In Memoriam Th. Sumartana - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Wawancara
02/02/2003

In Memoriam Th. Sumartana

Oleh Redaksi

Kita baru saja kehilangan tokoh pluralis sejati yang meninggal pada Jum’at, 24/1/2003. Penggiat dialog antaragama sekaligus ketua yayasan DIAN/Interfidei Yogyakarta ini dipanggil Yang Mahaesa ketika sedang merumuskan rencana-rencana strategis lembaga Demos yang hendak didirikannya bersama aktivis-aktivis HAM dan demokrasi.

Berikut ini petikan wawancara Burhanuddin dari KIUK dengan Prof. Dr. Amin Abdullah (Rektor IAIN Yogyakarta), Asmara Nababan (mantan Sekjen Komnas HAM, Direktur Eksekutif Demos), dan Pdt. Dr. Martin L. Sinaga (Sekretaris 1 ICRP, dosen STT Jakarta pada 30 Januari 2003:

Pak Asmara, pekan lalu Dr. Th. Sumartana, sudah berpulang. Apa yang terbersit dalam kenangan Anda setelah berpuluh-puluh tahun bergaul dengan beliau?

Asmara Nababan (AN): Saya pikir, yang paling kuat berkesan adalah keyakinan beliau yang kuat bahwa dalam kehidupan masyarakat kita, agama-agama tidak menjadi tembok pemisah, tapi bisa menjadi berkat bagi masyarakat secara keseluruhan. Dan saya pikir, pada awalnya Sumartana tidak hanya memfokuskan diri sebagai sesosok aktivis yang hanya menggeluti ihwal dialog antarumat beragama. Sejak mahasiswa, Sumartana juga aktif dalam masalah-masalah lain dalam masyarakat, semisal masalah korupsi. Saya masih mengenang ketika Sumartana dan beberapa teman melancarkan aksi protes terhadap penyakit korupsi pada awal masa Orde Baru sekitar tahun 1970-an. Saat itu kita ditangkap dan dijebloskan ke dalam SPM Guntur. Waktu itu, saya sempat menyesal karena mengajak Sumartana. Maklumlah, kala itu badannya masih kecil, kurus, tapi digelandang ke Guntur yang terkenal sebagai tempat yang sangat kejam.

Sumartana juga meyakini kalau agama harus punya semangat pembebasan. Bagi dia, pengalaman ortopraksis agama harus dilibatkan dalam persoalan-persoalan di sekitar kita. Bagaimana tanggapan Anda?

AN: Memang begitu. Bagi Sumartana dialog antarumat beragama itu tak hanya dialog per se. Dialog itu bukan tujuan, tapi sebagai sebuah jalan untuk menggeluti masalah-masalah bangsa ini. Masalah itu misalnya, menyangkut problem ketidakadilan ekonomi, masalah sosial, HAM, demokrasi dan lain-lain.

Apakah alasan itulah yang menjadi raison d’etre berdirinya Demos: LSM yang concern dalam kajian demokrasi dan hak asasi?

AN: Satu di antaranya memang berdasar pada alasan tadi. Saya bersama beliau mendirikan Demos, tapi sayang baru merumuskan strategic planning pada 24/1/2003 malam, beliau sudah dipanggil Yang Mahakuasa. Intinya bagaimana agar agama-agama memberikan sumbangannya dalam perjuangan demokrasi dan HAM. Agama-agama jangan berdiri di pinggiran lapangan.

Lantas, apa gagasan-gagasan besar beliau yang harus kita lanjutkan?

AN: Memang setiap orang ada keunikan tersendiri. (Karena keunikan itu) tidak mungkin orang bisa digantikan. Hanya saja, barangkali berbagai pikiran, impian, dan harapan Sumartana, patut dilanjutkan, khsususnya untuk kemajuan demokrasi dan HAM, serta peran agama-agama sebagai perekat masyarakat. Barangkali, ide besarnya seperti itu. Untuk menjabarkannya dalam tindak-tindak yang nyata dalam kehidupan kita sehari-hari, tentu berpulang pada mereka yang mempunyai cita-cita yang sama dengan Sumartana.

Pak Martin, bagaimana pengaruh Sumartana di kalangan Kristiani. Saya pikir, biasanya orang-orang seperti ini tak mampu menembus pusat pengaruh otoritas ortodoksi keagamaan. Menurut Anda?

Martin Sinaga (MS): Saya kira sama dengan keadaan Ulil Abshar-Abdalla. Paling tidak, bagi kami --kelompok-kelompok yang muda di kalangan gereja—Sumartana ini selalu menjadi sumber inspirasi untuk menggangsir atau menggoncang establishment atau kemapanan gereja. Saya kira, itu poinnya. Sumartana selalu mengingatkan kita semua bahwa ada proses kekristenan yang tidak memadai dalam memandang Islam selama ini; kekristenan yang memandang Islam akan berubah, Islam akan menjadi Kristen, menurut dia, seluruh proses pemahaman itu harus dihentikan. Jalan satu-satunya untuk menghadapi Islam, bagi dia adalah dengan berdialog.

Pak Amin, sebagai kolega dekat Sumartana, apa kira-kira kesan Anda selama bergaul dengan beliau?

Amin Abdullah (AA): Yang pertama, saya melihat ketulusan; ketulusan ide-ide, dan cara menyampaikan ide-ide yang tidak provokatif. Tapi, tetap ada substansi yang ingin disampaikan pada masyarakat, betapapun substansi itu sulit dipahami secara mendalam oleh masyarakat. Dengan profil yang tunduk, yang low-profile dan penuh ketulusan itu orang tidak terlalu khawatir tentang dialog antariman yang dia gagas itu.

Selama ini, Dian/Interfidei yang dipimpin Sumartana banyak bermitra dengan IAIN dalam hal dialog antaragama. Bagaimana Anda melihat agenda dialog selama ini dalam konteks lokal Yogyakarta?

AA: Sudah barang tentu, sejak berdiri tahun 1990-an, aktivitas dialog antariman itu sudah berjalan. Sebagai kelembagaan, DIAN/Interfidei mengadakan training-training keluar. Dalam proses training itu, satu-dua teman dari agama-agama lain, termasuk agama Islam selalu dilibatkan. Bahkan dalam dialog di mana saja, dia selalu membawa empat atau lima penganut agama dengan keahlian masing-masing. Dengan kerjasama semacam itu, kita saling mengerti dan memahami apa yang diidolakan dan dicita-citakan oleh kelompok Interfidei.

Pak Asmara, ia adalah sosok yang percaya ide besar tentang pluralisme sebagai penopang kebangsaan. Yang menarik, Sumartana sampai akhir hayatnya masih tercatat sebagai Ketua DPP PAN. Menurut Anda, adakah kontradiksi antara gagasan besar yang dia percayai dengan partai politik?

AN: Memang saat pertama mengetahui dari pers bahwa Sumartana masuk partai, --yaitu PAN-- saya sempat terbahak-bahak. Itu sangat lucu dan saya tidak bisa menahan ketawa. Sebab, saya tak bisa membayangkan Sumartana akan menjadi politikus. Setelah bertemu, baru saya bisa mengonfirmasi apa maksudnya (masuk partai politik). Rupanya, dia memahami partai politik secara lain, dan mendefenisikannya sebagai forum dialog. Jadi motivasi utamanya, (ingin) melihat PAN sebagai forum di mana berbagai aktivis --dengan berbagai latar belakang agama-- bergabung dalam satu partai. Dia sekaligus ingin memanfaatkan itu sebagaai suatu forum untuk dialog.

Mungkin dia mengira bahwa partai politik bisa mengekstensikan desain besar yang dia inginkan, meskipun pada akhirnya ada sedikit kekecewaan?

AN: Ya, tentu. Sebab partai bukan didesain untuk itu, ‘kan? Jadi, dia juga agak terpinggirkan. Mulanya saya berpikir dia akan menjadi politikus, tapi ternyata dia konsisten; bahwa pluralisme harus menyentuh semua entitas, apakah itu entitas pilitik, sosial, ekonomi dan lain-lain. Rupanya, Sumartana mau mempromosikan atau memajukan desain politik pluralis, dengan memasuki sebuah habitat yang sebetulnya sangat sulit bagi orang seperti dia untuk hidup di dalamnya.

Pak Martin, perlunya kerukunan antarumat beragama dibuktikan beliau pada tingkat praksis, bukan retorika belaka. Sumartana sering turun ke daerah konflik untuk menyosialisasikan itu. Menurut Anda?

MS: Memang, dia yakin sekali bahwa tidak ada jalan lain untuk hidup bersama, selain jalan dialog. Dia sering mengatakan bahwa problem dialog adalah problem yang amat mendasar bagi generasi muda. Dari pengalaman beliau berkeliling di nusantara ini akhirnya tumbuhlah komunitas-komunitas kecil, kaum muda khususnya, di mana mereka menjadikan dialog sebagai ajang untuk bertemu dengan yang lain. Dari situ, seolah-olah dia sedang mempersiapkan semacam generasi yang lebih matang dalam berdialog, dan bersedia berubah dan menghoirmati orang lain. Saya kira, jaringan dialog itulah kekuatan Sumartana.

Kalau dilihat tulisan dan buku-buku yang banyak dia tulis, apa intisari yang selalu beliau tekankan?

MS: Saya kira, kalau saya melihat dari sudut kekristenan sendiri, Sumartana selalu mengatakan bahwa kemandekan kekristenan di Indonesia, pertama-tama karena dia melulu melanjutkan semangat triumvalistik misionaris. Yaitu datang ke Indonesia melakukan kristenisasi; memperbanyak jumlah orang Kristen; dan tidak melakukan apresiasi terhadap Islam, terhadap kultur lokal. Kultur lokal dianggap kafir, dan orang Islam dianggap calon-calon (manusia) yang akan ditobatkan. Jadi kalau kekristenan tidak melakukan reorientasi atas mentalitas kolonial seperti pemahaman di atas, maka kekristenan akan habis dengan benturan-benturan di masa-masa Indonesia merdeka.

Pernyataan Pak Martin tadi, persis sama dengan apa yang diutarakan Sumartana dalam diskusi di Amien Rais Center tanggal 23/24/2003 lalu. Yaitu, ihwal perlunya reorientasi kekristenan agar tidak dimaknai semata-mata sebagai propaganda atas agama lain. Nah, selama ini –sebagai kritik ke dalam-- umat Islam juga suka menggeneralisasi bahwa Kristen giat melakukan kristenisasi di kantong masyarakat Islam. Komentar Pak Amin?

AA: Saya kira, dalam setiap agama dan komunitas agama, ada kesulitan sendiri. Dalam Protestan, seperti diuraikan tadi, Sumartana fokus ke situ (mengurai kesulitan interaksi). Dalam Katolik juga begitu. Ini sama halnya di dalam Islam; ada kesulitan sendiri. Nah, di situlah Sumartana mencoba menyelesaikan kesulitan itu. Yang juga diharapkan dalam setiap komunitas agama, adalah memahami kesulitan itu dengan caranya sendiri-sendiri. Dengan begitu, baru kita bisa keluar dari kesulitan dalam masyarakat pluralistik ini.

Sumartara punya pernyataan menarik. Katanya, agama yang mapan tanpa kritik dan pembaruan, akan menyebabkan agama menjadi tambun dan tak mampu menyelesaikan problem sosial. Apa komentar Anda?

AA: Dalam setiap keagamaan dan pemikiran keagamaan, kondisi yang diharapkan adalah cair. Ibarat air itu, ia harus mengalir agar fresh. Tantangan-tantangan baru harus dijawab dengan cara-cara baru; kesulitan-kesulitan harus segera dicarikan pemecahannya. Sehingga, ibarat air, ia terus mengalir. Ketika air berhenti mengalir, maka pada saatnya nanti, dia “bisa membusuk”. Menurut saya, agar pemikiran-pemikiran keagamaan tak kehilangan relevansi oleh problem kontekstual dan isu-isu aktual yang ada sekarang ini, maka dia harus mengakomodasi pemikiran-pemikiran keagamaan yang bersifat kritis.

Apa sisi yang menarik dari Sumartana selain yang Pak Martin paparkan di atas?

MS: Menurut saya, Sumartana ahli dalam sejarah. Dia telah menulis tentang dinamika Jawa; dinamika emansipasi di Jawa karena terjadinya emansipasi Islam. Misalnya, dalam gerakan yang disebut Sarikat Islam. Dia mengatakan, kegagalan kekristenan adalah karena tidak bisa mengikuti sebuah terobosan kultural dan politik seperti Sarikat Islam. Kekristenan bahkan mengisolasi diri dalam kantong-kantongnya. Dia juga menekankan bahwa kalau umat Kristiani ingin ikut terlibat dalam dinamika sejarah dan bangsa ini, maka kita harus masuk bersama-sama Islam di dalam dinamikanya. Karena itu, menurutnya, kita harus berdialog dan “ikut terlibat” dalam Islam agar turut serta dalam kancah sejarah ini.

Dalam disertasinya yang terkenal itu, Mission at the Cross Road, Sumartana juga sempat menyinggung Kartini sebagai figur yang mendobrak kultur patriarkhi pada saat itu.

MS: Sumartana meneliti religiusitas Kartini. Dalam diri Kartini, ada aspek religiusitas, tak hanya aspek feminisme. Dia melihat, Kartini adalah seorang yang secara intens berdialog dengan “para misionaris awam” yang mengajarnya membaca, berkirim surat, dan memberitahunya tentang kekristenan. Tapi Kartini melakukan respons yang amat kreatif. Kartini tak menjadi anti-Kristen; dan Kartini juga tidak –katakanlah-- berbalik menyerang, tapi mengatakan bahwa religiusitas itu melampaui sekat-sekat keislaman dan kekristenan. Religiusitas adalah sesuatu tentang rasa, tentang keprihatinan, dan karena itu tidak perlu masuk ke dalam kotak-kotak kecil agama ini. Saya kira, itu analisa Sumartana tentang Kartini.

Pak Amin, ada satu tulisan TH Sumantara tentang “Tantangan Pluralisme dan Sistem Pendidikan Kita”. Selama ini, kita terlihat kurang mengakomodasi pluralisme dalam sistem pendidikan kita. Sebagai rektor sebuah lembaga pendidikan Islam, bagaimana menumbuhkembangkan gagasan tentang pluralisme dalam pendidikan agama?

AA: Seperti saya katakan tadi, kesulitan itu ada pada masing-masing komunitas agama. Bagaimana cara keluarnya, masing-masing punya konsep. Di lingkungan IAIN, studi agama Islam, konsep-konsep baru tentang pluralisme, dengan tokoh-tokoh baru dari luar negeri, seperti Hassan Hanafi, Syahrur, Ali Asghar Engineer, sudah marak. Di dalam negeri, tak usahlah saya sebutkan, banyak juga tokoh (yang menggagas itu). Itu juga akan memberi andil untuk perbaikan mutu pendidikan, kurikulum dan literatur itu sendiri. Dengan perbaikan literatur, mahasiswa bisa mengunyah (gagasan itu) dan punya implikasi ketika mereka menjadi guru atau profesi apapun yang mereka geluti ketika terjun di masyarakat.

Anda pernah menyebut kalau lembaga pendidikan agama punya fungsi yang ambigu; di satu sisi, tidak bisa melepaskan diri sebagai lembaga dakwah, di sisi lain juga tak dapat mengelak sebagai lembaga akademik. Bagaimana kita mengompromikan dua sisi ini?

AA: Kalau saya melihat, dua fungsi itu bagaikan satu koin dengan dua permukaan. Dalam realitas empirik, apa yang disebut dakwah bisa masuk dalam berbagai jaringan dan gerakan apapun. Tak realitstik kalau kita menafikan aspek empirik dari kehidupan di masyarakat: yaitu kegiatan dakwah yang sangat luas. Akan tetapi, sisi lain dari koin itu adalah bagaimana kualitas dari apa yang disampaikan kepada masyarakat. Ketika kita bicara tentang kualitas, di situ ada sisi keilmuan; bagaimana pendekatan, metodologi dan materinya. Nah, antara dua hal itu, sebenarnya tidak bisa dipisahkan.

Pak Martin, apa cita-cita besar Sumartana berkaitan wacana pluralisme?

MS: Saya kira, pengertian tentang pluralisme dan dialog telah menjadi percakapan publik, dengan munculnya yayasan atau LSM semacam Dian/Interfidei, ICRP dan lain-lain. Menurut saya, obsesi Sumartana yang mau diwujudkannya: bagaimana membawa pluralisme ini masuk dalam komunitas agama-agama itu sendiri, misalnya dalam akidah, dalam liturgi, dalam ibadah. Juga bagaimana ada pengandaian-pengandaian yang bersifat menerima kehadiran agama lain. Saya kira, itu obsesi beliau yang ingin dikerjakannya. Kami akan bertemu minggu ini untuk menjadikan semangat itu masuk sungguh-sungguh dalam struktur Protestantisme dan kekristenannya secara lebih berakar, misalnya.

Pluralisme agama sering dikritik karena disinyalir memunculkan sinkretisme agama. Menurut Anda?

MS: Sumartana juga menulis soal itu dalam disertasinya. Dia mengatakan: “ya, sinkretisme ‘kan artinya sincretos; yaitu bagaimana orang-orang di pulau Kreta bersama-sama mengumpulkan resources mereka untuk menghadapi ancaman dari luar”. Dia juga mengatakan bahwa sebenarnya semua agama meminjam kekayaan rohani agama lain, tapi lupa mengembalikannya; lalu diklaim sebagai iman yang utuh, yang satu dari Tuhan. Bagi dia, orang harus senantiasa melalui sebuah perjumpaan, dan dengan perjumpaan itulah, (orang) akan menemukan jati diri yang sejati []

Foto: Dokumen Tempo

02/02/2003 | Wawancara | #

Komentar

Komentar Masuk (0)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq