Show Rhoma Irama Minta Korban Tiga Nyawa

Sumber: Pos Film, 30-10-1988

Show akbar Rhoma Irama bersama “Soneta” Group di lapangan Bola Andi Makassau, Pare-Pare, berjalan penuh gempita. Masyarakat penonton yang jumlahnya puluhan ribu, berduyun dan berhimpitan memenuhi arena pertunjukan. Wartawan Pos Film B. Harris yang berada dalam rombongan show ini mengabarkan, bahwa pengunjung pada jam-jam sebelumnya menunjukkan barisan hingga 1 kilometer. Jalan penuh sesak baik oleh kendaraan maupun orang yang sengaja berjalan kaki, ingin menyaksikan kebolehan si raja dangdut.

Polisi dan aparat keamanan yang sudah disiagakan sejak dini, juga kelihatan terus memonitor para pengunjung yang datang semakin menderas menuju ke lapangan bola kebanggaan masyarakat di Pare-Pare.

Jalan protokol Sultan Hasanuddin dan jalan bau Massepe dekat Kantor Pos, kendaraan yang beriringan praktis tidak dapat meneruskan perjalanan, karena terjebak oleh ramainya orang yang sudah bersiap-siap untuk masuk ke tempat pertunjukan. Padahal waktu pertunjukan masih 5 jam lagi!

Badik akan bicara

Hotel “Nurlina” tempat Rhoma Irama dan rombongan menginap, atas instruksi Kapolres Pare-Pare Letnan Kolonel Koar, mendapatkan penjagaan ekstra ketat. tetapi desakan penggemar Rhoma, mampu membuat pihak keamanan tidak berdaya. Arus manusia membanjir memenuhi ruang kantor Hotel Nurlina. Dalam kekalutan yang hingar-bingar ini, hampir saja terjadi peristiwa berdarah. Seorang penyerbu yang mengenakan kain-kain, bersikeras menemui Rhoma. Orang ini sempat mengancam, kalau tidak bisa, maka badik akan ikut bicara, sambil memperlihatkan badik yang disembunyikan di balik sarungnya. “Kami cuma ingin kenalan baik-baik dan membayar nazar kami,” katanya kepada petugas yang tadinya bersikeras untuk tidak memberi izin. Akhirnya masalah diambil alih oleh komandan jaga dan orang bersarung tersebut dibenarkan untuk bersalaman dengan Rhoma. Lepaslah detik-detik ketegangan pertama di lobi hotel terbaik di Pare-Pare itu.

Korban berjatuhan

Rencana show Rhoma Irama bersama Soneta di Sulawesi menurut rencana akan menghabiskan waktu dua bulan setengah. Sukses awal terjadi dalam pementasan di Pare-Pare. Penonton sulit dikuasai, terutama mereka yang berada di bagian depan, dekat panggung. Korban mulai berjatuhan terutama anak-anak yang lepas dari pengawasan orang tua masing-masing. Hari pertama saja, tiga anak usia 4 dan 6 tahun, kedapatan meninggal terhimpit di antara jejalan penonton. Bahkan Komandan Kodim, kelihatan dalam jepitan massa yang sudah semakin penasaran ingin menyaksikan pertunjukan Rhoma yang baru akan berlangsung beberapa jam lagi. Rhoma memang belum hadir di lapangan bola, tetapi gaung penonton seperti memecahkan arena pertunjukan. Lompatan penonton dari satu tempat ke tempat yang lebih strategis, terus berlangsung sementara petugas mulai repot menangani pencegahan arus penonton yang semakin liar. Jatuhnya 3 orang korban, anak-anak memang tidak diketahui oleh banyak pengunjung yang masing-masing tercekam oleh urusan sendiri-sendiri.

Jam 20.00 lewat 18 menit, bis yang membawa Rhoma memasuki areal lapangan bola yang spontan mengundang keramaian lain di sektor depan dekat dengan panggung. H. Benny yang kakak kandung Rhoma, tampil sebagai MC menenangkan situasi yang sudah riuh. Kelambatan Rhoma memasuki lapangan pertunjukan, terutama disebabkan oleh kemacetan lalu-lintas yang terjadi di hampir seluruh pelosok kota, kata H. Benny mencoba memberi penjelasan. Tuntutan penonton yang berteriak dengan yel “Rhoma-Rhoma-Rhoma” terus juga gemuruh mengisi sudut-sudut lapangan bola.

Setelah Pare-Pare, Rhoma memberi hiburan di 14 kecamatan sejak 14 Oktober. 17 dan 19 Oktober, rombongan menghibur di Cabbenge dan 24 Oktober menuju Sinjai.

Karcis untuk bisa menikmati pertunjukan musik Dangdut Rock ditetapkan antara Rp 5.000,- untuk VIP dan Rp 2.500,- untuk klas ekonomi. Pertunjukan disponsori oleh Surya 12 dan penanganannya tetap berada pada Firman Enterprise.

Bagikan artikel ini:
Share