Orang Beragama Selalu Mampu Bersahabat - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Wawancara
11/10/2004

Ibe Karyanto, “Bapak Anak Jalanan” Bertutur tentang Pergulatan Imannya: Orang Beragama Selalu Mampu Bersahabat

Oleh Redaksi

Panggilan kemanusiaan universal yang tidak lagi mengenal sekat-sekat keagamaan tak jarang menjadi motor penggerak kepedulian. Itulah yang dibuktikan Ibe Karyanto, “bapak anak jalanan” yang kini mengepalai Sanggar Anak Akar. Berikut sekelumit pergulatan Wak Karyo (panggilan akrab Ibe Karyanto) tentang soal keimaman dan kemanusiaan.

Rasa iba, prihatin, dan kepedulian pada nasib golongan lemah dan tersisih tidak sepantasnya dicurigai sebagai misi-misi sektarian dan terselubung dari agama tertentu. Panggilan kemanusiaan universal yang tidak lagi mengenal sekat-sekat keagamaan tak jarang menjadi motor penggerak kepedulian. Itulah yang dibuktikan Ibe Karyanto, “bapak anak jalanan” yang kini mengepalai Sanggar Anak Akar. Wak Karyo (panggilan akrab Ibe Karyanto) adalah aktivis sosial kelahiran Solo, yang kini mengasuh dan menyekolahkan sekitar 80 anak jalanan. Dia rela hidup seatap dengan anak-anak jalanan itu, di sebuah rumah sederhana pinggiran Kali Malang, Jakarta Timur. Melalui Sanggar, Wak Karyo berupaya mengembangkan potensi anak-anak jalanan tersebut. Beberapa pementasan teater dan musik yang cukup memikat, berhasil mereka suguhkan. Dari pelbagai aktivitas seperti itulah, selain sumbangan donatur, anak-anak jalanan itu dapat menyambung hidup dan sedikit mengangkat eksistensi kemanusiaan mereka. Kamis (7/10) kemarin, Novriantoni dari Jaringan Islam Liberal mengorek sekelumit pergulatan Wak Karyo tentang soal keimaman dan kemanusiaan. Berikut petikannya.

NOVRIANTONI: Mas Karyo, bisa diceritakan bagaimana agama disosialisasikan kepada Anda sejak kecil?

IBE KARYANTO: Hampir sama dengan kebanyakan keluarga di masyarakat kita. Agama saya kenal secara otomatis dari tradisi keluarga. Kebetulan bapak dan ibu saya beragama Katolik yang cukup taat, atau “santrinya” Katolik. Karena mereka sudah punya tradisi seperti itu, mereka ingin melanjutkannya kepada anak-anaknya. Jadi agama saya kenal secara otomatis saja. Tentu, waktu itu saya belum punya kemampuan memilih (agama, Red), dan sudah dipilihkan oleh orang tua saya.

N: Nilai-nilai agama seperti apa yang ditularkan orang tua Anda?

 

IK: Dalam perjalanan selanjutnya, ketika saya sudah pada usia bisa menimbang dan berpikir, saya tidak lagi berpegang seluruhnya pada tradisi yang secara otomatis dikenalkan orang tua. Saya tidak menyebutnya buruk. Ada banyak hal yang baik dari nilai-nilai agama yang saya kenal dari orang tua. Misalnya soal toleransi dalam beragama. Saya masih ingat bagaimana orang tua saya berpesan bahwa, salah satu ciri orang beragama adalah bisa bersahabat dengan orang yang berlainan agama. Waktu itu saya tidak tahu apa maknanya. Tapi ketika mulai bisa berpikir, saya tahu bahwa yang dimaksud tak lain: kita bisa menghormati dan menghargai apa pun pilihan orang terhadap agama. Dengan begitu, kita akan selalu bisa bekerjasama.

N: Bagaimana riwayat pendidikan formal Anda?

