Mal Bukan Lagi Tempat yang Aman?

Judul: Mall Bukan Lagi Tempat yang Aman?

Oleh Edwin Pangestu

Sumber: Kompasiana, 18-08-2010

URL:

  • http://www.kompasiana.com/edwinpangestu/-ketika-sekolah-bukan-lagi-menjadi-tempat-yang-aman_5500187ea33311bb7450f9a8 (sudah putus)
  • http://ekonomi.kompasiana.com/marketing/2010/08/18/mall-bukan-lagi-tempat-yang-aman/ (sudah putus)

Google Cache: http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:FpPa3eLbeusJ:www.kompasiana.com/edwinpangestu/-ketika-sekolah-bukan-lagi-menjadi-tempat-yang-aman_5500187ea33311bb7450f9a8+&cd=1&hl=en&ct=clnk&gl=id

Anda sedang berjalan sendiri di Mall Artha Gading, seorang sales mendekati Anda dan memberikan suatu hadiah. Anda diajak untuk masuk ke dalam toko dan beberapa orang sales lain mengatakan bahwa Anda memenangkan undian dan berhak mendapat beberapa hadiah, tetapi ujung-ujungnya Anda harus membayar sejumlah uang. Terdengar familiar? Bahkan Anda atau keluarga Anda pernah mendengar atau mengalami itu? Tenang, Anda tidak sendiri, ada ratusan bahkan mungkin ribuan orang yang merasa ditipu oleh trik marketing ini.

Apabila Anda pernah membeli produk ini, maka kemungkinan besar merknya adalah “Aowa”atau “Inextron”. Silahkan cek keyword tadi di Google (Pages from Indonesia) dan anda akan mendapati kedua nama merk tersebut disertai judul “penipuan”. Berdasarkan pengamatan, di Mall Artha Gading terdapat 3 toko yang menjual barang sejenis yaitu Greentech, Aowa, dan iHome. Khusus untuk Greentech dan Aowa memiliki modus serupa yaitu:

  1. Seorang sales mendatangi anda dan memberikan anda suatu hadiah lalu anda diajak masuk ke toko
  2. Anda akan disambut oleh beberapa sales lain yang berjumlah 4-5 orang yang akan menghujani Anda dengan pujian berlebihan
  3. Anda akan mendapat kesempatan untuk memilih kupon undian berhadiah
  4. Apapun kupon yang Anda pilih, anda akan mendapatkan kompor listrik yang “katanya” senilai Rp 15 juta atau perabotan rumah tangga lainnya (FYI: kompor merk lain jenis ini harganya hanya sekitar 3-4 juta)
  5. Semua sales akan berteriak histeris, memberi Anda ucapan selamat, memuji betapa beruntungnya Anda, lalu meminta ditraktir.
  6. Lalu ada seorang yang mengaku dari kantor pusat menelpon dan mau bicara dengan Anda. Pada kasus lain, Anda diminta menunggu sekitar 3 menit untuk menerima fax dari kantor pusat.
  7. Orang kantor pusat akan memberikan anda satu kesempatan lagi untuk mengambil kupon asalkan ada salah satu nomor kupon yang sama dengan nomor kartu kredit / debit Anda. Modus lain adalah dengan menanyakan Bank dari kartu kredit Anda, apapun Banknya, Anda akan mendapatkan hadiah lagi. Ini adalah trik untuk mendapatkan kartu kredit / debit Anda. Dalam beberapa kasus, sales berani menggesek kartu tanpa seijin Anda dan tidak mau mengembalikan meski Anda minta.
  8. Para sales kemudian akan mendemokan produk dan terus mengajak Anda berbicara sambil memuji secara berlebihan.
  9. Apabila Anda datang dengan seorang teman, maka bisa dipastikan ia akan dipisahkan dari Anda dan diajak ngobrol oleh sales lain untuk mengalihkan perhatian.
  10. Sales mengatakan bahwa semua hadiah undian tadi bisa Anda bawa pulang apabila Anda membeli satu produk dari toko mereka dan kadang mereka memberikan voucher diskon sebesar Rp 2 juta.
  11. Anda akan diminta membeli barang yang nominalnya bervariasi mulai dari 200 ribu sampai Rp 8 juta
  12. Anda akan diminta berfoto dengan barang yang Anda beli, bahkan dengan para sales. Kadang, ada beberapa orang yang menjanjikan Anda akan masuk majalah tertentu dan akan terkenal. Dengan manisnya mereka akan meminta traktiran (lagi) karena Anda akan terkenal.
  13. Anda pulang dengan membawa barang-barang itu, sesampainya di rumah Anda akan merasa tertipu karena membeli barang yang tidak Anda butuhkan.

Hebatnya, mereka berani menjalankan modus ini saat bulan puasa, apakah puasanya batal? Hanya Tuhan yang tahu.

Berdasarkan pengamatan pada tanggal 17 Agustus 2010 di Mall Artha Gading, sasaran dari modus ini kebanyakan adalah ibu-ibu yang berusia lanjut. Secara psikologi, wanita lebih mudah termakan rayuan, apalagi ini adalah peralatan rumah tangga. Namun ternyata tidak sedikit juga beberapa konsumen pria yang terkena trik marketing agresif ini.

(ilustrasi gambar yang tidak dapat ditampilkan – ahmad)

kiri: seorang calon konsumen sedang “dirayu”
kanan: sasaran utama mereka adalah ibu-ibu berusia lanjut. Selalu dampingi Ibu Anda di Mall!Kabar baiknya, ketiga orang ini gagal dibujuk

Mall Artha Gading bukanlah satu-satunya tempat modus seperti ini terjadi.Beberapa tempat yang tercatat pernah terjadi kasus ini adalah di ITC CempakaMas, Mall Daan Mogot, Mall Taman Anggrek, Mall Ambassador, Mall Metropolis Tangerang, Mall Lippo Cikarang, Cibubur Junction, Blok M Plaza, Gajah Mada Plaza dan masih banyak lagi. Perusahaan ini juga terdapat di mall-mall besar kota lain seperti Bandung, Palembang, Samarinda, Semarang, dan masih banyak lagi.

Menurut pengakuan sang sales, PT Aowa ini sudah berjalan selama 13 tahun. Aowa sudah mendapat pengaduan dari konsumen ke Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mulai tahun 2000. Upaya penyelesaian dilakukan secara mediasi yang mempertemukan konsumen dengan manajemen PT Aowa. Beberapa kasus berakhir dengan pengembalian uang. Namun sayangnya, hanya sebagian kecil dari konsumen yangmelakukan laporan ke pihak berwajib dengan alasan malu dan malas berurusan dengan pihak yang berwajib.

Berkali-kali mediasi yang difasilitasi Direktorat Pengawasan Barang Beredar dan YLKI digelar pada pertengahan 2005. Baru sekitar November tercapaikesepakatan. Aowa bersedia membatalkan transaksi. Konsekuensinya, masing-masing pihak mengembalikan uang dan barang. Ada enam konsumen yang duitnya kembali,dengan total transaksi sekitar Rp 40 juta. Tapi proses pencairan tidak mulus. Ada saja alasan menunda pencairan uang. Di antaranya data online di kantorsedang ngadat. “Sampai kami ‘menahan’ perwakilan PT Aowa untuk tidak pulang dulu hingga duit cair semua,” kata Sularsih.

Berdasarkan penelusuran Tempo (Majalah), Aowa adalah distributor peralatan rumah tangga dan elektronik. Lahir di sebuah toko retail kecil di Ipoh,Malaysia, dengan nama Aowa Electronic Sdn. Bhd. pada 1990, perusahaan itukemudian melebarkan sayap ke Bangkok (1992), Manila (1998), Kota Kinabalu (1999), Jakarta (2000), Kota Ho Chi Minh (2003), dan Cina (2004). Ada juga jaringannya di Hong Kong, Jepang, dan Korea. Sebagai referensi, Aowa sudah dituntut oleh Departemen Industri dan Perdagangan Filipina, silahkan cek http://www.dtincr.ph/news.php?id=12

Penyidik juga menemukan perusahaan lain yang melakukan praktek serupa-setidaknya ada 13 perusahaan. Diduga beberapa perusahaan pemiliknya sama “Sebab, ketika dipanggil untuk pemeriksaaan, yang datang itu-itu saja”.

Sularsih, dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), menambahkan, YLKI malah menemukan perusahaan yang menjalankan praktek serupa mencapai 20 buah”Selain PT Aowa Nusa Lestari, ada PT Metrowealth S7S, Metrowealth Inter’l Group,PT TOP Asahi, PT Metro Asia, Citra Jaya, Super Jaya, Perfect Graha Utama,Health ‘N Care, dan U-rolux Berjaya,” katanya. Masih banyak yang lain: Blue Top, Big Blue Top, The Best, Surya Abadi, Daitindo Megah Lestari,Cahaya Sejati, GreenTech, Star Tech, Oto Plus, dan De Cartino Group. Jadi apabila Anda menemukan toko dengan nama-nama tersebut, sebaiknya Anda waspada.

Harus diakui, PT Aowa sangat cerdik untuk menemukan celah dalam melakukan modus ini. Buktinya,selama 13 tahun ini pihak yang berwenang tidak bisa menjerat mereka. Hebatnya lagi, Aowa bisa menyebar ke berbagai negara dan berhasil mentraining para sales setempat dengan sangat baik. Alibi dari mereka konsumen sendiri menandatangani transaksi ini secara sadar, namun faktanya, banyak konsumen yang merasa tertipu.

Benarkah konsumen “sadar” sepenuhnya? Bagaimana dengan dugaan hipnotis? Sudah sejauh mana tindakan pengadilan, YLKI, dan Kepolisian dalam menangani kasus ini? Mengapa pihak pengelola Mall tidak mengambil tindakan tegas? Lalu bagaimana dengan Departemen Industri dan Perdagangan? Apakah benar sales-sales ini adalah penipu? Jangan-jangan mereka juga sedang dalam pengaruh hipnotis? Apabila masyarakat bersatu dan bekerjasama dengan media massa, bukan tidak mungkin kasus ini bisa diselesaikan secepatnya. Harus tunggu berapa banyak korban lagi yang berjatuhan?

sumber: http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2007/03/12/KRI/mbm.20070312.KRI123339.id.html

Tolong bantu saya menyebarkan tulisan dan informasi ini ke keluarga, saudara, teman, dan terutama bagi yang wanita dan berusia lanjut karena mereka adalah target utama modus ini. Apabila Anda meragukan tulisan saya, silahkan search di Google dengan keyword “penipuan Aowa” atau “penipuan Inextron”

Next:

*Trik marketing agresif tidak bersifat klenik atau mistis, secara psikologi ternyata hal ini bisa dijelaskan

*Ternyata anjuran bahwa kita harus melapor ke tokonya itu sendiri, pengelola, dan polisi tidak selamanya bijaksana. Lalu ke mana kita harus melapor?

Stay tuned!

Bagikan artikel ini:
Share