Nabi pun Setia Monogami - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Wawancara
01/06/2003

Faqihuddin Abdul Kodir, MA: Nabi pun Setia Monogami

Oleh Redaksi

Rekaman sejarah jurisprudensi Islam sebenarnya telah lama mematahkan argumen yang sering diyakini oleh kalangan propoligami bahwa “poligami itu Sunnah Nabi Saw.” Usaha mencari justifikasi teologis poligami seringkali dipaksakan, meski Q.s an-Nisa: 3 jelas menunjukkan kemustahilan berlaku adil ketika berpoligami. Tapi, anehnya, kalangan propoligami tetap percaya bahwa poligami turut menentukan tolok ukur keislaman seseorang.

Rekaman sejarah jurisprudensi Islam sebenarnya telah lama mematahkan argumen yang sering diyakini oleh kalangan propoligami bahwa “poligami itu Sunnah Nabi Saw.” Usaha mencari justifikasi teologis poligami seringkali dipaksakan, meski Q.s an-Nisa: 3 jelas menunjukkan kemustahilan berlaku adil ketika berpoligami. Tapi, anehnya, kalangan propoligami tetap percaya bahwa poligami turut menentukan tolok ukur keislaman seseorang.

Berikut petikan wawancara Ulil Abshar-Abdalla dengan Faqihuddin Abdul Kodir, MA, dosen STAIN Cirebon dan alumnus fakultas Syariah Universitas Damaskus, Suriah, pada 29 Mei 2003:

ULIL ABSHAR-ABDALLA: Anda cukup punya perhatian terhadap masalah perempuan pada umumnya dan poligami khususnya. Seserius apakah masalah poligami ini di masyarakat?

FAQIHUDDIN ABDUL KODIR: Cukup serius. Kalangan propoligami seringkali menyandarkan argumennya pada pemahaman yang salah atas nash Alquran dan hadis. Slogan-slogan seperti “poligami itu Sunnah” dan “poligami itu membawa berkah” sering mereka pakai. Sebetulnya tidak terlalu tepat kalau dikatakan bahwa Islam punya dalil untuk membolehkan poligami. Sebaliknya, kita juga punya dalil --dalam artian teks—yang membicarakan masalah itu.

Dalam tulisan saya di Kompas (13 Mei 2003) berjudul  Benarkah Poligami Sunah..? saya mengatakan bahwa persoalan poligami dan monogami adalah persoalan parsial atau persoalan konteks belaka. Sementara dalam fikih ada beragam padangan soal itu.

Saya membaca lagi kitab Al-Hidâyah karangan Al-Murhinani, seorang ulama dari mazhab Hanafi, bahwa ada suatu saat poligami bisa diharamkan. Pandangan tersebut misalnya, dapat disimak dari Imam Al-Syafii dalam Ar-Risalah-nya. Dia pernah mengatakan, seorang laki-laki merdeka diharamkan berpoligami dengan seorang amat, budak perempuan. Sebab apa? Dikhawatirkan, nanti akan terjadi kerusakan pada keturunannya. Anak seorang budak, nasibnya saat itu akan menjadi budak juga. Artinya, dalam fikih selalu ada  kemungkinan bahwa antara poligami atau monogami, dalam konteks tertentu, salah satunya justru malah lebih diunggulkan.

ULIL: Selama ini orang yang berpoligami mengambil landasan dari ayat Alquran. Bagaimana menjawab argumen seperti ini?

FAQIHUDDIN: Sebenarnya kalau mau jujur, dalam Alquran ada tiga poin yang terkaitan dengan poligami. Yang pertama, anggaplah semacam memberi kesempatan untuk poligami. Kedua, peringatan atau warning agar belaku adil: fain khiftum allâ ta‘dilû fawâhidah (kalau engkau sangsi tidak dapat berlaku adil, satu sajalah! -Red). Ketiga, ada ayat yang mengatakan, walan tashtatî’û ‘an ta’dilî bainan nisâ’ wain harashtum. Artinya, kamu sekalian (wahai kaum laki-laki!) tidak akan bisa berbuat adil antara isteri-isterimu, sekalipun engkau berusaha keras.

Ini artinya, kalau kita melakukan komparasi atas berbagai ayat, kesimpulannya adalah satu ayat membolehkan poligami, sementara dua ayat justru (seakan-akan) menafikan terwujudnya syarat pokok berpoligami: masalah keadilan. Intinya, dua ayat justru mengekang poligami. Kalau kita menggunakan proporsi seperti tadi, akan dihasilkan perbandingan dua ayat banding satu. Dan ingat, satu-satunya ayat yang seakan membolehkan poligami, yaitu Qs An-Nisa: 2-3, konteksnya adalah perlindungan terhadap yatim piatu dan janda korban perang.

ULIL: Bagaimana dengan dalih meneladani praktik Nabi Saw?

FAQIHUDDIN: Kalau kita bicara tentang praktik Nabi, ketahuilah Nabi itu menjalani bahtera rumah tangga lebih dari 30 tahun. Tapi selama 28 tahun Nabi setia dengan praktik monogami. Dan hanya delapan tahun dia melakukan poligami. Kalau kita menggunakan proporsi waktu juga, maka anggapan bahwa poligami adalah Sunnah itu lucu juga. Alasannya, jika memang dianggap sunah, mengapa Nabi tidak melakukannya sejak pertama kali berumah tangga? Bahkan, praktik monogami Nabi yang sangat lama itu dilakukan di tengah situasi sosial masyarakat Arab yang menganggap poligami itu lumrah.

Jadi jelas Nabi lebih bahagia dan sukses ketika menjalani kehidupan monogami. Ingat, betapa berdukanya Nabi setelah wafatnya Khadijah, isterinya beliau satu-satunya dalam praktik monogami. Bahkan, tahun itu (kesepuluh kenabian) disebut juga sebagai amulhuzn (tahun duka cita, Red). Baru dua tahun sepeninggal Khadijah, Nabi berpoligami. Itu pun dijalani sebentar saja.

Selain itu, perlu diingat kasus Nabi melarang Ali bin Abi Thalib melakukan poligami yang berarti memadu putrinya, Fatimah. Itu dikisahkan dalam hadis sahih, dan diriwayatkan, di antaranya oleh Bukhari dan Muslim dalam kitab sahih mereka. Juga diriwayatkan oleh ulama hadis terkemuka seperti Turmudzi dan Ibn Majah.

ULIL: Artinya, secara subjektif Nabi tidak suka anaknya dimadu?

FAQIHUDDIN: Ya, Nabi  marah besar ketika mendengar putri beliau, Fatimah, akan dipoligami Ali. Nabi pun langsung masuk ke masjid, naik mimbar dan berkhutbah di depan banyak orang: Beberapa keluarga Bani Hasyim bin al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk mengawinkan putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Sabda Nabi: “innî lâ ‘âdzan, (saya tidak akan izinkan), tsumma lâ ‘âdzan (sama sekali, saya tidak akan izinkan), tsumma lâ âdzan illâ an ahabba ‘ibn Abî Thâlib an yuthalliq ‘ibnatî, (sama sekali, saya tidak akan izinkan, kecuali bila anak Abi Thalib (Ali) menceraikan anakku dahulu). Lalu Nabi melanjutkan, Fâthimah bidh‘atun minnî, yurîbunî mâ ‘arâbahâ wa yu’dzînî mâ ‘adzâhâ, Fatimah adalah bagian dari diriku; apa yang meresahkan dia, akan meresahkan diriku, dan apa yang menyakiti hatinya, akan menyakiti hatiku juga  (Jâmi’ al-Ushûl, juz XII, 162, nomor hadis: 9026). Akhirnya Ali bin Abi Thalib tetap bermonogami sampai Fatimah wafat.

ULIL: Hadis tersebut jarang sekali disiarkan?

FAQIHUDDIN: Ya. Itulah ironisnya. Ada distorsi yang dilakukan kalangan propoligami. Ketika kita membuka kitab-kitab hadits semacam Majâmi‘ Al-Ushûl, kumpulan enam kitab hadis terbesar–misalnya—akan ditemukan tiga klasifikasi tentang poligami. Pertama, ada pembatasan. Alkisah, ada sahabat yang kawin dengan sepuluh orang, lantas Nabi menganjurkan untuk menceraikan selain empat orang. Itulah yang dilakukan Nabi pada Ghilan bin Salamah ats-Tsaqafi, Wahb al-Asadi, dan Qais bin al-Harits. Kedua, ada hadis tentang moralitas poligami. Dalam hadits ini, disebutkan kalau orang yang melakukan praktik poligami harus adil, tidak berlaku aniaya atas dua isteri; kalau berbuat aniaya diancam siksa neraka. Ketiga, perilaku Nabi dalam berpoligami.

Coba lihat kitab Imam Ibn al-Atsir (544-606H), kita temukan bukti bahwa poligami Nabi adalah media untuk menyelesaikan persoalan sosial saat itu, ketika lembaga sosial yang ada belum cukup kukuh untuk solusi. Sebagian besar yang dinikahi Nabi adalah janda-janda yang ditinggal  mati suaminya ketika berjihad, kecuali Aisyah binti Abu Bakr.

Jadi anjuran --baik dari Alquran atau hadis-- yang menyebut poligami sebagai sesautu yang baik tidak ada sama sekali. Karena itu, pandangan yang beredar di masyarakat, seperti kasus Puspowardoyo atau Drs. Muhammad Thalib yang menulis buku Tuntunan Poligami dan Keutamaannya kurang tepat. Mereka jelas-jelas menganjurkan, bahkan menganggapnya perintah. Dalam pandangan mereka, orang yang berpoligami lebih baik daripada yang monogami (Rhoma Irama yang berpoligami juga berpendapat demikian, Red). Bahkan disebutkan bahwa poligami akan menambah rezeki, memberi peluang masuk surga lebih banyak. Ini lucu sekali!

ULIL: Apa isi buku Tuntunan Poligami dan Keutamaannya itu?

FAQIHUDDIN: Poin paling utama dari buku itu mengatakan bahwa poligami adalah anjuran Islam, dan orang yang melakukan poligami lebih baik dari orang yang melakukan monogami. Sebetulnya, perkataan ini bukan berdasarkan Alquran dan hadis, tapi garis besarnya dari perkataan Ibn Abbas yang berbunyi, tazawwaj fainna khaira hâdzi al-ummah aktsaruhâ nisâ’an. Dia mengatakan itu kepada temannya, Said bin Zubeir: “Kawinlah! karena sungguh sebaik-baiknya umat Islam adalah yang banyak isterinya”. Ini sesuai dengan terjemahan buku itu.

Padahal, kalau kita membahas artinya, akan banyak sekali terjemahan yang tidak pas. Tapi, taruhlah terjemahan dia benar, maka masalah (yang tersisa) ini adalah perkataan Ibnu Abbas, seorang sahabat.

Tidak semua ulama mengatakan perkataan sahabat sebagai hujjah atau sesuatu yang bisa dijadikan argumen agama yang valid. Imam Syafi’i misalnya, mengatakan bahwa mazhabus shahâbah, laisat bihujjatin muthlaqah, perkataan sahabat itu bukan dalil sama sekali. Kalau Imam Hanafi lain lagi. Dia masih mengatakan, wain khâlafahul qiyâs fainnahu hujjah, wain lam yukhâlif, fahiyâl hujjah. Artinya, kalau bertentangan dengan analogi (qiyâs), maka bisa dianggap sebagai hujjah, khususnya kalau dalam bidang akidah. Sebab, bagian akidah dalam agama tidak bisa dilandaskan pada analogi. Selagi berbicara masalah keimanan, azab kubur, dan lain-lain, perkataan sahabat bisa dijadikan sebagai argumen. Tapi kalau bicara tentang sesuatu yang ada analoginya, maka dia tidak bisa dijadikan hujjah, karena masing-masing akan punya analogi; sahabat punya, tabi’in juga punya.

Jadi menurut Hanafi, pendapat sahabat bisa dijadikan sandaran dalam masalah akidah. Tapi kalau berkaitan dengan muamalah dan kehidupan sehari-hari justru tidak bisa. Masalah poligami termasuk dalam masalah kehidupan sosial (muamalah), sehingga perkataan sahabat tak bisa dijadikan sandaran.

ULIL: Tapi dalam literatur fikih kita selama ini, soal poligami dianggap sebagai praktik agama yang legal dan sah-sah saja. Kenapa formulasi fikih bisa seperti itu?

FAQIHUDDIN: Kita harus pahami kalau fikih ditulis di masa lalu, di mana posisi perempuan dan daya tawarnya sangat lemah. Tak banyak orang yang menyuarakan kepentingan perempuan. Jadi ketika mereka berbicara tentang keadilan, jarang sekali yang berbicara dari perspektif kaum perempuan.

ULIL: Kitab-kitab fikih juga kebanyakan ditulis oleh laki-laki?

FAQIHUDDIN: Itu salah satu poin juga. Tapi ada suatu masa di mana ada sekitar 9900 ahli hadis perempuan. Tapi begitu masanya makin ke belakang, justru yang terjadi sebaliknya. Mereka tinggal beberapa orang saja, bahkan kita tidak mengenal seorang ulama perempuan dalam bidang fikih. Kalau tasawuf kita mengenal Rabiah al-Adawiyah, tapi dalam hal fikih, kita tidak mengenal satu orang pun. Ini salah satu persoalan mengapa faktor advokasi perempuan kurang banyak dilakukan.

ULIL: Pengaruhnya sampai kini juga masih terasa. Juru dakwah, ulama  atau cendekiawan dari kalangan perempuan juga sangat sedikit jumlahnya?

FAQIHUDDIN: Itulah kenyataannya. Selama ini yang mengalami ketidakadilan adalah perempuan. Makanya, monogami atau poligami merupakan persoalan parsial atau partikular saja. Analoginya, kita boleh mencatat atau tidak mencatat hutang-piutang. Itu persoalan pilihan saja. Sementara yang prinsip dalam Islam adalah nilai keadilan. Artinya, masing-masing pihak, baik perempuan atau laki-laki, memperoleh hak mereka secara proporsional. Nah, ketika kita bicara prinsip, tentu saja kita harus kembalikan kepada realitas.

Masalah poligami itu terkait antara laki-laki dan perempuan. Pertanyaannya: sejauh mana keadilan diwujudkan melalui poligami. Kalau tidak terwujud, poligami bisa dilarang. Keadilan itu tidak hanya diterjemahkan oleh persepsi laki-laki semata. Selama ini, sering kali makna keadilan diterjemahkan satu arah saja. Itu tidak tepat. Agar tahu tentang keadilan, banyak yang perlu dilibatkan, terutama perempuan sebagai korban poligami. Lembaga penelitian/advokasi yang mencermati kasus-kasus poligami juga dapat diminta pendapatnya.

ULIL: Bagaimana bila ada perempuan yang menganggap poligami itu adil bagi dirinya?

FAQIHUDDIN: Kalau secara kasuistik, mungkin saja ada perempuan yang merasa adil. Tapi kita bicara secara sosial. Artinya, bicara fikih, maka kita bicara tentang apa yang sifatnya umum, bukan sesuatu yang sifatnya kasuistik. Sifat umum itu artinya sesuatu yang bisa diaplikasikan dan dirasakan banyak orang. Nah, dalam kaitannya dengan orang-per-orang, tentu harus dilakukan penelitian terlebih dahulu.

Saya kira, kalau kita bicara statistik secara sosial, praktik poligami akan lebih banyak mendatangkan bahaya. Itu sebetulnya sudah ditegaskan oleh banyak penulis, yang menurut saya, lebih jujur dibandingkan teman-teman kita yang mempromosikan poligami itu.

ULIL: Kalau perempuan tidak mau dimadu, bagaimana status mereka dalam kacamata fikih?

FAQIHUDDIN: Dari sisi fikih, perempuan yang tidak ingin dimadu punya hak. Dalam fikih ada syarat-syarat bagi laki-laki yang ingin melakukan poligami. Isteri boleh mengajukan syarat pada suaminya agar jangan sampai dimadu. Memang, ada beberapa ulama yang berpendapat bahwa syarat seperti itu tidak sah. Akan tetapi, ulama Hanafi dan Hanbali mengatakan bahwa perempuan diberi kesempatan untuk mengajukan keberatan agar tidak dimadu. Nah, ketika dia akhirnya dimadu, maka ada yang mengatakan, dia bisa cerai langsung atau mengajukan gugatan cerai. Maka, tidak tepat kalau ada yang mengatakan bahwa isteri yang menghalangi suaminya untuk berpoligami dilarang oleh agama seperti yang dikatakan Drs. Muhammad Thalib tadi.

Saya katakan dalam artikel saya, poligami adalah proses dehumanisasi perempuan. Perempuan yang dimadu banyak yang mengalami self-depreciation, penderitaan lahir batin luar biasa. Ada yang menganggap penderitaan itu bagian dari pengorbanan, takdir, atau menyalahkan dirinya sendiri sehingga membuat suaminya poligami. Kasihan sekali, bukan?

ULIL: Jadi ada reduksi atas ajaran Islam dengan menganggap bahwa ayat poligami adalah pengesah (poligami) dengan sendirinya, sembari mengabaikan kenyataan sosial dan pendapat ulama yang beragam dalam menafsirkan ayat tersebut. Menurut Anda?

FAQIHUDDIN: Ya. Inilah salah satu hal yang mendistorsi pemikiran atau perkembangan pemikiran fikih kita: ketika fikih dilihat dari satu pendapat saja dan yang lainnya tidak dianggap. Padahal, dalam fikih pandangan itu justru banyak dan mengikuti konteks sosial masing-masing ulama. Ketika berbicara bahwa poligami itu sunnah, mungkin itu hanya dilihat dari persoalan dan konteks di masa lalu. Jadi, sangat naif kalau fikih hanya meladeni satu pandangan saja.

ULIL: Kita tahu, Nabi beristeri sembilan. Tapi dalam kaidah fikih, ada hal yang tidak boleh diikuti dari Nabi. Bisa dijelaskan lebih lanjut?

FAQIHUDDIN: Itulah yang dinamakan dengan khushûsiyyât, atau spesifikasi yang dimiliki Nabi dan tidak dimiliki dan tidak boleh dituruti orang lain. Mungkin dalam hal ini termasuk masalah poligami juga. Tentang klaim bahwa poligami berguna untuk proteksi bagi mereka yang janda misalnya sebagaimana Nabi, mestinya mereka yang ingin poligami melirik ke janda. Tapi sayangnya, daun muda nampaknya lebih disukai.

Hadis yang saya sebutkan di atas membuktikan poligami itu menyakitkan, baik bagi anak yang dimadu maupun orangtua yang anaknya dimadu. Atas pertimbangan semacam ini, poligami itu nantinya bisa saja ditekan, bahkan dilarang. Dalam konteks personal, poligami itu dilarang karena menyakiti.

ULIL: Mungkin di masa Nabi terjadi proses graduasi hukum. Suatu ketika yang diidealkan hukum Islam adalah monogami, dan poligami malah dianggap haram. Tanggapan Anda?

FAQIHUDDIN: Bisa saja. Itu salah satu bentuk transformasi. Kebanyakan isteri-isteri Nabi itu janda. Jadi masalah proteksi itu betul-betul terwujud. Ini berbeda dengan praktik-praktik poligami di sini yang tidak seperti yang dilakukan Nabi, sehingga proses proteksi dan transformasi terhadap perempuan tidak lagi kelihatan. Karena itu, beberapa ulama seperti Muhammad Abduh, bahkan berani mengatakan bahwa pada zaman kini hukum poligami haram. Poligami rupanya menimbulkan persoalan, seperti anak terlantar, pertengkaran, dan lain-lain. Jadi praktik di Mesir saat itu menginspirasi Abduh untuk mengatakan bahwa pada masa sekarang, poligami bisa haram. Apalagi Islam amat menekankan masalah keadilan. []

01/06/2003 | Wawancara | #

Komentar

Komentar Masuk (7)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Apa yang tertulis di Alqur’an jangan coba2 di analisa dengan kemampuan akal fikir anda yang sangat terbatas!! Allah swt. maha pintar dan maha mengetahui segalanya. Otak dan kemampuan fikir anda terbatas, jangan pernah menggugat Alqur’an. Hadist2 yang anda tulis belum tentu benar kesohehanya. Alqur’an adalah Hukum tertinggi Islam yang dijaga isinya oleh Allah swt. Jadi jelas2 tertulis dengan perintah yang gamblang bahwa Polygami adalah syah bahkan dianjurkan. TITIK!

Posted by Mas'ud Wibsono  on  10/22  at  12:51 PM

Kenapa sih memperdebatkan hal yang sudah nyata nyata dihalalkan?
Setiap perkara secara prinsip dalam hukum Islam memiliki 2 hukum, halal dan haram. contohnya : 1. Membunuh, membunuh menurut dasar hukumnya haram, akan tetapi islam memberikan subjek yang sangat proporsional. karena dalam realitas kehidupan membunuh juga sangat diperlukan sebagai solusi yang tepat menurut ketentuan final apabila suatu perkara hanya bisa dipecahkan dengan jalan membunuh. jadi membunuh pun ada yang hukumnya halal bahkan wajib. 2. Sex, sex menurut dasar hukumnya adalah halal, karena sex adalah suatu kecenderungan psikis naluriah atau insting yang diberikan Allah kepada manusia, jadi sex merupakan kebutuhan manusia. akan tetapi, karena perbuatan sex mengandung unsur resiko bagi manusia , maka Allah mengatur perbuatan sex ini dengan cara yang benar yaitu lewat jalur pernikahan. jadi intinya sex itu hukumnya halal jika lewat jalan nikah dan haram jika lewat jalan jinah.
Tentu saja Nikah pun akan diharankan hukumnya jika tujuannya bukan untuk kemaslahatan atau untuk tujuan yang tidak dibenarkan.
Jadi kenapa pada Ribut soal Polygami?
Yang jelas poligami itu dihalalkan!!
jika setiap orang punya itikad baik dan bisa memenuhi syarat dan ketentuan menurut syar`i.
Ketahuilah!.. setiap perkara yang dihalalkan akan berdampak manfaat atau mudhorot tergantung bagaimana menjalankannya, itu saja TITIK!!
Jangan coba-coba mengharamkan sesuatu yang sudah dihalalkan Allah dan juga sebaliknya!!

Posted by muharor tafsir  on  09/21  at  09:39 PM

Yth. Bapak Faqihuddin A. Qodir, M.A. Yth. Redaksi Islib Yth. Saudaraku sesama muslim

Assalamu’alaikum wr wb.

Dalam sebuah acara live di TV Jogja… ( kira-kira pertengahan Juni 2003) argumen-argumen Pak Faqihuddin sudah terbantahkan oleh Ust. Yunahar Ilyas, Lc. baru-baru ini. Dan Pak Faqihuddin pun mengakui kekhilafan argumennya yang salah.

Memang pro-monogami boleh saja membantah, hujah/alasan/hikmah dibalik poligami. misal:

membantu janda ===> khan tidak harus mengawini orangnya membantu anak yatim ===> kasih saja uang, gak usah dinikahin ibunya, dsb.  Memang semua hujah itu bisa dibantah, dan itu mudah kita mencari alasan-alasan penolakan.

Namun ketahuilah, bahwa itu tidak menjadi alasan diharamkannya poligami. Itu khan yang bicara nafsu… Kalau firman Allah dijamin tidak punya kepentingan, tak ada subyektifitas, tidak dipengaruhi hawa nafsu seperti manusia.

Kalau toh ada penolakan dan contoh kasus poligami yang ‘gagal’, semua itu tetap tidak bisa dijadikan alasan poligami itu haram. yang diharamkan adalah tujuan yang tidak benar dan jalan yang salah.

Allah mengingatkan kita semuanya: “.... Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al-Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari padamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. [Surah Al-Baqarah (2): 85].

Perkenan saya memberi tanggapan sebagai berikut.

Tanggapan 1 Dalam tulisan saya di Kompas (13 Mei 2003) berjudul Benarkah Poligami Sunah..? saya mengatakan bahwa persoalan poligami dan monogami adalah persoalan parsial atau persoalan konteks belaka. 1. Katakanlah poligami itu “bukan sunnah”, lantas apakah ia menjadi “haram”. Yang jelas bahwa hukum asal poligami itu dibolehkan dengan syarat seperti tersebut dalam alquran/hadits. 2. Katakanlah bahwa poligami itu “persoalan konteks”, apakah klo konteksnya suatu saat sedang mengharuskan poligami kepada seseorang, ia tetap tidak boleh berpoligami? Misalnya, memilih antara “memelihara wanita simpanan” atau mengambil sbg. istri ke-2, 3, atau 4 secara resmi. Sesungguhnya, klo kita rasional, ‘memelihara wanita simpanan’ (saya tidak mengatakan ‘pemerkosaan’ sebab boleh jadi itu memang sudah ‘suka sama suka’, mungkin tepatnya zina kubro) itu lebih tidak adil dan menyengsarakan.

Tanggapan 2 … Sementara dalam fikih ada beragam pandangan soal itu. 1. Itu artinya, bahwa poligami tidak mesti makruh apalagi haram. Saya yakin, pandangan ahli fikih lain membolehkan poligami. Dan perlu diketahui, dalam fikih kita bisa ‘memilih’ alasan yang membolehkan atau melarang sesuatu. Tinggal memilih madzhab fikih yang diinginkan. Misalnya, mau shalat yang pake qunut, ambillah madzhab Syafi’i, dsb.

Saya membaca lagi kitab Al-Hidâyah karangan Al-Murhinani, seorang ulama dari mazhab Hanafi, bahwa ada suatu saat poligami bisa diharamkan…. 2. Perkataan ‘suatu saat’ menunjukkan bila persyaratan untuk itu tidak dipenuhi, tapi ‘hukum’ itu khusus kepada mereka yang tidak memenuhinya. Adapun kepada orang lain yang memenuhi persyaratan, hukumnya tetap boleh. Ini hanya kasuistik saja.

Tanggapan 3 … ada ayat yang mengatakan, walan tashtatî’û ‘an ta’dilî bainan nisâ’ wain harashtum. Artinya, kamu sekalian (wahai kaum laki-laki!) tidak akan bisa berbuat adil antara isteri-isterimu, sekalipun engkau berusaha keras.  Memang ‘adilnya’ manusia tidak bisa 100%. Namun keadilan yang dikehendaki adalah keadilan lahiriah seperti nafkah (lahir) keluarga, rumah, ahak anak-anak, giliran, dsb. Adapun kecenderungan hati kepada yang lain termasuk bagian yan –boleh dikatakan- mustahil bagi manusia biasa. Dan itu termasuk yang dimaafkan.

Tanggapan 4 …. Nah, ketika kita bicara prinsip, tentu saja kita harus kembalikan kepada realitas.  Sepertinya alasan ini mengada-ada saja. Saya pun mengatakan: secara prinsip zina itu haram, apapun namanya (“pelayanan ekslusif”, “membahagiakan” orang lain, “sedekah”, dll.). lantas, apakah kita kembalikan pada realitas… Lha wong ini kebutuhan mendesak, kok. Seperti halnya judi -apapun namanya- selama ada unsur judinya tetap diharamkan.

Tanggapan 5 Saya kira, kalau kita bicara statistik secara sosial, praktik poligami akan lebih banyak mendatangkan bahaya. Itu sebetulnya sudah ditegaskan oleh banyak penulis, yang menurut saya, lebih jujur dibandingkan teman-teman kita yang mempromosikan poligami itu.  Sekali lagi hal itu kembali kepada pelaku poligami, apa tujuan, dan bagaimana praktik ‘berkeadilan’ dalam keluarga. Hukum itu juga bergantung kepada illat atau sebabnya. Klo sifat keadilan lahiriahnya tidak terpenuhi tapi malah mendzalimi perempuan, memang benar poligami itu menjadi makruh atau bahkan haram bagi orang tersebut. Namun, keharamannya hilang bagi orang yang bisa berlaku adil.  Sebagai tambahan silakan baca potongan artikel berikut… “Banyak perempuan muda Afrika, baik Islam maupun Kristen, lebih suka dinikahi laki-laki yang sudah menikah karena telah terbukti dapat bertanggung jawab. Sebuah penelitian terhadap perempuan berumur 15-59 tahun, yang dilakukan di kota terbesar kedua di Nigeria menunjukkan bahwa 60% perempuan akan senang kalau suami mereka beristri lagi. Hanya 23% yang mengungkapkan tidak suka ide poligami. Penelitian di Kenya menyatakan 76% perempuan melihat poligami itu positif. Penelitian di pedesaan Kenya menunjukkan 25 dari 27 perempuan menganggap poligami lebih baik dari monogamy. Perempuan-perempuan itu menganggap poligami dapat menguntungkan jika istri-istri itu bekerjasama satu sama lain (Kilbridge 1994:108-109).“ [lebih lengkap baca artikel Poligami dari Berbagai Sisi, di http://www.eramuslim.com publikasi 12/06/2003].  Mohon maaf Wassalamu’alaikum wr wb
-----

Posted by Wahyudin  on  07/11  at  07:07 AM

Redaksi:

1. Allah Swt berfirman: “Abghadl al-halal inda Allah al-thalaq.” Sesuatu yang halal, tapi dibenci Allah adalah perceraian.

Tanya ya redaksi.... ini firman Allah yang mana yaa… saya punya baca berpuluh kali Alquran kok gak pernah dapatkan ayat ini yaaa… Atau mungkin dalam Injil yang palsu… Taurat? Zabur???

Tolong tunjukin yaa..

Redaksi:

Terima kasih atas ralatnya. Memang hal itu berasal dari hadis Nabi Saw, tepatnya yang diriwayatkan oleh Abu Daud.

“Perkara halal yang paling dibenci Allah adalah thalaq” (HR Abu Daud)

Lebih jauh, kami sodorkan dalil naqliyah lainnya yang memiliki semangat yang sama dengan hadis di atas.

“Dan jika kamu mengkhawatirkan ada persengketaan antara keduanya , maka kirimlah seorang hakam (juru damai) dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan.Jika keduanya bermaksud mengadakan perbaikan , niscaya Allah memberi taufik kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (an Nisa ayat 35)

“Siapapun wanita yang meminta cerai pada suaminya tanpa alasan yang benar , maka haramlah atasnya bau surga” (HR Abu Daud)

Sesungguhnya Allah tidak suka kepada laki-laki yang suka kawin cerai dan perempuan yang suka kawin cerai (HR Thabrani)

Posted by Wahyudin  on  07/10  at  10:07 AM

Kesimpulan dari artikel tersebut adalah poligami tidak dianjurkan karena akibat dari poligami tersebut yang akan menyakitkan pihak wanita. Ada yang ingin saya tanyakan bagaimana jika dalam konteks suatu negara yang sedang berperang di mana jumlah wanita dengan pria lebih banyak wanitanya sehingga karena si pria tidak berpoligami maka wanita-wanita yang tidak mendapat suami akhir menjadi wanita simpanan artinya si wanita menjadi istri tapi tidak secara resmi.

Posted by zainal muttaqien erfan  on  07/09  at  07:07 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq