Sembilan Tips Siaran Pers yang Efektif dari Tempo Institute

If I was down to my last dollar, I would spend it on public relations” ucap Bill Gates, pendiri Microsoft.

Pernyataan orang terkaya dunia di atas menunjukkan betapa penting fungsi kehumasan bagi sebuah perusahaan. Kegiatan kehumasan atau public relations pada dasarnya investasi untuk melindungi, merawat, membangun dan mengelola reputasi perusahaan. Gates menyadari itu. Bahkan Ia akan membelanjakan uang terakhirnya untuk kegiatan kehumasan.

Siaran pers adalah senjata ampuh bagi humas untuk membangun dan mengelola reputasi perusahaan. Biayanya pun murah. Staf humas hanya perlu dibekali keterampilan menulis. Agar mereka mampu mengemas siaran pers bernilai berita, enak dibaca dan mudah dipahami.

TEMPO Institute berbagi 9 hal yang harus dilakukan dan jangan dilakukan ketika menulis siaran pers. Apa saja?

Lakukan

  1. Eye Catcher
    Buatlah judul berita sebagai “eye-catcher.” Judul berita harus menarik perhatian wartawan, membuatnya ingin tahu lebih banyak.
  2. Lead Memikat
    Lead atau paragraf pertama harus mampu memikat pembaca. Tulislah secara ringkas dan padat apa yang sedang terjadi.
  3. 5W +1H
    Menjelaskan informasi 5W +1H secara jernih : siapa (who), apa (what), kapan (when), di mana (where), mengapa (why), dan bagaimana (how). Agar pembaca memahami konteks yang sedang disampaikan oleh perusahaan.
  4. Narahubung
    Tulislah secara lengkap; nama, jabatan, email, dan nomor HP. Ini akan memudahkan wartawan untuk mengkonfirmasi bahkan mendalami informasi siaran pers yang didapatnya.
  5. ###
    Letakkan tanda ‘###’ ini sebagai penutup siaran pers Anda. Tanda tiga pagar yang diletakkan di tengah pada akhir tulisan lazim digunakan dalam jurnalistik.

Jangan lakukan

  1. Jangan Gunakan Kata yang Sia-sia
    Hindari kalimat dan paragraf yang panjang-panjang. Hindari pengulangan dan jangan menggunakan jargon.
  2. Jangan Blast
    Jangan mem-blast siaran pers yang sama ke semua media. Susun siaran pers untuk media spesifik, bahkan reporter yang spesifik peliput di bidang Anda. Info ini bisa dicari di website media masing-masing.
  3. Jangan Kirim Hasil Scan
    Jangan scan siaran pers Anda, kemudian mengirimnya dengan format jpeg. Itu membuang-buang waktu redaktur. Masukkan siaran pers di dalam tubuh e-mail, bukan sebagai lampiran. Jika terpaksa pakai lampiran, gunakan file plain text atau Rich Text Format. Word docs boleh, tapi simpanlah versi dalam doc.
  4. Jangan Lelah Belajar
    Menjadi praktisi humas yang mahir adalah keuntungan yang tidak ternilai.

Menyadari pentingnya poin terakhir di atas, TEMPO Institute mengajak untuk mengikuti Kursus Jurnalistik untuk Praktisi Humas di #belajarbarengTEMPO pada 6-8 Maret 2018. TEMPO Institute akan membagikan kiat-kiat merumuskan pesan kunci perusahaan yang bernilai berita dan mengemasnya menjadi materi komunikasi yang menarik dan penting sebagai bahan publikasi melalui media sosial, laman perusahaan, dan media cetak.

Bagikan artikel ini:
Share