Islam Tanpa Fatwa Majelis Ulama - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Buku
09/05/2008

Islam Tanpa Fatwa Majelis Ulama

Oleh Novriantoni

Makanya, Manji tak habis pikir. Bagaimana mungkin umat Islam non-Arab yang 87 % harus terus menerus inferior dan menjadikan diri mereka satelit dari corak Islam-Arab yang 13 % saja dari total populasi muslim dunia? Di Indonesia, ironi itu kini nyata dari sikap Majelis Ulama Indonesia dan banyak kelompok Islam yang begitu peduli terhadap fatwa Saudi dan negara-negara OKI dalam perkara Ahmadiyah.

Judul : Beriman Tanpa Rasa Takut: Tantangan Umat Islam Saat Ini

Penulis : Irshad Manji

Penerjemah : Herlina Permata Sari

Penerbit : Nun Publisher, Jakarta

Cetakan : Pertama, April 2008

Tebal : 342 halaman

Jika di Arab Saudi, Pakistan, Afganistan, dan Nigeria, praktik Islam yang keras—Irshad Manji menyebutnya ”Islam padang pasir”—masih mendominasi karena kolaborasinya dengan tribalisme, secara sosiologis itu bisa dimengerti walau tak perlu terus dibiarkan. Tapi bagaimana mungkin itu berhasil diekspor ke Eropa dan Amerika Utara? Bagaimana dengan Asia Tenggara?

Itulah fakta yang tidak terlalu baru tapi cukup mencengangkan. Di Toronto, Kanada, Manji menyaksikannya. Ia tersentak: “Aku merasa mual. Apapun budaya di tempat kaum muslim hidup, baik budaya pedesaan maupun budaya digital, dan apapun generasinya, …Islam muncul sebagai sebuah agama tribal yang mengkhawatirkan. Kita memang memerlukan reformasi. Sungguh!” (hal. 74).

Manji menilai, perkembangan Islam dewasa ini bukanlah seperti pesawat yang terbang menuju zona aman toleransi dan hak-hak asasi manusia. Pesawat Islam telah dibajak! Kini ia terbang ke arah sebaliknya. Siapa yang membajaknya? Menurut Manji, dana petrodolar betul-betul sukses mengampanyekan corak Islam padang pasir agar diterapkan di banyak kawasan negeri muslim.

Proyek itu berhasil di Afganistan, Sudan, dan Pakistan. Manji pun kuatir arus itu merambah Asia Tenggara. “Budaya-budaya lokal diabaikan di daerah-daerah seperti Indonesia dan Malaysia, karena dianggap tak cukup islami (maksudnya, tidak cukup Arab),” kata Manji. Bagi Manji, “mereka yang jauh dari padang pasir secara umum tidak menentukan arah Islam dewasa ini. Arab Saudilah yang menentukan” (hal. 227).

Manji mungkin terlalu menggeneralisasi dan kurang akurat dalam soal ini. Tapi jikapun kurang akurat, rasanya tak mengapa mengaggap itu sebagai lonceng peringatan. Itu sebabnya, relevan mempertanyakan apa yang dilakukan kelas menengah di tiap negara muslim dalam membendung wabah global Islam jenis ini.

Di Pakistan, “kebanyakan kelas menengahnya membiarkan diri mereka ikut tenggelam ke dalam arus fundamentalisme yang kejam” (hal. 202). Mereka menghamparkan karpet merah untuk ekstremisme sembari mencampakkan Islam toleran yang digariskan pendiri negara mereka, Ali Jinnah. Hasil dan korbannya pun nyata.

Makanya, Manji tak habis pikir. Bagaimana mungkin umat Islam non-Arab yang 87 % harus terus menerus inferior dan menjadikan diri mereka satelit dari corak Islam-Arab yang 13 % saja dari total populasi muslim dunia? Di Indonesia, ironi itu kini nyata dari sikap Majelis Ulama Indonesia dan banyak kelompok Islam yang begitu peduli terhadap fatwa Saudi dan negara-negara OKI dalam perkara Ahmadiyah.

Padahal, jika lempang mengikuti konsideran Saudi, akan banyak hal yang haram dan dilarang di Indonesia. “Kelompok Syiah dalam ajaran resmi Wahabi, sah untuk dilenyapkan karena dianggap sebagai buah dari konspirasi Yahudi” (hal. 233). Apakah ormas-ormas Islam garis keras dapat hidup bebas di Indonesia jika kita konsisten menjiplak Saudi dan negara Arab lainnya?

Untuk itu, muslim Indonesia mesti bangga dengan corak Islam warna-warni kita, sembari menyatakan sikap ini: Berhentilah mendikte kami soal “Islam yang benar”, Syekh! Ini negara demokrasi; jangan lagi ajari kami bagaimana cara memperlakukan Ahmadiyah!

Pandangan Manji tentang reformasi Islam cukup unik walau agak sloganistis. Menurutnya, “Reformasi bukanlah memberitahu kaum muslim awam tentang apa yang tidak boleh dipikirkan. Reformasi adalah menggugah satu juta pemeluk Islam yang cerdas untuk berpikir” (hal. 83). Itulah yang dia harapkan dari umat Islam saat ini.

Kemampuan dan kepiawaian dalam melontarkan pertanyaan-pertanyaan kritis tentang Islam itulah yang menjadi kekuatan utama dan pesona buku ini. Di hadapan pertanyaan-pertanyaan kritis Manji, ulasan-ulasan tentang Islam dari figur-figur Islam yang tercerahkan sekalipun akan tampak apologetis, konyol, dan tidak berdasar.

Pertanyaan-pertanyaan brilian itu ditunjang riwayat hidup Manji yang menolak untuk menjadi ”robot religius” sejak dini. Dari umur belasan tahun, ia sudah terasah untuk berpikir kritis. Ia kagum terhadap ijtihad, etos berpikir bebas dalam Islam. Konsep itulah yang ia jabarkan dengan cara lebih praktis, jauh dari baluran teori. Misalnya dalam bentuk saran pemberdayaan ekonomi perempuan.

Menurut Manji, ”Operasi ijtihad dimulai dengan memberdayakan lebih banyak perempuan muslim untuk menjadi wirausahawan,” (hal. 248). Manji percaya, perdagangan dapat menumbuhkan independensi pada kaum perempuan serta membentuk kontrak-kontrak sosial yang lebih cair. Dia pun menegaskan bahwa ”media massa harus menjadi salah satu ujung tombak lain dari operasi ijtihad” (hal. 256).

Pada titik ini, tidak kita temukan teori ijtihad yang mendalam dari Manji. Mungkin dia sudah tak terlalu percaya akan teori-teori yang njelimet tentang ijtihad. Sebab ijtihad pun sesungguhnya sudah lama membeku dan ”itulah yang tepat diinginkan kaum fundamentalis” (hal. 228). Karena itu, syarat ijtihad Manji amat longgar. Kita hanya butuh lebih peka akan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan. “Dengar, kita tidak harus menjadi ulama untuk bisa berijtihad. Yang harus kita lakukan adalah mengekspresikan secara terbuka pertanyaan-pertanyaan kita mengenai Islam” (hal. 124).

Bagi Manji, “Islam memiliki potensi untuk menjadi agama yang bijaksana dan manusiawi. Adalah kita umat Islam yang harus memiliki keberanian untuk berubah” (hal. 31). Tepat pada dorongan agar Islam beradaptasi dengan hal yang baik-baik itulah inti dari kritik Manji terhadap Islam di buku ini. “Kalaupun Islam memang fleksibel, maka ia mestinya bisa beradaptasi dengan hal-hal yang baik, dan bukan untuk hal-hal yang buruk, bukan?” (hal. 63).

Saya membayangkan, Islam yang diinginkan Manji adalah Islam tanpa fatwa majelis ulama. Jika banyak orang yang sudah berpikiran kritis dan cerdas seperti Manji, bukankah kita tak perlu lagi lebih banyak fatwa?!

09/05/2008 | Buku | #

Komentar

Komentar Masuk (35)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

kita tidak bergantung denga otoritas Arab Saudi tetapi perlu diingat bahwa kesepakatan pandangan itu lebih bauk. selain itu ulama itu masih dibutuhkan oleh umat Islam ,karena merekalah yang mengetahui perkara Islam yang lebih baik!so jangan suka mentafsir agama versi sendiri.

Posted by sapi'i  on  11/02  at  04:15 PM

saya setuju bahwa kita tidak boleh menghilangkan budaya bangsa karena begitulah Tuhan menciptakan.
tapi saya juga tidak setuju hukum Tuhan di hilangkan.
bukankah hal tsb sama dengan menolak keputusan Tuhan itu sendiri sebaiknya bangsa indonesia mengamalkan sila 1 PANCASILA dengan menerima hukum Tuhan menurut agama dan kepercayaan masing masing sesuai dengan kitab sucinya.

Posted by yudo pratomo  on  08/11  at  10:56 AM

Yth. Sdr. Moon Child dan Bp. Soegana

Setelah saya baca seluruh artikel ini, saya kok ngga melihat ya pembahasan tentang Kristen, Keuskupan, Gereja Vatikan dan segala sesuatu yang ada kaitannya dengan Kristen atau Katholik.
Nah agar komentar tidak simpang siur, sebaiknya jangan kait-kaitkan dengan agama lain ketika yang dibahas di sini adalah khusus untuk Agama Islam dan Fatwa Ulama.
Yang ngga melihat ada korelasi antara keuskupan yang ada di hirarki Agama Katholik (bukan Kristen) dengan judul dan pembahasan artikel ini. Apalagi Bp. Soegana menyebut fatwa keuskupan. Aneh di telinga saya. Saya ngga pernah mendengar istilah ini. Yang ada adalah Surat Gembala yang dikeluarkan oleh Uskup. Dan ini tidak ada kaitan dengan Dosa atau salah jika tidak melaksanakan apa yang tertulis dalam surat gembala tersebut.
Karena tidak ada kaitannya sama sekali, saya berharap yang memberikan komentar di forum-forum seperti ini tetap fokus pada artikel yang dikomentari, tidak malah melebar ke arah yang ngga jelas arahnya.
Ini tanggapan dan usulan saya, dan kalau ada yang salah saya mohon maaf. Terima Kasih.

Posted by Wirahadi  on  07/24  at  01:40 PM

Yth. Bp. Soegana dan Moon Child

Setelah saya baca artikel yang anda komentari, rasanya di situ tidak ada pembahasan tentang kristen atau keuskupan. Bahkan anda berdua pun juga salah ketika mempersepsikan keuskupan dengan kristen. Keuskupan itu institusi yang dimiliki oleh Agama Katholik bukan Agama Kristen. Maaf kalau saya terpaksa harus memberi koreksi.
Saya sebagai pemeluk agama Katholik Roma hanya memohon, ketika anda membicarakan atau mendiskuiskan masalah agama anda (Islam), tidak usahlah membawa-bawa agama lain, dalam hal ini kristen yang anda persepsikan bisa sebagai Katholik juga sekaligus bisa Kristen. Kalau sikap ini terus dikembangkan, justru diskusinya melenceng dari semula, malah terkesan mengadili agama lain yang ngga ada sangkut-pautnya.
Saya menulis ini bukan karena marah atau tersinggung, tetapi hanya ingin meluruskan konteks kajian yang sedang didiskusikan. Kecuali kalau suatu saat ada penulis di website ini yang ingin mengulas khusus tentang apa itu Agama Kristen, apa itu agama Katholik, siapa itu Yesus Kristus, itu silahkan komentari dengan sesuatu yang ada hubungannya dengan Kristen atau Katholik.
Juga yang perlu saya luruskan, saya sudah sejak kecil menjadi orang Katholik belum mendengar ada fatwa keuskupan. Yang saya dengar dan ketahui adalah Surat Gembala. Anda juga perlu tahu Surat Gembala bukan sebuah pemaksaan yang diancam dengan DOSA, tetapi lebih kepada salah satu tuntunan hidup kepada umat. Ya terserah umatnya mau mengikuti atau tidak, toh umatnya sendiri yang akan mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Yang ada dalam tradisi Agama Katholik adalah Konsili yang dikeluarkan oleh Vatikan. Konsili pun dikeluarkan setelah melalui perdebatan dan diskusi yang sangat-sangat panjang oleh pada Uskup seluruh dunia dan melibatkan banyak ahli Gereja.
Terima kasih dan mohon maaf jika ada kata-kata atau kalimat saya yang menyinggung perasaan Anda. sekali lagi saya mohon maaf.

Posted by Terto Wirahadi  on  07/16  at  11:25 AM

sorrry 4 moslim2 yg baik. gw pikir moslim itu jelek semua pikirannya. setelah gw baca ini. gw berpendapat bhw Tuhan masih berperan pada umat moslim. God Bless You(moslim2 yg baik)…

Posted by dunst  on  06/17  at  04:15 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq