Politisi Islam Perlu Belajar dari Jerman - Jaringan Islam Liberal (JIL)
Halaman Muka
Up

 

Ahmad Norma Permata:

Politisi Islam Perlu Belajar dari Jerman

28/05/2007

Tapi yang menarik dari politik Kristen Demokrat Jerman adalah bagaimana mereka menginternalisasi dan mengimplementasikan ajaran agama ke dalam kebijakan riil publik sehingga berpihak kepada orang-orang yang membutuhkan, tanpa menggunakan nama agama. Orang tetap tahu, substansinya juga mewakili doktrin gereja. Itu pelajaran menarik yang seharusnya diteladani oleh politisi-politisi Islam di Indonesia.

Berkuasanya Partai Kristen Demokrat di Jerman tidak menimbulkan kekhawatiran akan munculnya kebijakan-kebijakan politik yang sektarian. Indonesia dan negara Muslim lainnya masih mencari sintesis antara Islam dan demokrasi. Akankah itu terjadi? Berikut perbincangan Kajian Islam Utan Kayu (KIUK) di Radio 68H, Jakarta, dengan Ahmad Norma Permata, mahasiswa S3 Ilmu Politik di Universitas Muncster, Jerman, Kamis (17/5) lalu.

Mas Norma, apa yang menarik dari studi Islam di Jerman?

Yang menarik adalah soal posisi Jerman yang unik dalam hubungannya dengan dunia Islam. Jerman adalah satu-satunya negara besar Barat yang tidak pernah punya sejarah konflik dengan dunia Islam. Sejak masa pra-kolonialisme pun Jerman tak punya sejarah konflik dengan Islam. Itu yang membuat hubungan Jerman dengan dunia Islam tampak biasa-biasa saja. Intens tidak, tegang juga tidak.

Kajian-kajian keislaman di Jerman juga berbeda dengan negara-negara yang pernah punya sejarah konflik dengan Islam. Prancis atau Belanda selalu dianggap punya kepentingan politis dalam mengkaji Islam, karena mereka pernah berkuasa di beberapa dunia Islam. Amerika pun, kini punya kebutuhan politis untuk menyelesaikan persoalan mereka dengan Islam. Nah, Jerman tidak punya persoalan langsung.

Memang ada beberapa sarjana Jerman ahli Islam, seperti Ignaz Goldziher yang disebut sebagai generasi orientalis Barat klasik. Tapi saya menduga, perhatian mereka umumnya terhadap Islam, murni untuk dunia ilmiah. Paling banter hanya karena politik persaingan intelektual dengan negara Eropa lainnya. Kalau membaca sejarah intelektualisme Eropa abad ke-17 dan ke-18, kita akan tahu bahwa saat itu terjadi persaingan sengit antara Jerman, Perancis, dan Inggris, terutama untuk mengeksplorasi Timur Tengah. Mereka berebut, misalnya, untuk paling dulu menggali Piramida. Kalau Perancis main di Mesir, maka arkeolog Jerman main di Iran. Sebab, di Iran juga terdapat situs tua dari era Babilonia. Tapi sejauh menyangkut kajian keislaman, Jerman tidak terlalu intens. Itu berbeda dengan Prancis, Belanda, dan Inggris.

Karena eksepsi Jerman itulah orang mengkritik Edward Said yang menuduh orientalisme Barat menumpang kolonialisme, ya?

Barangkali betul. Meski pada aspek tertentu, seperti dalam aktivisme gereja, para intelektual Jerman juga banyak yang terlibat, seperti Martin Kraemer. Dan sampai sekarang, profesor-profesor gereja juga masih banyak yang melakukan kajian-kajian keislaman. Tentu ada kaitannya dengan kepentingan gereja. Tapi meski begitu, saya melihat kajian Islam intelektual Barat yang dekat dengan gereja masih jauh lebih ilmiah ketimbang intelektual politik.

Bisa disebutkan beberapa sentra kajian keislaman di Jerman?

Sulit untuk bicara tentang Islam sebagai entitas tunggal. Kalau kajian Turki, baik tentang agama maupun budayanya, saya kira di Jerman banyak. Jadi, kajian Islam masuk dalam kajian wilayah. Tapi ada juga kajian tersendiri tentang Arab. Biasanya, kajian keislaman masuk dalam departemen bahasa. Nah, universitas yang punya tradisi kajian keislaman cukup baik selama ini adalah Universitas Hamburg.

Berapa banyak mahasiswa Indonesia yang belajar Islam di Jerman?

Mahasiswa Indonesia ada ribuan. Sebab biaya kuliah di Jerman sangat murah. Orangtua-orangtua yang tak terlalu kaya, biasanya memilih untuk menguliahkan anaknya di Jerman. SPP saya yang S3 saja hanya sekitar 150 euro atau kurang dari dua juta rupiah. Itu yang membuat banyak mahasiswa Indonesia tertarik kuliah di sana. Tapi kebanyakan mengambil jurusan ilmu alam dan ilmu murni. Yang di ilmu sosial tak banyak, apalagi jurusan agama. Namun di jurusan teologi lumayan banyak, seperti teologi Katolik dan Protestan.

Apakah komunitas Islam Jerman mengorganisasi kajian-kajian keislaman juga?

Komunitas Muslim yang terbanyak adalah Turki. Ada sekitar 3 jutaan orang Turki di Jerman. Mereka punya komunitas sendiri. Sayangnya, dan ini yang sering dikeluhkan masyarakat atau pemerintah Jerman, hampir 2 atau 3 generasi setelah Perang Dunia II, mereka belum sepenuhnya menyatu dengan masyarakat Jerman. Mereka masih suka pakai bahasa Turki dalam komunikasi sehari-hari. Karena itu, belakangan ada program training bagi imam-imam masjid Turki agar mahir berbahasa Jerman. Selama ini, sebagian besar imam didatangkan langsung dari Turki. Saya sering ikut Jum’tan, tapi sayang khutbahnya pakai bahasa Turki.

Selain Turki, ada juga komunitas Arab. Biasanya, komunitas Islam non-Turki dan non-Arab lebih memilih ikut komunitas Arab. Sebab, komunitas Turki lebih eksklusif dan memang lebih cenderung mapan. Karena itu, orang Turki di sana sering dijadikan bahan guyonan di acara-acara komedi televisi Jerman. Mungkin ada semacam rasa tidak suka pada orang Turki. Nah, kajian-kajian sistematis tentang Islam itu kurang tampak. Orang Turki di Jerman lebih protektif. Bahkan ada yang bilang, orang Islam Turki Jerman itu lebih konservatif dibanding orang Turki yang di Turki sendiri.

Kita kadang berharap munculnya tafsiran keislaman yang lebih progesif dari para sarjana Muslim di Barat. Di Amerika, ada banyak pemikir progresif Islam. Selain Bassam Tibi, siapa pemikir progresif Islam Jerman?

Kalau kita buka website Bassam Tibi, akan tampak bahwa dia juga tidak leluasa untuk berpikir karena tidak terlalu diterima oleh lingkungannya. Tapi Tibi cukup produktif. Memang perlu dianalisis secara sosiologi-politik, mengapa intelektual Muslim di Jerman ”hangat-hangat tahi ayam” dalam urusan kajian keislaman. Saya kira, soalnya karena itu tadi; tidak adanya benturan politis atau konflik riil yang membuat mereka harus giat mengatasi persoalan. Persoalan mungkin hanya terjadi dalam pola hubungan rakyat Jerman dengan warga Turki.

Tapi tulisan-tulisan Tibi tentang Islam juga sangat menarik. Dia ilmuwan politik internasional. Tapi dia fasih menggunakan sudut pandang antropologi, seperti teori Clifford Geertz tentang agama sebagai sistem budaya. Padahal, ada corak yang berbeda antara antropolog dengan ilmuwan politik dalam mengkaji agama. Contohnya seperti yang dikemukakan sebuah jurnal ilmu politik Amerika, American Political Sience Review, ketika merayakan satu abad penerbitannya.

Di situ diceritakan, selama satu abad diterbitkan, hanya 3% saja topik agama dibahas di jurnal itu. Dari situ ada kesimpulan bahwa studi politik tidak akrab dengan studi agama. Sebab, studi politik itu seperti studi hukum yang berangkat dari filsafat moral. Sementara antropologi, sosiologi, dan psikologi, yang sejak awal telah menyentuh problem keagamaan di Eropa, muncul dari filsafat sosial.

Kebutuhan politik studi Islam mungkin kurang, tapi bagaimana dengan kebutuhan kultural? Di Swiss, Tariq Ramadhan merasa perlu membuat buku tentang bagaimana Islam di Barat seharusnya melakukan penyesuaian budaya...

Figur seperti Tariq itu memang unik. Dia juga banyak diminati kalangan studi keislaman Eropa. Sebagai cucu Hasan Al-Banna, pendiri Ikhwanul Muslimin, dia tampaknya tak terpengaruh kakeknya. Dia malah menawarkan versi European-Islam, atau Islam Eropa yang demokrat. Tapi gagasan itu belum direspons oleh kalangan intelektual di Jerman.

Mungkin, itu karena di kalangan Turki di Jerman, pergulatan yang muncul bukan di level akademis, tapi pada aspek seni dan sastra. Ada beberapa tokoh Turki yang sangat dikenal di Jerman, seperti Orhan Pamuk yang tahun lalu mendapat Nobel sastra. Ada juga beberapa film yang menyikapi pergulatan di Timur Tengah. Tampaknya, tradisi intelektualisme Turki tidak sebebas kita di Indonesia. Mungkin karena di Turkinya sendiri dominasi militer begitu kuat, dan tensi politik juga tinggi. Jadi, ekspresinya melalui imajinasi dalam karya seni.

Kalau begitu, apa yang jadi pergulatan sehari-hari orang Turki di Jerman?

Problem orang Turki memang soal sosial-ekonomi. Persoalan agama seringkali ditinggalkan atau kadang mengedepan. Tahun kemarin ada sinetron menarik tentang percintaan cewek Jerman dengan cowok Turki. Di situ digambarkan pergulatan menarik cinta mereka. Ada proses menolak-menerima. Ada juga film berjudul Againts the Wall. Ini juga tentang percintaan cewek Turki dengan cowok Jerman. Jadi, memang terasa adanya sekat kultural yang tebal. Dari situ tampak, bagi orang Turki, agama kadang ditinggalkan sama sekali atau malah dijadikan identitas penting untuk mencari kenyamanan. Secara psikologis, ketika menghadapi dunia riil yang begitu berat, orang akan berlindung di balik dinding spirituil. Itu kadang meringankan.

Bisa digambarkan fase-fase ketertarikan Jerman terhadap studi Islam ataupun trend yang sedang berkembang saat ini?

Barangkali ada perkembangan baru di Jerman tentang studi Islam setelah perang dingin. Para komentator dan jurnalis internasional, kini cenderung memperhadapkan Islam dengan Barat. Teori clash of civilization Huntington sangat berpengaruh. Puncaknya ketika serangan terorisme 11/9 di Amerika. Dengan peristiwa itu, minat masyarakat Barat terhadap studi Islam justru meningkat, karena mereka melihat Islam sebagai ancaman.

Tapi ada juga hal yang menarik. Di tengah kekhawatiran dunia terhadap Islam, Indonesia justru memunculkan image sebagai negara yang penuh harapan dalam membangun demokrasi politik. Jadi, masyarakat dunia sekarang makin kenal Indonesia karena dua hal. Pertama, peristiwa tsunami. Kedua, pemilu 2004 yang mampu memberi contoh tentang pemilu demokratis di dunia Islam. Para pengamat Islam dunia, kini seakan-akan sadar bahwa Islam dan Arab itu adalah dua hal berbeda. Selama ini, kalau bicara Islam, mereka selalu mengaitkannya dengan Timur Tengah dan Arab.

Image apa yang muncul dari Timur Tengah? Ya, tak lepas dari soal Palestina dan Irak yang penuh kekerasan. Tapi dengan contoh Indonesia, mereka sadar bahwa masyarakat Islam di Asia Tenggara yang aman, makmur, damai, dan tak punya konflik berkepanjangan, ternyata juga Muslim. Bahkan, mereka adalah penduduk muslim terbanyak di dunia. Dari sinilah kajian Islam Asia Tenggara booming, terutama menyangkut masa depannya. Muslim Asia Tenggara dipandang berada di persimpangan jalan. Ada fenomena demokratisasi, tapi ada juga radikalisasi.

Seperti apa semaraknya kajian Islam Asia Tenggara itu?

Di angkatan saya di satu universitas, ada 4-5 orang yang mengangkat studi kasus Asia Tenggara dan Islam. Artinya, kalau bicara politik Asia Tenggara, kita tidak mungkin melupakan Indonesia. Kalau bicara Indonesia, kita tidak mungkin tidak bicara Islam. Jadi, bicara politik Asia Tenggara selalu berdampak pada pembicaraan tentang dinamika Islam, terutama polarisasinya. Ada gejala demokratisasi, terbentuknya masyarakat demokratis, munculnya kelompok civil society, perbaikan dan sehatnya sistem politik. Tapi ada juga fenomena mengkhawatirkan, seperti bom dan maraknya perda-perda syariat. Di Jerman, fenomena itu menarik minat mereka.

Saya kira, sekarang tahapnya baru keingintahuan saja. Proses otonomi daerah di Indonesia kini, sebagian juga berkiblat ke Jerman. Dan maraknya perda-perda syariat juga sangat terkait dengan perkembangan politik desentralisasi. Saya dan kawan-kawan di Jerman pernah mengadakan seminar tentang ini. Saya mengundang wakil-wakil dari PKS, aktivis perempuan, narasumber dari IAIN, dan ahli dari Jerman sendiri. Kita ingin eksplorasi apa maunya perda syariat itu.

Anda menyebut Islam Indonesia beda dengan Islam Arab. Tidakkah itu tesis yang terlalu tergesa-gesa?

Ini tesis menarik yang sedang saya garap. Ada gagasan menarik Robert N Bellah dalam buku Beyond Belief, tentang evolusi agama. Kata Bellah, sejarah evolusi agama bukanlah soal perubahan tingkat keberagamaan, tapi menyangkut perubahan simbolisme keberagamaan. Karena itu, jangan membayangkan orang primitif kurang religus daripada mereka. Bellah membedakan antara religiousity dengan religious simbolism. Religiousity adalah soal kemampuan menghayati nilai-nilai sakral, soal keimanan, dan doktrin-doktrin yang diyakini kebenarannya. Sementara simbolisme adalah sistem, struktur, atau pola seseorang dalam mengkomunikasikan imaginasi, iman, dan pikirannya, sesuai dengan konteks historis tertentu.

Dengan kerangka itu, kalau bicara tentang Islam, kita terpaksa memeriksa apa yang membedakan Islam Indonesia dengan Islam Arab. Banyak yang menganggap perbedaannya pada tingkat keberagamaan. Orang Arab dianggap lebih religius. Mereka yang pakai sorban dianggap lebih religius dibanding yang pakai kopiah; pakai jubah lebih religius dibanding pakai sarung. Bagi Bellah justru tidak begitu. Itu hanya perbedaan di tingkat simbolisme. Muslim Indonesia harus membangun rasa percaya diri; mereka sejajar dengan masyarakat Islam manapun. Karena itu, kita harus berani mengundang orang untuk mempelajari Islam versi kita.

Kini, Partai Kristen Demokrat berkuasa di Jerman. Tapi, dunia tampaknya tidak kuatir mereka akan menerapkan syariat Kristen. Bagaimana menjelaskannya?

Saya kira ada satu hal yang harus diingat: Barat menang pengalaman dalam soal itu. Mereka dulunya juga sudah bertengkar soal agama. Perang antar pernah berlangsung selama 60 tahun di Jerman dengan korban luar biasa. Akhirnya, mereka sadar bahwa mempersoalkan agama sangat-sangat riskan. Teorinya begini: dalam beragama, kita harus meyakini kebenaran. Tapi kita juga sering terjebak dalam membenarkan apa yang kita yakini.

Nah, dalam seminar tentang perda syariat di sana, saya melihat kawan-kawan yang islamis begitu yakin kalau sesuatu itu berlabel Islam, maka ia solutif. Padahal kalau kita lihat sejarah Islam, kita juga tahu ada banyak konflik. Semua pihak sama-sama menggunakan Islam, tetapi yang satu pro-rakyat, yang lain pro-penguasa. Yang satu untuk kepentingan rakyat, yang lain untuk kepentingan politik. Sekarang, kita melihat perkembangan perda-perda syariat itu. Saya kira, dimensi politiknya tampak lebih besar di situ.

Apakah keterlibatan agama dalam politik bukan persoalan besar lagi di Jerman?

Saya kira, dikatakan tidak lagi jadi persoalan, tidak sepenuhnya juga benar. Tapi memang, partai yang berkuasa di Jerman saat ini dibentuk sebagai upaya gereja untuk menterjemahkan ajaran-ajaran sosialisme-Marxisme lewat nilai-nilai gereja. Mereka menginterpretasi ajaran sosialisme dengan doktrin-doktrin gereja. Itu diwujudkan dalam kebijakan-kebijakan sosial. Tapi kita tahu, Jerman adalah negara walfare-state (negara kesejahteraan). Jadi, sekolah tidak bayar atau murah, fasilitas umum disediakan betul oleh negara. Dan di sana, orang yang gemuk-gemuk justru termasuk orang miskin. Sebab mereka dikasih makan, tapi tak punya kerjaan.

Tapi yang menarik dari politik Kristen Demokrat Jerman adalah bagaimana mereka menginternalisasi dan mengimplementasikan ajaran agama ke dalam kebijakan riil publik sehingga berpihak kepada orang-orang yang membutuhkan, tanpa menggunakan nama agama. Orang tetap tahu, substansinya juga mewakili doktrin gereja. Itu pelajaran menarik yang seharusnya diteladani oleh politisi-politisi Islam di Indonesia.

Belajar dari Jerman, kita kadang juga berharap adanya sintesis Islam dengan demokrasi lewat munculnya Muslim-Muslim demokrat yang mendukung demokrasi liberal dan menjaga open society. Mungkinkah itu terjadi?

Barangkali Turki dan Indonesia adalah dua kandidat kuat dengan problem yang berbeda. Untuk Turki, karena lebih dekat ke Eropa, problemnya lebih kompleks dibandingkan persoalan internal mereka sendiri. Uni Eropa takut kalau Turki masuk, itu akan jadi pintu masuk budaya Timur Tengah. Padahal, hanya 3% saja dari wilayah Turki yang masuk kawasan Eropa. Sebagian besar masuk Asia.

Tapi untuk menilai demokratisasi kalangan islamis di Turki, kita perlu memperhatikan beberapa hal. Dalam teori institusionalisme dijelaskan, dalam politik yang penting bukanlah niat, tapi perilaku. Jadi, intinya bagaimana kelompok Islam di sana membangun institusi politik yang mengatur perilaku, bukan niat. Kita tak peduli niatnya AKP apa; yang penting bagaimana menjamin agar perilaku mereka sejalan dengan demokrasi. Intinya, bagaimana membangun institusi politik yang kokoh dan aturan main yang jalan.

Referensi: http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=1257

 

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq