Panduan Relawan Kemenkeu Mengajar 2016

kemenkeu_mengajar

KEMENKEU MENGAJAR: DARI KAMI UNTUK NEGERI

Pendahuluan

Perbuatan baik bisa berasal dari mana saja dan dilakukan oleh siapa saja. Atas dasar keyakinan sederhana itulah Kemenkeu Mengajar lahir. Sebagai pegawai Kementerian Keuangan, kita memperoleh kesempatan untuk menjalankan profesi yang baik dan hidup bercukupan. Dalam jeda di antara kesibukan pekerjaan, mari merenung sejenak. Mengapa tidak kita berbuat untuk negeri, sedikit lebih banyak lagi?

Sebagai sebuah institusi pemerintahan, Kementerian Keuangan mempunyai peranan vital dalam perekonomian, khususnya dalam mengawal fiskal. Oleh karena itulah kita dikenal dengan sebutan Nagara Dana Rakca (penjaga keuangan negara).

Peranan penting Kementerian Keuangan terletak dalam upaya mengelola keuangan republik dan membantu pimpinan negeri dalam mengelola kebijakan di bidang keuangan dan kekayaan negara. Peranan penting Kementerian Keuangan itu berjalan karena Anda sekarang dan nyala obornya akan dilanjutkan oleh generasi penerus di masa mendatang. Oleh karena itu, Kemenkeu Mengajar mengundang Anda untuk menjadi guru Sekolah Dasar selama satu hari. Di sekolah-sekolah yang telah ditentukan ini, mari melambungkan cita-cita anak negeri. Mungkin jarak sekolah tak jauh dari kantor Anda bekerja, tapi gap pengetahuan dan wawasan terhadap Kementerian Keuangan bisa jadi tak terbayangkan sebelumnya.

Pada Hari Mengajar nanti, Anda tidak menjadi guru bahasa atau matematika. Cerita Anda tentang profesi dan Kementerian Keuangan yang dinanti. Anda adalah pelita yang membuka cakrawala cita-cita tentang bagaimana negeri ini mengelola perekonomian: membangun jalan, merawat fakir miskin dan anak terlantar, mendirikan rumah sakit, dan sederet tugas penting lainnya.

Mari membangkitkan mimpi dan menyalakan pengetahuan anak kandung ibu pertiwi. Luangkan waktu sehari saja menanamkan niat mulia untuk mengabdi pada bangsa, secara langsung di tengah-tengah mereka. Anda akan melihat, di kelas itu, anak-anak menyambut dengan mata berbinar dan semangat berkobar.

Biarkan anak-anak itu mengingat Anda, guru sehari yang memperkenalkan Kementerian Keuangan dan mengajak mereka turut menjadi pelaku pembangunan di masa depan. Bayangkan mereka pulang ke rumah, bercerita pada ayah ibunya dengan menggebu-gebu, betapa mereka ingin bisa seperti Anda. Mungkin hanya sehari Anda bertemu anak-anak itu, tetapi bekasnya bisa jadi tak luntur seiring waktu.

Saatnya berbuat lebih banyak melalui Kemenkeu Mengajar, satu hari bersama anak-anak di Sekolah Dasar. Cukup luangkan waktumu satu hari menjadi guru, mengajari mereka tentang profesi dan bagaimana peran Kementerian Keuangan menjaga ekonomi negeri ini.

Suatu kali, Bung Hatta pernah berujar, “Hanya ada satu negeri yang pantas menjadi negeriku. Ia tumbuh dengan perbuatan dan perbuatan itu adalah perbuatanku.”

Mari berbuat bersama Kemenkeu Mengajar.

Tugas Relawan

  1. Menentukan ketua kelompok dengan musyawarah;
  2. Melakukan observasi dan survey lingkungan sekolah;
  3. Relawan memberikan pengajaran mengenai profesi dan Nilai-Nilai Kemenkeu;
  4. Membantu dokumentator dalam mengabadikan momen di Hari Mengajar;
  5. Merefleksikan pengalamannya melalui sesi refleksi pada akhir program Kemenkeu Mengajar.

Tugas Ketua Kelompok

  1. Membuatkan jaringan komunikasi (misal grup WhatsApp) untuk seluruh anggota kelompok dan fasilitator (untuk mempermudah melakukan koordinasi);
  2. Menjalin komunikasi yang baik dengan pihak sekolah;
  3. Mengkoordinir kegiatan survey, yang disarankan untuk dilakukan pada rentang waktu minimal tujuh hari sebelum hari mengajar meliputi:
    1. Lokasi sekolah
    2. Jumlah rombongan belajar yang akan diajar
    3. Jumlah murid pada setiap rombongan belajar (optional, untuk memberikan gambaran para relawan saat mengajar nantinya)
    4. Tingkatan kelas yang diajar (contoh: kelas 2 dan 5 SD)
    5. Jadwal kegiatan sekolah (jadwal masuk, istirahat, dan jadwal pulang)
  4. Menentukan dan membuat pembagian jadwal mengajar para relawan pengajar di kelompoknya.

Persiapan Mengajar

Sebelum pengajaran dilaksanakan, hal-hal yang perlu dilakukan adalah:

  1. Relawan diharapkan membuat lesson plan (rencana pengajaran) sebagai panduan mengenai metode pengenalan profesi yang akan dilakukan di kelas
  2. Relawan perlu menggali jawaban akan pertanyaan kunci untuk konten pengajaran, yaitu:
    1. Siapakah aku?
    2. Apa profesiku?
    3. Apa yang dilakukan profesiku setiap hari saat bekerja?
    4. Dimana aku bekerja?
    5. Apa peran/manfaat dari profesiku di masyarakat?
    6. Bagaimana cara menjadi aku?
  3. Perlu koordinasi antara relawan dengan dokumentator agar momen-momen penting pada Hari Mengajar dapat diabadikan dengan baik

Teknik Pengajaran

Bagaimana Anak belajar?

Siswa SD pada umumnya berada pada rentang usia 6-12 tahun yang umumnya hanya mampu berpikir tentang konsep-konsep yang konkrit. Oleh karena itu, teknik pengajaran harus menggunakan contoh-contoh konkret, misalnya dengan foto, alat peraga, atau analogi yang mudah dimengerti. Semakin kecil usia anak, pengajaran harus semakin konkret.

Durasi

Setiap kelompok relawan diberi waktu selama satu hari belajar sesuai dengan standar waktu belajar di SD negeri pada umumnya, yaitu dari pukul 07.00 s.d 12.00. Tiap pengajar akan mendapat waktu sekitar 30-45 menit untuk mengajar di kelas. Istirahat menyesuaikan dengan jadwal sekolah masing-masing.

Strategi Pengajaran

Ada beberapa strategi penyampaian materi yang bisa digunakan, diantaranya:

  1. Diskusi, membahas topik tertentu yang berkaitan dengan profesi, misalnya mengenai tokoh profesi terkait yang terkenal;
  2. Strategi Analogi, membandingkan suatu konsep dengan konsep lain yang lebih mudah dipahami. Misalnya profesi psikolog dianalogikan dengan profesi dokter, tapi yang diobati adalah jiwanya;
  3. Strategi Sosiodrama, menjelaskan suatu konsep melalui drama yang dapat dimainkan oleh anak. Gunakan kostum dan setting supaya lebih menarik;
  4. Strategi Gambar Visual, dengan menggunakan gambar, lambang atau simbol sederhana yang berhubungan dengan konsep. Misalnya menunjukkan foto-foto obat atau peracikan obat untuk menjelaskan profesi apoteker;
  5. Strategi Wayang, penjelasan konsep menggunakan alat bantu wayang atau boneka;
  6. Strategi Applied Learning, dengan pengaplikasian langsung konsep yang diajarkan. Contohnya anak diajak untuk menjual produk kepada teman atau guru untuk menjelaskan profesi pedagang;
  7. Strategi Movie Learning, dengan cara memutar dan mendiskusikan isi film yang berkaitan dengan konsep yang ingin diajarkan. Misalnya cuplikan film “King” untuk menceritakan profesi pemain bulutangkis.

Metode Penyampaian Materi

Untuk memudahkan pengajaran, struktur penyampaian materi profesi dapat menggunakan metode BOMBER-B! yaitu:

