NU dan Perihal Pengganti Gus Dur - Komentar - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Editorial
05/01/2010

NU dan Perihal Pengganti Gus Dur

Oleh Abd Moqsith Ghazali

Dengan melembagakan gagasan-gagasan besar Gus Dur, kita akan memiliki dua keuntungan sekaligus. Pertama, gerakan pluralisme, HAM dan demokrasi akan berjalan lebih sistematis dan terstruktur. Saya membayangkan sekiranya anak-anak ideologis Gus Dur itu suatu waktu memegang kendali Nahdlatul Ulama (satu ormas Islam terbesar di Indonesia), maka kiranya NU akan kembali menjadi lembaga raksasa yang mengefektifkan gerakan civil society. NU akan menjadi LSM besar yang tak ragu mengadvokasi warga NU secara khusus dan warga bangsa Indonesia secara umum yang mengalami ketidakadilan dan penindasan. 

05/01/2010 20:46 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (10)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Suatu gagasan yang baik, kader penerus Gusdur harus mampu menggunakan semua organisasi sosial dan politik serta media untuk mensosialisasikan gagasan beliau, dan pada suatu saat secara alamiyah mampu menguasai dan membesarkan NU menjadi sebuah organisasi yang terbuka, berwibawa dan bermanfaat bagi semua golongan, suku dan ras manusia di jagad raya ini, kemudian dipercaya oleh masyarakat dunia, kerena dengan nyata telah memberi kontribusi positif dalam ikut serta memecahkan problem ekonomi. sosial dan pilitik akibat globalisasi.
NU harus menjadi rumah yang luas dan membebaskan seperti Tuhan membuat rumah dunia ini yang nyaman buat manusia termasuk setan sekalipun he...he…

#1. Dikirim oleh Abdurrahman Chudlori  pada  07/01   12:33 PM

Moqsith, thx atas tulisan yang bagus, pikiran yang jernih dan strategis serta wawasan yang luas. Yang patut disyukuri adalah bahwa pengaruh pemikiran dan keteladanan Gus Dur telah passing over melintasi ranah NU dan Islam. Anak-anak ideologis Gus Dur bukan saja berasal dari rahim NU dan rahim umat Islam, tetapi juga dari berbagai komunitas iman lainnya. Gus Dur, perjuangan dan pemikirannya, seolah telah menjadi penyambung lidah bagi aspirasi masyarakat pada keadilan,cinta, persaudaraan dan perdamaian. Tidak ada jalan lain dalam menjaga warisan Gus Dur kecuali dengan memperjuangkan nilai-nilai itu dalam hidup sehari-hari. Dari situlah agama muncul menjadi sumber kebajikan sosial dan modal sosial yang merekatkan bangsa yang plural ini.

#2. Dikirim oleh Albertus Patty  pada  09/01   05:48 PM

Gusdur dilihat masyarakat hanya sebatas kacamata politik semata, mereka banyak yang tidak faham. ide ide humanioranya beluh kesentuh oleh masyarakat banyak. makanya mereka yang belum faham banyak yang alergi dan gatal gatal ketika mendengar Gusdur Rakhimakumullah.., apalagi sekarang melihat antusiasme nya masyarakat terhadap beliau.., maka lawan lawan politiknya pun sudah mulai pasang kuda kuda, terlihat mereka sudah mulai menolak gelar pahlawan nasional Gusdur.., tapi Insya Allah beliau sudah mendapatkan status Allah yang melebihi dari sekedar pahlawan nasional atau dari penghargaan Nobel…

#3. Dikirim oleh Fuad  pada  10/01   10:54 AM

Pengganti Gus Dur Ya Gus Sholahuddin lah

#4. Dikirim oleh Bau Kahar  pada  11/01   12:13 PM

Betul, sepertinya memang sudah hampir tak mungkin ada pengganti yang bisa menyamai kredibilitas serta intelektualitas yang sekaliber Gusdur. Saya justru mengkhawatirkan nasib NU ke depan, yang lama kelamaan akan kehilangan ruh serta cita-citanya dalam mensejahterakan umat sepeninggal Gus Dur. NU hanya akan menjadi “berhala” yang dipuja-puja, namun usang. Maka, perlu adanya regenerasi yang (paling tidak) mampu menjadi sosok yang kharismatik dan visioner seperti Gus Dur agar umat tak kehilangan kendali. Selamat jalan Gus…

#5. Dikirim oleh Sofi Mubarok  pada  12/01   09:54 AM

saya kira apa yang telah dilakukan gusdur selama ini bila kita cermati sebenarnya ingin membangunkan warga NU yang lama tertidur dari kanca aksi dan pemikiran islam. dan kita lihat semua bahwa sekarang telah muncul generasi NU yang tersebar diberbagai bidang wabilkhusus generasi Hibrid NU yang siap meramaikan kembali diskursus keislaman dan keIndonesiaan dan kemanusiaan (humanism)selamat buat Gus Dur, trimakasih kami buat anda Gus…

#6. Dikirim oleh yahya  pada  13/01   04:29 PM

begitu besar kontribusi seorang bapak bangsa+pluralisme dan HAM kepada Indonesia ini bahkan dunia,tetapi kenapa kadang kala hal itu selalau dipermasalahkan,apakah terlalu dangkalnya otak kita??? ataukah kita yang terlalu berpaku pada teks??/ Gus Dur pergi...serasa Kekuatan pembelaan HAM dan Kaum Minoritas terancam oleh kedigdayaan kaum Fundamental.Semoga NU semakin berjaya tanpa fisiologis Gus Dur,walaupun hanya jiwa beliau.tetapi pemikiran beliau tetap kita bawa dan kita kembangkan.

#7. Dikirim oleh Muhammad Wahyudi  pada  14/01   10:50 AM

sebevarnya pengen ngomong kalau jil adalah lembaga penerus ide ide gusdur, gitu aja mbulet pake bahasa macem-macem kek,,,,,he...tapi baguslah,, aku seutju ma jil kok,, tpi ingat,,,jil sekali-sekali turba dong...kami dikampus butuh ide-idemu,,,kalo bisa seminarnya tanpa amplop, karena kami mahasiswa...kere gtl...he. by toni, SEMA fakultas humaniora UIN MALANG

#8. Dikirim oleh AHMAD PATONI  pada  13/02   08:55 PM

menurut saya ada 2 calon pengganti gus dur, yaitu Masdar dan Ulil menyusul nantinya Rumadi dan Misrawi. Mereka2 harus disiapkan terutama basis masanya. Tolong yang sering turun ke akar rumput

#9. Dikirim oleh prasodjokusumodiputro  pada  19/03   01:31 PM

teruskan semangat pluralisme...pertahankan NKRI…
negara ini adalah negara kesatuan dan akan terus menjadi negara kesatuan sampai selam2nya…
NU n JIL teruskan perjuangan Gusdur ya....
wassalam

#10. Dikirim oleh Oki  pada  23/03   10:42 AM
Halaman 1 dari 1 halaman

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq