Rhoma Irama: Conceal Distributional Realities; Konflik Tersembunyi Cina dan Non-Muslim

Penulis: Reza Wangsanagara mengutip Andi Hakim
Catatan: Reza Wangsanagara menyebutkan tulisan ini adalah karya Andi Hakim yang dimuat di Facebook. Namun, Reza tidak menyebutkan URL yang jelas. Ternyata tulisan ini memang disebut oleh Daeng Limpo sebagai “Rhoma Irama Dalam Perspektif Andi Hakim” yang selengkapnya diposting oleh Daeng Limpo. Lihat http://www.facebook.com/daeng.limpo/posts/4649891938361. Nama Andi Hakim juga di-tag dalam posting itu.

Konflik tersembunyi Cina dan Non Muslim

Ketika Rhoma menyampaikan kekecewaannya bahwa calon pemimpin DKI Jakarta adalah bukan muslim, dan sekarang ia menyebut keresahan bahwa orang Cina mendominasi perekonomian. Tiba-tiba kita melihat serangan-serangan dihantamkan pada si Raja Dangdut.

Caci-maki disambung-bagi lewat media sosial twitter, fesbuk, whatsupp, dll. Isinya; mulai dari Rhoma yang sektarian, anti kebhinekaan, sudah tidak laku, hobi kawin, sampai aneka foto-foto hasil “retouching” yang bila kita perhatikan semuanya tidak memiliki kenyataan referensial.

Sebagian orang tentu akan melawan dengar argumen; bukti-buktinya yang mendukung tuduhan Rhoma sektarian, hobi kawin ada kok, lagi pula foto2 yang dimanipulasi tadi tidak ada bedanya dengan karikatur. Semua excuse (perdalihan) yang disampaikan sebenarnya menunjukkan bahwa dalam diri kita ada satu “perilaku untuk mendominasi” atau gampangnya tidak mau disalahkan atau dikalahkan oleh pendapat yang berbeda.

Mereka yang berkata bahwa “saya” punya bukti-bukti Rhoma sektarian dan hobi kawin dalam kenyataannya merujuk pada istilah Tuan Vandermoortele sebagai -conceal distributional realities- kita sedang mendistribusikan “bukti-bukti” yang sebenarnya malah menutupi satu kenyataan.

Kenyataan yang ditutupi tadi adalah;
pertama bahwa kita bukanlah orang yang wajib membuktikan seseorang itu sektarian atau bukan, kita juga bukan orang yang punya wewenang menghakimi persoalan perkawinan orang lain. Bahwa sadar atau tidak kita melampau “kuasa” kita sendiri untuk menghujat orang yang memiliki pandangan berbeda.

Belum lagi cara kita mengkreasikan aneka foto manipulasi lengkap dengan kata-kata yang kita anggap sekedar guyon tetapi dalam kenyataannya ia adalah abuse of reality; menghina kenyataan bahwa kita sebenarnya makhluk yang menghormati kebenaran.

Kedua kenyataan yang ditutupi bahwa kita mengabaikan satu pandangan orang yang barangkali atau mungkin memiliki nilai kebenaran.

Kita sendiri tidak pernah tahu sebenarnya apa argumentasi dari pernyataan Rhoma bahwa ia risau tentang pemimpin Islam dan dominasi etnis Tionghoa. Kita hanya terbiasa untuk menilai secara spontanius dan reaksioner pada pendapat orang.

Rhoma sedikit banyak punya orang-orang yang menjadikan ia ikon dari sub-kultur kaum marginal. Mulai dari orkes panggilan, organ tunggal, sampai dangdut gerobakan, semua punya cita-cita membangun grup orkes sekuat Soneta yang terus bertahan lebih dari 40 tahun dalam genre musik pinggiran.

Rhoma Irama memberikan daya dan infus harapan pada kelas-kelas pinggiran. Bahwa ia sukses membawa 40 tahun soneta adalah refleksi bahwa bang Haji bukan hanya penyanyi dan pencipta musik; ia seperti hal nya Gus Dur bagi NU adalah sosok yang memiliki -kharisma sebagai pengayom- bagi orang-orang sub marginal.

Sehingga mengabaikan kerisauan Rhoma Irama tentang umat Islam yang kehilangan “figure Islam” setelah banyak dari mereka yang mengaku muslim bangga menjadi koruptor di departemen agama adalah satu kekeliruan.

Mengabaikan kerisauan Rhoma tentang ekonomi dimana puak melayu kehilangan tanah sementara penguasa tanah dan properti di Indonesia hanya dikuasai oleh 20 perusahaan milik orang Tionghoa. Mereka menguasai lahan kota sampai hutan nama pembangunan dan mengejar ekspor komoditas kelapa sawit.

Sekarang orang melihat tegangan antara mereka yang kehilangan tanah, budaya, cultur, adat istiadat dan tempat mencari makan. Konflik tanah antara penggarap rakyat kecil di Lampung, Sumsel, Jambi, Subang, Kalimantan, Papua, dengan penguasa lahan di mulai dari konflik antar penggarap.

Orang mengabaikan kenyataan bahwa dimana-mana tempat protracted social conflict- yang berawal dari kesenjangan ekonomi berubah menjadi konflik berkepanjangan yang dengan mudah tersulut menjadi isu etnisitas; sebagaimana terjadi pada tahun 1998 pada etnis Cina, 2000-2002 Sampit, Rohingya di Myamar, Srilangka, atau Israel-Palestina.

Dari kacamata Rhoma sebagai ikon sub-kultur dari kaum marginal inilah yang kita yang merasa “kaum intelektual” kerap mengabaikan representasi arus bawah. Kita berulang kali berupaya menutup –conceal distributional realities- atau realitas yang tengah terjadi ini atas nama; kebhinekaan, tolerasi, non diskriminasi.

Ini bisa kita lihat dari bagaimana konflik2 yang terjadi di lampung, sampit, sampang, jambi, dan sumsel selalu ditutupi dengan deklarasi bersama “perdamaian” tanpa pernah menyentuh akar sosial-ekonomi sebenarnya.

Sampai akhirnya konflik itu pun meletus dan merusak kebhinekaan. Hal yang justru sebenarnya sedang diperjuangkan Rhoma irama.

Bagikan artikel ini:
Share