Hijrah - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Editorial
02/03/2003

Hijrah

Oleh Burhanuddin

Hijrah, jangan semata dipahami sesuai tanggal peristiwanya di kalender yang didasarkan sistem lunar atau Komariyah. Hijrah bisa dilakukan kapan saja, tiap hari di sepanjang tahun. “Hijrah melampaui batas ruang dan waktu, “kata al-Faruqi,” Ia menjadi sebagian dari kesadaran kita.”

Besok kita akan memasuki tahun baru hijrah. Substansi hijrah, menurut Prof. Ismail al-Faruqi, menyertai Nabi Saw dari status quo menuju “madinat al-rasul.” Hijrah, jangan semata dipahami sesuai tanggal peristiwanya di kalender yang didasarkan sistem lunar atau Komariyah. Hijrah bisa dilakukan kapan saja, tiap hari di sepanjang tahun. “Hijrah melampaui batas ruang dan waktu, “kata al-Faruqi,” Ia menjadi sebagian dari kesadaran kita.”

Definisi hijrah al-Faruqi, profesor penganjur Islamisasi ilmu yang syahid ini, tiba-tiba mengembang di tangan kaum fundamentalis. Dengan berdasar pada paradigma Qutbisme dan Maududisme, kaum ini mencanangkan tiga program utama: takfir (pengkafiran), hijrah dan jihad.

Kaum fundamentalis, memahami hijrah sebagai bentuk eksodus lahiriah dan batiniah dari komunitas jahiliyah. Dibuatlah sebuah komune atau ghetto-ghetto yang dianggap mampu memberi kenyamanan spiritual dari terkaman kehidupan hedonis di sekitar mereka, yang mereka terjemahkan sebagai bentuk kejahiliyahan modern.

Ekslusivisme dipancangkan sebagai bentuk pertahanan diri dari sergapan modernitas yang mereka najiskan. Enclave atau usrah itu dipakai sebagai batas demarkasi umat Islam yang mengikuti “madinat al-rasul” dan yang enggan. Usrah satu dengan yang lain terhubungkan dalam jalinan teologis yang ketat yang mereka konseptualisasikan dalam satu rumusan darul Islam. Sementara area di luar itu, meskipun ditinggali oleh orang yang berkeyakinan sama tapi karena enggan hijrah, maka diklasifikasikan sebagai darul harb yang harus diselesaikan dengan cara jihad.

Mereka lupa bahwa Nabi Saw hijrah dari Mekkah ke Madinah bukan untuk menahbiskan satu komunitas yang monolitik, yang homogen. Nabi Saw dan rombongan kaum Muhajirin justru sedang mengupayakan desain masyarakat pluralis; sesuatu yang kasat mata di mana warga kota Madinah saat itu terdiri dari beragam suku (Aus, Khajraj dan lain-lain), juga beraneka agama dan kepercayaan (Islam, Yahudi, Kristen dan lain-lain).

Selamat Tahun Baru Hijriah, 1 Muharam 1423 H (Burhanuddin)

02/03/2003 | Editorial | #

Komentar

Komentar Masuk (0)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq