Proyek Hutan Bakau BRR Hanya Separuh Berhasil

Pindahan dari Multiply

URL: http://danarrapbn.multiply.com/journal/item/86/Proyek-Hutan-Bakau-BRR-Hanya-Separuh-Berhasil

Sumber: Harian Serambi Indonesia, 01-11-2007 (http://www.serambinews.com/old/index.php?aksi=bacaberita&beritaid=37089&rubrik=1&topik=45)

BANDA ACEH –
Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias tidak melanjutkan program penanaman mangrove (bakau) di pesisir pantai barat Aceh dengan alasan terjadinya perubahan karakteristik pada ekologi pesisir. Keberhasilan proyek ini hanya sekitar 50 persen.

Direktur Ekonomi Kehutanan Bidang Pengembangan Ekonomi BRR, Ricky Avenzora pada konferensi pers di Media Center BRR Aceh-Nias, Rabu (31/10) menjelaskan, akibat terjadinya perubahan karakteristik pada ekologi pesisir pantai barat Aceh, program penanaman benih mangrove hanya 50 persen saja yang berhasil.

Untuk kepentingan program rehabilitasi kawasan pantai yang dimulai sejak 2006, BRR telah merealisasikan dana sebesar Rp 38,2 miliar untuk penanaman 16 juta benih mangrove atau setara dengan 4.804 hektare. Sasarannya mulai dari pantai timur hingga pantai barat Aceh.

“Dari total jumlah tersebut, sebanyak 750 hektare atau tiga juta benih mangrove ditanam di kawasan pantai barat, dimulai dari Aceh Besar hingga Aceh Jaya,” ungkap Ricky didampingi seluruh direktur yang berada di bawah kedeputian ekonomi dan usaha BRR.

Ketika dihubungi ulang, kemarin, Ricky menjelaskan, bencana tsunami, baik secara langsung atau tidak langsung telah menyebabkan mundurnya garis pantai di sepanjang pantai barat. Dia mengaku tidak mengatahui pasti seberapa jauh kemunduran itu. Namun, menurutnya, kemunduran itu tidak lebih dari 50 meter.

Juga dijelaskan, kemunduran garis pantai telah menyebabkan terjadinya perubahan pada ekologi pantai, dari yang sebelumnya tanah berlumpur berganti menjadi tanah pasir. Faktor inilah, menurutnya, yang menjadi penyebab utama kegagalan penanaman benih mangrove di kawasan pantai barat.

“Ada tiga syarat untuk bisa tumbuhnya mangrove. Yakni adanya subtrat lumpur, kandungan kadar garam air, serta perubahan kadar garam yang rutin, yang ditandai dengan adanya pertukaran air tawar dengan air asin,” jelas Ricky.

Karena itu, tambah dia, mulai tahun 2007 ini pihaknya menghentikan program penanaman benih di kawasan pantai barat. Penanaman hanya dilakukan untuk kawasan pantai timur Aceh. Di pantai Timur sendiri, sebagaimana diutarakan Ricky, tingkat keberhasilan penanaman mencapai 75 persen.

Disinggung mengenai jenis bibit mangrove yang kemungkinan tidak sesuai, dia menjelaskan bahwa butuh waktu hingga tujuh tahun untuk bisa menentukan jenis bibit yang cocok di suatu kawasan. “Karenanya, kita hanya melanjutkan program pemeliharaan saja di sana (Pantai Barat),” ujarnya.

Serapan dana ekonomi

Dalam konferensi pers itu juga dijelaskan soal kinerja kedeputian ekonomi dan usaha BRR selama ini di Aceh. Menurut Kepala Perencanaan dan Pemprograman, Khairul Basri, serapan dana pemberdayaan ekonomi masyarakat tahun anggaran 2007 sekitar 37 persen dari pagu anggaran Rp 932 miliar.

Dari yang disebutkan Khairul, diketahui hingga tahun ketiga keberadaan BRR di Aceh, total pagu anggaran yang disediakan BRR untuk program pemberdayaan ekonomi mencapai sekitar Rp 2,25 triliun. Rinciannya, Rp 516 miliar di tahun 2005, Rp 806 miliar tahun 2006, dan Rp 932 miliar pada tahun 2007.

“Rata-rata serapan dana untuk dua tahun pertama itu mencapai hingga di atas 70 persen. Sedangkan pada tahun 2007, serapan anggaran baru sekitar 37 persen,” kata Khairul.

Seluruh dana yang berada di bawah kedeputian ekonomi dan usaha tersebut, dibagi empat bidang yaitu bidang pengembangan usaha, pengembangan pertanian, pengembangan perikanan, serta pengembangan ekonomi kehutanan.

Menjawab pertanyaan wartawan terkait rendahnya serapan dana tahun 2007, Deputi Ekonomi BRR, Said Faisal, menjelaskan bahwa dana pemberdayaan ekonomi umumnya bersifat bantuan langsung tunai (BLT). Sehingga, proses pencairannya berada di fase terakhir dari seluruh rangkaian proses.

“Contohnya pada LKM. Dana baru dicairkan bila LKM tersebut telah siap dan setelah melalui proses seleksi,” kata Said. Karenanya, dia memastikan serapan dana pemberdayaan ekonomi dan usaha akan terus meningkat seiring kian dekatnya masa berlaku tahun anggaran.(yos)

Bagikan artikel ini:
Share