Natal dan Pluralisme Agama - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kolom
25/12/2006

Natal dan Pluralisme Agama

Oleh Moh. Shofan

Kaum Muslim dapat mengambil inspirasi dari sumber-sumber agama dan pengalaman sejarahnya, sembari mendorong tindakan-tindakan lebih jauh menuju pluralisme dewasa ini.

Sebagai muslim, saya ingin mengucapkan Selamat Natal bagi umat Kristiani. Saya amat sadar bahwa konsekuensi dari ucapan saya, oleh sebagian kalangan Islam akan dinilai sebagai ketidakkonsistenan dalam beragama. Tapi biarlah, toh semua orang punya kebebasan dalam menafsirkan agama yang dipeluknya. Islam yang saya peluk bukan Islam yang anti kelompok di luar dirinya. Islam yang saya percaya adalah Islam yang apresiatif dan akomodatif terhadap berbagai ragam etnis, budaya, ras, termasuk agama-agama di luarnya. 

Islam dalam pemahaman saya adalah ajaran yang penuh nilai-nilai kemanusiaan. Kalau Rasulullah saja memberikan kebebasan kepada pemeluk agama lain untuk melakukan ritual di masjid milik umat Islam, kenapa kita risih mengucap Natal kepada saudara kita yang Kristen?! Bukankah Umar bin Khattab, seorang sahabat Rasulullah dan khalifah kedua juga melakukan salat di anak tangga Gereja?! 

Dalam Tarikh Ibn Khaldun dijelaskan, ‘Umar ibn Khathtab datang ke Syam guna mengikat perjanjian damai dengan penduduk Ramalla. Umar datang kepada mereka dan ditulisnya perjanjian keamanan yang (sebagian) berbunyi: “Dengan nama Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, dari Umar ibn Khaththab kepada penduduk Ailea (Baytul Maqdis atau Yerusalem), bahwa mereka aman atas jiwa dan anak turun mereka, juga wanita-wanita mereka, dan semua gereja mereka tidak boleh diduduki dan tidak boleh dirusak.”

Umar ibn Khaththab masuk Baytul Maqdis dan sampai ke Gereja Qumamah (Qiyamah), berhenti di plazanya. Waktu sembahyang datang, ia katakan pada Patriak: “Aku hendak sembahyang.” Jawab Patriak: “Sembahyanglah di tempat Anda.” Umar menolak, lalu sembahyang di anak tangga yang ada pada gerbang Gereja, sendirian. Umar yang hidup pada masa Rasullullah, melakukan lompatan-lompatan intelektual yang melampaui zamannya. Dan banyak contoh kasus di mana Umar menimbulkan kontroversi pada masanya. 

Kaum muslim juga punya sejarah panjang menjalankan pluralisme, yang tersedia dalam sumber-sumber dan khazanah Islam. Karenanya, mereka diharapkan menjadi kontributor pembangunan proyek pluralisme global. Mereka tidak dapat berpikir semata-mata dalam kerangka mengulang masa lalu, karena dunia telah mengalami perubahan sangat radikal. Kaum Muslim dapat mengambil inspirasi dari sumber-sumber agama dan pengalaman sejarahnya, sembari mendorong tindakan-tindakan lebih jauh menuju pluralisme dewasa ini. 

Tentu pemahaman seseorang atau kelompok terhadap Islam—tidak terkecuali saya—dipengaruhi oleh latar belakang kultural, pendidikan, perbedaan sumber bacaan serta pengalaman pendidikan. Saya meyakini fenomena keberagamaan manusia tidak lagi cukup didekati lewat pendekatan teologis semata. Fenomena keberagamaan perlu didekati, diteliti, dipahami, dikritik, bahkan dinikmati lewat kedua cara pendekatan keilmuan, baik yang normatif-teologis maupun kritik historis-filosofis. Itu diperlukan agar kita memperoleh pemahaman yang kokoh terhadap agama yang kita peluk (having a religion) sekaligus menghargai, berkomunikasi, berdialog, dan bertemu dalam perjumpaan yang hangat dengan penganut agama lain. 

Pada tataran konseptual, Alqur’an telah memberi resep atau arahan bagi manusia Muslim untuk memecahkan salah satu masalah kemanusiaan universal, yaitu realitas beragamnya keberagamaan manusia. Alqur’an sering menyebut pemeluk Islam sebagai ummatan wasatha (umat yang moderat). Orang dapat menafsirkan “wasatha” dengan berbagai versi yang dikehendakinya. Tapi jika ayat itu dipahami dan ditilik dari sudut pandang pluralitas keberagamaan manusia, maka tampak bahwa Alqur’an memang menghendaki umat manusia untuk tidak “berlebih-lebihan” dalam segala hal, termasuk dalam persoalan kehidupan beragama.

Dalam kerangka ini, gerakan puritanisasi yang digiatkan sejumlah ormas Islam, merupakan aksi pengingkaran atas watak Islam yang pluralis. Meminjam sudut pandang Hermeneutika Gadamerian, Islam adalah sebuah ”teks” yang terbuka untuk direproduksi sesuai horison pembaca. Umat Islam Indonesia dengan warna-warni budayanya adalah para pembaca ”teks Islam” sehingga punya otoritas penuh untuk menerjemahkan Islam secara berlainan dengan Islam masa awal atau corak Islam di kawasan lain. Umat Islam Indonesia berhak mereproduksi Islam dalam semangat keindonesiaan. 

Dalam kasus mengucapkan Selamat Natal, Alquran, kitab suci umat Islam, lebih unik dan lebih lengkap dalam memberikan ucapan selamat. Jika Natal berarti hanya merayakan kelahiran Nabi Isa (Jesus Kristus), Alquran justru memberi selamat pada tiga momen sekaligus: saat kelahiran, wafat, dan kebangkitan kembali. “Dan salam sejahtera semoga dilimpahkan kepadaku (Isa: Jesus), pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal, dan pada hari aku dibangkitkan kembali (QS Maryam: 33).” Itulah perayaan Natal “plus” versi Alquran. 

Jadi, mengucapkan Natal merupakan pintu menuju ruangan yang lebih luas: pengakuan terhadap pluralisme agama. Pluralisme tidak semata mengacu pada kenyataan adanya kemajemukan. Pluralisme adalah keterlibatan aktif dalam fakta kemajemukan itu. Seseorang baru dapat dikatakan pluralis apabila ia dapat berinteraksi secara positif dalam lingkungan yang majemuk. Dalam pluralisme agama, tiap pemeluk agama bukan saja dituntut untuk mengakui keberadaan dan hak agama lain, tapi juga terlibat dalam usaha memahami perbedaan dan persamaan guna tercapainya kerukunan dalam kebhinekaan.

Mengutip Prof. Diana L. Eck, Direktur the Pluralism Project di Harvard University, “… Pluralisme bukan sekadar relativisme. Pluralisme adalah pertautan komitmen antara komitmen religius yang nyata dan komitmen sekuler yang nyata. Pluralisme didasarkan pada perbedaan dan bukan kesamaan. Pluralisme, adalah sebuah ikatan –bukan pelepasan—perbedaan dan kekhususan. Pluralisme adalah bahasa yang dibutuhkan oleh demokrasi agar dapat bertahan hidup.” Akhirnya kepada saudara-saudaraku umat Kristiani, saya ucapkan: “Selamat Hari Raya Natal”. Semoga kita semakin dewasa dalam menyikapi perbedaan.

25/12/2006 | Kolom | #

Komentar

Komentar Masuk (29)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Bagi saya sih semua agama gak ada yg kafir. memeang sih jika kita lihat cara beribadahnya yg berbeda mereka terlihat seperti kafir (berlawana ajaran agama kita). Tapi mereka intinya juga berdoa pada Tuhan kok. Karna itu jangan langsung menilai org Kristen itu kafir. Saya akui ayat tersebut namun yg dimaksud kafir sepertinya bukan Kristen atau org yg beragama non muslim deh. Saya percaya kok , muslim bukan agama yg seperti itu melainkan agama yg menghargai perbedaan dan mengharapkan perdamaian. Karena saya juga pernah ditolong oleh org muslim. Kalo ada org muslim yg ngejelekin org yg non muslim, bukan karena ajaran agamanya tapi karna orangnya salah pengertian

Posted by andrew  on  11/22  at  11:28 AM

Sebagian penggiat pluralisme dari kalangan Islam terjebak dalam pembahasan “Divine Justice”. Untuk mendorong sikap toleransi dan pluralisme religius mereka mengemukakan pemikiran bahwa semua kelompok masyarakat dengan beragam agamanya yang mengajarkan kebaikan haruslah meraih keselamatan di hari kemudian atas dasar keadilan Tuhan. Oleh karenanya semua umat beragama adalah saudara dan menyembah Tuhan yang sama. Ritual dan teknis penyembahan yang berbeda tidak menjadikan masing-masing sebagai kafir dan tersesat.

Pertanyaan mengenai apakah kebajikan yang dilakukan oleh non-muslim diterima oleh Tuhan menjadi perbincangan serius di kalangan mereka. Kalau diterima, lalu apa bedanya dengan muslim. Kalau tidak diterima berarti tidak ada salahnya bagi mereka untuk tidak melakukan kebajikan. Tapi kalau tidak diterima dan tiada pahala bagi mereka, lalu di mana keadilan Tuhan?

Ayatullah Murtadha Mutahhari, salah seorang ulama besar Iran yang jernih menanggapi pertanyaan semacam ini dengan mengatakan bahwa keselamatan dan nasib setiap individu ada pada tangan Tuhan. Keadilan Tuhan adalah sesuatu yang harus kita imani, dan bahwa kasih sayang Tuhan mendahului murkanya (His mercy precedes His anger). Manusia tidak memiliki wewenang apapun untuk menghakimi bahwa seseorang atau suatu kelompok manusia akan masuk Neraka atau Surga. Kewajiban kita adalah berbuat baik sesuai yang diperintahkan dan menghargai kebaikan pemeluk agama apapun tanpa mempersoalkan diterima atau tidaknya suatu kebajikan oleh Tuhan (Mutahhari: Islam And Religious Pluralism 2004).

Ingat, Baca dan Cermati lagi satu ayat dari Al Quran 5:48 yang memberi petunjuk bahwa jika Allah berkehendak, maka Dia bisa menjadikan seluruh manusia ini satu umat yang seragam. Tapi Allah justru menentukan sebaliknya. Keberagaman dalam segala sisi kehidupan adalah sunnatullah. Termasuk dalam beragama.

Hargailah Keberagaman dalam beragama dalam artian yang kongkret: adanya kebebasan menjalankan ibadah

SALAM DAMAI…
SALAM INDAH KEBERAGAMAN…
SALAM INDONESIA…
MERDEKA...!!!

Posted by Multatuli  on  01/03  at  07:54 AM

Salam Damai
Salam INDONESIA…

Mas menurut hemat saya, mengapa kebanyakan Umat Muslim Indonesia tidak mau mngucapkan selamat kepada Umat lainnya--diluar Muslim--itu memang menunjukkan keimanan seseorang, tetapi juga bukan sekedar keimanan tersebut melainkan juga berdasarkan pendidikan yang cukup bagi orang tersebut. Yang mengerti artinya kebersamaan dan paham sekali dengan kebhinekaan.
Jadi, intinya adalah selain keimanan kita juga perlu pendidikan yang cukup tentang kebhinekaan. Saya rasa untuk sementara itu sudah cukup untuk bangsa kita agar tidak lagi mengkerdilkan keberagaman, terutama dalam kehidupan beragama.

SALAM DAMAI
SALAM INDAH KEBERAGAMAN
SALAM INDONESIA
MERDEKA...!!!

Posted by Abel  on  01/03  at  07:42 AM

shalom,

salam damai natal utk semua..............

saya kira dalam hal mengucapakan hari raya besar keteman lain agama ngak perlu dipertentangkan…
ini tergantung dari pemeluk agama menafsirkan agamanya masing-masing....

saya ada beberapa teman muslim di bali...mereka ngak masalah ngucapin hari natal ke saya, dan ada beberapa teman lain mungkin kalo ngucapin selamat dianggap tidak baik menurut carapandang mereka.....( teman muslim)

jadi kesimpulan saya...........tergantung dari sisi mana mereka menafsirkan agama mereka

salam damai utk semua,

Posted by Made Suparta  on  01/01  at  11:45 PM

Salam Persaudaraan Mas Moh. Shofan.
Saya berdoa anda menjadi seorang Muslim yang Sholeh dan banyak membawa berkah bagi orang lain.

Sejarah Kristen VS Islam memang rumit dan susah untuk di telusuri kebenarannya.
Demikian juga soal sejarah Fatwa/Hadids ‘tentang haram - tidaknya mengucapkan selamat pada agama lain’
Saya justru melihat bahwa mengucapkan selamat atas perayaan/ritual hari-hari besar agama lain memperlihatkan keimanan seseorang.
Dalam sejarah Kristen Vs Islam yang berdarah-darah itu, justru memperlihatkan bahwa ada penyimpangan ajaran agama dalam Sejarah kedua Agama.
Dan tragisnya, Sejarah itu terbawa-bawa dalam kehidupan beragama para pemeluk ke dua agama ini.
Baik Kristen pun Islam “sepertinya” tidak mau melepaskan diri dari sejarah Kelam yang pernah terjadi diantara kedua Agama ini.
Kristen masih juga melihat Islam sebagai ‘salah’ satu musuh, Islam pun demikian menganggap Kristen sebagai ‘musuh utama’ mereka.
Saya jadi heran dan hal-hal seperti itu.
Benarkan TUHAN YANG MENCIPTAKAN MANUSIA DAN SELURUH ALAM RAYA INI, mengajar Umat CiptaanNYA
untuk saling bermusuhan dan saling membunuh?????
Saya Kristiani mas, tetapi buat saya Iman saya harus saya pakai untuk memuliakan TUHAN dengan mengasihi sesama tanpa melihat latar belakang Agama, suku atau apapun yang melatar belakangi sesama manusia itu.

Fatwa/Hadids pengharaman pengucapan selamat kepada sesama manusia dalam sejarah ISLAM pasti ada latar belakang yang mesti di jelaskan secara “historical dan teologis’ sebab bila jujur pada sejarah awal-awal Nabi Muhammad SAW menerima wahyu dan menyiarkan Islam akan terasa janggal bahwa sebuah wahyu bisa batal oleh karena pendapat orang-orang sesudah masa Nabi.
Bahwa Hadids dari para teolog islam lebih tinggi kedudukan dari pada wahyu yang langsung di Terima oleh Nabi Muhammad SAW.

Tapi ini sekedar sebuah pendapat dan ungkapan kegembiraan bahwa temen-temen di JIL tetap eksis untuk menjadikan ISLAM sebagai AGAMA yang sungguh-sungguh Humanis dan menghargai komunitas lain diluar komunitas ISLAM itu sendiri.

Sebagai Bangsa yang dari sononya sudah dibuat Plural oleh TUHAN SANG PENCIPTA LANGIT DAN SELURUH ALAM RAYA ini, Temen-temen di JIL memang menghadapi ruang dan waktu yang tak terukur.
Tetaplah seperti itu, sebab anda akan semakin Soleh dan menjadi berkat bagi Bangsa Indonesia.

Selamat Tahun Bari Hijriyah,1 Muharram 1430 dan Selamat Tahun Baru Masehi, 1 January 2009.

I’m Just Another Human Being Like You.

Posted by RW Maarthin  on  01/01  at  03:20 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq