Islam Dinamis Menentang Islam Stagnan - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Gagasan
01/08/2003

Islam Dinamis Menentang Islam Stagnan

Oleh Badarus Syamsi

1.  Pemahaman keislaman kita sebaiknya terus-menerus mengalami pembaharuan, evaluasi, proses belajar-diajar dan dialog untuk menuju kesempurnaan.
2.  Suatu kekeliruan besar yang harus dihindari manakala ada kaum Muslim yang menjadikan pemahaman keislamannya sebagai “Blue Print”, yang harus dipegangi oleh semua kaum Muslim. Harus diingat bahwa satu pemahaman terhadap Islam merupakan satu usaha untuk meraba-raba maksud Tuhan, yang hal itu bisa benar dan bisa salah. Yang terbaik adalah bagaimana suasana dialogis dengan pencari kebenaran yang lain terus-menerus dihidupkan untuk menemukan titik kesalahan pemahaman keislaman kita dalam rangka mencapai tingkat kebenaran yang lebih sempurna.

Prolog
Jangan sampai seorang muslim mengklaim Islamnya sebagai Islam yang paling benar, hingga tergoda untuk menjadikannya dimiliki orang lain atau tergoda untuk menjadikannya sebagai pedoman untuk semua. Semua pemahaman Islam kita seharusnya perlu diperbaharui dari waktu ke waktu dengan jalan belajar, mengkaji dan yang lebih penting lagi adalah mendialogkannya


Islam tidak akan berkembang seandainya tidak ada orang yang mencoba menafsirkannya, mengartikulasikannya dalam kehidupan keseharian, meskipun oleh orang yang rendah pengetahuannya sekalipun. Jangan berharap bahwa penafsiran dan upaya pemahaman atas Islam akan sempurna betul, karena kesempurnaan adalah suatu hal yang relatif. Bagi si anu, pemahaman keislamannya mungkin sudah sempurna dan benar, sedangkan bagi si anu, pemahaman keislamannya mungkin dianggap masih banyak memerlukan perbaikan serta proses belajar dan diajar. Satu persoalan pelik yang senantiasa menghiasi wacana pemikiran Islam baik dari dulu hingga sekarang adalah kesediaan menerima perbedaan pendapat. Semua kaum Muslim sebenarnya sama posisinya dalam menghadapi ajaran Islam, dalam arti ingin memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan keseharian.

Saya melihat bahwa Islam sangat menghargai dan membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin menafsirkan dan merealisasikannya dalam kehidupan keseharian. Islam tidak membatasi seseorang untuk keinginan tersebut. Di sinilah kemudian akan muncul satu makna penting bahwa Islam mengajak setiap individu untuk berproses dalam berupaya memahami dan merealisasikan Islam. Berproses dalam artian bahwa pemahaman atas Islam itu semakin hari akan semakin sempurna. Terdapat fase pencarian diri dan pencarian kebenaran dari waktu ke waktu. Dalam konteks ini, tidak ada tempat bagi sebuah stagnasi dan taklid dalam Islam. Setiap individu harus belajar dan mencoba menafsirkan Islam dalam kehidupan keseharianya.

Adalah problem yang sangat besar manakala dalam kenyataannya terdapat individu atau kelompok keagamaan yang mencoba mem-final-kan pemahaman keislamannya sebagai sebuah “Blue Print”. Lebih-lebih manakala hal itu harus dimiliki juga oleh orang lain. Pemahaman seperti ini sampai kapanpun akan sulit menerima kenyataan pluralnya pemikiran dan pemahaman atas Islam. Paradigma seperti ini juga akan dapat menutup setiap pintu dialog dalam rangka pemahaman Islam menuju kesempurnaan, apalagi dialog keimanan. Dan sekali lagi, paradigma seperti itu akan memiliki potensi besar bagi terciptanya kekisruhan dan kekacauan di kalangan kaum Muslim. Mengapa? Jawabannya satu, ada suasanan batin di mana satu kelompok dengan lainnya merasa paling benar. Kelompok lain adalah salah dan harus diluruskan!

Kekacauan Islam di abad pertengahan disebabkan oleh lebih berkembangnya paradigma totaliter dan wacana “Blue Print” daripada paradigma ‘urun rembuk’ atau dialog. Sementara itu fenomena taklid dapat terjadi diketika terdapat satu kelompok yang mewajibkan dilaksanakannya satu model pemahaman keagamaan terhadap pengikutnya, yang memang notabene pengikutnya adalah mereka yang lemah secara intelektual. Taklid juga dapat terjadi manakala suatu kelompok keagamaan menakut-nakuti pengikutnya akan suatu kesesatan atau kemurtadan manakala tidak diikutinya model pemahaman keagamaan pemimpinnya.

Bagi setiap pemimpin kelompok dan organisasi keagamaan, sudah seharusnya menghindari aji “menakut-nakuti” umat akan kesesatan kalau tidak mengikuti satu jenis pemahaman keagamaan. Sebab hal itu akan semakin mematikan potensi kreatifitas intelektual ummah. Yang akan muncul adalah umat yang penakut, yang selalu mengatakan “jangan-jangan apa yang saya laksanakan ini salah dan sesat”. Jika yang berkembang seperti ini, jangan diharap umat Islam akan mampu berkembang dan besar layaknya abad klasik atau keemasan Islam. Sikap menakut-nakuti seperti itu setidaknya akan melahirkan tiga dampak yang semuanya negatif. Pertama, sikap fanatik yang berlebihan hingga menjurus kepada ekslusifisme ekstrim. Kedua, dalam jangka panjang dan pendek akan melahirkan umat yang bodoh dan tidak kreatif secara intelektual. Ketiga, berpotensi bagi terpupuknya sikap mengagung-agungkan seorang pemimpin layaknya dewa atau tuhan, hingga menyanggah pendapatnya bisa diklaim sebagai sesat dan murtad.

Yang diperlukan saat ini adalah bagaimana umat dapat memanfaatkan potensi intelektualnya untuk belajar memahami Islam, menafsirkannya, mengamalkannya dan mendialogkannya. Setiap individu muslim wajib berusaha untuk memahami Islam dan tidak terpaku pada satu jenis pemahaman keagamaan. Tebarkan semangat berijtihad dan dialog. Padamkan aji menakut-nakuti akan kesesatan. Kita yang tak pernah mencoba memberanikan diri untuk secara mandiri mempelajari, menafsirkan, mengamalkan dan mendialogkan Islam kita, dan bahkan sebaliknya, hanya mengikuti orang lain dengan satu jenis pemahaman keagamaan, tidak pantas menyandang peringkat sebagai seorang muslim sejati.[]

01/08/2003 | Gagasan | #

Komentar

Komentar Masuk (24)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

islam itu al quran dan hadist. yang bertentangan dengan 2 itu bukan islam dan bukan termasuk golongan pengikut nabi muhammad.

Posted by audi syahrul  on  06/23  at  11:01 AM

sepakat dengan saudara andi.... ayat qur’an tetap otentik, tapi tafsirnya, prakteknya sudah banyak variasi…

Posted by muhammad hakim  on  06/01  at  01:34 AM

saya sangat setuju dengan pemahaman anda islam bukan sekadar “blue print” islam perlu adanya ide-ide kreatif & inovatif agar dalam beragama betul-betul fresh menjalankan ajaran agama sepenuhnya bukan sekadar berpatokan pada kitab “fathul jare” (jawa:jare kono jare kene) tapi jangan sampai ketika mencetuskan sebuah wacana dapat menimbulkan keresahan umat karena belum seluruhnya umat islam seperti anda kalau anda orang bijak niscaya anda melayangkan surat ke MUI & DEPAG sebagai perwakilan umat islam kalau mereka tidak mampu menampung aspirasi anda maka boleh anda mencari solusi tuk kirim e-mail ke kami.

Posted by arif himawan  on  05/26  at  03:55 PM

semua pendapat dan tindakan sudah benar atau akan benar, sepanjang semuanya masih berada dalam proses ...... tuhan pun tidak mencaci tindakan Ibrahim AS saat menyembah matahari .... karna itu proses .... bahkan para nabi2 pun tidak mencapai kebenaran mutlak buktinya slalu ada penyempurnaan ..... dan apa yg sampe dari rasulpun tdk sepenuhnya otentik

Posted by andi  on  03/18  at  10:50 AM

Ketika Nabi Muhammad menjelaskan tentang nifas, beliau mengakategorikan 2 macam yaitu nifas orang yg melahirkan melalui kemaluan dan melahirkan tidak melalui kemaluan. Pada waktu itu para sahabat bingung, gimana caranya melahirkan tanpa lewat kemaluan. Nah sekarang kita baru faham deh, ente juga musti faham jgn pake emosi, ternyata yang dimaksud Rasulullah itu adalah melahirkan dengan proses cecar ... Paham gak ente? Itulah kelebihan nabi, beliau diberikan keistimewaan berupa jawamiul kalim, bisa berkata2 dgn sedikit kata2nya tapi sangat luas pemahamannya,,, itu baru kata2 Nabi, apalagi firman Allah, wallahu’alam

Posted by syauqillah palermo  on  01/25  at  12:43 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq