Ibadah Kita Belum Berdampak Sosial yang Positif - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Wawancara
08/11/2004

Bambang Widjojanto tentang Pergulatan Imannya: Ibadah Kita Belum Berdampak Sosial yang Positif

Oleh Redaksi

Jihad terbesar dalam hidup justru pada kemampuan seseorang untuk mengendalikan tuntutan-tuntutan ego-diri, atau menjadi panglima bagi diri sendiri (jihâdun nafs). Dalam kerangka seperti itulah Bambang Widjojanto, anggota Dewan Etik Indonesian Corruption Watch (ICW) menyoroti kaitan antara korupsi yang menggurita di Tanah Air dan ibadah puasa yang tiap tahun menghampiri kita. Berikut petikannya.

Jihad tidak hanya bisa ditempuh dengan acungan pedang. Nabi Muhammad sendiri menegaskan, jihad terbesar dalam hidup justru pada kemampuan seseorang untuk mengendalikan tuntutan-tuntutan ego-diri, atau menjadi panglima bagi diri sendiri (jihâdun nafs). Dalam kerangka seperti itulah Bambang Widjojanto, anggota Dewan Etik Indonesian Corruption Watch (ICW) menyoroti kaitan antara korupsi yang menggurita di Tanah Air dan ibadah puasa yang tiap tahun menghampiri kita. Dalam perbincangan dengan Ulil Abshar-Abdalla dari Jaringan Islam Liberal (JIL) yang berlangsung Kamis (4/11/2004) lalu, salah seorang Dewan Pendiri LSM Kontras itu, menuturkan pelbagai pandangannya tentang hubungan antara agama dan aktivitasnya yang intens dalam gerakan anti korupsi dan penegakan HAM. Berikut petikannya.

Mas Bambang, bagaimana Islam diajarkan sejak kecil kepada Anda oleh keluarga?

Sebenarnya keluarga saya adalah keluarga yang biasa-biasa saja. Oleh orang tua, saya awalnya tidak secara ketat diajarkan agama. Dulu orang tua saya juga tidak salat, tapi 24 tahun lalu sudah salat. Mungkin kalau memakai kategorisasi yang standar, saya termasuk kelompok Islam abangan. Jadi Islam KTP. Jadi, dulu saya merasa Islam saya abangan saja. Tapi dalam perjalanan hidup, saya coba memperlihatkan dan menunjukkan bahwa saya ingin konsisten sebagai orang Islam. Artinya, saya ingin menjalankan ajaran-ajaran Islam dengan baik. Saya ikut membaca tulisan mengenai Islam liberal, tapi saya merasa lebih ingin menjalankan Islam seperti orang biasa saja.

Tapi tentu Anda juga bersentuhan dengan hal-hal yang berkaitan dengan agama, entah dari teman, tetangga, atau masyarakat sekitar!

Ya. Dalam waktu lanjut, proses-proses keagamaan cukup mempengaruhi kehidupan saya dan keluarga. Setelah itu saya melihat perkembangan orang tua saya yang lebih intensif menjalankan ibadah. Lalu saya juga mendapat kesempatan untuk lebih bersentuhan dengan soal-soal keagamaan. Saya pernah delapan tahun (1986-1993) berada di Papua (sebagai Direktur LBH Papua); tempat yang mayoritas agamanya bukan Islam.

Bagaimana perasaan Anda pertama kali terjun di komunitas yang sebagian besar bukan penganut Islam seperti itu?

Perasaan ketika berubah posisi dari mayoritas menjadi minoritas memang berbeda. Di situ harus ada perubahan cara pandang. Tapi yang lebih penting lagi, di situ saya mendapat istri yang berasal dari Kayu Manak; suatu daerah yang mayoritas muslim. Yang mengesankan saya, orang-orang di sana mampu berkomunikasi dengan baik satu dan lainnya. Ada proses saling menghormati, dan itu cukup intens terjadi.

Anda pernah menempuh pendidikan di Universitas Jayabaya. Pada saat menjadi mahasiswa, pernahkah Anda bersentuhan dengan gerakan Islam?

Saat itu saya lebih banyak tekun di kuliah. Pagi saya bekerja, sore sampai malam kuliah. Teman-teman saya memang banyak yang lebih intensif di situ (pergerakan Islam), tapi saya lebih banyak menjadi mahasiswa yang baik.

Lalu kapan Anda mulai berkenalan dengan lingkungan Islam yang ikut memformat diri Anda?

Ketika di Papua. Di situ saya banyak bertemu dengan teman-teman dari Sekolah Tinggi Fajar Timur Papua, dan juga teman-teman dari kalangan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Saya bukan orang HMI, tapi banyak berteman dengan mereka di Papua.

Apa yang Anda lakukan ketika bertemu dengan lingkungan yang begitu beragam seperti di Papua itu?

Pada saat itu saya mulai membaca buku, seperti buku-buka tafsir. Saya memang lebih punya kesempatan untuk membaca. Dari situ saya merasa, kalau kita tidak mampu merumuskan dari mana kita berasal, dan hendak ke mana kita menuju, sebenarnya kita telah gagal menjadi diri kita sendiri. Sebab, seluruh aktivitas hidup kita kan seharusnya diletakkan untuk mencapai tujuan itu; ke mana kita akan pergi nantinya. Ibarat orang membikin proposal, kalau tidak bisa merumuskan tujuannya, itu akan menggemboskan indikator keberhasilannya. Dia tidak akan bisa merumuskan setiap kegiatannya kalau tidak tahu tujuannya.

Apa Anda sedang bicara soal asal-usul dan tujuan penciptaan manusia?

Ya. Sebab semua orang harus mampu merumuskan, dan harus tahu dia dari mana dan hendak ke mana. Nah, ketika seseorang tidak mampu merumuskan itu, sesungguhnya dia belum bisa menjadi apa-apa.

Apakah Anda mengkaji Islam untuk memberikan jawaban atas pertanyaan itu?

Sebenarnya, ya! Saya melihat kegiatan-kegiatan kita terkadang kelihatan kosong; seolah-olah hanya aktivitas lepas yang tidak punya makna bagi sesuatu di kemudian hari. Jadi seolah-olah rangkaian kegiatan yang biasa saja. Nah, saya lalu mengkaji lebih jauh. Sebetulnya, kita ini bisa menjadi sesuatu kalau kita paham hendak ke mana perjalanan kita. Takwa kita sebenarnya mau dikemanakan?

Mas Bambang, hari ini Anda menulis di salah satu media ibukota tentang puasa dan korupsi. Anda sendiri selama ini banyak terlibat dalam kegiatan pemberantasan korupsi, pembelaan hak asasi manusia dan lainnya. Nah, apakah aktivitas Anda selama ini terkait dengan motivasi Anda sebagai seorang muslim?

Sejak beberapa belas tahun yang lalu, ya! Awalnya biasa-biasa saja; kerja, ya kerja. Tapi sekarang, apalagi setelah punya anak, situasinya agak berbeda. Alhamdulillah, hari ini (Kamis, 4 November 2004) saya dikaruniai anak yang keempat. Nah, dari situlah saya mulai membaca-baca ulang. Misalnya dalam refleksi kita sebagai muslim, manusia kan berfungsi ganda: sebagai hamba sekaligus sebagai khalifah Allah di bumi. Sebagai hamba, kita dituntut menundukkan diri pada kekuasaan Khalik. Tapi dalam konteks khilafah, bagaimana cara kita agar sifat-sifat Sang Khalik bisa terwujud dalam setiap sikap, gerak, ucapan, dan perilaku kita. Itu yang kemudian harus terus-menerus kita lakukan dan perjuangkan.

Lantas apa tugas-tugas kekhalifahan yang Anda anggap relevan dengan kegiatan Anda?

Sewaktu di Lembaga Bantuan Hukum (LBH), saya turut memperjuangkan isu-isu atau nilai-nilai yang berkaitan langsung dengan martabat kemanusiaan. Manusia sebagai ciptaan yang paling sempurna, seharusnya mampu mencoba dan berusaha untuk selalu bersikap sempurna demi menunjukkan bahwa dia memang betul-betul ciptaan yang sempurna. Itu saya abdikan dengan sikap untuk selalu respek terhadap kemanusiaan, dan menjadikan LBH sebagai pintu masuk atau instrumen untuk menunjukkan nilai-nilai kemanusiaan itu.

Anda merasa kegiatan Anda di bidang HAM sudah memenuhi tugas sebagai khalifah Tuhan?

Saya pikir masih banyak yang harus dilakukan. Hanya saja, saya seperti mengalami proses pengayaan yang terus-menerus dalam konteks kehidupan dan keagamaan. Setelah di LBH, saya mulai banyak bicara soal hal-hal yang berkaitan dengan reformasi hukum, dan isu anti korupsi; tantangan lain yang tak kalah menariknya.

Perjuangan dalam penegakan hukum dan HAM itu tentu banyak tantangan. Nah apakah agama ikut memberi dorongan moral, atau dorongannya datang dari rasa kemanusiaan biasa saja?

Sekarang energi sosial terbesarnya justru datang dari nilai-nilai spiritualitas. Karena dalam kenyataan, selalu ada pertanyaan (misalnya) tentang bagaimana hubungan antara korupsi dan puasa. Nah, sebenarnya di situ ada relasi yang kuat. Korupsi muncul karena ketidakmampuan kita memperjelas mana ruang publik dan mana ruang privat. Misalnya begini: korupsi itu biasanya terjadi bila suatu kewenangan—dalam kapasitas sebagai pejabat negara—digunakan untuk kepentingan-kepentingan privat.

Jadi kepentingan umum dan pribadi bercampur-aduk?

Ya. Misalnya saya berposisi sebagai jaksa agung yang menggunakan kewenangan jaksa agung untuk kepentingan saya sebagai pribadi. Hubungan-hubungan kolusif saya bangun, asal dapat menikmati segenggam kekuasaan melalui uang. Itu kan yang terjadi?

Lantas apa kaitannya dengan puasa?

Kaitannya, jihad kita kan tidak harus dengan mengacungkan pedang. Nabi Muhammad sendiri mengatakan bahwa jihad terbesar dalam hidup adalah jihad melawan hawa nafsu (jihâdun nafs). Nah, kata kunci hubungan antara korupsi dan anti korupsi adalah pengendalian (imsâk, Red); kemampuan seseorang untuk mengendalikan diri agar tidak melakukan penyalahgunaan kewenangan.

Mas Bambang, apakah pandangan dan sikap umat beragama kini sudah cukup mendukung untuk membentuk iklim anti korupsi?

Saya tidak tahu. Tapi karena itulah saya mendorong gerakan anti korupsi dalam perspektif yang lebih luas. Selama ini korupsi hanya dilihat sebagai persoalan hukum. Kita tidak pernah mampu mendorong gerakan sosial anti korupsi. Mestinya harus dibentuk budaya anti korupsi. Itu sebabnya, kami masuk ke ormas-ormas, tidak hanya bekerjasama dengan LSM-LSM. Kita bekerjasama dengan Muhammadiyah dan NU untuk mendorong gerakan anti korupsi supaya skup gerakannya lebih luas lagi. Kita mesti membangun zona-zona anti korupsi.

Bagi masyarakat, apakah koruspi merupakan prioritas untuk diperhatikan?

Kalau melihat derajat problematikanya, korupsi sudah menjadi persoalan yang sangat terstruktur, sistematis, dan dengan derajat problematika yang tinggi. Tapi kita juga mesti hati-hati, sebab kerap sekali kita sampai pada kesimpulan yang menjebak pada sikap yang permisif. Sebab, advokasi soal pemberantasan korupsi selama ini selalu mengedepankan problem. Akibat mengedepankan problem terus-menerus, kita lalu menjadi permisif: “Ah, tidak mungkin bisa dilawan, ini!”

Lantas muncul rasa putus asa. Karena putus asa agenda pemberantasan korupsinya tidak bisa juga berjalan, timbul pikiran untuk ikut arus sedikit demi sedikit. Saya melihat kecenderungan itu, misalnya pada sektor-sektor pelayanan publik yang sudah tidak bisa dikendalikan kecuali dengan uang. Akhirnya banyak yang ikut juga, kan?!

Mas Bambang, tampaknya kelompok-kelompok agama belum begitu agresif menjadikan gerakan anti korupsi sebagai agenda utama mereka. Apa ada yang salah dalam pola pikir keagamaan kita?

Betul. Yang salah mungkin seperti yang banyak dikatakan orang: ibadah kita masih untuk diri sendiri, belum mampu menimbulkan dampak sosial yang positif. Dalam ibadah selama ini, kalau senang, kita senang sendiri. Tetangga tidak ikut senang; masyarakat sekampung tidak ikut senang. Ibadah pun hanya untuk hubungan ke atas. Padahal, bagaimana menerjemahkan hubungan transendental itu ke dalam konteks sosial jauh lebih penting.

Bagaimana Anda melihat tindakan-tindakan kesederhanaan yang dilakukan para aktivis PKS untuk mengurangi tingkat korupsi?

Teman-teman PKS sebenarnya sedang menunjukkan bahwa hidup bersih itu bisa dilakukan. Tapi tantangannya: bagaimana menjadikan gerakan itu sebagai gerakan kultural yang lebih luas, dan mampu mengubah watak dan sikap institusi-institusi kita yang selama ini koruptif. Saya kira itu yang lebih penting.[]

08/11/2004 | Wawancara | #

Komentar

Komentar Masuk (5)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

MELURUSKAN KEMBALI MAKNA JIHAD

Dr. Azahari, salah seorang yang diyakini otak di balik sejumlah kasus peledakan bom di Indonesia, boleh tewas. Akan tetapi, persoalan terorisme tampaknya tidak akan berhenti. Apalagi Noor Din M Top, rekan Azahari, sampai kini belum tertangkap.

Lebih dari itu, terorisme, khususnya di Indonesia, menyisakan satu persoalan, yakni adanya penyimpangan makna jihad oleh para pelaku tindakan terorisme, yang kebetulan adalah Muslim. Paling tidak, hal itu terungkap dalam tayangan VCD para pelaku terorisme-yang salah satunya diyakini Noor Din M Top-yang disebarluaskan ke masyarakat beberapa waktu lalu. Intinya, pelaku teror tersebut meyakini, bahwa berbagai upaya pengeboman dan tindakan bom bunuh diri itu sebagai bagian dari jihad fi sabilillah. Keyakinan tersebut tentu saja keliru dan patut dipertanyakan. Sebab, meskipun konon motifnya adalah kebencian terhadap negara-negara kafir penjajah, khususnya AS dan Inggris yang telah melakukan penjajahan atas Afganistan dan Irak, toh kebanyakan yang menjadi korban peledakan bom tersebut adalah orang-orang yang ‘tidak berdosa’. Apalagi Indonesia bukanlah wilayah perang sebagaimana halnya di Afganistan, Irak, atau Palestina.

Karena itu, sebagaimana dinyatakan Wakil Presiden Jusuf Kalla, ada masalah pemahaman yang harus diluruskan dalam masyarakat, khususnya pemahamanan soal jihad. “Masyarakat mengetahui bahwa ini adalah masalah pemahaman yang harus diluruskan bahwa jihad itu tidak demikian,” kata Wapres kepada wartawan di Jakarta, Kamis (17/11). (Kompas, 17/11/2005).

Jihad dalam Islam

Sebagaimana shalat, jihad adalah bagian dari ajaran Islam. Jihad bahkan termasuk di antara kewajiban dalam Islam yang sangat agung, yang menjadi ‘mercusuar’ Islam.

Secara bahasa, jihad bermakna: mengerahkan kemampuan dan tenaga yang ada, baik dengan perkataan maupun perbuatan (Fayruz Abadi, Kamus Al-Muhîth, kata ja-ha-da.) Secara bahasa, jihad juga bisa berarti: mengerahkan seluruh kemampuan untuk memperoleh tujuan (An-Naysaburi, Tafsîr an-Naysâbûrî, XI/126).

Adapun dalam pengertian syar’î (syariat), para ahli fikih (fuqaha) mendefinisikan jihad sebagai upaya mengerahkan segenap kekuatan dalam perang fi sabilillah secara langsung maupun memberikan bantuan keuangan, pendapat, atau perbanyakan logistik, dan lain-lain (untuk memenangkan pertempuran). Karena itu, perang dalam rangka meninggikan kalimat Allah itulah yang disebut dengan jihad. (An-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah, II/153. Lihat juga, Ibn Abidin, Hâsyiyah Ibn Abidin, III/336).

Di dalam al-Quran, jihad dalam pengertian perang ini terdiri dari 24 kata. (Lihat Muhammad Husain Haikal, Al-Jihâd wa al-Qitâl. I/12) Kewajiban jihad (perang) ini telah ditetapkan oleh Allah SWT dalam al-Quran di dalam banyak ayatnya. (Lihat, misalnya: QS an-Nisa’ 4]: 95); QS at-Taubah [9]: 41; 86, 87, 88; QS ash-Shaf [61]: 4). Bahkan jihad (perang) di jalan Allah merupakan amalan utama dan agung yang pelakunya akan meraih surga dan kenikmatan yang abadi di akhirat. (Lihat, misalnya: QS an-Nisaa’ [4]: 95; QS an-Nisa’ [4]: 95; QS at-Taubah [9]: 111; QS al-Anfal [8]: 74; QS al-Maidah [5]: 35; QS al-Hujurat [49]: 15; QS as-Shaff [61]: 11-12. Sebaliknya, Allah telah mencela dan mengancam orang-orang yang enggan berjihad (berperang) di jalan Allah (Lihat, misalnya: QS at-Taubah [9]: 38-39; QS al-Anfal [8]: 15-16; QS at-Taubah [9]: 24).

Pertanyaannya, kapan dan dimana jihad dalam pengertian perang itu dilakukan? Pertama: manakala kaum Muslim atau negeri mereka diserang oleh orang-orang atau negara kafir. Contohnya adalah dalam kasus Afganistan dan Irak yang diserang dan diduduki AS sampai sekarang, juga dalam kasus Palestina yang dijajah Israel. Inilah yang disebut dengan jihad defensif (difâ’î). Dalam kondisi seperti ini, Allah SWT telah mewajibkan kaum Muslim untuk membalas tindakan penyerang dan mengusirnya dari tanah kaum Muslim:

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلاَ تَعْتَدُوا إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, tetapi janganlah kalian melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS al-Baqarah [2]: 190).

Kedua: manakala ada sekelompok komunitas Muslim yang diperangi oleh orang-orang atau negara kafir. Kaum Muslim wajib menolong mereka. Sebab, kaum Muslim itu bersaudara, laksana satu tubuh. Karena itu, serangan atas sebagian kaum Muslim pada hakikatnya merupakan serangan terhadap seluruh kaum Muslim di seluruh dunia. Karena itu pula, upaya membela kaum Muslim di Afganistan, Irak, atau Palestina, misalnya, merupakan kewajiban kaum Muslim di seluruh dunia. Allah SWT berfirman:

وَإِنْ اسْتَنْصُرُوْكُمْ فِي الدِّيْنِ فَعَلَيْكُمْ النَّصْرُ

Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam urusan agama ini maka kalian wajib menolong mereka. (QS al-Anfal [8]: 72).

Ketiga: manakala dakwah Islam yang dilakukan oleh Daulah Islam (Khilafah) dihadang oleh penguasa kafir dengan kekuatan fisik mereka. Dakwah adalah seruan pemikiran, non fisik. Manakala dihalangi secara fisik, wajib kaum Muslim berjihad untuk melindungi dakwah dan menghilangkan halangan-halangan fisik yang ada di hadapannya dibawah pimpinan khalifah. Inilah yang disebut dengan jihad ofensif (hujûmî). Inilah pula yang dilakukan oleh Rasulullah saw. dan para Sahabat setelah mereka berhasil mendirikan Daulah Islam di Madinah. Mereka tidak pernah berhenti berjihad (berperang) dalam rangka menghilangkan halangan-halangan fisik demi tersebarluaskannya dakwah Islam dan demi tegaknya kalimat-kalimat Allah. Dengan jihad ofensif itulah Islam tersebar ke seluruh dunia dan wilayah kekuasaan Islam pun semakin meluas, menguasai berbagai belahan dunia. Ini adalah fakta sejarah yang tidak bisa dibantah. Bahkan jihad (perang) merupakan metode Islam dalam penyebaran dakwah Islam oleh negara (Daulah Islam). Allah SWT berfirman:

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاََ تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ ِللهِ

Perangilah oleh kalian mereka (orang-orang kafir) hingga tidak ada lagi fitnah (kekufuran) dan agama ini (Islam) hanya milik Allah. (QS al-Baqarah [2]: 193).

Terorisme Bukan Jihad

Dari definisi dan konteks jihad di atas, jelas sekali bahwa tindakan terorisme (dalam arti melakukan berbagai peledakan bom ataupun bom bunuh diri bukan dalam wilayah perang, seperti di Indonesia) bukanlah termasuk jihad fi sabilillah. Sebab, tindakan tersebut nyata-nyata telah mengorbankan banyak orang yang seharusnya tidak boleh dibunuh. Tindakan ini haram dan termasuk dosa besar berdasarkan firman Allah SWT:

وَلاَ تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ

Janganlah kalian membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang haq. (QS al-Isra’ [17]: 33).

Allah SWT juga berfirman:

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

Siapa saja yang membunuh seorang Mukmin dengan sengaja, maka balasannya adalah neraka Jahanam; ia kekal di dalamnya; Allah pun murka kepadanya, mengutukinya, dan menyediakan baginya azab yang besar. (QS. an-Nisa’ [4]: 93).

Apalagi Allah SWT pun telah berfirman:

وَلاَ تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

Janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri. Sesungguhnya Allah Pengasih kepada kalian. (QS an-Nisa’ [4]: 29).

Keagungan Jihad Tak Boleh Dinodai

Sebagaimana telah dijelaskan di awal, jihad adalah amal yang agung. Imam an-Nawawi, dalam Riyâdh ash-Shâlihîn, membuat bab khusus tentang jihad. Beliau antara lain mengutip sabda Nabi saw., sebagaimana yang dituturkan oleh Abu Hurairah:

سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: إِيْمَانٌ بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ، قِيْلَ: ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: اَلْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ، قِيْلَ : ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: حَجٌّ مَبْرُوْرٌ

Rasulullah saw. pernah ditanya, “Amal apakah yang paling utama?” Jawab Nabi, “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Beliau diitanya lagi, “Kemudian apa?” Jawab Nabi, “Perang di jalan Allah.” Beliau ditanya lagi, “Kemudian apa?” Jawab Nabi, “Haji mabrur.” (HR al-Bukhar dan Muslim).

Imam Ibnu Hajar juga mengatakan bahwa dalam hadis tersebut (atau yang serupa) perang di jalan Allah (jihad fi sabilillah) adalah amal yang paling utama setelah iman kepada Allah dan Rasul-Nya (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari, 5/149).

Karena itu, sudah selayaknya kaum Muslim menjaga keagungan jihad ini dari siapapun yang berusaha menodai dan merendahkannya, baik karena ketadaktahuannya, ataupun karena kedengkiannya (seperti yang dilakukan Barat kafir penjajah) terhadap aktivitas jihad. Sebab, di samping makna jihad telah diterapkan dengan kurang tepat, keagungan jihad juga telah sengaja direndahkan oleh Barat kafir imperialis. Barat, misalnya, telah lama menyebut Islam sebagai agama ‘barbarian’ hanya karena mengajarkan jihad. Presiden Bush bahkan menyebut Islam sebagai agama radikal dan fasis, sementara PM Inggris Blair menjuluki Islam sebagai ‘ideologi Iblis’; juga antara lain karena faktor jihad. Colin Powell saat menjadi menteri luar negeri AS juga pernah mengatakan, “Jika mereka hanya mengirim generasi muda ke madrasah, sekolah itu tidak melakukan apa-apa, tetapi mengindoktrinasi mereka dalam aspek-aspek buruk. Mengajarkan kebencian tidak akan membawa perdamaian bagi kita semua di kawasan ini.” (Media Indonesia, 23/1/2004). Mengapa demikian? Semua itu tidak lain sebagai bentuk propaganda mereka agar kaum Muslim menjauhi aktivitas jihad. Sebab, bagaimanapun Barat menyadari bahwa jihad adalah ancaman tersebar bagi keberlangsungan mereka atas Dunia Islam. Karena itu, Barat bahkan berusaha agar jihad dihilangkan dari ajaran Islam. Hal itu antara lain diwujudkan dengan upaya Barat untuk memaksakan kurikulum ke madrasah-madrasah, pesantren-pesantren, atau lembaga-lembaga pendidikan Islam karena dianggap mengajarkan kekerasan dan memproduksi ‘para teroris’.

Walhasil, di satu sisi kita jelas tidak setuju jika peledakan bom terhadap masyarakat (termasuk Muslim) bukan dalam kondisi perang dikategorikan sebagai jihad. Sebaliknya, di sisi lain, kita pun harus mewaspadai setiap upaya dari Barat kafir penjajah yang berusaha memanipulasi bahkan menghapuskan ajaran dan hukum jihad dari Islam demi kepentingan politik mereka. []
-----

Posted by mahbub junaidi al alawi  on  01/23  at  02:01 AM

Berjihad tanpa Senjata

Belum lama berselang, koresponden Asiaweek asal Filipina, Jose Manuel Tesorro, bertanya kepada saya tentang Laskar Jihad yang secara demonstratif unjuk kekuatan di Jakarta. Seraya menenteng senjata dan mengumandangkan takbir, mereka memenuhi jalanan ibukota, dari gedung DPR/MPR hingga istana presiden.

Dua hal mengemuka dari demo mereka. Pertama, menolak pencabutan Tap No XXV/MPRS/1966 tentang larangan penyebaran ajaran komunisme, marxisme dan leninisme. Dan kedua, menyatakan kesiapan jihad untuk membela umat Islam di Maluku yang terancam dibantai oleh kaum Nasrani akibat konflik SARA yang berkepanjangan.

Penampilan Laskar Jihad yang mengusung predikat Ahlus Sunnah wal Jamaah itu mengusik Tesorro yang belum lama bertugas di Jakarta. Dalam benaknya muncul pertanyaan, benarkah mereka merupakan potret umat Islam di Indonesia? Jika ya, betapa garang wajah Islam di Indonesia yang masyarakatnya terkenal santun. Bila tidak, kenapa mereka dibiarkan beraksi di jalanan sehingga menakutkan banyak orang, terutama warga nonmuslim.

Kepada Tesorro yang kebetulan muallaf, saya katakan bahwa Laskar Jihad bukanlah potret Islam di Indonesia, dan istilah jihad tak selalu berarti mengangkat senjata. Islam di Indonesia justru berwajah teduh, karena proses masuknya ke bumi pertiwi relatif tanpa pertumpahan darah.

Pertanyaan Tesorro, mewakili kegelisahan banyak orang yang miris melihat militansi Laskar Jihad yang siap bertempur di Ambon. Fenomena tersebut memperparah kerancuan dalam memahami makna jihad fi sabilillah. Selama ini, mayoritas orang awam, bahkan dari kalangan Islam sendiri, memahami jihad sebagai tindakan memerangi orang kafir. Termasuk mereak yang berideologi komunis, yang kerap dicap ateis alias tidak bertuhan.

Pemaknaan seperti itu tak bisa disalahkan. Pasalnya, dalam sejumlah ayat Quran dan hadis Nabi, kata jihad selalu dikaitkan dengan perang ‘’sabil’’—diambil dari kata fi sabilillah yang berarti jalan atau agama Allah. Perlawanan terhadap penjajahan Belanda misalnya, oleh rakyat Aceh dipahami sebagai jihad. Itu sebabnya, cerita kepahlawanan tokoh-tokoh Aceh mereka ungkapkan dalam syair yang berjudul Hikayat Perang Sabil.

Begitu pula fatwa Rais Akbar NU, Hadlratussyekh Hasyim Asy’ari, yang terkenal dengan sebutan ‘’Resolusi Jihad’’. Fatwa itu mewajibkan setiap pria dewasa dalam radius tertentu, untuk melawan tentara Sekutu dan NICA yang hendak kembali menjajah Indonesia yang sudah memproklamasikan kemerdekaannya. ‘’Resolusi Jihad’’ ini memberikan dukungan moral kepada Bung Tomo dan arek-arek Surabaya yang kemudian memicu peristiwa heroik 10 November 1945.

Kecenderungan mengaitkan jihad dengan perang suci, mengakibatkan penyempitan makna. Padahal, istilah jihad fi sabilillah punya makna sangat luas, karena pengertian membela agama tak identik dengan mengangkat senjata. Menurut tokoh sufi terkemuka dan penulis kitab Thaharat Al Qulub, Abu Sulaiman Ad Darani, pengertian jihad mencakup segala bentuk upaya memerangi kebatilan dan kezaliman, serta menegakkan kebenaran dan keadilan yang menjadi tujuan agama. Karena itu, jika tujuan tersebut dapat diwujudkan melalui dakwah dengan prinsip amar ma’ruf nahi munkar (memerintahkan kebajikan dan mencegah keburukan), maka upaya ini harus ditempuh lebih dulu.

Dari penjelasan Ad Darani, dapat disimpulkan dua hal. Pertama, jihad bukan tujuan, melainkan sarana untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Dan kedua, sebagai konsekuensinya, jihad dengan kekerasan atau peperangan adalah alternatif terakhir bila penyelesaian damai tak dapat ditempuh.

Dalam kaitannya dengan istilah fi sabilillah, pakar tafsir kontemporer, Ahmad Musthafa Al Maraghi, menyebut pengertiannya sangat luas, bahkan mencakup apa saja yang dapat mengantarkan pada ridho Allah dan pahala-Nya. Pendek kata, setiap langkah untuk menegakkan otoritas agama dan kedaulatan negara, yang mengarah pada kemaslahatan umat dan kesejahteraan masyarakat, bisa dimasukkan dalam kategori jihad fi sabilillah. Tak terkecuali, upaya membenahi sistem politik dan ekonomi guna mewujudkan reformasi dan demokrasi yang menjamin hak-hak rakyat.

Secara lebih konkret, Al Maraghi memberikan banyak contoh. Membangun sarana ibadah dan pendidikan seperti masjid dan sekolah, mendirikan panti asuhan untuk yatim piatu dan orang jompo, memperbaiki fasilitas umum semacam jembatan atau saluran air, memberantas praktek korupsi, kolusi dan nepotisme yang merugikan rakyat, adalah beberapa di antaranya.

Boleh jadi lantaran terinspirasi pandangan Al Maraghi, saat masih menjabat Ketua Umum PBNU, Abdurrahman Wahid kerap menekankan pentingnya jihad fi sabilillah dengan spirit kepedulian sosial. Dihubungkan dengan kondisi masyarakat Indonesia yang plural, serta kehidupan mayoritas warganya yang relatif prasejahtera, penekanan makna jihad dengan spirit kepedulian sosial sungguh terasa amat relavan.

Tak heran jika setelah menjabat presiden, Gus Dur mempertahankan visinya tentang jihad tanpa senjata. Itu sebabnya Gus Dur tegas menolak keinginan Laskar Jihad yang hendak ke Ambon untuk menuntaskan konflik SARA yang sudah berlangsung setahun lebih dan memakan banyak korban jiwa.

Rupanya, Gus Dur khawatir bila mereka diluluskan berangkat ke Maluku dengan membawa senjata, maka situasi Maluku bakal kian memanas. Tak mustahil, provokator memanfaatkan peluang sehingga kerusuhan berdarah akan berkepanjangan dan makin sulit diselesaikan.

Laskar Jihad yang mengusung embel-embel Ahlus Sunnah wal Jamaah, mestinya menyadari bahwa kekerasan dan senjata sama sekali bukan karakteristik kaum Sunni. Doktrin Ahlus Sunnah wal Jamaah, justru menekankan prinsip-prinsip tasamuh (toleran), tawassuth (moderat) dan tawazun (proporsional) dalam menyikapi segala persoalan.

Oleh karena itu, melunaknya sikap Laskar Jihad yang bersedia memenuhi imbauan aparat keamanan untuk menyerahkan senjata yang mereka miliki, patut dihargai. Kendati demikian, seandainya dana yang digunakan membeli senjata—yang jumlahnya mungkin ratusan juta rupiah, diinfakkan untuk kemaslahatan korban Tragedi Maluku, tentu akan lebih bermanfaat. Ratusan ribu pengungsi di Bitung dan sekitarnya yang kondisinya memprihatinkan, sangat membutuhkan uluran tangan. Menyantuni mereka merupakan implementasi jihad fi sabilillah yang bernuansa kemanusiaan.

Celakanya, meski pimpinan Laskar Jihad yang bermarkas di Yogyakarta, Ayif Syafruddin, menyatakan 3.000 orang anggotanya berangkat ke Maluku dengan misi damai tanpa senjata, faktanya justru berbeda. Kamis (4/5), bentrokan pecah antara Laskar Jihad dan aparat keamanan di Ternate, ibukota Maluku Utara. Empat orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka. Walaupun Ayip menolak keterlibatan pasukannya dan menuding itu ulah Laskar Jihad yang dikomandani Abu Bakar Al Banjari, kesan bahwa Laskar Jihad lebih mengedepankan kekerasan dan senjata sulit dihindari.

Berangkat dari kenyataan di atas, tampaknya perlu ditanamkan kesadaran baru tentang jihad yang implementasinya lebih bernuansa sosial dan kemanusiaan, agar masyarakat awam tidak terjebak pada persepsi yang keliru bahwa jihad harus dengan cara kekerasan dan angkat senjata.

Kesadaran baru tentang jihad itu, diharapkan dapat membantu menyelesaikan konflik antar sesama warga bangsa, sekaligus mewujudkan rekonsiliasi nasional yang utuh di masa mendatang. Tapi, jika pemerintah tak mengambil inisiatif dan cuma bersikap pasif, atau ribut dengan beragam isu dan kontroversi yang diciptakannya sendiri seperti sekarang, konflik vertikal maupun horizontal akan terus marak. Sesekali, pemerintah memang perlu digertak oleh kelompok penekan seperti Laskar Jihad. Sebab kalau tidak, pemerintah tak akan pernah serius menangani kasus Maluku.

Posted by alawi from gresik  on  01/23  at  02:01 AM

Kepada Mas Joko, apabila ditelisik lebih jauh secara jujur saudara2 kita yg mengangkat senjata utk berperang yg katanya jihad itu sebetulnya hatinya penuh emosi dan dendam. Saya ingat ketika menghadiri tabligh akbar jamannya ambon masih panas dulu dan tabligh akbar lagi ngetrend terutama kalo yg hadir Ustadz Jafar Umar Thalib, panglima laskar jihad...wuuahh menggebu2 tp setelah jernih saya pikirkan dan renungkan isi khotbahnya banyak menyuarakan kebencian pd “yg lain” bahkan saudara muslim kita sendiri sempat pula dihujatnya. Dan beberapa rekan saya yg terpengaruh emosinya pergi berjihad dgn motivasi membalas. Bahkan mereka meninggalkan keluarganya yg rata2 msh memerlukan pengayoman dan tanggung jawabnya sbg seorang kepala keluarga.

Mungkin memang ada yg berjihad dgn murni, benci tidak kepada kaum atau golongan tertentu namun kepada kelakuan dan tingkah lakunya. Berjihad setelah mempersiapkan kebutuhan2 keluarganya dan menitipkan pd keluarga yg dipercaya dan mampu apabila tjd sesuatu. Penuh kesabaran dan tawakal dlm berjihad perang. Tetapi jujur hrs kita akui scr ksatria bahwa orang2 yg semacam itu tidak banyak, msh kalah dgn orang pemahaman jihadnya kurang, orang yg jihad perang tp mengumbar nafsu membalas dendam, nafsu membunuh, nafsu kesombongan rohani dll.

Berapa banyak sih orang yg spt rasullulah yg dlm perang pun masih memiliki sifat welas asih dan adil yg luar biasa...?? Tidak adanya pemimpin yg bersifat adil dan welas asih spt rasullulah dlm berperang ini mengakibatkan ribuan umat muslim tergelincir ketika berjihad perang.

Posted by Ibnu Amin  on  11/23  at  01:11 AM

Ketika kaum mukminin memenangkan perang badar, di bulan ramadhan. Wajar dong bila mereka bersuka cita atas perang yg menentukan masa depan islam. Namun Rosul mengingatkan agar kita jangan terlalu berlebihan dalam meluapkan kegembiraan. Dengan mengingatkan : Perang terbesar adalah perang melawan hawa nafsu.

Akhir2 ini dimasa modern ini, banyak terjadi penjungkir balikan makna yang menurut kami sangat membahayakan akidah, dg gaya bahasa yg njlimet & dalem2 biar kelihatan kaum intelek, elit, agamis modernis, dll. yg sok ke-bule2an.

Gampang saja kami menjawabnya: Bagaimana beratnya perang melawan hawa nafsu, kalau kita pernah ikut & merasakan jihad fi sabillillah langsung.

Posted by m. fauzi  on  11/10  at  10:11 PM

“ Jihad terbesar dalam hidup justru pada kemampuan seseorang untuk mengendalikan tuntutan-tuntutan ego-diri, atau menjadi panglima bagi diri sendiri (jihâdun nafs)”. memang betul.

Tapi saya yakin, Saudara-saudara kita yang dengan tulus berangkat Jihad untuk membantu saudaranya sesama muslim yang dianiaya, baik di Ambon, Poso, Irak, Afganistan, Philipina, Thailand, mereka semua sudah melewati Jihad terbesarnya, yaitu jihadun nafs tadi. Mereka rela meningggalkan keluarga, begitu juga keluarganya, rela dan tulus ditinggalkan, semoga Jihad Mereka di Terima Alloh SWT.

Posted by joko santoso  on  11/09  at  06:12 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq