Nabi Perempuan - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Editorial
25/10/2006

Nabi Perempuan

Oleh Abd Moqsith Ghazali

Namun, setelah saya cek ke sejumlah kitab, ternyata status kenabian tak hanya dimonopoli kaum laki-laki. Ada juga nabi dari kalangan perempuan. Misalnya Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah (Juz II, hlm. 59) mengutip satu pendapat yang menyatakan bahwa tak tertutup pintu bagi hadirnya nabi perempuan.

Semua agama memiliki nabi atau rasul. Nabi biasanya dipandang sebagai seseorang yang ditunjuk oleh Tuhan untuk menyampaikan wahyu kepada seluruh umat manusia. Sejumlah buku menyebutkan bahwa jumlah nabi yang diutus Tuhan ke planet bumi ini tak kurang dari 124 ribu nabi. Dari ribuan nabi itu ada yang diketahui karena diceritakan melalui kitab suci, baik dalam Taurat, Zabur, Injil, maupun Alquran.

Konon, nama-nama nabi yang tercantum dalam kitab suci-kitab suci itu tak lebih dari 200-an orang. Dengan demikian, masih banyak nabi-nabi lain yang tak diketahui. Di antara mereka ada yang disebut nabi, dan mungkin sudah banyak yang menggunakan identitas dan nama lain seperti tuan, pangeran, pendeta, kiai, atau yang lainnya.

Allah berfirman dalam surat al-Nisa’ (4): 164, “Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul (nabi-nabi) yang telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tak akan Kami ceritakan tentang mereka kepadamu.”

Para nabi itu tak menumpuk di satu kawasan, melainkan tersebar di pelbagai negeri dan bangsa. Allah berfirman (al-Nahl [16]: 36), “Sungguh telah Kami utus seorang rasul bagi tiap-tiap umat..” Allah juga berfirman (al-Ra’d [13]: 7), “bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.” Dalam surat Fathir (35): 24 Allah berfirman wa in min ummatin illa khala fiha nadzir. Bahwa tak satu umat pun yang vakum dari seorang pemberi peringatan.

Al-Qurthubi dalam al-Jami’ li Ahkamil Qur`an (Jilid VII, hlm. 618) menyatakan bahwa nadzir dalam ayat itu berarti seorang nabi. Ayat ini juga, menurut Qatadah sebagaimana dikutip Thabari dalam Jami’ al-Bayan fiy Ta`wil al-Qur`an (Jilid X, hlm. 408), menunjukkan bahwa para rasul itu memang menyebar ke seluruh bangsa-bangsa. Kullu ummatin kana laha rasul (setiap umat memiliki rasul).

Dengan logika ini, kita bisa menyatakan bahwa dahulu pun mungkin saja pernah lahir seorang nabi di kepulauan Indonesia. Bahkan, bukan hanya satu. Boleh jadi telah lahir beberapa nabi dari bangsa ini. Dari Palestina—sebagaimana terekam dalam kitab suci—telah lahir sejumlah Nabi. 

Akan tetapi, kebanyakan mufasir Islam bersepakat bahwa nabi itu hanya terdiri dari laki-laki. Ibnu Qasim al-Ghuzzi (w. 918), pengarang kitab Fathul Qarib, menyatakan bahwa nabi adalah seorang laki-laki yang diberi wahyu oleh Allah. Dengan pengertian ini, jelas tak ada nabi perempuan. Yang ada hanya nabi laki-laki.

Namun, setelah saya cek ke sejumlah kitab, ternyata status kenabian tak hanya dimonopoli kaum laki-laki. Ada juga nabi dari kalangan perempuan. Misalnya Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah (Juz II, hlm. 59) mengutip satu pendapat yang menyatakan bahwa tak tertutup pintu bagi hadirnya nabi perempuan. Dikemukakan bahwa Maryam atau Bunda Maria adalah salah seorang nabi. Perempuan lain yang diangkat menjadi Nabi, menurut pendapat ini, adalah Sarah (ibu Nabi Ishaq, isteri Nabi Ibrahim), dan ibu Nabi Musa.

Ulama yang berpendapat demikian misalnya bersandar pada ayat Alquran, wa awhayna ila ummi musa an ardhi’ihi fa idza khifti ‘alaihi, fa alqihi fi al-yamm (telah Kami wahyukan kepada ibu Musa; susukanlah dia, dan apabila kamu khawatir kepadanya maka lemparkanlah ia ke dalam sungai (Nil).

Bagi ulama tersebut, wahyu hanya terjadi pada diri seorang nabi. Oleh karena itu, perempuan yang mendapatkan wahyu adalah seorang Nabi. Saya menyertai ulama tersebut; bahwa wahyu bukan hanya turun kepada laki-laki, melainkan juga terhadap perempuan. Alquran telah menunjukkan bahwa Tuhan tak melakukan diskrminasi jenis kelamin dalam perkara pewahyuan sekaligus penabiaan.

25/10/2006 | Editorial | #

Komentar

Komentar Masuk (35)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

sememangnya kita tahu nabi bilangannya bnyak ..tetpi yang wajib diketahui adalah 25....seramai man sekali pun nabi yang wujud....hanya nabi Muhammad SAW adalah yang terakhir dan tidak akan ada lagi nabi dan rasul selepasnya.....kemunculan khabar angin tentang ada lagi nabi selepas nabi Muhammad SAW adalah salah satu tanda besar bagi kiamat...wslm

Posted by architect student  on  09/07  at  08:15 AM

Bukankah Islam melanjutkan risalah Musa dan Isa? Umat Yahudi punya nabi perempuan (Sarah, Rebecca, Rachel, Miryam, Deborah, Hanna, dll), Umat Kristen punya santa (Maria, Klara, Brigid, ), umat Islam?!

Bahkan umat Hindu saja punya dewi-dewi, dan umat Buddhist punya deretan buddha perempuan.
Islam gak sama dengan Arab dan Onta. Kalo orang Arab suka merendahkan perempuan, jangan suruh semua orang Islam ngikutin. Cih!

Posted by lily  on  03/13  at  05:12 PM

Inna Lillahi Wa inna ilaihi Raji`un
Semua makhluk Tuhan akan MATI. Sadarlah semua, sebelum datang kepedihan nyata saat nyawa tercerabut dari urat-urat kita....

Posted by Zuhel al-Jilly  on  03/03  at  06:50 AM

Aku kagum dengan pendalaman kawan dalam hal pengkajian literasi keIslaman. Anda coba membuka berbagai sumber yang dapat dijadikan acuan untuk kebenaran pendapat anda, meski terkesan sofistri. Namun, dari tulisan anda, masti kita coba kaji lagi makna Nabi itu sendiri dalam konteks Islam. Bukan itu saja! Kita juga harus secara holistik mengkaji mengapa Tuhan menciptakan manusia, siapa manusia, siapa laki-laki, siapa perempuan dan kedudukan mereka seperti apa. Jadi kita harus membicarakannya secara holistik, jangan hanya berkutat pada ayat-ayat atau hadist mengenai Nabi saja.
Dan akhir kata, kita harus berbaik sangka, sebagai umat muslim, karena kita yakin tidk akan mulia orang yang Tuhan hinakan dan Tuhan itu Maha Penguasa Hari Pembalasan. Ingat roh itu ada! Plato dan Hegel sependapat dengan dualisme manusia! Filsuf yang ga pernah baca Quran aja bicara sepeti itu? Dan mereka bukan orang Hizbut Tahrir atau orang dari anggota keIslaman lain.
Hidup kebebebasan berpendapat!

Posted by gunk  on  11/12  at  07:48 PM

Sebenarnya untuk apa diperdebatkan?. Dalam Al Quran, isteri Adam As. saja tidak pernah disebut dengan tegas namanya, Hawa. Sebaliknya, ada juga wanita yang disebut dan diabadikan dalam Quran, seperti Bunda Maryam. Ternyata, beliau ini pun ‘tidak’ diberi gelar sebagai nabi!. Karena, penganugerahan gelar atau jabatan khalifah, rasul dan nabi di dalam Al Quran, merupakan kewenangan sepenuhnya Tuhan, Allah SWT. Lalu, Apa perlunya dipermasalahkan kok ‘perempuan’ atau wanita di dalam Al Quran tidak ada yang mendapat anugerah sebagai ‘nabi’ atau ‘rasul’?. Pentingkah bagi kita masa kini???

Posted by Elfizon Anwar  on  10/25  at  03:56 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq