Penyakit Tak Kunjung Sembuh, Mantan Perangkat Desa di Sraten Bunuh Diri

Mantan perangkat desa di Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, tewas gantung diri dengan menggunakan sabuk kain di dapur rumahnya. Diduga korban putus asa, setelah sakit yang diidapnya tak kunjung sembuh.

Isak tangis keluarga mewarnai proses identifikasi yang dilakukan tim identifikasi Polres Semarang kepada jenazah Khamsin[1] 42 tahun, warga Desa Sraten Kecamatan Tuntang. Kabupaten Semarang, yang ditemukan tewas gantung diri di dapur rumahnya. Korban mengakhiri hidupnya dengan menggunakan sabuk kain[2], pada kayu penyangga yang ada di dapur. Diduga korban nekat bunuh diri karena frustrasi dengan penyakit diabetes yang dideritanya tidak kunjung sembuh. Sebelum meninggal, korban sempat menyuruh ibunya untuk shalat, karena anak-istrinya sedang tidak di rumah. Tidak lama kemudian, setelah selesai, ibunya ini hendak ke dapur mau makan dan tiba-tiba melihat Khamsin, anaknya, sudah mati menggantung.

Menurut AKP Djunaedi, Kapolsek Tuntang, korban orangnya sangat tertutup. Mengetahui dia kena diabetes, keluarga sudah menyarankan untuk berobat. Tetapi karena kondisinya yang sudah kronis ia tetap tidak mau berobat. Diduga karena frustrasi, korban nekat bunuh diri. Tugas-tugasnya selaku Kaur (Kepala Urusan) Umum sudah sejak lama diserahkan kepada perangkat Dsesa Sraten lainnya.

Dari hasil sementara identifikasi pihak Polres Semarang, korban murni bunuh diri, karena di tubuh korban tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan. Selanjutnya, setelah dilakukan identifikasi oleh Polres Semarang, jenazah langsung dikebumikan di makam setempat. [Is Hartoko]

Video dan narasi bersumber dari: http://tvku.tv/v2010b/index.php?page=stream&id=6770

Siaran Radio Rasika FM

Mainkan…

Catatan

  1. [1]Di sini saya (Ahmad) memilih “Khamsin” untuk transliterasi dari namanya, خمس. Kemungkinan, di berbagai identitas tertulis “Khomsin”. Berita di TVKU (Televisi Kampus Universitas Dian Nuswantoro) Semarang malah menyebutnya “Khosin” dan Radio Rasika Ungaran menyebutnya “Qosim”. Sedangkan warga Sraten sehari-hari memanggilnya “Kamsin”, karena huruf خ ditransliterasi ke aksara Jawa menjadi “ka”.
  2. [2]Radio Rasika menyebutkan bahwa kain yang digunakan untuk gantung diri adalah jarik, sedangkan Harian Kedaulatan Rakyat menyebutkan sabuk karate.

Pranala Luar

Bagikan artikel ini:
Share
  • aa_haq

    Bagaimana cara menyikapi penyakit yang tidak kunjung sembuh? Baca jawaban Ustadz Muhammad Arifin di http://alifmagz.com/?p=15824 atau http://muhammadarifin.net/bagaimana-cara-menyikapi-penyakit-yang-tidak-kunjung-sembuh.

    Baca pula artikel di Majalah Suara Hidayatullah, dengan alamat http://majalah.hidayatullah.com/?p=3308