Sebuah Tanggapan atas Tulisan Rezki Fadillah Tentang Fatwa MUI dan Orang-orang Tak Tahu Diri

Ketua MUI KH Ma'ruf Amin dan para koleganya. Ilustrasi atas tulisan Rezki Fadillah yang dimuat di situs portalpiyungan.

Ketua MUI KH Ma’ruf Amin dan para koleganya. Ilustrasi atas tulisan Rezki Fadillah yang dimuat di situs portalpiyungan.

Seseorang pengguna Facebook yang mengaku bernama Rezki Fadillah menulis di akun Facebook-nya pada tanggal 21 Desember 2016. Begitu menariknya bagi banyak orang, tulisan tersebut kemudian cukup viral, baik sekadar share link di Facebook maupun disalin-tempel ke media lain. Salah satu media yang menyalin-tempel adalah situs “portalpiyungan” yang dinyatakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika sebagai situs penyebar hoax yang harus diblokir. Portalpiyungan memuatnya pada tanggal 29 Desember 2016.

Tulisan Rezki Fadillah

Sumber: Facebook Rezki Fadillah https://www.facebook.com/rezky.fadillah.31/posts/1210318455721621

Ada tidak ya, orang yang tidak pernah kuliah di fakultas kedokteran, tidak pernah belajar ilmu kedokteran sama sekali, lalu tiba-tiba datang ke rumah sakit, ketemu sama dokter bedah yang telah kuliah ilmu kedokteran sekian tahun dan jadi dokter puluhan tahun, lalu dia mengkritik dan membully dokter itu, “Dok, bukan begitu cara menangani pasien. Dok, bukan itu obatnya. Dok, jangan sembarangan ngasih resep obat..”

Ada tidak ya? Saya rasa tidak ada kecuali orang itu terkena gangguan mental.

Nah lucunya, banyak orang Islam yang nyinyir dan rewel mengkritik fatwa MUI, termasuk terkait larangan muslim menggunakan atribut natal. Mereka muslim tapi pada gerah dengan fatwa ini. Mulai dari kalangan politisi hingga netizen kurang kerjaan spesialis bully dan caci maki di medsos.

Padahal..
Ilmu agama tidak paham.
Baca kitab hadist belum tamat.
Baca kitab fikih bab Thaharah saja belum kelar.
Jangankan tafsir Qur’an, terjemahan pun tidak. Cuma tau benang merah Qur’an #eh
Baca kitab gundul tidak bisa.
Bahasa arab tau nya cuma “ana antum akhi afwan wassalam”
Belajar agama cuma dari google.

Lalu tiba-tiba mengkritik fatwa ulama? Hallo…anda sehat?

Jika ditegur, ia menjawab, “Memangnya ulama tidak boleh dikritik?”
Boleh. Tapi anda siapa?
Ambil cermin, coba ngaca. Biar tau diri.
Lihat! Ini sangat rasional. Anda tidak mungkin berani mengkritik seoranh dokter terkait ilmu kedokteran jika anda bukan ahli ilmu kedokteran. Tapi kenapa anda sewot mengkritik ulama padahal anda bukan ahli agama?

Belajarlah agama yang benar. Ngaji. Datangi majelis ilmu. Baca kitab. Rasakan sulitnya menuntut ilmu. Menuntut ilmu agama wajib bagi setiap muslim. Jangan rewel sama ulama.
Bangsa ini rusak karena banyak orang yang suka rewel dan sok ikut campur dalam bidang yang ia bukan ahlinya. Dan mencampuri wewenang ulama (dalam masalah fatwa) bisa berakibat fatal. Melawan ulama adalah musibah besar.

MUI menghimbau jangan pilih pemimpin kafir, ia sewot.
MUI keluarkan fatwa Ahok menistakan agama, ia sewot juga.
Selalu rewel dan sewot sama MUI melebihi emak-emak yang lagi ngerumpi.
Saya merasa ini semacam gangguan mental akut yang barangkali bisa diruqyah.

Saudaraku.
Ulama adalah pewaris kenabian. Mereka tidak berfatwa dengan hawa nafsu.
Mereka adalah orang yang takut pada Allah,
“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para Ulama” (QS Surat Fathir: 28)
Mereka berfatwa dengan ilmu. Dengan hujjah. Dengan dalil.
Mereka belajar agama puluhan tahun. Ada yang hingga ke timur tengah. Mereka ahlinya. Mereka sudah mengeluarkan fatwa diantaranya HARAM mengucapkan selamat natal dan HARAM menggunakan atribut natal.
Maka ikutilah mereka. Berdirilah bersama ulama di zaman fitnah ini agar kita selamat dunia akhirat.
Jangan berdiri bersama barisan orang-orang rewel yang tidak tau diri itu. Jangan berdiri bersama para “pelacur pemikiran” dari kalangan liberal sekuler yang menyesatkan umat dengan dalih “Toleransi”.

Kalau kita mau tau konsep toleransi yang benar, tanya sama ulama. Baca Qur’an. Jangan tanya sama “Pelacur pemikiran” dari kaum liberalis yang suka mencela ulama dan pandai bermain kata. Karena Islam adalah agama yang penuh dengan toleransi dan ulama adalah yang paling tau tentang itu.

Jangan remehkan masalah agama. Banyak orang yang meremehkan masalah agama. Jika keluarganya sakit kanker, ia pasti cari dokter terbaik biar keluarganya sembuh. Tapi kenapa ia tidak mau cari uztad terbaik (yang benar-benar ulama, paham agama) untuk menyembuhkan ia dari penyakit kebodohan dalam hal agama? Kenapa mengambil ilmu agama dari uztad selebritis di tv yang “fatwakan” boleh pilih pemimpin non Islam? Knapa ngambil ilmu agama dari kiay liberal? Knapa bertanya tentang agama dan toleransi pada cendekiawan muslim liberal yang nyantri di negeri kafir yg bolehkan ikut natalan bersama? Knapa ngambil ilmu dari postingan uztad gadungan di akun fb?
Ini aneh..

Bertanyalah kepada ahli Ilmu jika memang kamu tidak tahu (QS. An Nahl: 43)

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah, dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang jujur (benar)! (At-Taubah:119)

Wallahu’alam.

Rezki Fadillah
(Bukan Uztad. Bukan ahli agama)

Sebuah Tanggapan

Ketika tulisan tersebut saya posting ke sebuah grup WhatsApp pada tanggal 10 Januari 2017, saya mendapat tanggapan dari seorang, sebut saja namanya X. Berikut ini tanggapan X:

  • Pertanyaannya, apakah MUI saat ini bisa mewakili ulama sesuai dg yg dicontohkan rasul? Kalo aku pribadi kok mending ikut gus mus, mbah maimun zubair, atau habib lutfi…
  • kadang saya merasa aneh, dengan orang-orang yang sepertinya ada kontradiksi dalam pemikiran-pemikirannya… coba perhatikan…kata-kata si penulis rezki fadillah, yang mengaku bukan ustad, bukan ahli agama, tetapi berani memvonis bahwa orang yang mereka tuduh liberal dan belajar di negeri kafir, adalah ustadz gadungan yang berpotensi merusak islam…..
  • kalo masalah kepintaran ilmu (agama), saya ndak yakin, bahwa orang yang dituduh liberal semacam Nadirsyah Hosen, Ulil Absar Abdalla, dan Ahmad Sahal  “dipastikan” lebih rendah kemampuan ilmunya dibandingkan “beberapa” penguasa MUI semacam tokoh-tokoh yang menjadi “pentolan demo 212 kemaren..
  • apalagi, jika pengurus MUI yang sekarang dibandingkan ilmunya mbah Maimun Zubair, Gus Mus, atau Habib Lutfi…. kalau menurut saya pribadi, pengurus MUI sekarang, yo levelnya mungkin jauh dibawah beliau bertiga….
  • ini belum membandingkan masalah akhlak, perilaku dan kezuhudan…antara “mereka” dengan ketiga ulama yang saya kagumi tersebut….
  • jadi sekarang ini memang sudah mau kiamat kayaknya….banyak fenomena aneh terjadi……
  • saya memiliki teman akrab, yang saya tahu dia ndak bisa ngaji(bahkan huruf arab pun tak kenal)….. dan diapun tahu, saya tahu kalau dia ndak bisa ngaji….. gara-gara ribut 212 kemaren, dia berani-beraninya menyalahkan kyai-kyai, yang katanya ndak mau bela al Qur’an dan menjadi musuh Islam….
  • terus saya tanya, sampeyan kok bisa menyimpulkan begitu dari mana? jawabnya, yo dari internet, facebook, dan youtube kan banyak itu….. (na’udzubillah min dzalik)….
  • jadi kayaknya, setelah jualan bid’ah ndak laku, beralih ke ahmadiyah kurang laris, berpindah ke isu syiah agak dicuekin, mereka mulai jualan fitnah…. dan kayaknya laris manis itu,…..

Sampai di situ, kemudian ada yang berkata:

  • mungkin perlu dinasehati pelan2 Pak.. jangan malah dimusuhi juga

X menjawab:

  • ndak tak musuhi, ……..cuman yo tak suruh ngaji iqro’ dulu….terus, saya bilang ngaji ke kyai bener, jangani kyai facebook, si mbah google apalagi si neng youtube…..

Kemudian ada dua orang yang bertanya:

  • Penanya pertama: Siapa yg perlu dinasehati, *** (memanggil X)?
  • Penanya kedua: sinten *** (memanggil X)?

Lalu ada yang berkata lain, tidak penting untuk disebutkan di sini.

X melanjutkan:

  • yo bagusnya ngaji langsung ke kyai nya…. menurut saya, ngaji internet, meskipun “katanya” ngaji ke kyai bener, menunjukkan salah satu kemalasan yang berujung pada ilangnya keberkahan ilmu
  • cuman begini lho rekan-rekan, saya agak risi, dengan orang-orang yang copy paste kemudian menyebarkan sesuatu, yang malah berujung pada kejengkelan dan kemarahan, atau dengan kata lain mendorong kita berbuat dosa…… kalaupun mau ngajak diskusi, tolong, di kasih aja sumbernya, terus dikomentari, menurut yang “ngeshare” tadi gimana….nanti toh insya Allah dikomentari sama yang lain…. di samping untuk belajar nulis, belajar menganalisa permasalahan, …hal tersebut tidak membiarkan berita “hoax” atau yang bertendensi fitnah, mengisi ruang grup WA ini…. karena di tempat lain, berita hoax dan fitnah sudah pada tahap memuakkan… masak di sini juga mau digitukan…
  • jangan lupa, sekali kita ngeshare sesuatu dan ternyata itu menjadi fitnah, maka kita ikut bertanggung jawab atas efek beruntun yang menjadi “impact” dari yang kita share tersebut….terlepas apapun motif kita …
Bagikan artikel ini:
Share