  • Bang! → memulai pengajaran dengan menarik perhatian. Misalnya dengan memberi pernyataan yang mengejutkan atau dengan memberikan pertanyaan ke anak-anak;
  • Opening 5-10 menit → mengenalkan diri secara sekilas;
  • Outline → memberikan gambaran mengenai apa yang akan dibahas;
  • Message → merupakan inti materi pengajaran yang akan disampaikan. Dalam Kemenkeu Mengajar, message yang diberikan adalah mengenai profesi yang digeluti relawan. Selain itu, relawan juga harus menyampaikan secara intens Nilai-Nilai Kemenkeu;
  • Bridge Pokok Pengajaran 30 menit → jembatani pesan-pesan yang ingin disampaikan supaya dapat dipahami analogi, mengganti istilah-istilah teknis yang sulit dengan istilah yang sulit dengan istilah yang dipahami anak;
  • Examples → berikan contoh-contoh untuk menambah pemahaman anak. Lebih baik bila ada benda konkrit yang bias ditunjukkan;
  • Recap → evaluasi apakah anak paham dengan apa yang disampaikan. Berikan kesimpulan mengenai apa yang sudah disampaikan. Dapat dilakukan dengan metode kuis, games, membuat pohon harapan dan lain-lain. Untuk relawan yang mengajar di sesi terakhir pelaksanaan Kemenkeu Mengajar, penutup dilakukan untuk membungkus materi yang telah disampaikan selama satu hari penuh;
  • Bang! → tutup sesi dengan hal yang menarik pula. Misalnya dengan mengajak anak-anak bersama-sama meneriakkan yel-yel yang mendorong motivasi motivasi anak untuk meraih cita-cita.

Tips Manajemen Kelas

  1. Mengelola giliran
    Menggunakan bola sebagai alat untuk membagi giliran menjawab pertanyaan (yang bisa menangkap bola, boleh menjawab). Perkenalan dengan membentuk lingkaran, lalu mengoper bola (atau apa saja) secara estafet dengan menyebutkan nama/jawaban
  2. Membangun suasana disiplin di kelas. Buat kesepakatan aturan kelas di awal. Misalnya:
    1. Memulai dengan diperkenalkan sebagai bapak/ibu guru, bukan kakak
    2. Angkat tangan sebelum bicara, bila ada yang bicara yang lain diam
    3. Menggunakan kartu jika ada yang mau ke toilet
    4. Untuk kelas yang hiperaktif: Memulai dengan membiasakan agar kelas mau mendengarkan guru dan menegaskan otoritas; misal dengan meminta siswa memutar bangku dan meminta siswa memutar bangkunya lagi
    5. Mendekati anak-anak yang biasanya paling aktif dan tidak tertib dan meminta mereka menjadi Pasukan Penjaga Kelas. Pasukan Penjaga Kelas ini akan mengucapkan janji di depan kelas:
    6. Saya, Pasukan Penjaga Kelas, berjanji akan menjaga ketertiban kelas
    7. Bila ada yang tidak tertib, maka akan saya ingatkan dengan santun
  3. Pengelompokan anak (jika diperlukan)
    1. Bagi kelompok dengan hitung 1-4, tiap anak mengacungkan jari sesuai angkanya
    2. Bagi kelompok berdasarkan kriteria tertentu, misalnya warna kesukaan, cita-cita atau pelajaran favorit, dll
  4. Menarik perhatian atau membuat anak fokus. Lakukan proses negosiasi jika kelas tidak kondusif. Tawarkan pada kelas, mau belajar atau main dulu. Atau kita akan menyanyikan lagu lagi tapi kita belajar dulu. Gunakan signaling yang disepakati bersama.
    Contoh signaling:

    1. Bila guru mengatakan “Hai”, siswa menjawab “Halo”
    2. Bila guru mengatakan “Anak-anak”, siswa menjawab “Siap”
    3. Tepuk 1 kali sampai beberapa kali, minta anak mengikuti
    4. Peluit atau bunyi-bunyian lain
    5. Lomba jadi patung
    6. Tepuk keras sampai pelan, sesuai posisi jari guru (tinggi ke rendah)
    7. Hitung dengan jari (dalam diam) 1 sampai 10 atau lomba jadi patung
    8. Mengajak anak-anak berkata: “Lampu! Kamera! Action!” jika ada yang maju
  5. Memulai kelas dengan menyenangkan, sehingga dapat membawa anak masuk ke dalam zona alfa, yaitu kondisi rileks namun tetap waspada, merupakan kondisi yang paling tepat untuk belajar. Berikut beberapa cara membawa anak menuju zona alfa:
    1. Fun Story : dapat berupa cerita lucu, cerita bergambar
    2. Teka-teki : teka-teki atau tebak-tebakan yang mudah dan sederhana
    3. Games : permainan singkat yang dapat diikuti oleh semua siswa
    4. Musik : pilih musik instrument dengan tempo sedang
    5. Gerak tubuh : dapat berupa senam, gerakan pemanasan atau tepuk tangan variasi
  6. Latihan
    1. Membagikan lembar soal yang harus diisi oleh anak, yang jawabannya hanya bisa diisi bila ia mendengarkan ceramah pengajar
    2. Membagikan lembar latihan hanya ketika anak sudah langsung harus mengerjakannya. Jangan biarkan lembar latihannya menganggur karena anak akan sibuk menerka-nerka kertas apa ini

Do’s and Don’ts dalam Pengajaran

Do’s

  1. Memotivasi siswa untuk terus melanjutkan pendidikan hingga jenjang tertinggi
  2. Mengeksplorasi pola pengajaran yang mencakup gaya belajar visual, auditori & kinestetik
  3. Berbicara dan menunjukkan perilaku yang sopan dan positif
  4. Menciptakan suasana nyaman dan interaktif
  5. Menunjukkan sikap ceria
  6. Menggunakan bahasa yang dipahami anak
  7. Menghargai dan memberi apresiasi pada anak
  8. Adil dan tidak diskriminatif
  9. Sebisa mungkin menghafal nama-nama anak
  10. Hargai keberagaman tingkat sosial ekonomi anak
  11. Menanamkan Nilai-Nilai Kemenkeu (Integritas, Pelayanan, Sinergi, Profesionalisme, Kesempurnaan) kepada anak-anak
  12. Mengajarkan anak-anak mencintai Indonesia” dan mendorong anak-anak berkontribusi kelak untuk negeri

Don’ts

  1. Menggunakan istilah-istilah teknis yang sulit
  2. Menyinggung SARA, pornografi atau tindak kekerasan dan bertentangan dengan nilai moral yang berlaku umum di masyarakat
  3. Melakukan kekerasan secara fisik dan verbal maupun tindakan bullying selama mengajar di dalam kelas maupun di dalam lingkungan sekolah
  4. Memojokkan, membuat malu anak
  5. Menggunakan alat komunikasi dan perangkat lainnya untuk aktivitas yang tidak berhubungan dengan pengajaran di kelas.
  6. Memberikan hadiah (souvenir) kepada anak-anak, selain sebagai apresiasi karena menjawab pertanyaan, partisipasi, dll.

Tips dan Trik di Hari Mengajar

  1. Para relawan diwajibkan menggunakan pakaian yang rapi dan bersih serta bersepatu
  2. Dianjurkan untuk menggunakan kostum yang terkait dengan profesi, agar siswa lebih mudah mengenali jenis pekerjaan yang akan disampaikan
  3. Tidak diperkenankan merokok di dalam lingkungan sekolah atau selama kegiatan Kemenkeu Mengajar berlangsung
  4. Diharapkan bagi para relawan untuk menggunakan panggilan Ibu atau Bapak (Pak)
  5. Bersikap rileks saat pertama kali masuk ke dalam kelas dan bertemu dengan siswa, serta melakukan perkenalan terlebih dahulu kepada siswa sambil beradaptasi dengan lingkungan kelas
  6. Dianjurkan untuk membawa alat peraga yang dapat menjelaskan jenis pekerjaan. Ini untuk mempermudah dalam menyampaikan materi dan hal ini sangat menarik bagi siswa-siswi
  7. Dalam menyampaikan materi, diharapkan menggunakan metoda yang menarik bagi siswa-siswi (games atau hal-hal yang unik / tidak dikenal sebelumnya oleh siswa)
  8. Tidak dianjurkan jika hanya bercerita, karena hal ini membosankan bagi siswa-siswi
  9. Jika siswa-siswi mulai merasa bosan, ajak mereka untuk melakukan ice breaking
  10. Pada umumnya, jika para siswa sudah mulai tertarik dengan hal yang kita ajarkan, maka waktu tidak akan terasa dan semuanya akan berjalan lancar
  11. Jangan lupa menyimpan nomor HP atau email dari fasilitator masing-masing. Sebagai tempat berdiskusi untuk menentukan materi dan metode apa yang akan digunakan saat Hari Mengajar

Sesi Refleksi

Sesi refleksi adalah sesi penutup dari rangkaian Kemenkeu Mengajar. Pada sesi ini, relawan dapat membagikan apa yang dialami dan inspirasi apa yang diperoleh selama mengikuti Kemenkeu Mengajar. Sesi ini penting dilakukan untuk tetap menjaga antusiasme relawan dalam berkontribusi di dalam pendidikan di Indonesia.