Falun Gong Bukan Agama - Jaringan Islam Liberal (JIL)
Halaman Muka
Up

 

Liman Kurniawan:

Falun Gong Bukan Agama

09/07/2007

Yang menjadi ukuran seseorang layak masuk surga atau tidak adalah moralitasnya, bukan ritualnya. Anda boleh mempunyai ritual sehari ribuan kali, tapi kalau anda tidak punya moral yang baik, barangkali Tuhan juga malu melihat anda. Itulah prinsip kita. Yang menjadi patokan dalam diri kita adalah moral yang berkualitas.

Falun Gong sesungguhnya bukan suatu agama. Karena di dalamnya tidak ada ritual dan tempat ibadah. Falun Gong adalah suatu metode untuk melatih jiwa dan raga yang kita sebut dengan kultivasi. Bagaimana penjelasannya? Berikut perbincangan Jaringan Islam Liberal (JIL) Liman Kurniawan, Sekjen Falun Gong Indonesia dan Christina, redaksi koran Falun Gong ”Era Baru”.

Sebagai pelaku dan orang yang terlibat di dalam, apa yang bisa anda jelaskan tentang Falun Gong?

Liman: Sebenarnya Falun Gong ini adalah suatu metode untuk melatih jiwa dan raga yang kita sebut dengan kultivasi. Agar sehat, selama ini kita hanya mengenal olahraga. Tapi sesungguhnya kesehatan itu harus datang dari satu jiwa yang baik. Nah, Falun Gong mempunyai prinsip kalau anda mau sehat, maka haruslah sehat secara jiwa dan raga. Jiwa bagaimana yang sehat? Kita percaya alam ini memunyai tiga karakter yang tertinggi, yaitu sejati, baik, dan sabar. Nah, kita berusaha menyatu dengan alam, berkultifasi. Sehingga kita bisa benar-benar sejati, baik, dan sabar.

Seperti apa penjabarannya? Apakah sejati, baik, dan sabar itu semacam motto?

Liman: Bukan. Itu semacam karakter. Sejati artinya kita harus jujur, berbuat baik, dan tidak bohong. Kemudian yang disebut baik, juga bukan sekadar kita memberikan materi saja. Tetapi kita mulai baik dari rumah, di lingkungan keluarga dan masyarakat. Berbuat baik berarti kita harus menghilangkan ego. Kalau bisa kita harus berpikir untuk kebaikan orang lain, bukan melukai orang lain. Nah, sabar ini juga mempunyai filosofi yang dalam. Kalau bisa kita harus sabar sepanjang hayat. Sampai ketika anda dimarahi tidak membalas, dipukul pun tidak melawan. Itu kesabaran yang sangat tinggi. Dan itu harus betul-betul mengubah diri dari lubuk hati kita. Jadi bukan kesabaran yang dikekang.

Selain aspek pelatihan fisik dalam bentuk kultivasi, apakah Falun Gong memunyai nilai-nilai filosofis dan doktrin?

Liman: Mungkin bukan doktrin ya. Kita berusaha mengenal jati diri kita. Kita berusaha mengenal alam, bagaimana kita menyatu dengan alam. Kita tahu bahwa kita ini tidak menyendiri. Bahwa manusia di dunia tidak sendiri, tetapi kita berhubungan dengan semesta alam yang sangat besar. Jadi perubahan alam ini akan berefek ke kita juga, demikian juga sebaliknya. Kalau alam menjauh dari kita, akibatnya juga tidak baik buat kita. Kalau diri kita ini bisa berevolusi dengan alam, kehidupan ini akan menjadi harmonis.

Apakah Falun Gong bisa disebut sebagai agama?

Liman: Falun Gong sesungguhnya bukan suatu agama. Karena di dalamnya tidak ada ritual dan tempat ibadah. Semua orang bisa berkultivasi diri. Baik dia orang beragama ataupun bukan. Rezim komunis pun sebenarnya bisa, kalau dia mau berkultivasi diri. Karena manusia itu universal. Mereka harus berusaha mengubah jati diri. Di manapun kita bisa berkultivasi diri. Ketika kita naik mobil dan dibalap orang lain, misalnya, kita ingin marah, tapi kita mencoba menahan diri itu berarti telah berkultivasi. Pendeknya, di manapun kita harus mengubah kehidupan menjadi lebih baik.

Kalaupun tidak bisa disebut agama, adakah unsur-unsur penting dari agama-agama tertentu yang diadopsi oleh Falun Gong yang dijadikan suatu aspek penalaran?

Liman: Sejauh ini tidak ada. Mungkin kita bisa katakan ini adalah suatu hukum alam yang universal. Jadi dia lintas bangsa, agama, dan etnis. Dan sejauh ini dia betul-betul bisa diterima oleh semua bangsa, baik di Barat ataupun di Timur. Agama apapun ada di dalamnya. Bahkan awalnya, orang komunis pun bisa menerima. Yang tidak bisa menerima adalah rejimnya, bukan masyarakatnya, atau orang Cina di sana. Penolakan itu lebih karena kecemburuan eks presiden Xiang lantaran melihat perkembangan Falun Gong yang begitu pesat. Bisa kita bayangkan dulu (tahun 1992) itu dalam waktu tujuh tahun, Falun Gong bisa merekrut ratusan juta orang. Sehingga pada 1996-1997 pemerintah Cina sudah berusaha mengganggu dan menahan pertumbuhannya. Tapi mereka tidak sanggup. Dia tetap berkembang terus. Sampai ketika dilakukan survey 1999, angkanya sudah mencapai seratus juta orang. Yang menyelidiki saat itu adalah pemerintah Cina sendiri. Ketika saya ke Beijing tahun 1997, dengan sangat gampang saya bisa menemukan pengikut ajaran Falun Gong ini. Ke taman olahraga, kita bisa lihat orang bermeditasi. Pemandangan seperti ini jarang terjadi di tempat lain. Biasanya kalau orang mau bermeditasi harus ke tempat yang sepi, ke laut atau ke hutan. Ini tidak. Justru dalam suasana yang tidak tenang ini kita harus melatih diri. Jadi agak beda. Biasanya kalau dalam tempat yang sunyi kita bermeditasi mencapai hasil yang baik. Tapi sesungguhnya meditasi yang terbaik adalah meditasi yang dilakukan di tengah keramaian dan mengupayakan hati kita menjadi tenang.

Mengapa Falun Gong sangat dibenci di Cina? Apakah karena menyadarkan kaum komunis untuk bertuhan. Boleh saya tahu, bagaimana doktrin ketuhanannya?

Liman: Kita tidak menyadarkan komunis untuk berketuhanan. Arah kita lebih pada diri kita sendiri. Kita memang mempunyai filosofi bahwa setiap bangsa atau orang itu punya kaitannya dengan alam semesta. Kita berada di dalam alam semesta yang sangat besar ini. Meskipun ada banyak agama, tapi mereka itu bukan berarti sendiri-sendiri. Semuanya ada di dalam alam semesta. Semua orang berada pada sudut pandang dirinya sendiri. Tapi kalau kita lihat lebih jauh, akan tampak persamaan. Persamaannya adalah bahwa semua mengajarkan kebaikan, semuanya mengajarkan agar kita kembali ke jati diri. Yang menjadi ukuran seseorang layak masuk surga atau tidak adalah moralitasnya, bukan ritualnya. Anda boleh mempunyai ritual sehari ribuan kali, tapi kalau anda tidak punya moral yang baik, barangkali Tuhan juga malu melihat anda. Itulah prinsip kita. Yang menjadi patokan dalam diri kita adalah moral yang berkualitas. Itul pula yang akan merefleksikan tinggi-rendahnya tingkatan seseorang.

Adakah beberapa pandangan Falun Gong yang bertentangan secara diametral dengan doktrin komunisme yang mereka jejalkan pada rakyat Cina selama ini?

Liman: Saya pikir ada. Ajaran sejati, baik, dan sabar yang ada di Falun Gong itu sangat bertentangan dengan rejim komunis. Kita lihat apa yang telah mereka lakukan selama kekuasaannya. Mereka telah membunuh 80 juta jiwa penduduk Cina untuk berkuasa. Mereka mengandalkan pembunuhan untuk mencapai kekuasaan. Inilah perbedaannya. Dalam sejarah kekuasaannya, kebudayaan-kebudayaan nasional telah dibabat habis digantikan oleh paham komunisme. Orang harus berpikir komunis. Anda boleh beragama, tapi harus percaya dulu dengan komunis, baru beragama. Itu filosofi mereka. Falun Gong justru menentang itu semua.

Bagaimana Falun Gong bisa mencapai perkembangannya yang begitu pesat di Cina, bahkan melampaui ekspektasi guru Lee Hong Zie sebagai penggagas Falun Gong ini?

Liman: Kalau saya melihatnya dari satu aspek, yaitu kesehatan. Banyak orang yang sudah latihan Falun Gong itu sehat. Dia bukan hanya menyehatkan kita, tapi punya efek penyembuhan yang sangat besar. Saya sendiri menyaksikan ada beberapa penyakit yang secara medis tidak bisa disembuhkan, tapi dengan Falun Gong bisa sembuh. Misalnya, kencing manis. Saya pernah melihat sendiri orang tua berumur 60 tahun yang kadar gula dalam darahnya sudah mencapai 400. Dia dulu latihan bareng saya. Sekarang sudah sehat. Bahkan ketika diajak minum kopi pun berani. Ini kan sebuah keuntungan besar.

Apa karena itu kemudian Falun Gong itu dianggap menentang praktek pengobatan modern melalui medis dan dianggap menyebarkan faham yang sesat tentang kesehatan?

Liman: Nah, kalau itu kita harus lihat. Isu itu dilemparkan oleh siapa? Kalau itu dilemparkan oleh rejim komunis yang memang mau menghilangkan Falun Gong, itu wajar saja. Tapi kalau kita bertanya pada orang Falun Gong sendiri, tentu akan menampik isu itu. Falun Gong tidak ingin menentang siapa-siapa. Falun Gong hanya untuk diri kita. Kalau ditanya, apakah kita perlu obat? Kita akan jawab tidak. Karena kita sudah sehat. Saya, misalnya, sudah latihan Falun Gong selama 10 tahun. Dalam sepuluh tahun itu saya tidak pernah ke rumah sakit, karena saya tidak membutuhkan rumah sakit lagi. Saya juga tidak makan obat. Karena saya sudah sehat.

Apakah Falun Gong mengenal obat atau peralatan-peralatan medis tertentu?

Liman: Sama sekali tidak. Seperti yang sudah saya katakan tadi, kalau tubuh kita sudah sehat, ya tidak terpikir lagi akan obat. Karena orang minum obat itu kan kalau kita sakit. Jadi Falun Gong sendiri tidak pernah melarang untuk minum obat.

Jadi ada semacam asumsi bahwa tubuh yang sakit itu berasal dari jiwa yang sakit. Benarkah seperti itu filosofinya?

Liman: Ya. Dan kita bisa memandang penyakit dari beberapa sudut pandang. Misalnya, saya sakit, saya bisa makan obat. Atau di tubuh saya tumbuh daging, lalu saya pergi ke dokter dan minta dipotong. Itu bisa. Tapi tanpa obat dan potong pun bisa. Misalnya, kalau kita ke akupuntur, dengan tusuk jarum saja bisa sembuh dan tidak perlu makan obat. Jadi penyakit itu bisa kita lihat dari berbagai dimensi. Ada dimensi permukaan, misalnya karena adanya sel-sel tubuh kita yang sudah rusak. Ada pula dimensi dalam, misalnya kerena saluran energi anda tersumbat. Nah, kita juga punya sudut pandang yang berbeda dalam memandang penyakit. Menurut kita, akar dari suatu penyakit itu berasal dari dimensi yang lebih halus, jauh lebih halus dari dimensi permukaan ini. Dengan cara kultifasi inilah kita berusaha menghilangkan akarnya. Apabila akarnya sudah kita cabut, otomatis penyakit itu akan hilang sendiri. Itu kira-kira filosofinya.

Mungkin mbak Christin punya tambahan untuk menjelaskan persoalan ini?

Christina: Jadi Falun Gong itu sama sekali tidak melarang obat atau mengunjungi rumah sakit. Yang ada adalah penjelasan tentang konsumsi obat dan penyakit. Kenapa seseorang bisa sakit, dan bagaimana seseorang bisa benar-benar sembuh dari sakit, yaitu dengan kulitfasi yang sudah ada sejak jaman pra sejarah. Pada jaman dahulu, banyak orang yang pergi ke gunung untuk mencari ketenangan. Mereka itu sebenarnya ingin berkultivasi untuk menemukan jati dirinya.

Kalau begitu apa bedanya Falun Gong dengan praktek Yoga atau olah pernapasan?

Liman: Kita tidak mengejar faktor kesembuhan. Kesembuhan itu adalah efek samping. Nah, ketika jiwa kita sudah naik dan melambung, penyakit itu akan sembuh sendiri. Kesembuhan penyakit itu bukan suatu efek dari sebuah pengobatan. Tetapi karena jiwa kita yang sudah meningkat yang dibantu dengan latihan-latihan. Dengan demikian otomatis penyakit itu akan hilang.

Di Cina juga ada paham Taoisme yang mempunyai filosofi “Back to Nature” atau kembali ke alam. Adakah persamaannya dengan Falun Gong?

Liman: Kalau kita lihat Tao itu lebih mengarah pada konsep kesejatian. Sebenarnya dia juga mengenal semacam kultifasi, tapi pada konsep kesejatian. Falun Gong tidak bisa disamakan dengan Tao, karena Falun Gong mempunyai filosofi yang berbeda. Di dalam alam sebenarnya ada dua kelompok besar. Pertama, adalah Tao. Kedua, adalah Budha. Yang dimaksud Budha di sini bukan agama Budha. Maksudnya adalah unsur alam yang sifatnya universal. Nah, Tao itu sifatnya lebih sempit. Sementara Budha itu lebih bersifat universal. Kalau Tao itu melatih kemampuan raga, tidak mencakup jiwa. Dengan latihan Tao, mungkin umur bisa diperpanjang, tapi muka tampak tua. Kalau Falun Gong tidak. Selain umur bisa diperpanjang, wajah juga nampak makin muda. Karena dalam Falun Gong jiwa dan raga itu berkombinasi membuat energi materi tinggi dalam alam semesta, kemudian masuk ke dalam sel-sel sampai ke dimensi yang sangat halus.

Itu dampak dari apa?

Liman: Tadi saya katakan itu karena efek dari kultivasi. Kalau satu orang misalnya, wajahnya bagus dan harmonis, itu akan merefleksikan jiwanya. Kita tua keriput itu karena sudah tidak harmonis jiwa kita. Kalau kita sudah bisa harmonis lagi, keriput itu akan hilang dan tampak segar kembali.

***
*

Referensi: http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=1276

 

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq