Puritanisme Menghambat Kemajuan - Komentar - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Wawancara
26/03/2006

Sarlito W Sarwono: Puritanisme Menghambat Kemajuan

Oleh Redaksi

Kondisi mental dan psikologi umat Islam Indonesia setelah zaman reformasi belum kunjung berubah. Perasaan terus terkepung (siege mentality) oleh pelbagai isu, masih saja terus menghantui. Padahal, Islam tetap terus berkembang dengan wajar, baik di Indonesia bahkan di banyak belahan dunia. Demikian hasil perbincangan Novriantoni dari Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan Sarlito Wirawan Sarwono, guru besar psikologi di Universitas Indonesia, Kamis (16/3) lalu.

26/03/2006 20:53 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (7)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Pak Sarlito, dari awal saya mengikuti pula blog dan website Anda, saya mengagumi keluasan wawasan berpikir Anda. Semoga ketulusan Anda sbg seorang guru besar di UI, dapat menularkan cara2 berpikir dgn wawasan luas dan hati yg besar kepada anak2 didik Anda shg niscaya kalau saja bisa ada 1000 orang generasi baru muslim bisa berpikir seperti anda, maka Indonesia sudah bergerak menuju ke arah kebaikan - walau ini masih terlalu kecil.

Pikiran2 dan wacana2 seperti yg Anda kemukakanlah yg harusnya kita cerna dan kita olah dan harus kita perdengungkan lebih luas lagi agar publik bisa lebih dewasa dalam menyikapi apa yg sedang terjadi dgn gejala radikalisasi Islam yg justru sangat amat jauh dari “core” keimanan Islam itu sendiri. Juga akan menyadarkan masyarakat akan pentingnya “beriman” bukan sekedar “berlabel agama”, misalkan dgn jenggot, atau jidat yg hitam karena tahajud berjam2, dll.

Pak Sarlito… terus terangi bangsa ini. Semoga anda dan keluarga selalu diridhoi Allah Swt dan semoga anda dan keluarga dapat menjadi “terang” bagi sekeliling anda baik di rumah, di kampus, di JIL, di mana saja. Bangsa ini butuh anda… butuh lebih banyak lagi anda. Andai bisa di-klon - mungkin lebih baik 

Wacana kekerasan dan fundamentalisme hanya dapat dilawan dgn wacana kasih, dialog, akademis, logis. Niscaya rakyat Indonesia yg pintar ini akan melihat sendiri siapa sih yg serigala berbulu domba. Siapa yg sebenarnya anti demokrasi itu.

Walahualam.

#1. Dikirim oleh Johan  pada  27/03   05:03 AM

Assalamualaikum.

Novriantoni, telah beberapa kali dalam komentarku, kalau kita mendapatkan masukan idea yang baik seperti sekarang yang disampaikan oleh bpk Sarlito WS, seorang cendikiawan, dimana pendapatnya itu memang enak dipakai sebagai acuan hidup tanpa meninggalkan dasar kita dalam beragama, disampaikan kehalayak ramai melalui media masa, sehingga sebenarnya di masyarakat itu ternyata masih ada pikiran lain yang lebih jernih yang merupakan anutan sebagaian besar masyarakat kita Indonesia.

Bukankah kita sudah merasakan sumpeknya melihat tayangan di semua TV setiap hari, demontrasi itu dan ini yang ujung-ujungnya duit (Sarlito), mengeritik pemerintah karena terlambat menangani kasus kesehatan, padahal kesehatan itu sebenarnya tanggung jawab orang tua, mereka tidak mengerti berkeluarga berencana yang karena kebodohannya semua pihak termasuk media masa selalu merasa nikmat menyalahkan pemerintahan (yang memang bermental begitu).

Cobalah wahai saudaraku media masa, buktikanlah bahwa tesis Sarlito itu benar adanya (tesis dapat diterima secara statistik). Kita semua pengamat telah menyadari bahwa kebanyakan mereka itu menggunakan agama untuk kepentingan politik, kedudukan, dan duit seperti contoh yang dikemukakan bpk Sarlito:

1. Betul, intinya adalah “Pemerasan hanya dilakukan oleh orang yang punya kekuatan, dan kebetulan, kekuatan itu saat ini dilambangkan dengan simbol-simbol agama”.  2. Kalau kita lihat sejarah, hampir tidak ada bukti bahwa kembali kepada ortodoksisme akan membawa kita sampai kepada kemajuan.  3. Tesis nya Sarlito: intinya sebetulnya terletak pada peran media masa. Merekalah yang dapat berperan, membawa pada kesejahteraan masyarakat, dengan demikian, mereka punya andil besar pada kemajuan bagi bangsa, yang saat ini dipimpin SBY-Kalla.

Kondisi mental dan psikologi umat Islam Indonesia setelah zaman reformasi sulit berubah, karena ketakutan tidak dapat lagi duit. Perasaan mereka terus terkepung (siege mentality) oleh pelbagai isu, yang menampakan diri berupa ”hantu-hantu”. Padahal, Islam tetap terus berkembang dengan wajar, baik di Indonesia bahkan di banyak belahan dunia, terutama mereka yang non-islam dengan program yang islami.

Wassalam

#2. Dikirim oleh H. Bebey  pada  27/03   07:03 PM

Saya setuju banget dengan pendapat Pak Sarlito, karena itu “plek” persis seperti pendapat saya. Mestinya banyak orang orang pinter yang pandangannya seperti Pak Sarlito.

#3. Dikirim oleh Ruddy Nurcahya S  pada  28/03   06:03 PM

Assalamualaikum Wr.wb

Saya sangat setuju jika puritanisme dan kembali kepada ortodoksi akan menghambat kemajuan, karena kalau kalau kita cermati alur sunatullah akan selalu maju kedepan tdk pernah ia plash back ke belakang, ini artinya bahwa islam yang kita anut merupakan sesuatu yang menjadi dan bukan ada, disinilah ada perbedaan yang mencolok antara menjadi dan ada, kalau menjadi itu akan terus mengalami evolusi dan mengikuti sunatullah, dan kalau ada itu sesuatu yang sudah being, dalam hal ini islam hemat saya “menjadi” bukan “ada”.ini berarti bahwa islam yang lahir bukan sesuatu yang siap pakai seperti alat asesoris tetapi islam akan selalu berkembang merespon berbagai persoalan yang ada seiring dengan perubahan zaman.

Oleh karena itu kembali kepada ortodoksi merupakan hal yang sangat bodoh, karena itu sama artinya ia kembali kepada sesuatu yang sudah tertinggal ribuan tahun yang lalu,ironisnya umat islam saat ini selalu berkaca kepada masa keemasan yang pernah di capai pada masa rasulullah dan khulafaurrasyidin. Padahal masa tersebut sudah tidak pernah terulang kembali dan itu sudah tertinggal beberapa abad yang lalu.

Mungkin yang saya harapkan bagi umat islam mampu merumuskan jauh kedepan kehidupan yang sesuai dengan jamannya dengan berpatokan kepada Al quran dan hadis sebagai landasannya disertai dengan reinterpretasi yang kontekstual. islam saat ini harus mampu bergandengan dengan ilmu ilmu umum.

#4. Dikirim oleh Ida Wahyudi  pada  29/03   07:03 AM

Menanggapi ulasan yang disampaikan oleh Bapak Sarlito tentang puritanisme dalam Islam, saya berpendapat bahwa yang dibutuhkan oleh umat saat ini adalah sebuah tindakan nyata yang merealisasikan sikap keberagamaan ritual mereka.

Tentu ini bukan pekerjaan gampang. Kita harus membangun fondasi yang kuat sejak dini pada generasi penerus Islam agar dikemudian hari mereka dapat mengkaji dan mengaji ayat-ayat Allah dalam kehidupan kesehariannya.

Kuatnya keinginan untuk mengembalikan kejayaan kekhalifahan yang sedang menghangat akhir-akhir ini juga dapat dijadikan contoh bahwa kita telah berada dalam suatu kondisi yang disebut Siege Mentality.

Untuk mengembangkan sebuah metode yang dapat memajukan pola pikir generasi penerus Islam, ada beberapa hal yang mungkin dapat dijadikan pertimbangan, seperti: 1. menghidupkan forum-forum diskusi pada tingkat sekolah yang bertujuan untuk mempelajari lagi filsafat melalui dialektika oralis. 2. menindak tegas setiap gerakan atau aliran yang bertujuan untuk jadi “Hakim Allah”. 3. memberdayakan pola-pola pengajaran yang terbuka dan up to date pada lingkungan pendidikan Islam. 4. melalui pendekatan iptek dalam memahami alam dan ayat-ayat Allah akan lebih memberikan pemahaman yang baik terhadap Islam dan alam semesta.

Puritanisme timbul dari rasa kecewa dan kalah yang tak terobati sehingga mereka merasa yakin dengan menciptakan dunianya sendiri dalam angan-angan masa lalu yang ideal dan nyaman.

Islam lebih tepat pada konteks “kekinian” dan “kedisinian” daripada memaksakan “kemasalampauan” yang mana kita sama-sama belum tentu yakin dengan keorisinilitasannya.

Wallahualambissawab.

#5. Dikirim oleh Desmond  pada  11/04   07:05 AM

Puritanisme dan ortodokisme memang sudah terbukti menghambat kemajuan umat “Islam”. Masalahnya “Islam” yang mana ? Apakah berlabel organisasi atau Islam dalam arti kata sejahtera dan damai ? Kalau manusia manusia telah mencapai apa yang dinamakan “sejahtera dan damai” maka itu lah “Islam” sesungguh terlepas dari organisasi dan kelompok tertentu. Islam adalah universal dan bukan milik kelompok dan ormas Islam. Pendapat Mas Sarlito bahwa sesungguhnya kelompok non muslim bai berupa LSM dan Organisasi kemanusiaan yang bertindak Islami melalui tindakan tindakan yang nyata memang pantas disebut lebih “Islam” dibandingkan dengan aksi pengrusakan oleh Ormas Islam pada kantor Majalah Playboy misalnya. Tindakan anarkis sangatlah tidak Islami...malah syaitani dan justru merusak citra Islam itu sendiri. Jika Islam itu berkembang sesuai zamannya maka itu adalah benar adanya. Mengapa kita harus bertahan pada kehidupan Islam pada zaman Rasullullah yang ribuan tahun dahulu ? “Islam” adalah agama akhir zaman dan dimiliki oleh semua umat manusia dimuka bumi ini dan sarat dengan kemajuan teknologi, kemajuan budaya dan sosial. Jadi marilah kita kembali ke Islam sesungguhnya yang penuh damai dan kesejahteraan.

#6. Dikirim oleh Hadrian Nataprawira  pada  16/04   11:04 PM

Seorang muslim yang baik akan mempelajari agamanya dengan baik pula, tidak mengekor dan selalu mencari kebenaran dan menyatakan kebenaran agama Islam atas dasar tuntunan AlQur’an dan Hadits. Saya tidak sependapat dengan Bapak Sarlito, karena yang namanya Agama itu sdh jelas ada tuntunannya Al-Quran dan Hadits. Jadi ini bukanya yang gak pas sama budaya/ akal kita ya...tidak pas/cocok. Bagaimana ini.... berarti kita tidak yakin dong dengan apa yang sudah diperintahkan oleh Rasulullah. Kosekwensi syahadatnya kemana ya...sebagai orang muslim. Jadi berilmulah dalam beragama, ilmu dari para Ulama yang benar2 istiqomah dalam menjalankan agamanya, latar belakangnya memang betul2 ulama2 besar dari golongan ulama2 yang memang menjalankan tuntunan AlQur’an & Hadits. Jadi bukan Adat/kondisi/keadaan dunia yang sesuai dengan akal yang menjadi ukuran pas/tidak nya dalam kita beragama, tetapi AlQur’an & Hadits Rasulullah yang menjadi pedoman/acuan seperti yang dilakukan oleh para Sahabat, dan generasi setelahnya. Trima kasih.
-----

#7. Dikirim oleh iwan sutopo  pada  23/04   10:04 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq