Rhoma Irama, Sang Raja Dangdut (II): Ngamen Sambil Sekolah

Ringkasan kisah yang lalu: Sejak Rhoma Irama mencanangkan semboyan Voice of Moslem tanggal 13 Oktober 1973 da memantapkan diri sebagai Raja Dangdut, nyaris tak ada yang berusaha mendongkel kedudukannya. Ia lahir di zaman awal kemerdekaan dan darah seninya sudah terlihat sejak ia masih bocah. Oma kecil setiap kali menangis langsung terdiam kalau disenandungkan lagu- lagu. Ketika masuk SD, ia bahkan sudah mahir membawakan lagu-lagu Barat maupun India.

Cerita tentang keberandalan Oma di masa remaja dibenarkan oleh kakaknya Haji Benny Muharam, yang sama-sama berandal dan keduanya kebetulan kompak sejak kecil hingga sekarang. “usia kami tidak berselisih jauh,” kata Benny yang ramah. Kalau Oma dilahirkan di Tasikmalaya, maka Benny di Jakarta. Sang ayah yang tentara pejuang itu kemudian membawa keluarganya ke Tasik, tapi beberapa tahun kemudian kembali lagi ke Jakarta. Saat itu Benny sudah masuk sekolah TK dan sudah punya adik baru lagi. Oma Irama, Handi dan Ance adalah adik-adik Benny. Keluarga ini kemudian tinggal di Jalan Cicarawa, Bukit Duri, kemudian pindah ke Bukit Duri Tanjakan. “Disitu,” tutur Benny, “Kami menghabiskan masa remaja sampai tahun 1971 dan kemudian pindah lagi ke Tebet.” Tahun 1958 ayah mereka, Raden Burdah, meninggal dunia. Sang ayah meninggalkan delapan anak, yaitu, Benny, Oma, handi, Ance, Dedi, Eni, Herry, dan Yayang. Ketika Benny duduk di kelas I SMP, ibunya menikah lagi dengan seorang pria yang masih ada hubungan famili. Sang ayah tiri yang kebetulan juga anggota ABRI ini membawa dua anak dari istrinya yang terdahulu. Dan setelah menikah dengan ibu Benny, sang ibu melahirkan dua anak lagi. “Meskipun ayah tiri, tapi hubungan kami baik sekali,” kata Benny, sama seperti pengakuan Oma Irama.

Menyanyi lagu India di kelas

Karena usia Benny dan Oma tidak berbeda jauh, mereka hampir selalu berangkat berdua-duaan. Menurut Benny, seperti juga menyanyi, Oma sejak kecil juga menaruh minat yang dalam pada bidang agama. Kebetulan orangtua di zaman itu selalu mengharuskan anak-anaknya untuk mengaji, baik ke surau atau ke rumah kyai. Dalam hal yang satu ini Benny mengaku sangat malas. “Kalau Oma,” kata Benny, “selalu mengikuti pengajian dengan tekun, sementara saya lebih suka main. Tapi kami selalu kompak, pulang pergi bersama dan setiap kali ditanya Oma selalu mengatakan pada Bapak ibu bahwa saya pun pergi mengaji.” Berangkat sekolah pun selalu bersama-sama. Dengan berboncengan sepeda keduanya berangkat maupun pulang ke sekolah di SD Kibono, Manggarai. Menurut Benny, sejak masih duduk di SD, bakat nyanyi adiknya itu sudah tampak menonjol. “Oma paling rajin kalau disuruh maju ke depan kelas untuk menyanyi,” kata Benny. “Berbeda dengan murid-murid yang lain, setiap Oma dapat giliran menyanyi, tanpa malu-malu dia akan menyanyi dengan suara keras, sehingga terdengar di kelas-kelas lain. Ini menjadi perhatian anak-anak karena yang dinyanyikan Oma bukan lagu kebangsaan atau lagu anak-anak pada umumnya, tapi justru lagu-lagu India. Sayangnya, perhatian Oma terhadap musik, sangat mengganggu konsentrasi belajarnya. Pernah suatu hari ketika ia tengah belajar di kelas, di SMA Negeri VIII Jakarta, tiba-tiba ada beberapa temannya menjemputnya untuk bermain musik. Rombongan pemusik yang mengendarai truk sampah itu tidak berani masuk lewat depan kelas tapi dari arah samping kelas. Mereka memberi kode pada Oma. Oma menyadari ia tidak mungkin diizinkan guru untuk pergi main musik. Tapi, Oma tidak kehabisan akal. Ketika sang guru sedang menulis di papan tulis, maka ia pun langsung kabur lewat jendela kelas yang posisinya tidak terlalu tinggi. Karena kebandelannya itulah maka Oma beberapa kali harus tinggal kelas, sehingga karena malu maka ia acapkali berpindah sekolah. Kelas Tiga SMP dijalaninya di Medan. Ketika itu ia dititipkan di rumah pamannya. Tapi, tak berapa lama kemudian ia sudah pindah lagi ke SMP Negeri XV Jakarta. Bahkan sampai SMA pun, ia masih acapkali keluar masuk sekolah. Selain di SMA Negeri VIII Jakarta, ia juga pernah tercatat sebagai siswa di SMA PSKD Jakarta, St Joseph di Solo, dan akhirnya ia menetap di SMA 17 Agustus Tebet, jakarta, tak jauh dari rumahnya. “Untunglah saat itu ia masuk sekolah itu bisa diurus sendiri dengan mudah, sehingga tidak selalu merepotkan orang tua,” tutur Benny Perpindahan sekolah itu tidak semuanya karena urusan musik, tapi juga karena kegemarannya membuat ribut. Kegemarannya adu jotos ini tidak hanya diluar sekolah, tapi juga di sekolah.

Belajar silat

Ketika kedua orangtuanya masih tinggal di Bukitduri, hampir setiap kampung di daerah itu terdapat geng (kelompok anak muda). Di Bukitduri ada BBC (Bukit Duri Boys Club), di Kenari ada Kenari Boys, Cobra Boys, dan sebagainya. Dari Bukitduri Puteran, dan dari Manggarai banyak anak muda yang bergabung dengan Geng Cobra. “Kami bermusuhan dengan mereka, sehingga keributan selalu hampir terjadi di setiap kami bertemu,” kenang Benny. Satu hal yang cukup menonjol pada diri Oma sejak kecil menurut Benny, adalah dari segi kepemimpinan. “Kalau anak-anak main perang- perangan, Oma selalu menjadi pemimpin kelompoknya, begitu juga saya. Biasanya kami berperang dengan menggunakan anggar dari bambu dan Oma tergolong jago dalam memainkan anggar bambu ini.” Seingat Benny permainan itu ngetop saat itu.”Kenapa?” tanya Benny yang kemudian dijawab sendiri. “Ini karena pengaruh film-film India yang banyak menapilkan adegan-adegan seperti itu. Waktu itu kami masih sama-sama duduk di bangku SD. Ketika masuk SMP, film-film yang menjadi favorit kami pun berubah. Gedung-gedung bioskop saat itu umunya dibanjiri oleh film cowboy, yang berpengaruh terhadap anak-anak kampung. Pada masa itulah kelompok geng anak muda itu bermunculan.” Tapi, menurut Benny, pengaruh film ini tidak selalu negatif. Selain kegemaran berkelahi ala cowboy itu menjalar kepeloksok kampung, tempat-tempat berlatih silatpun jadi marak. Tapi, bagi Benny, Oma maupun aik-aiknya, ilmu bela diri nasional ini tidaklah asing, karena sejak kecil mereka sudah mendapat latihan dari ayah mereka. Tambah Benny,, “kami juga belajar silat dari banyak guru yang lain. Tapi karena saya lebih senang main bola, maka belajar silat tidak saya tekuni seperti oma. Selesai dari satu guru oa belajar dari guru yang lainnya lagi. Dia pernah belajar silat Cingkrik (paduan silat Betawi dan Cimande) pada Pak Rohimin di Kebun Jeruk, Jakarta Barat. Dia juga pernah belajar silat Sigundel di Jalan talang, selain beberapa ilmu silat yang lain.” Menurut Benny, Oma maupun dirinya menjadi anak nakal mungkin karena jenuh di rumah. “Untuk zaman itu, kondisi keluarga kami di Tebet tergolong cukup kaya dibanding dengan masyarakat sekitar. Kami selalu berpakaian bagus. Selain rumah yang cukup mentereng, ada beberapa buah mobil. Antara lain Impala, mobil yang tergolong mewah di zaman itu.” Benny pun menceritakan bahwa suasana rumah mereka cenderung bergaya feodal. Sehari-hari ayah dan ibu mereka berbicara dengan bahasa Belanda. Selain makan harus bersama-sama, anak-anakpun harus memenuhi disiplin di rumah yang cukup ketat. “Sebagai anak muda,” tutur Benny, “kami merasakan suatu kejenuhan. Mungkin karena itulah maka kami sempat berpikir untuk keluar dari rumah atau pergi merantau.” Perantauan pun akhirnya tejadi, setelah peristiwa yang merupakan sumbu peledak. Menurut cerita Benny, masalah yang terjadi sesungguhnya bukan berasal dari rumah. Seperti remaja lain, saat itu Oma sedang gandrung pada seorang gadis dari Bendungan Hilir. Dara manis itu semula bergabung dengan kelompok musik Oma Irama yang waktu itu masih terkesan iseng. Tapi, lama kelamaan dua sejoli itu ternyata saling jatuh hati. Orangtua si gadis merasa kurang sreg. Dimatanya, Oma saat itu hanyalah sosok pemuda pengangguran yang belum ketahun prospek masa depannya. Orangtua sudah mempersiapkan calon menantu buat putrinya, pria yang sudah berumur, tapi kantongnya tebal. Si gadis yang sudah yang sudah jatuh hati pada Oma tentu saja mbalelo. Pembangkangnya membuat kakaknya marah besar dan menuduh Oma-lah biang keroknya. Ia pun menghajar Oma. Oma jatuh tertimpa tangga, begitulah peraan Oma saat itu. Sudah pacarnya hilang, ia pun pulang dalam keadaan babak belur. Benny terlambat menerima kabar perkelahian adiknya. Ketika ia tiba di tempat kejadian, perkelahian sudah lama selesai dan si adik pun sudah pulang. Tapi, ketika ia menyusul pulang, Oma ternyata sudah kabur ke rumah neneknya di Bandung.

Ngamen di Solo

Oma ternyata benar-benar merasa terpukul. Semua ini tentu membuat Benny khawatir. Karena itu, tanpa membuang waktu, ia pun langsung menyusul ke Bandung. Ketika bertemu di rumah neneknya, Oma semula tak mau pulang ke Jakarta. “Saya ingin merantau,” katanya. “Merantau ke mana?” tanya Benny. “Ke Jombang!” “Ngapain?” “Saya ingin berlajar agama, mau nyantri.” “Ke Jombang ya ke Jombang. Tapi, sebaiknya kamu pulang dulu ke Jakarta,” bujuk Benny. Sesampainya di Jakarta, Oma merasa tidak betah berlama-lama di rumahnya. Setelah pamit kepada kedua orangtuanya, dengan diantar oleh Benny dan ketiga temannya, Daeng, Umar, dan Haris, mereka pun langsung berangkat ke Jombang naik kereta api. Mereka tak lupa membawa gitarnya. “Karena kami berangkat hanya membawa bekal sedikit, kami pun nekat naik kereta tanpa bayar,” ungkap Benny. Tapi, perjalanan itu sendiri tidak berlangsung lancar. karena kami tidak membeli karcis, sepanjang jalan kelima remaja ini harus main kucing-kucingan dengan kondektur, meski akhirnya pasrah. Ketika sampai di Stasiun Tugu di Jogja, perasaan takut tertangkap kondektur pun semakin memuncak. “Daripada kita tertangkap dan ditutunkan di tempat yang sepi, lebih baik turun disini sekarang,” ajak Benny kepada adik dan teman-temannya. Dengan harapan nantinya akan bisa meneruskan perjalanan ke Jombang, mereka pun kemudian mampir di sebuah warung. Sambil melepas lelah duduk-duduk santai di dekat warung, mereka pun bermain gitar. Entah bagaimana mulanya, Benny sendiripun juga merasa heran, karena tiba-tiba banyak orang mengelilinginya. Bahkan ada diantara mereka yang kemudian memberikan uang. “Saya lihat waktu itu Oma meneteskan air mata,” cerita Benny. “Kenapa dia menangis saya tidak tahu pasti. Mungkin ia terharu karena orang-orang memberinya uang, tapi mungkin juga karena ia menghayati lagu yang dibawakannya.” Di Jogja mereka mengukir tekad untuk tidak pulang sebelum jadi orang. Tekad anak muda yang masih dipengaruhi mimpi-mimpi indah tentang kehidupan. Mereka kemudian naik kereta api lagi menuju Solo. Di kota ini, mereka terus berusaha bertahan hidup dengan cara mengamen. Ketika makan siang di sebuah warung di Gading, mereka berkenalan dengan seorang pria pengamen bernama Mas Gito. Setelah mengobrol sejenak, Mas Gito mengajak mereka mampir ke rumahnya. “Mas Gito ini orangnya baik, begitu juga istrinya. Suami istri ini kemudian menyediakan sebuah kamar untuk tempat tinggal kami selama di Solo,” kata Benny.

Sekolah sambil ngamen

Untuk sementara Oma melupakan keinginannya untuk nyantri ke Jombang. Tapi, Benny yang melihat adiknya belum berhasil menyelesaikan SMAnya tentu saja prihatin. Ketika dengan mengamen mereka bisa hidup, maka Bennypun menyuruh Oma melanjutkan sekolahnya di kota itu. Oma kemudian masuk SMA St Joseph. Setiap pagi Oma sekolah, siang berangkat ngamen. Karena biaya sekolahnya makin tinggi, untuk mencukupinya Benny maupun Oma kemudian menjual beberapa potong bajunya. Meski setiap hari mengamen, penampilan mereka tetap seperti orang kaya. Sebagai anak dari keluarga cukup, pakaian mereka memang bagus- bagus. Celana blue jeans buatan lur negeri yang belum dipakai banyak orang. bahkan Benny mengenakan sepatu bermerk yang waktu itu sangat terkenal dan langka, yang tentu saja mahal harganya. Setiap kali mereka mengamen di rumah atau di jalan-jalan di sepanjang Kota Solo banyak di antara penonton yang bertanya-tanya, kenapa anak-anak muda sekeren mereka ngamen. Termasuk diantaranya Mas Gito, rekan dekat mereka saat berada di Solo. ia yakin bahwa kelompok pengamen yang satu ini adalah anak-anak keluarga kaya. Begitu penasarannya, sampai-sampai Mas Gito mendesak mereka untuk membawanya ke Jakarta. “Saya ingin kenal dengan orangtua kalian,” Mas Gito meminta. Sebaliknya, Benny dan kawan-kawannya justru memanfaatkan Mas Gito untuk kepentingan mereka. Karena mereka tidak ingin mencemaskan orangtua, mereka mengabarkan bahwa sekarang ini mereka bekerja di Solo. Mereka mengaku bekerja di sebuah perusahaan mobil milik Mas Gito. Mas Gito inipun kemudian mereka ajak ke Jakarta dan menginap di rumah mereka. Sandiwara mereka berhasil mengelabui orangtua mereka. Tapi, setahun bersekolah di St Yoseph, Oma ternyata tidak lulus ujian. ia sempat frustasi dan sempat membuat abangnya khawatir dan menegurnya, “Ma, kenapa kamu jadi putus asa begitu? Kayak tidak ada tempat sekolah yang lain saja!” Menurut Benny, ketidakberhasilan Oma justru ada hikmahnya. Di kota ini mereka merasa sudah tidak aman lagi, karena pernah berkelahi dengan kelompok Pemuda Rakyat, salah satu ormas PKI yang ganas . Ini terjadi sekitar tahun 1964. “Kalau Oma lulus, berarti kamu semua terus tinggal di Solo. Tapi, karena Oma tidak lulus, maka ia harus bersedia diajak pulang ke Jakarta,” ujar Benny. Di Jakarta, Oma kemudian melanjutkan sekolah di SMA 17 Agustus sampai akhirnya lulus tahun 1964. Ia kemudian melanjutkan kuliah di Fakultas Sosial Politik Universitas 17 Agustus, tapi hanya bertahan satu tahun. Lagi-lagi Oma lebih tertarik kedunia musik!.

Yang tak terlupakan

Dari caranya bercerita, nampak jelas bahwa Benny sangat bangga terhadap adiknya yang kini menjadi Raja Dangdut itu. Banyak kenangan yang dia rasakan saat masih sama-sama remaja, salah satu diantaranya saat adiknya ngotot ingin menyaksikan pertandingan sepak bola dimana Benny ikut menjadi pemain. Kalau Oma keranjingan ke musik, Benny lebih keranjingan ke bola. Tapi, kedua kakak beradik ini tidak hanya bersaudara tapi juga bersahabat. Kalau Oma main musik, Benny pasti akan datang menonton dan membantu segala persiapannya. Begitu juga sebaliknya, kalau Benny bermain bola, maka kemanapun dia main, Oma pasti menjadi suporter yang paling setia. Tapi, suatu hari Benny melarang si adik ini ikut serta. Ia pikir lokasi pertandingannya cukup jauh, yaitu di Daerah Jonggol. Kendaraan yang disediakan pun sangat terbatas, sehingga Benny merasa tidak enak kalau harus membawa-bawa Oma. Tapi, dasar Oma, ia tetap ngotot untuk ikut serta . “Pokoknya saya ikut, Ben…” katanya sambil membawakan sepatu kakaknya. Saat itu rombongan menggunakan dua buah mobil milik TNI-AD, yaitu sebuah bus untuk para pemain dan pemimpin tim, serta sebuah truk untuk para supporter. Kendati Oma ngotot, Benny tetap melarang adiknya ikut. Tapi ketika rombongan ini mau berangkat, Oma sudah terselip di antara para supporter yang lain di atas truk. Karena merasa tidak enak, Benny terpaksa meminta izin pada Anis, pemimpin timnya, Anis ternyata tidak merasa keberatan dan bahkan menyuruh Oma turun dari truk untuk pindah ke bus. Kejadian ini tampak sepele pada mulanya. Namun sekanjutnya sesuatu yang tidak terdugapun terjadi. Saat itu bys yang ditumpangi Benny, Oma, Anis, dan semua pemain sudah lebih dulu berangkat. Tapi, tidak lama setelah tiba di lokasi pertandingan, terdengar hiruk pikuk. Truk yang ditumpangi para supporter mereka ternyata bertabrakan dengan sebuah truk TNI-AU di Daerah Cawang. Ketika mendengar bahwa truk supporter itu bertabrakan, ingatan Benny langsung teringat pada Oma. “Kalau Oma jadi naik truk itu, bagaimana jadinya?” tanyanya menerawang. “Kecelakaan itu tidak sampai menimbulkan korban jiwa, tapi beberapa di antaranya menderita luka yang cukup parah. Peristiwa ini tidak pernah saya lupakan sampai sekarang”. (Bersambung)