NKRI Sudah Final - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Editorial
11/06/2006

NKRI Sudah Final

Oleh Luthfi Assyaukanie

Biasanya saya kurang suka dengan fatwa-fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). Alasannya karena fatwa-fatwa itu cenderung punya dampak negatif bagi tatanan kehidupan bermasyarakat ketimbang memberikan sebuah solusi yang tepat (misalnya fatwa soal Ahmadiyah). Tapi, saya merasa senang mendengar fatwa terbaru MUI tentang bentuk negara RI, yakni NKRI, sebagai sesuatu yang sudah final.

Biasanya saya kurang suka dengan fatwa-fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). Alasannya karena fatwa-fatwa itu cenderung punya dampak negatif bagi tatanan kehidupan bermasyarakat ketimbang memberikan sebuah solusi yang tepat (misalnya fatwa soal Ahmadiyah). Tapi, saya merasa senang mendengar fatwa terbaru MUI tentang bentuk negara RI, yakni NKRI, sebagai sesuatu yang sudah final.

Saya tidak tahu pasti ke mana tujuan fatwa itu sebenarnya diarahkan. Tapi, fatwa itu penting untuk melihat adanya kelompok-kelompok masyarakat yang memang berusaha secara terang-terangan menggantikan sistem negara Pancasila dengan sistem lain yang asing dari tradisi perpolitikan kita.

Salah satu kelompok itu adalah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Saya tidak tahu apakah MUI mengeluarkan fatwa itu untuk menegur HTI. Tapi, kalau MUI konsekwen dengan fatwanya, semestinya HTI adalah organisasi massa pertama yang harus ditegur berkaitan dengan fatwa tentang NKRI itu. Mengapa?

Kita tahu semua bahwa tujuan dan cita-cita akhir HTI adalah mendirikan khilafah di bumi Indonesia. Saya sering berdiskusi dan berada dalam satu sesi dengan tokoh-tokoh HTI. Mereka tidak malu-malu dan tanpa ragu-ragu menyatakan bahwa khilafah adalah sistem terbaik yang bisa menjadi solusi bagi Indonesia.

Para anggota HTI dengan sabar membangun agenda politik mereka, lewat kampanye dan penggalangan massa di kampus-kampus dan mesjid-mesjid. Secara umum, mereka menolak cara-cara kekerasan, tapi mereka juga menolak demokrasi, karena demokrasi, menurut mereka, adalah sistem taghut (setan) yang tidak sesuai dengan Islam. Bagi mereka, khilafah –dan bukan NKRI- adalah sistem yang sudah final.

Organisasi massa lainnya yang bisa dikatagorikan mengancam keutuhan NKRI adalah Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) dan Front Pembela Islam (FPI). Kedua organisasi ini, meskipun tidak secara terbuka menyatakan anti NKRI, tapi perilaku dan tingkah-polah politiknya sangatlah bertentangan dan mengancam keutuhan NKRI.

Misalnya, dalam sebuah wawancara di televisi, Fauzan al-Anshary, ketua MMI, membuat pernyataan subversif. Dia mengatakan bahwa Indonesia haruslah berlandaskan syariat Islam. Jika Indonesia menolak dilaksanakannya syariat Islam, sebaiknya NKRI bubar saja. Pernyataan ini sangat berbahaya dan terang-terangan mengancam keutuhan NKRI.

MMI secara umum juga bisa menjadi ancaman bagi NKRI, terutama karena obsesi liarnya untuk mengubah platform negara yang pluralis berdasarkan Pancasila ini dengan syariat Islam. Penerapan syariat Islam telah menjadi agenda utama organisasi pimpinan Abu Bakar Baashir ini. Kita tahu, Baashir pada masa silam adalah salah seorang penantang Pancasila paling gigih.

FPI juga memperlihatkan kecenderungan sama dalam hal ancaman terhadap keutuhan NKRI. Kendati secara retoris ketua FPI berkali-kali bilang bahwa mereka mendukung NKRI, tidak demikianlah kenyataannya. Perilaku politik para anggota FPI dengan merusak dan mengancam warga lain yang dianggap tidak sejalan dengan mereka, merupakan ancaman serius bagi keutuhan negara.

Kesetiaan pada NKRI tidak bisa dinyatakan hanya dengan slogan dan ungkapan. Tapi ia juga harus dibuktikan dengan perilaku. Jika seseorang mengaku mendukung negara kesatuan RI tapi pada saat yang sama terus merongrong sendi-sendi yang paling asasi dari negara ini, itu artinya dia sedang menggerogoti NKRI.

Melihat kenyataan itu semua, saya kira, fatwa MUI tentang NKRI keluar dalam waktu yang tepat. Fatwa itu, saya kira, harus disambut dan disosialisasikan, khususnya kepada kelompok-kelompok Islam yang secara diam-diam (atau mungkin juga tak disadari) sedang menggerogoti integritas NKRI. []

11/06/2006 | Editorial | #

Komentar

Komentar Masuk (27)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

kata siapa NKRI harga mati???, kalau selagi ajaran2 mayoritas mau diterapkan di Negara Pancasila ini. NKRI tdk bakalan utuh. emang yg minoritas bodoh2 apa? segampang itu?? dulu dimasa penjajahan kita mngusir penjajah kita tdk memandang suku, agama. kalo ditau begini akhirnya. Irian Jaya, Maluku. TIM-TIM, ACEH, SUMUT, kalimantan tdk mau gabung dgn Indonesia.  sudah banyak orang Indonesia muak dgn kata2 NKRI yg tdk ada pembuktianya. yg terjadi malah perang suku, pembakaran gereja, FPI, semua membuat malapetakan. bahkan Gempa bumi hanya di Indonesia yg dahsyat. siapa biolang di RI ini nyaman. jika anda tanya satu-satu orangnya, kata NKRI sudah mulai surut.  Buktikan NKRI dgn Pancasila, bukan dgn agama yg menyesatkan dan kemunafikan.

Posted by Benyamin  on  11/06  at  09:16 PM

Kalau saya nih ye......
Pemahaman and keyakinan sudah final bahwa NKRI ini dengan Azas tunggalnya Pancasila akan bisa berlangsung aman tertib lancar mengayomi seluruh bangsa di Nusantara ini hanya dengan dihidupkan semua sareat agama.saya tidak pilih kasih agama.bolehlah semua agama di NKRI ini yang harus mendasari Pemerintahan Negara kita ini AGAR segala keputusan kebijakan aturan mendasar berurat berakar oleh Peraturan Pencitanya.Bolehlah anda katakan Negara Teokrasi.
Aturan Product manusia dengan pacasilanya saja tidak cukup.terlebih lagi aturan yang hanya berdasarkan demokrasi saja tanpa dilandasi hati nurani Pencitanya ( Tuhan ) akan berjalan bisa menuju Kommunis sosialis marsis skuleris atau apalagi seterusnya.sebangsa seenakudelpemimpinnya.
Itu akan sampai pada jalan buntu.kembalinya ke Neraka.!

Posted by Paiman  on  08/19  at  05:55 AM

saya selaku warga negara republik indonesia tetap tidak setuju dengan penerapan ajaran agama manapun diRODA PEMERINTAHAN NKRI ini semua hal tentang prilaku warga negara baik dlm hal apa pun sudah di tuangkan dalam pancasila,,hanya 5 butir itu saja yang harus dilaksanakn oleh seluruh warga negara RI jadi di indonesia tidak perlu menerapkan syariat atau apa pun itu..agama adalah ajaran yang mengajarkan bagaimana jalan untuk mendekatkan diri pada Tuhan dan belajar untuk selalu berhati mulia bukan untuk menagtur tatanan pemerintahan kita....

Posted by MADE DARI BALI  on  05/14  at  04:19 PM

begini saja,
aku cinta NKRI,
dibumi ini ‘kugali’ Pancasila (kata Bung Karno),
artinya Pancasila ada di sanubari pejuang bangsa.
bagiku seharusnyalah Pancasila menjadi cermin politis dari pengejawantahan nilai-nilai keberagamaan dan keberagaman kita,
jangan ‘menuduh’ Pancasila adalah milik salah satu umat beragama atau salah satu suku di Indonesia.
Pancasila adalah milik semua komponen bangsa yang ber-NKRI,
mari kita jaga agar kita damai berbangsa walau Indonesia kita diisi berbagai suku-suku yang didalamnya juga ada bervariasi agama dan keyakinan.
sesungguhnyalah, ini merupakan asset kita (tantangan perlombaan menuju kebaikan) menuju kedamaian yang menyejukkan yang menjadi tujuan semua agama.
jadi, tolong semaikan dan suburkan Pancasila demi lestarinya Indonesia kita.

salam sejahtera.

Posted by plagcetig  on  11/11  at  10:00 AM

Saya kira yang lebih penting bukan masalah ideologi diganti atau bukan. Akan tetapi bagaimana prinsip islam dapat diterapkan sebaik mungkin tanpa merugikan umat lain. Ini sebenarnya hanya masalah teknis pelaksanaan. Tapi orang-2 yang menentang kebanyakan berusaha ‘bermain-main kalimat/kosakata yang indah-indah’ untuk membelokkan pemahaman masyarakat awam. Dalam logika saya, orang islam yang menentang ini tidak menunjukkan itikad untuk menggunakan suatu metodologi terbaik bagi umat dan dirinya sendiri maupun berwawasan global dimana islam adalah aturan yang bersifat universal dan rahmatan lil alamin. Ideologi Islam dapat diterapkan tanpa mengganti atau merubah ideologi pancasila, hanya yang harus dipikirkan bagaimanakah bentuk aturan mainnya. So, kenapa tidak berusaha berpikir demikian. Kenapa anda hanya menentang dan terus-menerus berkonfrontasi tentang penerapan ini seolah tidak ridha bahwa islam adalah aturan terbaik, bukannya memikirkan bagaimana pelaksanaan teknisnya supaya tidak bertentangan dengan pancasila..
-----

Posted by ian  on  06/26  at  02:06 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq