Islam Liberal dan Ketegangan Demokrasi Di Dunia Islam - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Diskusi
21/05/2006

Diskusi di STAIN Surakarta Islam Liberal dan Ketegangan Demokrasi Di Dunia Islam

Oleh Irwan Nugroho

Pergulatan pemikiran Islam adalah spiral sejarah yang akan berulang. Yang pantas kita ambil adalah semangat untuk terus melakukan reinterpretasi Islam sesuai dengan jaman dan dengan tetap menghargai adanya perbedaan. Islam yang lahir dari peradaban teks dengan sendirinya membuat Islam memiliki banyak wajah, karena teks itu bebas untuk ditafsir.

Sikap radikal yang muncul dari sebagian kalangan Islam terhadap pemuatan serial karikatur nabi Mumammad di salah satu koran Denmark, Jyllands-Posten, serta dukungan luas kepada Rancangan Undang-undang Anti-pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) sekali lagi menunjukkan bahwa di dunia Islam terjadi ketegangan ketika berhadapan dengan demokrasi dan prinsip-prinsip kebebasan.

Sebagian kelompok umat Islam masih belum mampu menerima perbedaan dengan kepala dingin. Pelecehan dan penghinaan terhadap simbol-simbol agama dibalas dengan tindakan anarkis yang bertubi-tubi. Dalam kasus karikatur nabi Muhammad, mereka merusak gedung-gedung kedutaan dan meminta pelakunya diganjar hukuman mati. Sebaliknya, di satu sisi mereka berupaya memaksakan kepentingan mereka dan mengecilkan hak asasi orang lain. RUU APP adalah contoh bagaimana umat Islam mementingkan keinginan sendiri tanpa memedulikan realitas sosial yang ada di masyarakat Indonesia.
Hal ini terungkap dalam sebuah diskusi yang bertema “Islam Liberal dan Gairah Pemikiran Islam di Indonesia” hasil kerjasama antara Yayasan Tifa, Solo Society, dan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Locus STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri) Surakarta, pada 22 Maret 2006 yang lalu. Bertempat di gedung student centre STAIN Surakarta, diskusi ini menghadirkan tiga orang pembicara, yaitu Novriantoni, aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL), Islah Gusmian (STAIN), dan Zakiyuddin Baydhawy, (PSB-PS UMS Surakarta). Diskusi ini juga merupakan program kerja dua bulanan yang dilakukan oleh Solo Society.

Selain menyayangkan sikap yang ditunjukkan oleh umat Islam di atas, para pembicara mengatakan bahwa sebetulnya ada permasalahan yang lebih penting dan substantif dalam kondisi sekarang ini, dimana umat Islam juga harus ikut ambil bagian dalam upaya menanganinya. Dari pada ribut mengenai RUU APP, problem kemiskinan, kekerasan terhadap perempuan dan anak, pengangguran, dan adanya ketidakadilan stuktural seharusnya menjadi agenda perjuangan umat Islam, khususnya di Indonesia.

Menurut Novriantoni, di sinilah Islam liberal hadir dan mengambil peranan untuk memberikan sumbangsih pemikiran mengenai permasalahan yang menghinggapi umat Islam umumnya. Ia menegaskan bahwa Islam liberal muncul untuk menampilkan Islam yang tidak berlawanan dan atau memang sesuai dengan demokrasi. “Khususnya di Indonesia, paradigma Islam liberal digulirkan untuk menguatkan proses demokrasi yang mulai berkembang pasca kejatuhan pemerintahan otoriter Soeharto,” tandasnya.

Dalam dunia Islam masih terlihat adanya sikap menghakimi dan mencoba mengkafirkan yang lain, seperti dialami oleh Ahmadiyah dan Salman Rushdi. Ia juga mensinyalir adanya gerakan di Indonesia yang akan membawa negara ini menjadi sebuah pesantren state. Jika ini benar, maka akan timbul ketegangan-ketegangan yang lebih besar lagi, sebab masyarakat indonesia yang multikultur ini tidak bisa diseragamkan. Implikasi yang lebih luas adalah hancurnya konsepsi Bhinneka Tunggal Ika dan kehidupan demokratis yang diidamkan.

Tidak baru

Paradigma Islam liberal dalam agenda demokrasi (ataupun dimensi lainnya) seperti yang diungkapkan oleh Novri bukanlah hal baru dalam pergulatan pemikiran Islam, baik di Indonesia maupun negara lainnya. Islah dan Zakiyudin sama-sama berpandangan bahwa Islam liberal sudah menorehkan catatannya dalam sejarah dan menjadi dinamisator bagi perkembangan Islam pada umumnya.

Cuma, menurut Islah, Islam liberal yang kembali mencuat belakangan ini diawali oleh tulisan Ulil Abshar Abdalla di harian Kompas, empat tahun yang lalu. Sejak itu Islam liberal dan JIL (dimana Ulil bernaung) menjadi perbincangan dan mendapat sorotan tajam dari masyarakat. “Jadi Islam liberal itu bagaikan pisang goreng dengan rasa keju. Bahannya sama, cuma rasa dan aromanya saja yang dibikin lain.” “Yang dilakukan oleh teman-teman JIL itu sebenarnya hal yang biasa dalam pergulatan pemikiran Islam,” kata Islah.

Dosen STAIN yang novelnya dibuat menjadi film “Rindu Kami PadaMu” oleh Garin Nugroho ini mendasarkan argumennya pada sejarah Islam di tanah air. Di abad 17 terjadi pertarungan antara Hamzah Fansuri (tasawuf) dan Nurudin Al Raniri (Islam ortodoks). Pertarungan mereka hampir sama dengan apa yang dialami oleh JIL sekarang. “Teman-teman JIL masih enak. Dulu bukan hanya pengkafiran yang diterima, melainkan hampir semua buku-buku dibakar habis oleh Raniri,” kata Islah.

Menurut Zakiyuddin, dari segi etimologi, istilah, Islam liberal muncul pada tahun 1950-an. Kali pertamanya dikemukakan oleh Ali Asghar Fyzee, yang mengemukakan bahwa siapapun muslim yang mendekati Islam secara historis kritis maka dia disebut muslim liberal. Istilah ini bergulir dan menimbulkan banyak definisi. Seperti Leonard Binder dan Charles Kurzman. Kedua Islamolog Barat ini memiliki pendekatan berbeda. Binder mengatakan Islam Liberal adalah seorang yang berpikiran liberal dengan bingkai liberalisme Barat. Sementara itu Kurzman menganggap bahwa Islam liberal adalah bagian dari tradisi Islam.

“Salah satu kecurigaan di Indonesia adalah Islam liberal yang berkembang menggunakan logika Binder, yakni Islam liberal dianggap bagian dari tradisi liberalisme Barat. Padahal tokoh-tokoh Indonesia di era 70-an seperti Johan Effendi, Gus Dur, dan Cak Nur hanya memakai pendekatan modernisme untuk mengembangkan pemikiran Islam,“ ungkapnya.

Pergulatan pemikiran Islam adalah spiral sejarah yang akan berulang. Seperti yang dikatakan oleh Islah, bahwa yang pantas kita ambil adalah semangat untuk terus melakukan reinterpretasi Islam sesuai dengan jaman dan dengan tetap menghargai adanya perbedaan. Islam yang lahir dari peradaban teks dengan sendirinya membuat Islam memiliki banyak wajah, karena teks itu bebas untuk ditafsir. “Sebuah keniscayaan yang sulit dipungkiri atau diseragamkan”, tegasnya.[]

21/05/2006 | Diskusi | #

Komentar

Komentar Masuk (1)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Memangnya Anda ini orang yg paling pinter yaa....
-----

Posted by nur anto  on  06/02  at  01:06 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq