Rhoma Irama – Antara Prestasi dan Kontroversi

Sumber: AnneAhira.com (01-02-2012)

URL: http://www.anneahira.com/rhoma-irama.htm

Alasan Penyalinan Artikel:

  • Artikel ini tentang Soneta Group, sehingga layak dimasukkan ke dalam tag Kliping Media.
  • Kata Priyadi (2004), Anne Ahira adalah bagian dari masalah Internet (http://priyadi.net/archives/2004/09/10/anne-ahira-bukanlah-pahlawan). Membiarkan AnneAhira.com populer berarti ikut membiarkan bisnis yang penuh masalah tetap merajalela.

Siapa sih yang tidak mengenal raja dangdut ini. Rhoma Irama, bahkan Andrea Hirata begitu menggemarinya dan menjadikannya tokoh idola sang Ical, pentolan Laskar Pelangi yang memiliki cita-cita setinggi langit. Bahkan begitu banyak cuplikan cerita konyol mengenai Ical. Mulai dari kutipan kata-kata bijak tokoh yang diucapkan bergantian di dalam kelas, hingga poster besar Rhoma Irama yang terpajang di kamar Ical sebagai sumber inspirasinya.

Namun, selain sebagai raja dangdut, siapa sih sebenarnya Rhoma Irama? Berikut ini akan dipaparkan latar belakang sang raja dangdut. Lengkap dengan hidupnya yang penuh sensasi skandal cinta dan prestasi-prestasi yang mendongkrak popularitasnya.

Rhoma Irama – Perjalanan Sang Ningrat

Nama Rhoma Irama sebenarnya adalah singkatan dari Raden Haji Oma Irama. Ia memiliki gelar Raden karena memang mengalir darah ningrat pada kedua orang tuanya. Oma, demikian nama kecil Rhoma Irama dilahirkan di Tasikmalaya pada tanggal 11 Desember 1946 sebagai putra kedua dari dua belas bersaudara.
Ayah Rhoma Irama bernama Raden Burdah Anggawirya adalah komandan gerilyawan Garuda Putih di masa kemerdekaan. Ayahnya memberi nama belakang Irama pada Oma karena bersimpati pada kelompok sandiwara asal Jakarta yang bernama “Irama Baru”. Kelompok sandiwara tersebut pernah diundang menghibur pasukan ayah Rhoma Irama ini di Tasikmalaya.

Masa kecil Rhoma Irama sudah mencerminkan bakat seninya. Saat masih duduk di bangku kelas empat Sekolah Dasar, Rhoma Irama dibawa oleh Bing Slamet untuk tampil pada pertunjukan di Gedung Serikat Buruh Kereta Api (SBKA) di Manggarai. Tak hanya mendalami musik, seni bela diri pun beliau pelajari dengan berguru silat Cingkrik pada Pak Rohimin di Kebon Jeruk dan silat Sigundel di Jalan Talang Jakarta.

Bakat musik Rhoma Irama terus dipupuk semasa SMA, ketika menimba ilmu di SMA Negeri 8 Jakarta, Rhoma Irama pernah kabur dari kelas melalui jendela karena ingin bermain musik dengan teman-temannya. Pada masa SMA tepatnya tahun 1963, ia membentuk band yang bernama Gayhand.

Selain di SMA Negeri 8 Jakarta, Rhoma Irama juga pernah tercatat sebagai siswa di SMA PSKD Jakarta, SMA St. Joseph di Solo dan bersekolah di SMA 17 Agustus Tebet. Jakarta dan lulus pada 1964. Ketika mengenyam pendidikan SMA di Solo, Rhoma Irama sempat melewati masa-masa sulit, dengan menjadi pengamen di jalanan kota Solo beliau ditampung di rumah seorang pengamen yang bernama Mas Gito.

Rhoma Irama juga sempat duduk di bangku kuliah Universitas 17 Agustus tepatnya di Fakultas Sosial Politik. Namun masa perkuliahan tersebut hanya bertahan setahun, karena beliau lebih ingin mendalami musik. Maka, Rhoma Irama pun menjadi penyanyi pada Orkes Melayu Chandra Leka dan Indraprasta. Selain itu, beliau juga menjadi vokalis Band Tornado dan Varia Irama Melody.

Karir Musik Rhoma Irama

Kelompok musik Soneta didirikan oleh Rhoma Irama pada 13 Oktober 1970. Pada tahun 1970an pula, Rhoma Irama berhasil menjadi penyanyi dan musisi ternama setelah bergonta-ganti band musik berkali-kali. Berkat grup Soneta yang dipimpinnya inilah, Rhoma Irama berhasil menyabet 11 Golden Record dari album-album kasetnya.

Jika melihat dari data penjualan kaset dan jumlah penonton film-film yang beliau bintangi, maka penggemar Rhoma Irama tidak mungkin kurang dari 15 juta manusia atau sekitar 10 persen jumlah penduduk Indonesia. Catatan tersebut pun hanya sampai pertengahan 1984.
Bahkan majalah Tempo, pada terbitan 30 Juni 1984 menyatakan bahwa “Tak ada jenis kesenian mutakhir yang memiliki lingkup sedemikian luas”. Kepopuleran Rhoma Irama tidak hanya di Indonesia. Ia juga tampil dalam beberapa negeri tetangga, antara lain adalah Malaysia (tepatnya di Kuala Lumpur), Singapura dan Brunei Darussalam.