IK: Pendidikan formal saya tempuh di sekolah Katolik, dan tentu sangat dekat dengan tradisi keagamaan Katolik. SMU saya tempuh di sebuah sekolah yang sangat dekat dengan pendidikan para pimpinan gereja, tepatnya di Mertoyudan, Magelang. Di situ, pendidikannya memang 100% Katolik.

N: Anda lalu belajar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. Pencerahan apa yang Anda dapat dari STF, menayangkut soal-soal kemanusiaan?

IK: Ketika saya belajar filsafat, satu hal yang membuka pemahaman saya adalah soal kemanusiaan. Misalnya soal pemahaman bahwa setiap manusia pada fitrahnya sama. Mereka menjadi berbeda ketika orang-orang sudah mengenal pelbagai kebutuhan dalam berbagai aspek kehidupan. Dari situlah mereka mencoba membangun institusi berbeda-beda yang dianggap dapat membantu usaha untuk mencapai tujuan tertentu. Misalnya agama. Dalam soal agama, saya lebih melihat dimensi kemanusiaannya. Sebagai manusia, kita punya tugas yang sama, sesuai fitrah kita masing-masing.

N: Konon Anda nyaris menjadi seorang Romo, tapi tidak jadi. Bagaimana ceritanya?

IK: Saya memang sempat menempuh fase yang sudah mendekati jenjang pendidikan terakhir calon pastur. Terakhir saya mendapat tugas mengajar di Timor-Timur. Tapi selesai tugas itu, saya memutuskan untuk tidak melanjutkannya. Saya menentukan pilihan lain, lebih karena alasan praktis. Intinya, saya memilih untuk tidak menjadi pastur, dengan pengandaian akan bisa lebih banyak memberikan sesuatu kepada orang lain.

N: Apa menjadi pastur tidak memberikan ruang lebih banyak untuk berbuat?

IK: Saya kira tidak juga. Pastur, dalam pendidikan para pendirinya, dengan tarekat masing-masing, jelas punya visi dan spirit yang mendukung proses pembangunan manusia. Tapi bagaimanapun juga, tarekat-tarekat itu adalah sebuah institusi yang punya konstitusi, aturan main sendiri, yang menurut saya tidak tepat dengan diri saya. Spirit saya memang tepat dengan itu. Tapi dari segi aturan main dan konstitusinya, saya kurang tepat berada di sana. Makanya saya katakan, alasannya lebih bersifat praktis saja.

N: Setelah dari Timor-Timur, Anda memilih bergelut dengan dunia anak jalanan, lalu bergabung dengan Romo Sandyawan di Institut Sosial Jakarta (ISJ), tahun 1988. Bagaimana kisah ketertarikan Anda pada pengasuhan anak-anak jalanan?

IK: Awal mula saya berkenalan dengan persoalan-persoalan sosial bukan dari ISJ. Ketika masih mahasiswa (STF), saya punya aktivitas di mana perjalanan dari rumah ke tempat kegiatan itu selalu melintasi beberapa komunitas anak jalanan. Misalnya Stasiun Senen, Jatinegara, dan Jalan Pramuka. Awalnya saya tertarik untuk bermain-main saja dengan mereka. Tapi lambat laun, saya semakin tahu persoalan yang mendera mereka. Nah, kebetulan waktu mahasiswa saya juga mengenal Romo Sandyawan yang terlibat aktif di ISJ. Saya lalu terlibat membantu sana-sini. Kebetulan, concern ISJ sama dengan apa yang tumbuh di hati saya. Makanya saya membantu ISJ.

N: Apa ada dorongan-dorongan internal seperti motivasi keagamaan ketika Anda tertarik mengurusi dunia anak jalanan?

IK: Terus terang, motif keagamaannya tidak ada. Saya tertarik bukan karena didorong oleh kepentingan keagamaan. Ketertarikan saya justru lebih didorong kepentingan kemanusiaan. Ketertarikan itu lalu saya rumuskan dengan pilihan pendidikan untuk mereka. Bersama teman-teman lain, saya hanya mencoba mengembalikan kemanusiaan anak-anak jalanan yang sudah begitu terpecah-pecah.

N: Anak-anak jalanan yang Anda asuh itu dari berbagai agama?

IK: Mereka yang tinggal di Sanggar Anak “Akar” bersama saya (lebih kurang 80 orang anak, Red) 100 % muslim. Saya sendiri orang Katolik. Beberapa voluntir yang membantu kami datang dari beragam agama. Mereka terdiri dari mahasiswa, karyawan muda, dan dosen.

N: Apa tidak ada konflik batin atau jarak antara Anda dengan anak-anak itu, mengingat Anda berbeda keyakinan agama dengan mereka?

IK: Dari sisi anak-anak, dari dulunya tidak pernah ada kekhawatiran. Mereka tidak mengkhawatirkan akan dikemanakan (secara keyakinan, Red). Saya lihat, anak-anak itu tekun dengan keislamannya. Mereka tidak perduli saya Katolik. Yang mengkhawatirkan kenyataan itu justru orang tua-tua, mereka yang dewasa. Dulu saya pernah kesulitan menghadapi orang-orang seperti itu. Mereka kuatir anak-anak akan saya bawa ke mana, dikristenkankah, dan lain sebagainya. Saya tidak pernah menjawab itu secara verbal. Saya hanya menjawabnya dengan apa yang saya lakukan. Utamanya, saya tidak berkepentingan untuk soal-soal seperti itu (mengarahkan keyakinan mereka). Saya lebih berkepentingan dengan perkembangan kemanusiaan mereka.

N: Anda pernah menghadapi prasangka-prasangka atau tuduhan-tuduhan pelik seperti misi kristenisasi?

IK: Tentu pernah. Itu hal yang selalu saya hadapi bersama anak-anak. Suatu ketika, saya nyaris kehabisan energi untuk menghadapi isu-isu miring itu. Sementara, anak-anak butuh perhatian. Makanya saya lalu berprinsip, tidak perlu membuang banyak energi dengan menjelaskannya secara verbal. Saya akan menjelaskannya melalui tindakan, sembari menekankan bahwa saya tidak berurusan dengan misi-misi seperti itu.

Andai anak-anak butuh bimbingan untuk mengembangkan keagamannya, selagi mampu saya akan bantu. Tapi bagi saya, yang menjadi prioritas adalah persoalan kemanusiaan anak-anak itu sendiri. Saya senang anak-anak sudah bisa menceritakan kepada orang tua mereka sendiri tentang aktivitas mereka. Bahkan mereka sudah bisa dengan bangga menceritakan pengalaman bergaul dengan berbagai umat beragama. Mereka bisa bermain musik, bahkan melantunkan lagu-lagu Natal. Pada bulan Ramadhan, mereka harus membuat aransemen musik untuk lagu-lagu Ramadhan. Ketika mendekati perayaan Imlek, kita diminta membuat dan melantunkan lagu-lagu bernada Cina. Kalau ada order seperti itu, ya kita mainkan!

N: Artinya, Anda juga aktif mengenalkan mereka akan pluralisme dan toleransi beragama?

IK: Ya! Bagi saya, prinsip spiritual kita adalah spiritualitas kemanusiaan. Agama manapun akan mengakui bahwa manusia itu pada dasarnya baik. Semua sama dan semua punya tanggung jawab dan kewajiban untuk hidup lebih baik. Makanya kepada anak-anak saya katakan, kita mesti belajar persoalan-persoalan konkret kita sedini mungkin. Memang banyak orang yang datang ke Sanggar menanyakan persoalan moral. Saya tidak menafikan pentingnya persoalan itu. Tapi persoalan itu menjadi kongkret ketika anak-anak saya perkenalkan bagaimana bertoleransi. Toleransi di sini berarti bagaimana mereka bisa menghormati, solider, dan punya keberpihakan terhadap yang lemah. Itu pelajaran yang konkret.

Dalam hidup keseharian, mereka yang lebih besar punya tanggung jawab atas mereka yang lebih kecil. Siapapun harus bertanggungjawab pada anak yang lebih lemah. Bagi saya, itulah yang mungkin dimaksud dengan soal pendidikan akhlak, budi pekerti, dan etika keagamaan itu.

N: Mungkin yang dimaksud perlunya pengajian rutin dan terjadwal?

IK: Ya, dan itu juga ada. Bahkan ada beberapa orang menawarkan pengajian di tempat kami. Pengajian dan kegiatan keagamaan yang intensif bagi saya merupakan kesempatan anak-anak untuk sosialisasi diri keluar. Mereka itu kan rata-rata diasingkan oleh masyarakat. Makanya, buat saya kegiatan keagamaan justru harus mereka tempuh di masyarakat. Itu menjadi semacam indikasi, jika masyarakat menerima, artinya mereka sudah diterima oleh masyarakat.

N: Mas Karyo, ketika menghadapi persoalan-persoalan pelik yang dikait-kaitkan dengan agama, apakah Anda terpikir untuk mengkritik pandangan-pandangan keagamaan yang formalistik itu?

IK: Banyak, dan bukan hanya sempat terpikir. Saya sendiri harus menghadapi banyak orang yang punya cara pandang seperti itu. Tapi oke-oke saja. Saya menghormati mereka. Bagi saya, mereka boleh berpandangan seperti itu. Tapi mohon juga mereka menghormati pandangan kita. Kepada anak-anak saya selalu katakan bahwa yang paling penting bagi mereka adalah bagaimana bisa memutuskan pilihan yang tepat dan menurut mereka baik, lalu mampu mempertanggungjawabkannya. Mereka memilih cara beribadah apa, adalah urusan mereka. Ukurannya adalah berbuat baik buat diri sendiri dan lingkungan. Artinya, yang baik adalah yang konstruktif buat mereka. Kalau perbuatan mereka tidak seperti itu, tentu sudah jauh dari standar keimanan itu sendiri. Kadang-kadang, saya agak ragu bicara soal agama. Sebab agama itu kan istilah lain dari sebuah institusi.

N: Menurut Anda bagaimana seharusnya sikap agama dan agamawan terhadap kaum lemah atau tersisih seperti anak-anak jalanan itu?

IK: Tak ada satu agamapun yang sanggup mengabaikan anak-anak seperti itu. Dalam sejarah, hampir semua tokoh agama punya kedekatan sosial dengan anak-anak. Nabi Muhammad, Budha, Yesus; semua punya kedekatan dengan anak-anak yang marginal. Makanya, agama dan agamawan seharusnya membangun kembali kehidupan anak-anak pinggiran itu.

N: Mas Karyo, pendidikan apa yang Anda berikan kepada anak-anak asuh Anda sehari-hari?

IK: Ketrampilan yang mencakup empat dimensi. Dimensi pertama, knowledge atau pengetahuan. Kedua, skill atau ketrampilan. Ini tidak hanya berbentuk kerajinan tangan, tapi juga soal keterampilan berorganisasi, manajemen dan tim work atau kerja tim. Ketiga, soal pertumbuhan afeksi atau sisi emosional mereka. Keempat, menyangkut bagaimana mereka membangun kehendak, berani mangambil keputusan dan tangkas memilih. Kegiatan mereka cukup banyak. Itu semua diaplikasikan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Ada 10 bidang program yang harus mereka jalankan, termasuk bidang rumah tangga atau tata cara mengelola hidup mereka secara bersama-sama dalam komunitas.

N: Apa harapan Anda terhadap masyarakat dan kalangan agamawan?

IK: Sebenarnya, ketika masyarakat sadar akan positifnya kegiatan anak-anak, mereka justru semakin tidak perduli soal perbedaan agama. Persoalan sering muncul begitu ada aspek lain yang kemudian disinggungkan dengan agama. Misalnya ketika hidup di sebuah pemukiman dalam jangka waktu tertentu, mereka tidak pernah mempersoalkan agama. Tapi tiba-tiba saja muncul soal penggusuran, dan isu agama lalu menjadi persoalan. Saya terkadang heran dengan hal itu. Harapan saya, kesadaran masyarakat akan kondisi anak-anak tetap terjaga. Saya juga berharap, apa yang saya garap dan kerjakan dengan anak-anak, ke depan dapat memberi kontribusi penting bagi kesadaran bertoleransi terhadap pelbagai perbedaan, termasuk perbedaan agama.[]

11/10/2004 | Wawancara | #

Komentar

Komentar Masuk (3)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Salam sejahtera,

Saya kira dimana judul 1 dari 1000 Penjaga Bintang2 Kecil tepat diberikan untuk Wak Karyo. Sangatlah tidak mudah untuk berbuat seperti apa yg dilakukan beliau, menjaga sekian banyak bintang2 kecil dari kebengisan & kekerasan di era modern ini.

Dihimpit oleh segala ambisi, kepentingan individu setiap insan, sedikit banyak mengaburkan rasa kemanusian yg seharusnya menjadi kewajiban kita sebagai umat beragama. Bahkan sebaliknya seolah ber-lomba2 meng create suatu masalah dari perbedaan2 yg ada di muka bumi ini. Sungguh itu pekerjaan yang sia2 dan tiada bernilai.

Akhirnya, selamat untuk Wak Karyo yang telah menembus fase perbuatan yang mesti dilakukan, yang tersulit dalam kehidupan ini (menurut saya). Semoga apa yang dilakukan wak Karyo bisa menjadi inspirasi untuk kita sebagai umat beragama .

Wak Karyo, tetaplah Konsen & Jaga Hati, sifat2 ke Tuhanan semoga selalu menaungi kita semua.

Semoga semua mahluk berbahagia.

Franky.S
-----

Posted by Franky Suprayogi  on  10/22  at  12:11 PM

Assalamu Alaikum

Penghormatan setinggi-tingginya kepada Wak Karyo, saya berharap Tuhan terus memberikan energi kasih sayangnya agar konsistensi berbagi terus teraktual lewat tangan wak karyo.

Saya sangat sepakat bahwa persoalan-persoalan kemanusiaan bukan milik eksklusif satu agama tertentu. Nilai-nilai kemanusiaan melintasi sekat-sekat itu. Apalagi hari ini kita sering dibingungkan dengan banyak konflik yang selalu dikaitkan dengan sentimen sara.

Sementara persoalan-persoalan rakyat terkait dengan keadilan, persamaan, kesempatan untuk menghirup udara kemanusiaan dinegeri ini seringkali diabaikan. Ada kerinduaan yang memuncah kehilangan ayat hidup menyantuni fakir miskin dan anak terlantar.

wassalam

Posted by Abazky Armakovich  on  10/22  at  09:10 AM

Sebagai muslim yang concern dengan dialog-dialog lintas iman saya sangat salut dengan sikap dan pribadi wak Ibe Karyanto.Beliau rela mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk memberikan menfaat bagi kaum papa.Diera keterbukaan sekarang ini memang perlu dan sangat dibutuhkan umat-umat yang tidak sekedar agamis atau hanya mencintai Tuhan dan nabinya saja.Namun jauh yang lebih penting dalah bagaimana umat yang memiliki iman dapat berwajah toleran,inklusif dan mempunyai semangat dalam rangka berjuang demi kamnusiaan serta dengan penuh ketulusan hati selalu membantu saudaranya tanpa harus membeda-bedakan agamanya.Barangkali sangatlah tepat kalau wak Ibe Karyanto ini adalah domba-domba ideologisnya Alm.Romo Mangun.Jadi dalam menolong sesama kita jangan memiliki tendensi-tendensi pribadi,kelompok atau misi suci agama.Menolong orang lain sangat perku kita lakukan semata-mata demi kemanusiaan.

Posted by heri nurdianto  on  10/16  at  01:10 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq