“Shock Therapy” Rhoma buat Inul: Baju Berbekas Bedak Inul Tak Akan Dicuci

Pindahan dari Multiply
URL: http://sonetagroup.multiply.com/journal/item/17/Shock-Therapy-Rhoma-buat-Inul-Baju-Berbekas-Bedak-Inul-Tak-Akan-Dicuci

Sumber: Tabloid Nova

Aksi panggung penyanyi Inul Darastita rupanya telah bikin gerah sebagian pedangdut. Bukan saja karena goyangan Inul yang dicap erotis itu makin laku di mana-mana, tapi juga karena banyak pedangdut lain mengikuti jejak Inul menonjolkan goyangan hot saat beraksi di panggung.

Puncaknya, pedangdut senior Rhoma Irama beserta rekan-rekannya yang tergabung dalam Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia (PAMMI) melancarkan protes keras pada Inul serta media-media yang menayangkannya. Protes dilancarkan dalam kecaman lisan di berbagai kesempatan hingga surat “teguran” ke SCTV yang menayangkan Inul dalam acara Duel Maut. Bukan itu saja, Rhoma juga mengajak para pencipta lagu, penata musik, dan musisi dangdut untuk memboikot Inul.

Upaya ini mendorong SCTV mengajak Inul menemui Rhoma. Keinginan mereka diterima Ketua PAMMI Pusat itu dengan tangan terbuka di studio Soneta Group di kawasan Depok, Jawa Barat, Jumat (25/4) sore. “Saya harus menerima kehadiran Inul sebab niat kehadirannya adalah untuk meminta maaf,” jelas Rhoma ketika ditemui NOVA di Jakarta, esoknya.

Diakui Rhoma, sudah lama ia berusaha meluruhkan hati Inul. “Dulu masih ngetop di tingkat lokal, saya sudah coba, kok, mengajak Inul dan para musisi Jawa Timur membicarakan hal ini. Tapi Inul enggan datang,” beber Rhoma sembari menambahkan dirinya juga pernah menasihati Anissa Bahar untuk menghentikan gerakan erotis dan sensualnya. “Saya sudah pernah menegurnya di belakang pentas di Ancol. Dia mencium tangan saya dan berterima kasih atas tegurannya.”

Siap Duet Bareng Inul

Kembali ke Inul, Rhoma menggambarkan Inul sebagai penyanyi yang keras hati. “Waktu dinasihati kiai Pasuruan dengan santai dia jawab, ‘Saya enggak bisa berubah, Pak Kiai. Saya, ya, begini ini.’ Begitu juga waktu ditegur majelis ulama, didemo istri-istri ulama, masjid, mubalig. Nah, kekerasan hati Inul inilah yang kemarin saya ubah.”

Pertemuan itu, menurut Rhoma, merupakan kesempatan baginya untuk berdialog dengan Inul. ”Saya katakan padanya, manusia memiliki dua sisi positif dan negatif. Yang dilakukan Inul adalah menuruti kecenderungan negatifnya,” ungkap Rhoma. “Lihat saja, Camelia Malik dan Elvie Sukaesih. Saya yakin mereka juga bisa melakukan gerakan seperti Inul, namun memilih tidak melakukannya karena mereka sadar itu tidak baik.”

Menurut cerita Rhoma, saat dinasihati, Inul hanya menangis. “Saya bilang, saya dan pemusik dangdut lain bukan menghukum. Ini semacam shock therapy agar hal yang sama tak lagi terulang,” ujarnya merujuk pada kesepakatan para seniman dangdut untuk mencekal Inul. “Pencekalan itu baru kami hentikan jika Inul sungguh sadar. Justru nanti akan kami rangkul dia.”

Masih cerita Rhoma, Inul lalu minta maaf. “Kami sama-sama bertangisan spontan. Inul bahkan terpuruk di kaki saya. Saya yakin 100 persen Inul sungguh bertobat,” kata Rhoma dengan mata berkaca-kaca. “Saya tobat. Saya akan imbau teman-teman saya untuk tidak erotis dan sensual. Saya telah merusak dangdut dan moral bangsa,” ucap Rhoma menirukan perkataan Inul saat bersimpuh.

“Sungguh,” lanjut Rhoma, “saya tidak benci pada Inul. Yang saya perangi bukan Inul sebagai pribadi, tapi inulisasi, yaitu pelegalan goyangan erotis seperti yang telah dilakukan Inul dan teman-temannya.”

Lantas, apakah pencekalan terhadap Inul dan teman-temannya dapat memperbaiki moral bangsa? Pada dasarnya, sambung Rhoma, ”Masyarakat kita adalah silent majority. Mereka bersifat menerima saja. Diwarnai biru jadi biru, diwarnai putih jadi putih,” jelasnya. Itu sebabnya, “Kita sebagai seniman, idola mereka, harus membangun sisi positif rakyat. Saya optimis, masyarakat bisa kembali jadi baik.”

Rhoma juga berjanji memberi dukungan sepenuhnya pada karier Inul bila ia sudah tidak bergoyang ngebor lagi. “Bahkan saya mau berduet dengan Inul di pentas, di televisi, dan sebagainya, asal dia mau bertobat,” janjinya.

Lagu untuk Inul

Minggu (27/4) mengundang sejumlah anggota PAMMI mengadakan syukuran di halaman belakang Studio Persari, Ciganjur, Jakarta Selatan. Syukuran ini, kata Rhoma., “Untuk menyambut kelahiran baru Inul karena dia sudah berjanji akan mengubah goyangnya tidak lagi erotis dan sensual. Dia juga berjanji mengajak penyanyi-penyanyi lain mengikuti langkahnya.”

Hadir dalam syukuran itu antara lain Eddy Sud, A. Rafiq, Jaja Miharja, Elvie Sukaesih, Camelia Malik, Johana Satar, Rita Sugiarto, Cici Paramida, Eri Susan, Della Puspita, Ike Nurjanah, dan Adi “Kla Project”. Hadir juga Ketua Umum Partai Patriot Pancasila, Yapto Soerjosoemarno.

Semula syukuran ini, kata Rhoma, dijadwalkan sebagai forum pencekalan terhadap Inul secara nasional. Menurut Rhoma, PAMMI cabang Jatim dan Kalimatan telah melakukannya, menyusul cabang-cabang PAMMI di wilayah lain, seperti di Jateng. ”Alhamdulilah setelah Inul datang minta maaf kepada saya, forum ini berganti jadi tasyakuran,” katanya.

Dalam syukuran itu Rhoma memuji Inul sebagai anak yang baik, rendah hati, dan lugu. “Saya sayang kamu Inul, tapi saya marah karena setan yang ada dalam dada kamu. Kamu harus sadari di belakang kamu ada yang mengeksploitir kamu,” tutur Rhoma menirukan nasihatnya.

Rhoma juga menyatakan Inul menangis, bersimpuh di dadanya, dan merangkulnya. “Saya tidak akan mencuci baju dan celana saya, di sana ada bekas bedak Inul. Itu sejarah dan jadi bukti bahwa Inul telah tobat. Melihatnya menangis saya tak sampai hati. Saya ambilkan air minum dan habis diminumnya,” tuturnya.

Soal tudingan tindakannya ini membatasi kebebasan seseorang berkreasi, Rhoma mengatakan, “Kebebasan berkreasi itu dibatasi juga oleh norma-norma berbangsa dan beragama. Saya sejak dulu susah payah membangun dangdut dari yang tadinya tingkatan becek, sampai sekarang ini bisa di tengah, dan sekarang jadi primadona. Tiba-tiba, kok, ada pendatang baru yang mencemarkan.”

Ia juga menangkis tudingan cemburu terhadap ketenaran Inul. Menurut Rhoma, tuduhan itu tak berdasar. “Saya tidak merasa iri dengan Inul,” tegasnya.

Senin (28/4), Rhoma hadir di Surabaya menghadiri sarasehan Kontoversi Goyang Inul di Hotel Grand Kalimas Surabaya, yang digelar PAMMI Jatim. Dalam kesempatan tersebut Rhoma Irama kembali menguraikan panjang lebar alasannya kenapa ia sampai mencekal Inul.

Rhoma mengakui cukup keras bicara pada Inul. Ia menyampaikan ketidakrelaannya kalau dangdut yang ia perkenalkan sampai ke berbagai negara itu dihancurkan dengan gerakan-gerakan erotis Inul. “Saya katakan padanya, kalau kamu terus begitu, pilih salah satu, kamu yang mati atau saya,” ungkap Rhoma di hadapan 150 peserta sarasehan.

Gejala yang ada saat ini, kata Rhoma, kalau penyanyi dangdut tidak bergoyang seerotis Inul di panggung, maka selalu diteriaki penonton. “Makanya upaya saya adalah mencegah gejala inulisasi ini makin berkembang,” tandas Rhoma.
Pada kesempatan itu, Rhoma juga kembali menyatakan Inul bisa menerima nasihatnya dan menyadari kesalahannya. Di penghujung acara, ketika didaulat peserta menyanyikan salah satu lagu dangdut, sebelum mulai menyanyi Rhoma berteriak, “Aku sayang Inul, lagu ini saya persembahkan untuk Inul!”

Seusai acara, ketika dimintai komentar soal rencana gugatan Anisa Bahar terhadapnya, Rhoma mengatakan antara dirinya dengan Inul maupun Anisa sudah tak ada persoalan lagi. “Saya sudah ketemu pengacara Anisa. Apalagi dengan Inul. Sudah clear semua,” katanya.

Goyangan Masih Bisa Diperbaiki

Setelah adanya kecaman Rhoma Irama terhadap goyang Inul, SCTV yang mengandalkan acara Duet Maut (DM) meminta Inul memperbaiki goyangannya. “Misalnya goyang memantati penonton, karena secara adat Timur kurang etis. Juga kalau ada gerakan yang erotis kamera dialihkan menyoroti pemusiknya. Itu sudah kami lakukan sejak awal DM muncul. Namun, bukan berarti goyangannya dihentikan. Bagaimanapun, itu adalah kreativitas Inul. Kita tidak boleh mematikan kreativitas orang,” tandas Budi Darmawan, Manajer Humas SCTV saat dihubungi, Senin (28/4).
Menurut Budi, sejak Rhoma mengkritik goyang Inul, yang mendukung Inul tetap tampil di DM tetap banyak. “Kendati demikian, kami menghargai sikap Rhoma dan menganggapnya sebagai masukan berharga.”

Kalaupun sampai Inul dicekal pedangdut lain, Budi memandang tak ada alasan bagi SCTV untuk menghentikan DM. “Dalam hal ini, Inul mestinya dibantu dan didukung, dong. Bukan dimusuhi. Bukankah sebelum Inul muncul, sudah banyak artis dangdut yang tampil erotis?”

Jadi, tegas Budi, “SCTV tetap menampilkan Inul sampai orang bosan menontonnya.” Soal Inul yang berencana mundur sementara dari teve, Budi mengaku belum tahu. “Saya rasa Inul omong begitu karena dia emosional dan tertekan. Kami sih, berharap Inul tetap mau tampil dalam DM. Goyangannya masih bisa diperbaiki, kok,” pinta Budi yang membuka kemungkinan Rhoma dan Inul duet di acara DM. “Cuma kami belum sampaikan pada Inul dan Rhoma. Kami masih menunggu waktu yang tepat.”

Keinginan Inul untuk berhenti sementara juga dibenarkan Theresia Ellasari, humas TPI. Menurut Ella, ada kemungkinan Inul tidak tampil dalam Pasar Rakyat (PR) yang ditayangkan Selasa (29/4). “Manajer Inul bilang untuk sementara Inul akan cooling down,” ujar Ella. TPI sendiri, tambah Ella, tidak punya sikap mencekal Inul. Sebelum ini, Inul sempat beberapa kali tampil dalam acara TPI, antara lain Goyang Bintang Bintang dan Bedah Bisnis (BB) yang dibawakan Rhenald Kasali. Di kedua acara ini, Inul jadi bintang tamu. “Dia tampil cukup sopan dan sangat kooperatif.”

Masalah yang terjadi sekarang, menurut Ella, sebetulnya di luar kehendak Inul. Goyangan erotis, kata Ella, memang perlu disensor, khususnya untuk tayangan teve. Jadi, Rhoma tidak salah. “Tapi bukan berarti harus mendiskreditkan si artis,” tegas Ella.
Sementara itu, Mita Nurani, humas RCTI mengatakan pihaknya belum mengambil sikap apakah akan tetap memakai Inul dan Anissa Bahar atau tidak. “Sebab, pemirsa yang memprotes maupun mendukung Inul porsinya sama. Jadi, kami masih menunggu perkembangan,” ujar Mita, Senin (28/4).

Perangi VCD Porno Dulu


Dikecam keras oleh Rhoma Irama. Anisa Bahar, biduanita dangdut yang terkenal dengan goyangan patah-patahnya minta bantuan Gusti Randa, SH & Rekan menjadi penasihat hukumnya. “Pernyataan Bang Rhoma merugikan karier saya. Apalagi beliau bilang mengharamkan goyangan saya. Seakan saya najis banget, gitu. Akibatnya, panitia berbagai acara menunda penampilan saya. Termasuk show ke Amerika dan Suriname segala,” keluh Ani, sapaan akrabnya.

Padahal, ujar anak ketiga dari lima bersaudara ini. Dirinya tak pernah bermaksud melakukan goyangan sensual atau mempengaruhi birahi. “Goyangan itu sudah saya pelajari sejak kecil. Masak iya anak kecil sudah kepikiran
seperti itu. Goyangan saya masuh wajar, kok,” cetusnya.

Karena itulah, Ani enggan mengikuti langkah Inul menemui Rhoma dan minta maaf. “Saya merasa enggak salah. Buat apa harus minta maaf pada seseorang?” ujar presenter Pesona Musik Indonesia (TVRI), Hiburan Musik (TVRI) dan Yang Digoyang (Lativi) ini. Yang membingungkan Ani, kenapa baru sekarang goyangannya dipermasalahkan. “Padahal dulu saya pernah sepanggung dengan Elvie Sukaesih dan siapa saja, dan enggak masalah.”

Ditegaskan Ani, dirinya bukannya tak mau berubah. “Saya mau saja, tapi caranya itu yang saya enggak suka. Kalau mau memberantas erotisme di masyarakat, kok cuma saya dan Inul yang dituju. Kalau mau, perangi dulu itu VCD porno!”

Langkah Anisa meminta bantuan hukum didukung Gusti Randa. Menurut Gusti, pernyataan Rhoma beberapa waktu lalu di sebuah kafe di Jakarta dianggap sebagai upaya pembunuhan karakter kliennya. “Pernyataan
tersebut telah mengusik ketenangan pribadi dan keluarga besar klien kami, Anisa Bahar. Dampaknya menimbulkan kerugian serta pencemaran nama baik klien kami dalam menjalani profesi maupun kehidupannya sehari-hari,” ujar suami Nia Paramitha ini.

Untuk itu, Gusti meminta berniat Rhoma menarik pernyataan tersebut melalui media cetak maupun elektronik dalam waktu sesegera mungkin. “Rhoma adalah seniman besar. Sebagai orang bijak, pionir dangdut, juga tokoh agama, seharusnya beliau menjembatani pro dan kontra di masyarakat dan berperan sebagai pemersatu. Bukan sebaliknya,” tegas Gusti.
Ditambahkan Gusti, bila Rhoma menolak menarik pernyataannya, “Kami akan mengadukan Rhoma secara pidana maupun perdata!”

Dwi Astuti, Gandhi Wasono M., Hasuna Daylailatu
FOTO-FOTO: Rynol Sarmon, < Dokumen Nova >