Kita Dai Bukan Kadi - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Editorial
12/03/2006

Kita Dai Bukan Kadi

Oleh M. Guntur Romli

Kita Dai bukan Kadi (Du’ât Lâ Qudlât), demikian judul dari risalah tipis yang ditulis tahun 1969 oleh Hasan Hudhaibi, seorang kadi Mesir yang kemudian menjadi Mursyid Ikhwanul Muslimin (IM) kedua, setelah Hasan Al Banna wafat. Secara khusus risalah ini menyeru jamaah IM kembali ke khittah, sebagai gerakan para juru-dakwah bukan para pendakwa.

Bagi saya Islam adalah agama dakwah, bukan dakwa. Dakwah adalah ajakan, sementara dakwa berarti tuduhan. Mengajak dan membagi jalan kebenaran menjadi pekerjaan seorang dai, yang lahir karena keuletan dia menegakkan misi, bukan hasil audisi, atau kontestasi. Sementara mengurusi kesalahan, tuduhan, hingga penghakiman adalah tugas seorang kadi.

Kita Dai bukan Kadi (Du’ât Lâ Qudlât), demikian judul dari risalah tipis yang ditulis tahun 1969 oleh Hasan Hudhaibi, seorang kadi Mesir yang kemudian menjadi Mursyid Ikhwanul Muslimin (IM) kedua, setelah Hasan Al Banna wafat. Secara khusus risalah ini menyeru jamaah IM kembali ke khittah, sebagai gerakan para juru-dakwah bukan para pendakwa. Sewaktu Hasan Hudhaibi menjabat, IM menunjukkan paras yang menyeramkan; mudah mengkafirkan, terlibat aksi-aksi kekerasan, dan asyik-masyuk merebut kekuasaan. Untuk membendung arus tersebut, lahirlah fatwa Hudhaibi ini.

Ketika Hasan Al Banna mendirikan IM tahun 1926, ia murni bertujuan dakwah. Ia menggelar dakwahnya dari pojok kafe-kafe di Isma’iliyah, bukan dari pojok masjid-masjid. Kafe adalah tempat berkumpulnya masyarakat kelas biasa, yang sering dituding tidak saleh. Karena mereka tidak saleh, maka perlu disalehkan, bukan melulu disalahkan; inilah kesadaran awal Al Banna.

Sedangkan umat yang rajin ke masjid tak perlu dijejali dakwah. Terlebih lagi waktu itu, para syekh yang berjenggot, bersorban, dan bertasbih bukan rajin memberi pengajian, tapi mengumbar cacian dan hujatan terhadap pihak-pihak yang bersebrangan. Masjid bukan lagi sekadar tempat bersujud, tapi menghasut. Malangnya, fenomena ini diwariskan hingga saat ini.

Syahidnya Hasan Al Banna 12 Pebruari 1949 murni di medan politik. Aktivitas kelompok ini bergeser dari gerakan dakwah ke gerakan pendulang suara mulai tahun 30-an hingga akhir 40-an. Saat itu, IM tidak sekadar partai politik yang memiliki konstituen sipil, tapi juga membangun dinas rahasia (tandzîm sirrî) yang berbedil. Bagi penguasa kala itu, IM adalah ancaman. Mereka dituduh membangun negara dalam negara. Tarik menarik kekuasaan itu memantik permusuhan, pembekuan, dan pembunuhan!

Dalam kondisi itu, Sayyid Qutb bergabung IM. Sebagai bentuk perlawanan terhadap rezim kekuasaan, ia menulis Ma’âlim fi al-Tharîq (Rambu-rambu Jalan) sebelum ia digantung tahun 1966. Buku ini membajak ideologi IM dari Bannaisme yang moderat menjadi Qutbisme yang ekstrem. Buku Qutb berpijak pada prinsip al-hâkimiyah (Kedaulatan Allah). Bagi yang menerima prinsip ini, ia beriman, dan bagi yang menolaknya ia kafir. Buku itu adalah risalah dakwa bukan dakwah, menjadi standardisasi golongan yang beriman agar dilindungi, dan golongan yang kafir agar diperangi. Dan Qutb lebih terpengaruh ide Abul A’la Mawdudi, godfather JI di Pakistan, bukan ide-ide Hasan Al Banna yang pendiri IM.

Risalah Hudhaibi ini ingin membantah buku Qutb secara tidak langsung. Letak persoalan besar Qutb adalah kejahilannya terhadap sejarah awal dakwah IM yang moderat, jauh sebelum Qutb bergabung. IM bukan gerakan pengkafiran. Bagi Hudhaibi juga, umat jangan cepat dihakimi, karena ada tiga kedaifan umat, yaitu kejahilan (al-jahl), kesalahan (al-khatha’) dan paksaan (al-ikrâh). Seseorang yang dibekap tiga persoalan tadi tidak bisa dihukumi, apalagi dijatuhi fatwa mati. Inilah tugas dai memberi bimbingan. 

Bagi saya, tiga persoalan utama yang dilontarkan Hudhaibi tadi, perlu dikembangkan. Jika persoalannya adalah kejahilan, maka perlu pencerahan. Tradisi ijtihad adalah jaminan kesalahan, dan jalan menuju kebenaran, sementara kebebasan adalah jawaban agar seseorang tidak meringkuk dalam keterpaksaan. Inilah tantangan dai dan medan dakwah ke depan, tidak sekedar membimbing, tapi juga membangun tradisi ijtihad dan jihad kebebasan. Sedangkan menghakimi adalah tugas kadi, sementara kita dai, bukan kadi. []

12/03/2006 | Editorial | #

Komentar

Komentar Masuk (6)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Jaga akhlak dengan tidak menebarkan kebencian dan selalu kasih sayang dengan mengikis habis penyakit hati. Itulah yang harus dilakukan dalam menyikapi perbedaan. Mudah-mudahan indah dunia ini buat siapapun; mau Yahudi, Nasrani, Wahabi, ataupun yang liberal. Yang penting menjaga akhlak dan menbuang penyakit hati. Siapapun yang berkeyakinan, yakinkan itu pilihan akhir dengan terlandasi alasan yang baik. Jika tidak, siap-siaplah menjadi katak dalam tempurung.
-----

Posted by ade ws  on  03/16  at  03:04 AM

Teman-teman harokah (pengajian di kampus2) yg sekarang jadi PKS sering mengklaim diri terilhami dari IM. Yg saya heran mengapa PKS bercorak wahabian ketimbang moderat? Padahal mereka mengaku dan bangga penerus perjuangan IM.

Saya tak melihat aktivis dak’wah PKS semoderat seperti gambaran Hasan al Banna. Malah yg terlihat sikap beragamanya lebih condong ke wahabian yg ketat dan kaku. Citra yg menempel ke PKS ini tentu saja membiaskan citra IM yg sesungguhnya. Atau boleh jadi aktivis PKS lebih mengadopsi nilai-nilai quthubisme dan menempelkan hasan al banna sebagai sekedar simbol.

Posted by hari permadi  on  03/15  at  07:03 PM

Bung Romli (saya suka memanggil Anda dengan ini) secara tidak langsung atau tidak sadar telah menjadi ‘kadi’. Pemikirannya tentang pluralisme selalu (always, almost) ‘menyalahkan’ pendapat kaum konservatif (istiqomah lebih tepatnya) atau pendapat pemikir Islam lain yang berbeda yang berhujah kepada Qur’an dan Sunnah.

Sadarlah Bung, bahkan kaum liberal pun tidak berhak menghujat MUI ‘penganjur terorisme’ dan ulama sebagai ‘preman berjubah’. Kenapa? Anda tida tahu kan mana yang paling benar di mata Allah. Apakah Anda ataukah “mereka”, karena kebenaran hakiki di ‘tangan’ Allah. Apa hak Anda menghakimi ‘mereka’? Tidak ada hak Bung! Malu dong, udah dapat ‘pencerahan’ tapi sedikit-2 menyalahkan pemikiran ‘orang’ lain.

Sebenarnya tak ada yang salah dengan pemikiran Sayyid Quthb, sebab Sayyid Quthb di antaranya mengajak agar umat Islam menggali “petunjuk jalannya” dari sumber orisinil, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW, karena keduanya merupakan “sumber Rabbani” yang diturunkan oleh Allah SWT. Kedua sumber inilah yang telah berhasil memunculkan suatu generasi yang tidak ada tandingannya sepanjang sejarah, yaitu generasi sahabat r.a..

Sayyid Quthb hanyalah seorang dengan ide-ide yang revolusioner. Pada hari Senin, 13 Jumadil Awwal 1386 atau 29 Agustus 1966 beliau dan dua orang temannya (Abdul Fatah Ismail dan Muhammad Yusuf Hawassy) syahid di tali tiang gantungan.

Terimakasih kalau Anda mau memuat komentar ini demi demokrasi.

Posted by Budi  on  03/15  at  12:04 AM

Yang perlu difahami adalah bahwa setiap muslim pada hakikatnya adalah du’aat (penda’wah), sehingga ungkapan “Kalau para da’i tidak mau disebut kedi, beranikah mereka merubah pola dakwa” seperti yang mas tulis sebetulnya tidaklah pas. Jika mas ingin merubah “para da’i itu” seperti yang anda dan kang Romli tuduhkan, sebaiknya itu dimulai dari dalam diri mas, sebab mas juga sejatinya seorang da’i. Namun seperti juga “para da’i itu”, mas dan kang Romli ikut-ikutan menjadi Qadi, dengan menuduh “mereka” sebagai :

1. Pengguna ayat-ayat al-Qur’an dan hadith Nabi untuk mendakwa orang bersalah, berdosa, dan menyimpang dari agama yang mereka anggap asli

2. pengumpul suara politik untuk kebesaran kelompok dan kepentingan agenda politik mereka.

3. Mereka gagal untuk mensalehkan orang yang ‘salah’ yang jarang atau tidak pernah ke masjid.

Posted by mohamad ishaq  on  03/14  at  11:04 PM

Saya mengucapkan selamat berjuang menjadi Da’i sejati buat Om Guntur Romli, jangan jadi kadi yang bisanya hanya menyalahkan pihak lain yang berbeda bendapat dengan Anda, Okeh kita tunggu hasilnya. Semoga Sukses.

Posted by joko santoso  on  03/14  at  12:04 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq