Islam Indonesia Paling Sedikit Terarabkan - Jaringan Islam Liberal (JIL)
Halaman Muka
Up

 

Ahmad Gaus AF

Islam Indonesia Paling Sedikit Terarabkan

22/01/2007

Orang Indonesia itu kan sukunya banyak sekali. Tapi kita disatukan oleh Islam tidak dalam pengertiannya yang paling formal, tapi dalam hal substansi, seperti akidahnya dan rujukannya pada Alquran yang sama. Para pendakwah Islam awal sadar betul bahwa mereka datang kepada masyarakat yang berbeda-beda, karena itu harus menyesuaikan Islam dengan budaya masyarakat.

Selama 13 abad eksistensinya di Nusantara, Islam telah bersenyawa dengan budaya lokal dan ikut pula mencicil peran dalam membentuk keindonesiaan. Namun sampai kini, perbenturan antara keislaman dan keindonesiaan tampak masih terjadi. Seperti apa? Berikut perbincangan Novriantoni dari Kajian Islam Utan Kayu (KIUK) tentang buku Menjadi Indonesia: 13 Abad Eksistensi Islam di Nusantara, bersama Ahmad Gaus AF, editor buku tersebut, Kamis (11/1) lalu.

Mas Gaus, mengapa dan untuk apa buku Menjadi Indonesia: 13 Abad Eksistensi Islam di Nusantara ini ditulis?

Apakah buku ini memuat fakta tentang 13 abad eksistensi Islam di Nusantara, atau sebagaimana dikatakan sejarawan Taufik Abdullah dalam pidatonya saat peluncuran buku ini, bahwa buku ini seakan-akan berpretensi hendak memuliakan Islam dalam pentas sejarah Indonesia?

Saya kira, kritik Pak Taufik itu sejalan dengan kritiknya Mas Dawam Rahardjo yang beberapa waktu lalu menulis ulasan tentang buku ini di sebuah media ibukota. Pandangannya saya kira sama dengan Pak Taufik Abdullah. Tapi seingat saya, Pak Taufik juga mengkritik pandangannya sendiri. Karena dia melihat bahwa buku ini bukan sekadar sebuah apologi tentang Islam. Sementara Mas Dawam menyebut buku ini tak lebih sebuah apologi.

Penilaian seperti itu sah-sah saja. Tapi menurut saya, yang namanya apologi selalu didasarkan pada pembelaan yang membabi-buta dan bersemangat ideologis. Sementara spektrum buku ini sangat luas, karena ditulis sejumlah cendekiawan, seperti rektor-rektor IAIN hampir di seluruh Indonesia. Nah, mereka menggunakan pendekatan akademis yang satu dengan lainnya berbeda dalam hal emosi, semangat, dan lain-lain. Jadi, ini tidak bisa disederhanakan sebagai sebuah karya apologis.

Di buku ini ada tulisan Pak Anhar Gonggong, tentang salah-kaprah dalam melihat sejarah terbentuknya Indonesia, misalnya dalam soal mitos tentang persatuan Sriwijaya dan Majapahit, kesalahpahaman tentang Piagam Jakarta, dan mitos tentang kemayoritasan umat Islam. Apa maksudnya?

Ya, itu salah satu perspektif dalam melihat sejarah di Indonesia. Saya bukan sejarawan, dan Pak Anhar Gonggong tentu lebih otoritatif untuk bicara mengenai soal ini. Tapi sejarah Indonesia memang persolaan yang agak pelik, karena di sana banyak sekali problem yang belum jelas betul. Lebih-lebih sejarah Indonesia lahir sebagai sebuah konstruksi politik, sehingga di sana ada distorsi, dikotomi, dll.

Maksudnya, kalau kita bicara tentang keindonesiaan, pada mulanya orang akan merujuk masa-masa puncak seperti kejayaan Sriwijaya, Majapahit, lalu melompat ke masa proklamasi kemerdekaan. Jadi disederhanakan seperti itu. Saya kira kritik Anhar Gonggong di situ sudah benar. Tapi problemnya, komunitas masyarakat di Indonesia sendiri kurang happy dengan rekonstruksi sejarah seperti itu.

Benar bahwa Kerajaan Sriwijaya merupakan salah satu puncak peradaban dalam perjalanan bangsa Indonesia. Tapi setelah Kerajaan Sriwijaya luluh lantak, kita tak lagi mendengar cerita tentang Palembang Darussalam. Padahal itu merupakan suatu etape sejarah keindonesiaan yang luar biasa. Orang-orang Palembang sendiri nyaris sudah tidak mengerti bagaimana masa lalu mereka. Ini karena ada persoalan rekonstruksi sejarah dari sisi politik, bukan dari sisi kebudayaan. Sehingga pembicaraan sejarah tidak bisa dilakukan secara terbuka dan fair. Kira-kira seperti itu.

Apakah itu hendak menegaskan bahwa sejarah Kejayaan Sriwijaya dan Majapahit itu sebenarnya terlalu dibesar-besarkan dan tidak telalu penting dalam pembentukan keindonesiaan?

Tidak juga. Dalam pidatonya yang bersejarah sebagai hari lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945, Bung Karno hanya mengutip kejayaan Sriwijaya dan Majapahit sebagai prototipe nation state bagi Indonesia modern. Sukarno yang mengatakan itu. Tapi kritik Anhar Gonggong menyebutnya terlalu menyederhanakan masalah, karena terlalu memokuskan perhatian pada narasi besar sejarah, sehingga abai dalam melihat soal lain yang juga sangat penting.

Contoh narasi besar lain adalah soal nasionalisme Indonesia yang direduksi dalam wacana yang dilahirkan suatu organisasi bernama Budi Utomo. Padahal menurut sejarahnya, Budi Utomo itu hanya lahir dari kepentingan kalangan priyayi Jawa. Di sisi lain, nasionalisme Indonesia yang sesungguhnya justru sudah lama diwacanakan dan diperjuangkan oleh tokoh-tokoh Islam seperti Cokroaminoto, Samanhudi, Agus Salim, dan lain-lain.

Bagian kedua buku ini bicara soal dialektika Islam dengan budaya-budaya lokal yang sudah lebih dulu hidup di Nusantara. Misalnya bagaimana hasil persentuhan Islam dengan budaya Minangkabau, dengan budaya Melayu, dan keragaman budaya di Kalimantan dan Nusa Tenggara Barat. Poin apa yang hendak ditegaskan di situ?

Dialektika antara Islam dan budaya lokal itu tidak menghasilkan pemusnahan satu sama lain, tapi justru menghasilkan kolaborasi atau sintesis yang unik. Dengan begitu, Islam Indonesia lahir sebagai Islam yang mentradisi. Misalnya, ada Islam Sunda, Islam Bugis, Islam Minang yang satu sama lainnya berbeda. Tentu saja pada asasnya dan dalam hal-hal yang prinsipil seperti salat dan puasa, ia tetap sama. Tapi pada hal-hal yang bersifat muamalat, tradisi mereka berbeda-beda.

Itulah yang juga dibahas Pak Bambang Pranowo tentang Islam di Jawa. Di situ dia ingin membantah tesis antropolog Clifford Geertz yang mendikotomi Islam santri dan abangan. Bagi dia, sebetulnya dikotomi seperti itu tidak perlu seraya mengajukan antitesis berupa ”Islam kue lapis”. Jadi ada unsur hijaunya, putihnya, merahnya. Jadi, kita tidak bisa mengatakan bahwa Islam di Jawa itu yang warna hijau saja atau merah saja. Betapapuh hijaunya kue lapis Islam, dia tetaplah bukan keseluruhan dari kue lapis Islam yang satu itu.

Warna apa yang paling dominan dalam keislaman Indonesia saat ini?

Kalau pertanyaan itu diajukan pada masa Orde Baru, saya kira jawabannya jelaslah kuning, ha-ha. Kita tahu, Golkar pada saat itu didominasi oleh tokoh-tokoh PNI dan mantan Masyumi. Tapi ketika Orde Baru sudah almarhum, semua warna Islam muncul ke permukaan, sehingga kini tidak bisa lagi dijelaskan warna apa yang paling dominan. Tapi sebetulnya, persoalan warna itu tidak terlalu relevan untuk melihat Islam di Indonesia; begitu juga persoalan bentuk. Siapa yang pertama kali mengasumsikan bahwa hijau itu identik dengan warna Islam?! Itu kan hanya kesepakatan yang tidak ilmiah. Dan kita tidak ikut dalam konsensus itu.

Bagian ketiga buku ini membahas soal integrasi keislaman dan keindonesiaan. Apakah masih ada gap antara keislaman dan keindonesiaan sehingga persoalan ini terasa masih mengganjal?

Itu masih terkait dengan persoalan sejarah masa lalu tentang hubungan Islam dan negara. Kita tahu, kita punya sejarah mengenai Piagam Jakarta, juga Majelis Konstituante yang memperdebatkan dasar-dasar negara yang menimbulkan friksi di kalangan tokoh-tokoh perjuangan Indonesia. Ada perdebatan sengit antara kubu nasionalis-religius dan nasionalis-sekuler serta lainnya. Bahkan Partai Komunis Indonesia (PKI) ada juga dalam kancah perdebatan itu. Persoalan ditambah lagi dengan sejarah pemberontakan oleh beberapa tokoh Masyumi yang tidak puas dengan dasar negara, sehingga melahirkan kecurigaan negara terhadap loyalitas komunitas Islam terhadap keindonesiaan.

Apakah itu suatu ganjalan dalam sejarah Indonesia? Saya kira tidak juga. Saya lebih suka memahaminya sebagai masalah yang terus menerus akan dikerjakan. Jadi ini memang belum selesai dalam artian akan terus berproses. Dalam setiap zaman, akan selalu ada generasi yang berusaha membawa masalah ini sebagai persoalan dialog. Saya kira, kita sudah punya tokoh-tokoh besar yang selalu berupaya mendamaikan antara keislaman dan keindonesiaan.

Ya, dalam sejarahnya, aspirasi Islam itu tak pernah mati. Sampai kini masih ada pihak-pihak yang menginginkan Piagam Jakarta, cita-cita negara Islam, bahkan khilafah Islam. Aspirasi ini kembali disuarakan oleh beberapa Gerakan Islam Baru setelah tumbangnya Orde Baru. Anda melihat wacana ini masih juga belum tuntas?

Secara sosiologis, ekspresi keislaman seperti itu, dulu dan sekarang sama saja. Tidak bisa dikatakan besar, tidak pula bisa disebut kecil. Persoalannya, pada masa otoritarianisme Orde Baru, ekpresi Islam seperti itu tidak bisa muncul karena dominannya otoritanisme negara. Setiap ekspresi islamis yang muncul pasti akan dibungkam. Banyak sekali peristiwa berdarah yang bisa kita sebut untuk kasus perbenturan antara Islam dan negara. Kita bisa menyebut kasus Tanjung Priuk dan lain sebagainya.

Jadi bisa dikatakan, komunitas Islam tertentu masih tetap memperjuangkan aspirasi syariat Islam. Sekarang mereka muncul lagi dengan leluasa karena memang ruang publik setelah reformasi dan kembalinya demokrasi ke tangan rakyat terbuka lagi. Jadi ruang publik terbuka lebar, kebebasan pers ada dimana-mana, sehingga orang bebas berekspresi dan berkampanye melalui pidato, pengajian, demonstrasi, maupun pemanfaatan media massa modern.

Dari situ kita mengerti, semua orang tetap berkepentingan dengan Islam dan di pihak lain, semua orang juga berkepentingan dengan keindonesiaan. Nah, buku ini ingin menunjukkan bahwa kekuatan-kekuatan lokal sekaligus tradisi agama dan budaya yang bermacam-macam di Indonesia itu, ikut menyumbang pembentukan keindonesiaan. Jadi puncaknya adalah keindonesiaan itu sendiri. Dengan berbagai kekurangannya, buku ini ingin menunjukkan bahwa Islam juga punya peranan di dalam membentuk keindonesiaan.

Anda dan Mas Komaruddin Hidayat menulis tentang Islam Indonesia yang diharapkan dapat menjadi model bagi dunia muslim lainnya. Sementara Abdul Moqsith Ghazali dan Musoffa Basyir bicara soal Islam Pribumi yang sedang mencari model keberislaman ala Indonesia. Pertanyaan saya, apakah Islam Indonesia itu memang unik dan berbeda dari tempat lain, sehingga mungkin dijadikan model?

Wah, ini pertanyaan sulit. Saya kira, jangankan dengan belahan dunia yang lain, antara Islam di suatu daerah dengan daerah lain pun berbeda. Islam Indonesia itu, dari Aceh sampai Ternate, memang berbeda. Saya beberapa hari yang lalu menghadiri acara pernikahan seorang pria Sunda dengan wanita Sunda. Di situ saya melihat sesuatu yang unik tatkala tradisi lokal berkolabolari atau bersenyawa dengan agama Islam. Misalnya tradisi saweran. Ini kan bukan tradisi Islam. Tetapi di situ juga ada siraman rohani, pembacaan ayat-ayat suci Alquran, dlsb.

Ini menunjukkan bahwa tradisi lokal sudah menyatu dengan agama di dalam masyarakat kira. Memang ada saja kelompok Islam yang tidak suka dengan persenyawaan semacam itu. Tetapi masyarakat kita tetap hidup dengan tradisi, dan dulu pun Islam disebarkan melalui media-media tradisi yang mungkin, terutama di pulau Jawa. Jadi sangat musykil membayangkan kalau tradisi itu dapat dihilangkan seluruhnya atas nama slogan kembali ke teks Islam yang otentik. Saya memahami itu sebagai perimbangan, supaya eksesnya tidak terlalu jauh.

Karena itu, kalau kita harus juga mengemukakan keunikan Islam Indonesia, itu justru karena perbedaannya dengan Arab. Dalam istilahnya Cak Nur, Indonesia adalah negara muslim yang paling sedikit terarabkan (less Arabized). Karena itu, budaya-budaya Indonesia yang asli tetap dibiarkan hidup dan tidak digantikan seluruhnya dengan budaya-budaya Arab.

Apakah itu berkah bagi Indonesia?

Saya tidak mau bicara soal berkah atau bukan. Mungkin bukan kebetulan kalau Nabi Muhammad dilahirkan di Arab sehingga pada generasi yang paling belakangan, Islam dipahami sebagai agama perlu makin mengarab. Tapi kenyataannya, Islam sudah tersebar begitu pesat di seluruh dunia, dan sudah wajar kalau ia melampaui batas-batas geografis dan budaya Arab. Dengan begitu, orang Arab sendiri tidak bisa mengklaim diri paling muslim, dan orang-orang luar Arab tidak perlu ragu mengatakan dirinya muslim sejati, meskipun bukan Arab. Islam kita cukup afdhal tanpa menjadi Arab atau mengikuti semua tradisi Arab.

Saya kira bagus sekali jika sekarang mulai ada pemahaman bahwa menjadi Islam itu tidak mesti mengarab. Orang Indonesia itu kan sukunya banyak sekali. Tapi kita disatukan oleh Islam tidak dalam pengertiannya yang paling formal, tapi dalam hal substansi, seperti akidahnya dan rujukannya pada Alquran yang sama. Para pendakwah Islam awal sadar betul bahwa mereka datang kepada masyarakat yang berbeda-beda, karena itu harus menyesuaikan Islam dengan budaya masyarakat. Itu sudah terbukti kemanjurannya di dalam sejarah panjang Islam di Indonesia.

Bagaimana dengan ungkapan Olivier Roy tentang gerakan Islam yang mengglobal saat ini (globalized Islam), yang tampak bersemangat menyatukan wajah dan corak Islam dengan aspirasi islamisnya di mana-mana?

Sejak awal, klaimnya Islam itu memang sebagai agama global. Artinya, ingin menjadi rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil’alamin). Tapi persoalannya, yang ingin diglobalkan itu, apanya? Apakah teori dan anjuran kekerasan atau misi perdamaiannya? Menurut saya, boleh-boleh saja ideologi globalisasi itu diwacanakan atau dikampanyekan; tapi ideologi yang mana dulu? Kalau ideologinya perdamaian, saya kira kita harus mendukung. Tapi kalau ideologinya radikalisme, terorisme, dan kekerasan, saya kira itu harus dilawan. []

Referensi: http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=1194

 

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq