Pendidikan Kita Belum Sampai Beirut - Jaringan Islam Liberal (JIL)
Halaman Muka
Up

 

Abdullah Syarwani:

Pendidikan Kita Belum Sampai Beirut

03/04/2007

Beirut merupakan center of exellent lain dalam dunia pendidikan di Timur Tengah, selain Kairo dan Madinah. Tapi orientasi pendidikan kita belum sampai ke sana. Padahal, pandangan-pandangan liberal dan independen yang menjadi cikal bakal pemikiran Islam ke depan, sebetulnya lebih banyak muncul dari Beirut. Demikian pendapat Abdullah Syarwani, mantan Duta Besar Indonesia di Libanon kepada Jaringan Islam Liberal (JIL), Kamis (22/3) lalu di Radio 68H, Jakarta.

Beirut merupakan center of exellent lain dalam dunia pendidikan di Timur Tengah, selain Kairo dan Madinah. Tapi orientasi pendidikan kita belum sampai ke sana. Padahal, pandangan-pandangan liberal dan independen yang menjadi cikal bakal pemikiran Islam ke depan, sebetulnya lebih banyak muncul dari Beirut. Demikian pendapat Abdullah Syarwani, mantan Duta Besar Indonesia di Libanon kepada Jaringan Islam Liberal (JIL), Kamis (22/3) lalu di Radio 68H, Jakarta.

JIL: Bagaimana situasi Libanon sampai Anda meninggalkannya November tahun lalu?

ABDULLAH SYARWANI: Sampai seminggu sebelum kehadiran pasukan Garuda 23 A di sana, di Libanon masih terjadi demonstrasi besar-besaran antara kelompok pro dan kontra Suriah. Saya menghajatkan diri untuk menerima teman-teman Garuda 23 A yang mencerminkan kehadiran Indonesia di kancah politik internasional. Kita tahu, di Libanon kekisruhan politik terjadi sepanjang masa. Itu saya alami dari mulai saya datang sampai meninggalkan Libanon. Demonstrasi selalu diperagakan baik oleh kelompok oposisi pemerintah maupun kelompok bersenjata, Hizbullah.

JIL: Seberapa besar kekuatan Hizbullah di Libanon?

Cukup besar. Hizbullah pada mulanya adalah gerakan keagamaan biasa, tapi kemudian dilegalisir menjadi partai politik. Hizbulah sendiri memiliki dua sayap. Pertam bagian civic mission (sayap pembangunan masyarakat) yang memberi tekanan pada upaya-upaya untuk menyejahterakan rakyat, khususnya warga Jam’iyyah Hizbullah. Kedua, mereka juga punya sayap milisia. Sayap milisia ini dari awal disiapkan untuk mengantisipasi agresi Israel, yang dari segi geografis ada di sebelah selatan Libanon, tempat keberadaan sebagian besar tentara Hizbullah.

Nah, kawasan di perbatasan Libanon-Israel itu sangat longgar dalam pengertian geografis, tapi ketat dari segi keamanan. Karena gerakannya massif, maka Hizbullah juga terdiri dari hampir seluruh rakyat Libanon. Mereka dipandang sejak dari awal sebagai gerakan perjuangan. Seperti kita ketahui, Israel baru mundur dari Libanon pada Mei 2000 setelah dipukul mundur oleh Hizbullah. Jadi, saat tahun 2003 saya ke Libanon, Libanon itu belum berdaulat penuh. Dan tentara Suriah yang diperbantukan untuk mengusir Israel dari Libanon, baru keluar pada Mei 2005. Ini menunjukkan, memang tentara Libanon itu tidak sekuat sebagaimana yang kita bayangkan.

JIL: Kalau dibandingkan dengan tentara Hizbullah, apakah komposisinya imbang?

Komposisi dari segi jumlah, ya tidak seimbang. Lebih banyak Hizbullah. Kita bisa bayangkan, Hizbullah ini sebuah gerakan seperti Anshor, seperti milisi. Tapi mereka punya semangat juang yang luar biasa dan bersenjata. Ini yang agak aneh. Kalau di Indonesia, gerakan seperti itu tentu tidak boleh. Tapi baiknya, senjata mereka tidak dipergunakan untuk menghantam pusat-pusat ekonomi yang dianggap bertentangan dengan ajaran Syiah, seperti kafe-kafe, gedung bioskop, atau tempat-tempat hiburan. Semua tidak pernah tersentuh oleh Hizbullah. Jadi di Libanon itu sekuler sekali.

JIL: Pemahaman seperti apa yang membuat mereka tidak tertarik menyentuh tempat-tempat itu?

Barangkali karena pemahaman jihad yang lebih terfokus untuk melawan agresi Israel. Dan itu benar-benar agresi, karena pasukan Israel kapan saja bisa masuk wilayah Libanon dan menyerang. Karena itu, mereka tidak mau merecoki urusan di dalam. Perlu diingat, Libanon itu sudah luluh-lantak bertahun-tahun sesudah perang saudara yang baru berakhir awal 1990-an. Baru setelah itu Libanon dibangun kembali oleh tokoh Sunni yang cukup cerdas, kaya-raya, dan punya kepemimpinan politik yang hebat, yaitu almarhum Rafiq Hariri. Konon, dia adalah salah seorang pangeran Kerajaan Arab Saudi. Jadi, kekayaan dan pengabdian Hariri inilah yang mampu membangun kembali Libanon dari porak-poranda perang saudara dalam kurun waktu tak kurang dari sepuluh tahun.

JIL: Ada ketegangan antara Sunni dan Syiah di Libanon saat ini?

Ketegangannya bukan Sunni-Syiah. Sebab, baik kelompok oposisi maupun kalangan pemerintah yang dipimpin Presiden Emile Lahud, dua-duanya punya ketiga sekte yang ada di masyarakat Libanon. Jadi ada unsur Syiah, Sunni, dan Kristen-Maronit. Bahkan ada juga dari kalangan Druz. Lucunya, di sana ada konsensus. Presiden biasanya diambil dari kelompok Maronit, Perdana Menteri dari kelompok Sunni, sementara parlemen saat ini dipimpin oleh Syaikh Nabih Berry dari kalangan Syiah. Nah, yang terakhir ini adalah seorang ulama yang punya kepandaian luar biasa dan seorang orator yang meyakinkan.

JIL: Bagaimana komposisi penduduk Libanon dari segi mazhabnya?

Dari segi madzhab, aliran-aliran itu tidak banyak. Negerinya memang kecil, dan warganya kurang lebih hanya empat juta—meski mereka mengklaim banyak yang berada di luar wilayah Libanon. Konon katanya, ada sekitar sepuluh juta orang Libanon di Brazil, dan di Amerika juga mereka punya cukup banyak tokoh-tokoh yang punya kekayaan cukup hebat.

Jadi penduduk Libanon yang ada di Libanon itu cuma empat juta. Mungkin pengungsi Palestina juga ada di antara mereka. Saya kira jumlah yang cukup besar berada di wilayah selatan. Tapi sebagian juga ada di Beirut, terutama di kawasan kumuhnya. Tapi perlu diingat, sekumuh-kumuhnya Beirut, masih tampak rapinya. Jadi, Libanon itu unik.

Saya kira, lebih menarik melihat Libanon dari sisi budayanya. Kini, penyanyi Arab yang menggantikan posisi Umi Kulsum di Timur Tengah adalah Magda Rumi, seorang Kristen Maronit. Satu penyanyi lagi yang juga Kristen, berada di Paris dan pernah mengadakan konser musik di Las Vegas dengan orkestra simponi yang begitu besar.

JIL: Secara geografis seberapa luas wilayah Libanon?

Luas pantai Libanon hanya 212 km, menyusuri Laut Mediterania. Luas seluruhnya saya kira hanya sekitar 10.000 m2 atau sekitar seluas Jakarta Selatan atau lebih luas sedikit. Ibu kotanya, Beirut, juga relatif kecil, tapi indah sekali. Tanahnya adalah pegunungan, dan bangunan-bangunan rumahnya banyak yang di bukit. Indah sekali. Di sana ada empat musim. Orang Arabnya keturunan Tunisia bercampur Otoman Turki. Budaya kuno masih sangat mendominasi masyarakat Libanon. Tentu saja itu membuat Libanon dikenal memiliki gadis-gadis yang cantik dan laki-laki yang tampan. Ada pemeo yang mengatakan kalau anda ketemu sepuluh gadis Libanon, yang cantik ada lima belas, ha-ha.

JIL: Ketika Libanon digempur Israel beberapa bulan lalu, bagaimana Anda mengevakuasi warga Indonesia yang ada di sana?

Ini pengalaman yang unik. Sebuah perwakilan negara sepenuhnya bertanggung jawab terhadap semua warganya, tanpa kecuali. Apalagi dari aspek perlindungan hukum dan HAM. Serangan Israel terhadap Libanon saya saksikan dengan mata kepala sendiri. Bom-bom menghancurkan Libanon. Ketepatan menembak mereka memang luar biasa. Itu menunjukkan kecanggihan teknologi peluru negara-negara maju. Semua jembatan yang menghubungkan antara Suriah dan Libanon habis berjatuhan.

Karena itu, seminggu sesudah serangan yang bertubi-tubi, kita nyaris terbelenggu di Beirut dan tak bisa keluar. Saya menghubungi pemerintah Indonesia. Pemerintah pun sudah agak kacau, karena ada pernyataan bahwa tanggungjawab masing-masing kedutaan ditekankan pada inisiatif masing-masing. Lalu saya menghubungi tentara nasional Libanon. Lalu disampaikan, ”Jika Tuan akan mengevakuasi warga Indonesia, tentu kita akan melakukan pengawalan dan mencarikan jalan tikus untuk dapat mencapai perbatasan Suriah.”

Setelah itu, hampir tiga hari kita umumkan kepada masyarakat Indonesia, baik yang menjadi TKI atau bukan, bahkan ada yang kita jemput. Ada kurang lebih 50-an warga Indonesia yang kita kawal bersama-sama menuju Damaskus. Yang membahagiakan di saat itu, kita bisa membagi tugas dengan kawan-kawan agar kegiatan KBRI tetap berjalan. Jadi kita memang tutup, tapi tidak lumpuh. Itu sengaja dilakukan untuk mencermati warga kita yang masih ketinggalan.

JIL: Dulu ada isu Lasykar Jihad Indonsia juga berangkat ke sana; benar?

Saya kira tidak ada. Yang ada hanya para dokter yang kita organisir untu menjadi relawan. Tapi saya kira, dokter-dokter dari Hizbullah jauh lebih baik. Mereka itu sudah tahu medan, juga pandai menjaga kerahasiaan. Sehingga beberapa dokter dari kita hanya ditempatkan di beberapa pos yang tidak penting. Yang saya tahu, beberapa dokter kita yang datang ke sana ditempatkan di rumah sakit di Beirut untuk membantu pengungsi Palestina yang dibawa ke Bairut.

JIL: Bagaimana Anda menilai konflik Israel-Libanon?

Masuknya Israel ke Libanon itu bukan perang antara Yahudi dengan Islam, tapi untuk merebut wilayah. Israel memang jago merebut wilayah. Wilayah Palestina saja dibagi-bagi sedemikian rupa, sehingga tidak punya kemampuan mobilitas untuk berhubungan antara satu wilayah dengan yang lain. Jadi pertentangan itu sepenuhnya politik.

Karena itu, tidak ada pertentangan Suni dan Syiah ketika sedang menghadapi Israel. Munculnya pertentangan Sunni-Syiah di Timur Tengah, di Irak misalnya, baru ada sesudah lengsernya Sadam Husain karena intervensi dari pihak ketiga yang selalu memanas-manasi mereka. Tapi itu berbeda dengan yang terjadi di Libanon. Meski mereka berbeda luar biasa, tapi mereka tetap mencegah agar tidak terjadi konflik antar mereka.

JIL: Apakah situs-situs sejarah Libanon juga hancur saat agresi Isral kemarin?

Sebagian besar tempat bersejarah selamat. Hanya sebagian kecil yang rusak. Tapi sudah direnovasi dalam waktu dekat. Ini keistimewaan warga Libanon yang sudah mendekati kelompok menengah. Kesadaran sejarahnya sangat kuat, kesadaran budayanya juga sangat lekat. Anda dapat mengingat siapa itu Khalil Gibran, seorang filosof dan penyair Nasrani yang menggunakan bahasa Arab. Dengan begitu, sulit membedakan apakah dia ulama muslim, Druz, atau ulama Maronit. Ada yang unik di situ.

Ketika pertama kali bertugas di Libanon, saya bertemu dengan Menteri Luar Negeri Libanon, Dr. Jenno Beth, seorang penganut Kristen Maronit, tapi mengambil studi mengenai Alquran. Ujian saya di hadapannya adalah membuka Alquran, membaca ayat kursi dan ditanya apakah saya bisa berbahasa Arab. Respon saya, saya tutup Alquran itu karena saya hapal. Lalu pertanyaan menarik darinya adalah: apakah saya tahu makna ayat tersebut. Lalu dia menguaraikan bahwa sesungguhnya di dalam ayat yang saya baca itu ada juga isu toleransi agama.

Jadi inilah pengalaman budaya yang justru saya peroleh dari pemimpin politik, birokrat, menteri luar negeri, yang begitu hebat. Kita juga kenal budayawan Druz, Amir Syakib Arslan. Barangkali anda pernah membaca bukunya, Limâdzâ Ta’akhkharal Muslimûn wa Taqaddama Ghairuhum (Mengapa Muslim Mundur, Lainnya Maju?).

Perlu diketahui, buku ini bukan ditulis seorang ulama Islam, melainkan seorang pemimpin Druz. Nah, kelompok Druz ini debatable. Ada yang mengklaim mereka sebagai orang Islam, ada pula yang mengatakan sejauh tidak mengakui Alquran dan tidak menjadikannya sebagai panduan utamanya, maka mereka bukan muslim. Tapi saya kira, Druz ini seperti orang Kejawen di sini. Dan saya percaya mereka punya semacam filosofi Kejawen yang sangat bagus. Tentu kejawen dalam konteks Libanon.

JIL: Jadi Libanon itu seperti tempat persilangan budaya yang plural, ya?

Saya kira, hampir semua kelompok Uni Eropa punya pengaruh yang kuat di Libanon. Mereka pernah dijajah Prancis dan diberi mandat ketika Prancis menguasai Syam. Tentu pengaruh Prancis masih sangat kuat di sana, selain pengaruh Amerika. Di Beirut ada American University. Universitas ini seperti Harvad-nya Timteng.

Jadi, Beirut itu menjadi centre of exellent yang lain di dunia pendidikan, selain Kairo dan Madinah. Orientasi kita dalam bidang pendidikan di Timur Tengah belum sampai ke Bairut, tapi masih terpusat di Suriah yang ”sangat konservatif”. Padahal, pandangan-pandangan liberal dan independen yang menjadi cikal bakal pemikiran ke depan itu sebetulnya lebih banyak muncul dari Beirut.

JIL: Apa makna penting kehadiran tentara Indonesia di Libanon?

Ya, saat ini, tentara yang kita anggap paling andal menjadi pasukan keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Saya ikut mempersiapkan dengan rinci mulai dari wilayah-wilayah di mana mereka seharusnya tinggal, sampai pengenalan aspek sosial budaya dan lain-lain. Saat tentara kita sudah di sana, ada perdebatan soal pasal 1701 klausul PBB. Ada yang menafsirkan bahwa tugas pasukan keamanan PBB juga termasuk melucuti senjata pasukan Hizbullah. Secara resmi saya tolak itu.

Keberadaan tentara Indonesia hanya untuk memelihara keamanan. Yang menarik saya kira, sesungguhnya dengan berada di Libanon, tentara kita bisa belajar banyak tentang teritorial bangsa Libanon. Libanon itu juga begitu plural. Selama ini, mereka bersama-sama dan berada di satu lini untuk mengusir Israel. Ini yang agak unik.

JIL: Bagaimana para tokoh dan petinggi Libanon menjaga pluralisme agar tetap hidup dan toleransi tetap terjaga?

Ya, mungkin karena di sana sudah sangat terbiasa untuk berbeda. Yang selama ini harus mereka cegah, jangan sampai perbedaan yang tajam itu mengembalikan situasi mereka ke masa perang saudara. Upaya Nabih Berry, tokoh Syiah Amal, dan Hassan Nashrallah bersama tokoh-tokoh Sunni untuk kembali berdialog, itu sangat penting. Inilah yang sekarang secara intensif dilakukan.

Saya kira, yang jadi perhatian mereka pada bulan Oktober depan adalah tatkala mandat presiden Lahud yang sudah diperpanjang tiga tahun itu berakhir. Di sinilah sesungguhnya akan tampak krisis kaderisasi pemimpin. Dan menurut saya, akan terjadi perbedaan soal siapa yang tepat untuk memimpin. Namun, kita sepenuhnya menghormati rakyat Libanon untuk memilihnya dengan baik. []

Referensi: http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=1232

 

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq