidak banyak dilakukan pendidikan politik seperti itu. Di PII memang ada pesan-pesan politik. Tapi itulah yang terjadi sehingga saat itu kita belum punya bayangan bahwa pada suatu saat nanti kehidupan ideologi, perbedaan-perbedaan aliran, bisa tetap ada dan berdamai. Itu belum terbayang.

Tapi saya juga sadar bahwa pada waktu itu interaksi saya dengan teman-teman atau lawan politik kami bukan hanya interaksi ideologis tapi juga interaksi intelektual. Jadi tetap ada perdebatan-perdebatan dalam suasana yang oke. Ketika di Salatiga, saya memang menghadapi teman-teman yang suka berdebat. Dan kalau sudah berdebat, kita bisa sampai menghabiskan malam. Dan biasanya, keputusan pemenang debatnya ditentukan oleh yang paling tahan melek. Nah, strategi macam itu membuat kita saling belajar satu sama lain.

Bagaimana dengan pengalaman Anda kuliah di Universitas Kristen Satwa Wacana?

Sejak masih mahasiswa dan juga setelah lulus, saya bekerja di almamater saya (UKSW), tapi bukan sebagai dosen melainkan di Lembaga Penelitian Ilmu Sosial yang baru didirikan tahun 1970-an. Di lembaga itulah saya belajar, tidak hanya agama Kristen, tapi juga ilmu-ilmu sosial umumnya. Kuliah saya memang di Fakultas Ekonomi. Tapi, di Lembaga Penelitian Ilmu Sosial, saya mendapat pelajaran dari senior-senior tentang antropogi, sosiologi, dan lain sebagainya. Pada waktu itulah saya mulai membaca bukunya Clifford Geertz tentang santri, abangan, dan priyayi.

Dari situ saya juga menempa dan menguji iman dengan cara yang berbeda dari jalur yang pernah ditempuh di awal. Pengetahuan awal saya tentang Islam, saya dapatkan lewat jalur yang islami. Tapi di sini, saya mulai membaca bermacam-macam buku yang tentang Islam, juga yang ditulis orang yang bukan Islam, dengan pendekatan yang berbeda. Nah, itu membuat saya sadar bahwa ada cara lain untuk menguji iman, meneguhkan iman, menempa iman.

Ada perubahan signifikan dalam cara Anda memandang agama setelah berkenalan dengan pendekatan-pendekatan baru itu?

Ada. Saya punya pengalaman yang sangat pribadi. Di dalam kultur santri seperti di pesantren, kita biasanya diajarkan bahwa kalau kulit laki-laki bersentuhan dengan perempuan, wudhunya batal. Kalau mau salat, makanya harus wudlu lagi. Nah, ketika saya membaca lebih banyak buku, saya menjumpai madzhab yang mengatakan bahwa maksud lain dari bersentuhan di situ. Yang dimaksud adalah persetubuhan, dan itulah yang pasti membatalkan wudhu. Karena itu, kalau saya bersentuhan dengan perempuan lain, wudhu saya tidak rusak dan saya bisa salat.

Akal atau rasio tentu menerima itu. Tapi untuk mengubah pola pandang lama, kita juga butuh waktu yang lama. Jadi, tidak bisa begitu ada sesuatu yang masuk akal, tingkah laku orang dalam beragama langsung berubah. Belum tentu. Perubahan-perubahan pandangan keagamaan, terkadang tidak serta merta mengubah pola pengamalan agama. Misalnya, bolehkah saya menjadi makmum seorang imam perempuan? Memang ada dalil yang membolehkan. Tapi untuk mengerjakannya, kita tidak serta merta bisa. Begitulah yang terjadi dalam hal-hal yang bersifat ibadah, juga persoalan teologis.

Apa yang membuat Anda berminat untuk membuka diri terhadap wawasan-wawasan keagamaan baru?

Karena ada hadis Nabi yang mengatakan, ”Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina!” Apa artinya itu dan mengapa Nabi menyuruh itu? Saya memahaminya sebagai anjuran agar kita berusaha memahami tradisi dan kebiasaan orang lain, bahkan iman atau tidak berimannya orang lain. Semua itu dibuka peluangnya oleh Rasullah. Ketika kuliah di Universitas Kristen, memang ada badai yang menimpa saya saat coba memahami orang lain. Saya dibilang sudah masuk Kristen, murtad, dan seterusnya. Sampai-sampai ayah saya sangat sedih.

Tantangannya memang banyak ketika itu. Waktu pertama kali masuk di universitas itu, banyak sekali kebiasaan-kebiasaan baru yang belum bisa dibayangkan oleh dunia santri. Di situ ada kebaktian, pengajian kitab Injil, dan lain-lain. Tapi dari situ saya tahu, orang Kristen yang di lingkungan saya dingggap kafir, ternyata tidak sejelek yang dipersepsi. Mereka disiplin, menghormati orang lain, punya kitab suci, dan kalau berdoa khusu’ bukan main, sampai meneteskan air mata. Nah, ini pengalaman kehidupan lain yang sebelumnya belum saya alami. Saya banyak belajar dari situ.

Tapi memang, banyak pemimpin agama yang melarang umatnya belajar agama lain. Saya dapat memahami itu. Sebab, dalam agama itu memang banyak sisinya. Ada aspek teologi yang ikut melarang. Kedua, bagaimana agama itu diajarkan. Ketiga, dan ini yang sering kali menjadi perdebatan, soal kaitan antara agama dan politik identitas. Nah, pada sisi ketiga inilah ada perebutan kekuasaan yang mengatsnamakan agama. Biasanya, jenis yang ketiga ini akan berujung pada kekerasan, sehingga terjadi kekerasan antaragama seperti Perang Salib. Kelihatannya, semangat Perang Salib itu jugalah yang kini dihembuskan lagi, misalnya di daerah konflik seperti Poso.

Di tingkat global, Presiden AS, George W Bush juga menggunakan sentimen agama untuk melawan terorisme. Dia bilang, saya mendapat perintah Tuhan untuk melawan para teroris itu. Jadi dia juga membangkitkan sentimen keagamaan. Nah, sentimen keagamaan yang dia bangkitkan itu mengundang reaksi balik dari orang lain yang tidak mau diperlakukan sebagai teroris. Bagi saya, kalau ada upaya-upaya serius untuk memahami ajaran dan menghormati orang lain, barang kali konflik-konflik fisikal bisa kita hindari.

Anda masih merasakan adanya pertentangan-pertentangan ideologis masa lalu Indonesia yang muncul lagi saat ini?

Pergulatan ideologis yang terjadi di Indonesia tak bisa dilepaskan dari pergulatan-pergulatan politik yang terjadi sepanjang sejarah Indonesia. Kalau bertolak dari masa Orde Baru, selama 30 tahun kita hidup terkekang. Nah, sekarang kekangan itu sudah lepas sehingga orang merasa bebas untuk mengekspresikan apapun juga. Itu artinya, orang-orang yang punya paham apapun, termasuk pemahaman agama yang radikal, merasa punya peluang dan hak untuk mengekspresikan keyakinannya. Dengan kata lain, sekarang kehidupan Indonesia lebih bervariasi dari pada sebelumnya.

Tapi kita juga melihat, di samping ada gerakan-gerakan yang sangat militan dan radikal, ada juga gerakan yang sangat moderat di berbagai macam ideologi dan agama. Di dalam Islam, ada yang radikal dan ada yang moderat. Begitu juga di agama-agama lain. Saya menduga, kerusuhan-kerusuhan atau konflik-konflik yang muncul saat ini, antar lain merupakan ekspresi dari kehendak kelompok-kelompok yang bisa disebut radikal guna memenangkan pertarungan-pertarungan atau hegemoni politik, bukan hanya hegemoni agama.

Karena menangangi kasus Ahmadiyah di Komnas HAM, apa penilaian Anda tentang perlakuan semena-mena sebagian orang terhadap jemaat Ahmadiyah saat ini?

Ada orang-orang yang yakin sekali bahwa Ahmadiyah itu berbahaya. Prinsip ajarannya mereka anggap sudah bukan Islam lagi. Dalilnya, Nabi Muhammad dianggap bukan nabinya lagi, dan seterusnya. Itulah persepsi orang-orang tertentu. Ketika berinteraksi langsung dengan pimpinan-pimpinan dan kyai-kyai Ahmadiyah, mereka mengatakan bahwa nabi mereka tetap nabi Muhammad, Tuhannya juga sama dengan orang Islam umumnya, kiblatnya juga sama, Qurannya juga sama.

Artinya, ada sesuatu yang dipercaya, yang tidak jelas juntrungannya, yang selama ini digunakan sebagai alat untuk menyingkirkan rival tertentu oleh kelompok tertentu. Dan Ahmadiyah itu dianggap rival oleh kalangan mainstream. Mengapa? Saya duga karena pencetus Ahmadiyah itu datang dari India, bukan Arab. Sekarang, pusatnya berada di London, bukan Mesir atau Arab Saudi. Persaingan pusat dan pinggiran itu memuncak menjadi pertikaian dan saling tidak suka. Pandangan itulah yang dikembangkan. Siapa yang mengembangkan, masih harus kita cari bersama-sama.

Tapi bagi saya, kalau diadakan dialog, saling menghargai, mungkin tindakan-tindakan kekerasan selalu bisa dihindarkan. Apakah ajaran Ahmadiyah itu berbahaya atau tidak, tergantung bagaimana kita melihatnya. Semua ajaran yang bertahan hidup, selalu akan mempengaruhi otak manusia. Dia akan bahaya kalau kita perlakukan sebagai musuh yang dianggap mengancam eksistensi kita. Tapi kalau diperlakukan sebagai aliran yang harus dihormati, mungkin tidak berbahaya. []

Bagikan artikel ini:
Share