Jumlah penontonnya pun hampir sama dengan saat konser di Indonesia. Banyak penonton yang jatuh pingsan saat berdesakan menontonnya. Walau orang menyebut musik Rhoma Irama adalah musik Dangdut, namun beliau sendiri lebih suka menyebut musiknya sebagai irama Melayu.
Pada era Orde Baru, Rhoma Irama dilarang tampil di TVRI selama 11 tahun dengan alasan politis, yaitu dianggap lirik lagunya menyindir pemerintah. Lagu dengan judul Judi merupakan kemunculan pertama Soneta kembali di TVRI setelah absen selama 11 tahun karena dicekal sejak 1977. Soneta kembali tampil membawakan lagu Judi tersebut di acara Kamera Ria pada 8 Mei 1988.

Selain bermusik, Rhoma Irama juga banyak bermain dalam sebuah film. Banyak film layar lebar yang dibintangi oleh Rhoma Irama, tentu saja dengan soundtrack film yang juga digarap olehnya. Pada 1984, film Satria Bergitar menelan biaya yang cukup tinggi, yaitu sebesar Rp 750 juta.
Walau main di banyak film, Rhoma Irama tidak pernah mengambil hasil film tersebut, semua disumbangkan untuk masjid, yatim piatu, kegiatan remaja dan perbaikan kampung. Rhoma Irama hanya mengambil hasil penjualan kaset saja. Toh sejeblok-jebloknya kaset Rhoma Irama di pasaran, minimal terjual hingga 400 ribu kopi per album.

Rhoma Irama menandatangani MoU dengan Tanaka dari Life Record Jepang di Tokyo pada akhir april 1994. Maka sebanyak 200 judul lagu direkam dalam bahasa Inggris dan Jepang untuk diedarkan secara internasional. Nama Rhoma Irama pun merambah mancanegara.

Rhoma Irama Sang Satria Bergitar

Sebagai seorang musisi, gitar-gitar yang digunakan oleh Rhoma Irama selalu setingkat lebih baik ketimbang gitar-gitar yang digunakan para gitaris Indonesia. Gitar dan dirinya adalah dua hal yang tidak bisa dilepaskan. Julukan satria bergitar pun melekat padanya.

Steinberger yang merupakan gitar nirkabel pertama di dunia adalah salah satu gitar terbaiknya. Kakak kandung Rhoma Irama, yaitu Almarhum Benny Muharram, gitar Steinberger tersebut adalah salah satu gitar dengan bandrolan harga Rp 200 juta yang dibeli pada 1996. Rhoma Irama sendiri telah memiliki lima buah gitar Steinberger yang digunakan sejak tahun 1980an.

Rhoma Irama dan Kontroversi Skandal Cinta

Dunia musik pula lah yang mempertemukan Rhoma Irama dengan istri pertamanya, seorang pimpinan band perempuan bernama Beach Girls yaitu Veronica Agustina Timbuleng yang dinikahinya 1972. Veronica adalah seorang wanita Nasrani yang menjadi mualaf setelah dinikahi Rhoma Irama.
Hasil buah cinta mereka adalah Debby, Fikri dan Romy. Namun Veronica bercerai oleh Rhoma Irama pada bulan Mei 1985, setelah setahun sebelumnya Rhoma Irama menikahi Ricca Rachim. Tak jauh berbeda dengan Veronica, Ricca Rachim juga seorang wanita Nasrani yang menjadi mualaf setelah dinikahi Rhoma Irama.

Wanita ini adalah lawan main dalam beberapa film Rhoma Irama. Beberapa judul di antaranya adalah Melodi Cinta, Badai di Awal Bahagia, Camelia, Cinta Segitiga, Pengabdian, Pengorbanan dan Satria Bergitar. Saat bersama Ricca Rachim inilah Rhoma Irama mengangkat Ridho Irama atau Ridho Rhoma sebagai anak angkatnya.

Suatu rumor menyebutkan bahwa Ridho merupakan anak kandung Rhoma Irama dari wanita lain bernama Marwah Ali. Entah berapa banyak wanita yang telah dinikahi secara siri oleh Rhoma Irama. Salah satunya adalah aktris sinetron muda bernama Angel Lelga pada tanggal 6 Maret 2003, namun langsung diceraikan pada hari yang sama.

Rhoma Irama mengumumkan pernikahan siri tersebut pada 2 Agustus 2005. Itu pun gara-gara sempat digerebek di suatu apartemen. Nah, apakah Anda salah seorang yang tertarik pada manusia dua sisi ini? Satu sisi, dia berdakwah dengan lagu-lagu, di sisi yang lain merupakan manusia yang penuh dengan skandal cinta menikah banyak perempuan, itulah kontroversi seorang Rhoma Irama.