Rhoma Irama, Sang Raja Dangdut (I): Jagoan dari Bukitduri

Sejak pertama kali kliping media dari Kompas ini saya (Ahmad) muat di Homepage Soneta Group sekitar awal milenium ini, saya lupa mencantumkan tanggal edisi dari koran tersebut. Ketika integrasi ke blog ini mengharuskan adanya tanggal posting, saya memutuskan untuk memberi posting ini tanggal 1 Juli 1998 dengan menimbang bahwa pada tanggal tersebut film Raja Dangdut sudah lebih dari 20 tahun.

Sumber: Harian Kompas

Dari Redaksi: Sejak meresmikan Soneta Group, 13 Oktober 1973, seraya mencanangkan semboyan Voice of Moslem, Rhoma Irama memantapkan diri sebagai ‘Raja Dangdut’. Sampai kini tak pernah ada ‘kudeta’ yang menerjangnya. Tak pernah pula saingan yang serius. Ia seperti hendak membuktikan bahwa seorang raja bisa bertahan seumur hidup. Berikut ini kisah Sang Raja Dangdut, ditulis oleh Agus MD, berdasarkan wawancara dengan Rhoma Irama, istrinya Hj. Ricca Rahim, kakaknya H. Benny Muharam, teman-temannya dan kliping berbagai media massa.

Sudah lebih 20 tahun ia menjadi ‘raja’ Dangdut. Pemujanya yang konon sebanyak 10 persen penduduk Indonesia, selalu setia membeli kasetnya, menonton filmnya, membanjiri pertunjukkannya. Kaset-kaset barunya selalu dinanti. Film-film barunya selalu diharapkan. bahkan sebelum filmnya dibuat, jauh-jauh hari para broker sudah memesannya.

Rhoma telah melakukan revolusi dalam dunia musik Indonesia,” kata William H Frederick, sosiolog AS yang pernah menulis tesis berjudul Rhoma Irama and the Dangdut Style: Aspect of Contemporary Indonesia Popular Culture, 1985. Tentang musiknya William berkomentar.

Judi yang Memukau

Bagi para pemujanya, yang umumnya merupakan rakyat kecil negeri ini, Rhoma bukan hanya seorang bintang tapi juga panutan. Ada suatu ilustrasi kecil yang mampu memberikan gambaran tentang citra Rhoma dihadapan para pemujanya. Ketika itu tanggal 6 Mei 1988, para pemuja Rhoma mendapat ‘hadiah’ istimewa dari TVRI. Setelah selama 10 tahun tidak muncul si layar kaca, malam itu Rhoma muncul lagi membawakan sebuah lagu barunya yang berjudul Judi.

Di sebuah perkampungan di Jakarta Selatan tiba-tiba semua orang berlarian memburu pesawat terdekat, baik milik sendiri maupun punya tetangga. Mereka berteriak menyerukan nama Rhoma seraya memanggil setiap anggota keluarga dan teman seolah-olah tak seorangpun boleh meluputkan ‘anugerah’ tak terduga itu. Sesaat kemudian semua terpaku di depan TV, menyaksikan ‘Sang Raja’ berdendang merdu diiringi liukan musik dan gaya yang atraktif.

Judi! menjanjikan kemenangan/judi menjanjikan kekayaan/bohong! Bila engkau menang, itu awal dari kekalahan/bohong! bila engkau kaya itu awal dari kemiskinan…..Apa pun nama dan bentuk judi/Semuanya perbuatan keji/Apa pun nama dan bentuk judi/Baik tinggalkan dan jauhi…/Judi….

Mereka seperti tersihir, sehingga lagu yang bersyair cukup panjang itu tanpa terasa tiba-tiba berakhir, dan membuat mereka tersentak. Dan hanya sebuah lagu, setelah 10 tahun tidak muncul di TVRI.

Namun bagi penduduk kampung kecil itu, sebuah lagu itupun ternyata merupakan suatu berkah. Disitu banyak yang suka berjudi, meski dengan taruhan kecil-kecilan. Ini menjengkelkan para istri, karena pasti merugikan rumah tangga. Maka ketika Rhoma muncul dengan lagu Judi, Para istri merasa dibeli oleh ‘Bang Haji’. Begitu keterpukauan berakhir, para istri lantas menuding suami masing-masing, “Tuh, dengar kata Rhoma! Judi itu perbuatan keji. Perbuatan setan!”. Dan pada hari-hari berikutnya kemunculan Rhoma masih juga menjadi buah bibir, sementara potongan syair lagunya terus digunakan para istri untuk menyerang suami-suami yang suka judi.

Itulah “tuah” Rhoma Irama. Dan ini cuma satu kasus yang terjadi di sebuah kampung kecil dekat kawasan elit Pondok Indah. Masih banyak kasus lain yang terjadi di berbagai tempat.

Sejak Kecil Tertarik Musik

Ayah Rhoma, Raden Burdah Anggawirya, pernah menjadi komandan gerilyawan Garuda Putih di Tasikmalaya. Suatu hari ia mengundang grup sandiwara Irama Baru dari Jakarta untuk menghibur pasukannya. para bintang grup itu antara lain Fifi Young dan Pak Item (Tan Ceng Bok). Waktu itu Tuti Juariah, istri sang komandan sedang hamil anak kedua. Usai pertunjukan Tuti Juariah melahirkan seorang putra. Hari itu 11 Desember 1947, menjadi hari kelahiran anak kedua pasangan Raden Burdah dan Tuti Juariah.

Simpati Raden Burdah pada grup Irama Baru berpadu dengan kegembiraan kelahiran anak kedua, menimbulkan inspirasi padanya akan nama bayi itu, yaitu Irama, tanpa disertai harapan agar si anak kelak menjadi pemusik atau penyanyi. Justru Raden Burdah ingin agar anaknya kelak menjadi dokter. “Ayah saya adalah anak buah Pak Nasution. Salah seorang temannya adalah Pak Eddy Nalapraya. Suatu hari, waktu saya bertemu dengan Pak Eddy, beliau bercerita bahwa dulu saya sering digendongnya,” kata Rhoma.

“Sebetulnya masa kecil saya biasa saja,” tutur Rhoma. “Kalau ada yang boleh dikatakan istimewa, mungkin karena sejak kelas nol saya sudah memperhatikan lagu. Bahkan menurut Ibu, kalau saya menangis bisa langsung diam jika diperdengarkan lagu. Perhatian saya terhadap musik makin besar setelah saya masuk sekolah. Ketika duduk di kelas 2 SD saya sudah bisa membawakan lagu-lagu Barat dan India dengan baik. Saya ingat salah satu diantaranya berjudul No Other Love, lagu kesayangan ibu. Dan lagu Mera Bilye Buchariajaya yang dinyanyikan oleh Lata Maagiskar. Saya juga menikmati lagu-lagu Timur Tengah seperti yang dinyanyikan Umm Kaltsum.”

Ia mengaku bakat musiknya mungkin berasal dari ayahnya yang gemar lagu-lagu Cianjuran, sebuah kesenian khas Sunda. Bahkan sang ayah dapat menyanyi gaya Cianjuran dengan baik. Juga dapat meniup seruling dengan irama melankolis yang menghanyutkan. Selain itu, seorang pamannya yang bernama Arifin Ganda juga tidak disangkal pengaruhnya. Sang paman inilah yang suka mengajarinya lagu-lagu Jepang, ketika Rhoma masih kanak-kanak.

“Saya jadi tahu bahwa musik itu universal,” katanya. “Melalui musik, kebudayaan suatu bangsa bisa menyentuh bangsa lain, tanpa harus memahami dulu bahasanya.

Namun ia merasa bahwa pada masa kecilnya lingkungannya tidak bersikap akrab terhadap bakat musiknya. Ayah dan ibunya adalah pasangan berdarah ningrat. Meski mereka menyukai musik, namun dunia musik bagi mereka bukan sesuatu yang patut dibanggakan, bahkan dianggap kurang terhormat . Kasarnya, bakat musik di kecil Irama, yang mendapat panggilan “Oma” tidak mendapat dukungan. “Akhirnya saya jadi berkembang di luar rumah,” katanya.

Ketika usianya masih sangat kecil, Oma ditinggal ayahnya menghadap Tuhan, ibunya kemudian menikah lagi dengan seorang perwira ABRI lain, Raden Soma Wijaya yang juga berdarah bangsawan.

Ketika ayah kandungnya masih hidup, suasana di rumahnya feodal. Segalanya harus serba teratur dan menggunakan tata krama tertentu. Para pembantu harus memanggil anak-anak dengan sebutan Den (raden). Makan harus bersama-sama dan siang hari anak-anak harus tidur. Sang ayah tak segan-segan menghukum anak-anak dengan pukulan jika dianggap melakukan kesalahan, misalnya bermain hujan atau membolos sekolah.

Tapi suasana feodal itu tidak lagi kental setelah anak-anak mendapatkan ayah tiri yang lemah lembut. Bahkan dari ayah tiri inilah, disamping pamannya, Oma menfapat ‘angin’ untuk menyalurkan bakat musiknya. Secara bertahap ayah tirinya membelikan alat-alat musik akustik berupa gitar, bongo, dan sebagainya. Omapun lantas membentuk band bocah.

Gitarnya Dibanting Ibu

Jumlah saudara Oma kakak beradik ada 14 orang. Yang delapan saudara kandung, empat saudara seibu dan dua saudara bawaan dari ayah tirinya. “Hubungan di antara kami alhamdulillah baik,”tutur Rhoma. “Kalau soal beramtem di waktu kecil sih biasa. Apalagi kami berempatbelas, delapan lelaki dan enam perempuan.”

Di antara mereka yang terjun ke dunia musik adalah kakak perempuan Rhoma yang kini sudah meninggal, dan dua adiknya, Herry dan Dedy.

Karier musik Rhoma dibangun di Jakarta tanpa ia rencanakan. Ia mulai tinggal di Jakarta tahun 1950-an, ketika sekeluarga pindah ke bilangan Bukitduri. Sekolahnya dimulai di SR (Sekolah Rakyat) di daerah Manggarai Jakarta Selatan. Bakatnya sebagai penyanyi mendapat perhatian penyanyi senior, Bing Slamet. Suatu hari ketika Oma masih duduk di kelas 4, Bing membawanya tampil dalam sebuah show di Gedung SBKA (Serikat Buruh Kereta Api) di Manggarai. Ini merupakan pengalaman yang membanggakan bagi Oma. “Bing mengenal saya di sekolah. Waktu itu saya menyanyi dalam pesta sekolah. Lagunya, saya lupa, tapi pasti lagu Barat. Rupanya penampilan saya waktu itu membuat Bing tertarik,” kenang Rhoma.

Sejak itu, meski belum berpikir untuk menjadi penyanyi, Oma sudah tidak terpisahkan lagi dari musik. Alat musik yang selalu dimainkannya adalah gitar, tanpa melalui bimbingan guru. Ia tergila-gila pada alat musik yang satu ini, sehingga membuat ibunya marah besar. Waktu itu ibunya menyuruh Oma menjaga adiknya, tapi Oma lebih suka bermain gitar. Akibatnya ibu merampas gitar itu lalu melemparkannya ke pohon jambu hingga pecah. “Kejadian itu sangat menyedihkan saya, karena gitar bagi saya adalah teman nomor satu. Kalau saya pulang sekolah, yang pertama saya pegang adala gitar. Setiap keluar rumah, gitar selalu saya bawa. Pendeknya, saya hampir tak pernah keluar tanpa gitar.”

Tapi dunia Oma di masa kanak-kanak bukan hanya dunia musik. Lingkungan pergaulannya ketika itu tergolong keras. Anak-anak saat itu cenderung mengelompok dalam geng, dan satu geng dengan geng lainnya saling bermusuhan, atau setidaknya saling bersaing. Dengan demikian, perkelahian antar geng sering tak terhindarkan. bagi Rhoma, mengenang perkelahian di masa kanak-kanaknya itu merupakan suatu yang mengesankan.

Entah mengapa teman-temannya hampir selalu menjadikan Oma sebagai pemimpin. Akibatnya, bila gengnya bentrok dengan geng lain, Omalah yang diharapkan tampil paling depan, untuk berkelahi. Tentu saja ia sering babak belur, bahkan pernah luka cukup parah. “Pada waktu itu boleh dikatakan berkelahi adalah salah satu hobi saya. Rasanya ada kebanggan tersendiri setiap habis melakukan perkelahian,” katanya.

Pada waktu itu perkelahian masih berlandaskan sportivitas tinggi, Setiap kelompok mengajukan seorang ‘jago’ yang diadu. Bukan tawuran seperti sekarang. Selain itu, mereka berkelahi menggunakan ilmu bela diri silat. Maklum tempat belajar silat waktu itu masih bisa dijumpai di setiap kampung. Gurunya juga guru mengaji anak-anak, dan merupakan kegiatan tambahan selain mengaji.

Oma mulai belajar silat dari ayahnya sendiri. Selanjutnya sejumlah guru membimbingnya, sehingga menurut kakaknya, Benny Muharam, dalam hal ilmu bela diri Oma kini bisa disebut guru.

Dikeroyok 15 Orang

Agaknya perkelahian anak-anak muda zaman Oma kecil merupakan sarana untuk menguji ilmu silat. Sportivitas mereka junjung tinggi, karena sikap itu dipesankan oleh guru mereka. Alhasil, meski mereka berkelahi secara sungguh-sungguh, keselamatan lawan tetap diutamakan. “Pernah suatu kali saya berhasil menghentikan perlawanan musuh saya dan saya sudah dalam posisi siap mematahkan lengan lawan. Tapi begitu ia berteriak, ‘ampun’ maka saya harus melepaskan dia. Itu berarti ia sudah mengakui saya sebagai ‘jago’. Wah, rasanya senang sekali.”

Tentu saja Oma tidak selalu tampil sebagai pemenang. Ada tiga perkelahian yang tak terlupakan olehnya. Dua diantaranya ia menangkan. “Waktu duel melawan Pepen, dan kemudian Maoni, saya menang. Tapi ketika saya melawan Namin saya kalah. Tubuh Namin memang lebih tinggi dan lebih besar, dan tentu saja ia lebih pandai dibanding saya. Tapi bagusnya, diantara kami tak ada dendam. Walau saat berkelahi saling menghantam dengan rantai, kami selalu mentaati peraturan yang sudah diajarkan. Setelah usai berkelahi , kami bersalaman. Satu hal yang tak dapat saya lupakan, adalah penghargaan terhadap nyawa.”

Tapi tentu saja tidak semua anak sportif. Suatu hari ketika Oma telah duduk di bangku SMA, ia pernah dikeroyok 15 anak di daerah Megaria. Itu terjadi karena salah faham, Yang mereka cari sebenarnya bukan Oma, tapi orang lain. Orang itu dianggap merebut pacar salah seorang anggota geng. Oma tentu saja babak belur dikeroyok. Akhirnya menyerah. Begitu berteriak ‘ampun’, mereka meninggalkannya.

Pengalaman itu ternyata membekas dihatinya karena pengeroyokan dianggapnya tidak sportif, tidak adil. Selanjutnya dalam hidupnya. Oma banyak menyaksikan dan mengalami tindakan-tindakan tak adil dalam berbagai bentuk, yang membuatnya bercita-cita untuk menjadi hakim. “Saya senang melihat hakim memukulkan palunya untuk memutus suatu perkara. Saya juga senang bila berhasil mendamaikan teman-teman yang berselisih, memisahkan mereka yang berkelahi. Pokoknya, waktu itu saya tak pernah berpikir bahwa saya punya bakat musik. Bahwa bermain musik bisa menjadi profesi. Apalagi ibu sering meneriakkan ‘Berisik’ kalau saya menyanyi. Ibu juga mengatakan bahwa usik akan menghambat sekolah saya. Anggapan ibu yang terakhir ini memang benar…..

Minggu Depan: Rhoma Ngamen di Solo