Salafi Radikal, Pesantren, dan Terorisme - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kolom
01/09/2003

Salafi Radikal, Pesantren, dan Terorisme

Oleh Jamal Ma’mur Asmani

Di sinilah kelihatan karakter asli kelompok ini yang memandang turast (doktrin dan tradisi) yang berupa teks-teks kitab secara literalistik, tekstual, sakral, eternal, magis, dan final. Pandangan inilah yang menyebabkan perilaku mereka yang ekstrem, radikal, fanatis, tidak kenal kompromi, eksklusif, dan fundamentalis.

Term “salafi radikal” kami ambil dari terminologi Azyumardi Azra ketika melihat
fenomena gerakan otentifikasi Islam sedang mengecambah di Indonesia. “Salafi radikal” adalah kelompok
yang berorientasi pada penegakan dan pengamalan “Islam yang murni”, “Islam
otentik” yang dipraktikkan Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Disebut sebagai
“salafi radikal” karena mereka cenderung menempuh pendekatan dan cara-cara
keras untuk mencapai tujuan, daripada cara damai dan persuasif. Tumbuhnya
kelompok ini berawal dari imigrasi orang-orang Hadhramaut ke Indonesia dalam jumlah besar dan massif,
terjadi terutama sejak abad 19. Mereka membentuk enklave-enklave di berbagai kota di Indonesia;
Petamburan dan Kwitang (Batavia), Pekalongan, Surakarta, Surabaya, Pontianak, Palembang, dan lain-lain. (Republika, 25/10/2002).

Term ini terasa aktual akhir-akhir ini setelah mendapatkan
momentumnya. Pasca insiden JW Marriott, aparat menuduh pesantren sebagai sarang
teroris. Term “salafi radikal” tepat sekali untuk menggambarkan fenomena Abu
Bakar Ba’asyir, Amrozi, Ali Imron, Hambali, dan lain-lain. Nama-nama ini muncul
ke permukaan, bahkan dunia, karena aktivitasnya yang menghebohkan, menggunakan
cara kekerasan untuk mencapai tujuan. Segala cara harus dilakukan untuk
menegakkan kalimah Allah di muka bumi ini. Para
penentang “khilafah”, “hukum Allah”, dan “syariat” adalah kafir yang harus
dilenyapkan dari permukaan bumi ini. Mereka merujuk hadis “Man ra-a minkum
munkaran falyughayyirhu biyadihi wa-in lam yastathi’ fabilisanihi wa-in lam
yastathi’ fabiqolbih, wazalika adl’aful iman”; barang siapa melihat
kemungkaran, ubahlah dengan kekuasaan, jika tidak mampu ubahlah dengan
kemampuan diplomasi, dan jika tidak mampu maka cukup dengan hati, dan itu
adalah iman yang lemah.

Berdasarkan tekstualitas hadis ini, mereka melakukan
serangkaian kegiatan dan gerakan pembersihan segala apa yang berbau “maksiat” (ma’ashi),
“dosa” (zunub), “mungkar” (munkar), “keji” (fakhsya’), “kemunafikan” (nifaq),
dan segala macam “muharramat” (yang diharamkan agama). Term-term ini sangat
luas maknanya, mencakup hampir seluruh aspek kehidupan, terutama publik. Saat
ini, secara faktual kita melihat keanekaragam perzinaan, eksploitasi aurat
(para turis), iklan transparan (semua iklan hampir menonjolkan organ wanita
yang sensitif), judi, minum-minuman keras, dan lain-lain mengelilingi kehidupan
ini secara bebas. Dan kebetulan, yang menyediakan hal-hal semacam ini secara
full dan terbuka umum adalah restoran, night club, dan tempat-tempat
hiburan lainnya yang notabene banyak dikunjungi oleh warga negara asing. Maka
tak ayal lagi, tempat-tempat semacam itu selalu rentan aksi kelompok ini, baik
berupa ancaman, bom, tembak, sweeping, dsb. yang semuanya masuk dalam katagori
terorisme.

Bagi kelompok ini, demokrasi adalah absurd, hanya
akal-akalan barat untuk mempermudah ekspansi kapitalisme-global yang
ujung-ujungnya semakin memperlemah posisi dan bargaining power umat Islam, dan
semakin mengangkat kekuatan mereka nyaris sempurna. Sampai saat ini, umat Islam
identik dengan kelompok marginal, tertindas, obyek perdagangan, dan selalu
dijadikan bulan-bulanan kaum zionis-imperalis dengan lokomotifnya AS. Maka,
tidak ada jalan lain kecuali kekerasan dan mengoptimalkan semua kekuatan Islam
untuk menandingi kedigdayaan lawan sesuai dengan bunyi teks hadits.

Di sinilah kelihatan karakter asli kelompok ini yang
memandang turast (doktrin dan tradisi) yang berupa teks-teks kitab
secara literalistik, tekstual, sakral, eternal, magis, dan final. Pandangan
inilah yang menyebabkan perilaku mereka yang ekstrem, radikal, fanatis, tidak
kenal kompromi, eksklusif, dan fundamentalis. Apa yang tersirat dalam teks
adalah mutlak kebenarannya dan wajib hukumnya memperjuangkannya sampai titik
darah penghabisan.

Persoalannya kemudian, betulkah karakter semacam ini menjadi
mainstream pesantren di Indonesia, sehingga pesantren layak dituduh
sebagai sarang terorisme sebagaimana tuduhan pihak berwajib? Di sinilah urgensi
identifikasi dan kategorisasi pesantren untuk memperjelas apakah semua
pesantren layak dituduh sebagai sarang terorisme, atau sebagian saja.

Sepanjang berdirinya negara ini, pesantren sebagaimana yang
kita tahu adalah lembaga pendidikan yang didirikan oleh para ulama untuk mendidik,
membimbing dan memberdayakan santri dan masyarakat dalam hal keagamaan, sosial,
budaya dan politik kultural. Peran serta ulama dalam ikut mengantarkan negara
ini ke gerbang kemerdekaan tidak diragukan lagi, tertulis dalam tinta emas
perjuangan bangsa.

Secara faktual-empiris, mayoritas pesantren bernaung pada
kelompok organisasi besar, yakni NU (Nahdlatul Ulama) dan MD (Muhammadiyah),
karena itu, untuk mengetahui seperti apa corak dan warna pesantren, bisa
dilihat dari karakteristik para eksponen pesantren tersebut. Untuk membuat
contoh, KH. MA. Sahal Mahfudz (mewakili NU-Ra’is Am Syuriyah NU) dan Prof. Dr.
Ahmad Syafi’I Ma’arif (Ketua PP Muhammadiah). Publik sudah mafhum bagaimana
karakter dan komitmen mereka terhadap persoalan keumatan dan kebangsaan. Tentunya,
aksi-aksi mereka dalam aspek pendidikan, sosial, budaya, ekonomi, dan politik
lahir dari kedalaman pemahaman terhadap doktrin dan norma yang terdapat dalam
kekayaan khazanah keilmuan masing-masing organisasi tersebut. Kalau di NU
berupa kitab kuning (classical source), kalau Muhammadiyah al-Qur’an dan
Hadits (dan wacana akademik-kontemporer). Namun, akhir-akhir ini kedua
organisasi ada dalam platform yang sama, yaitu sama-sama ingin menampilkan
Islam sebagai rahmatan li-alamin dengan cirinya; infitah (inklusif),
tawasut (moderat), tasamuh (toleran), i’tidal (lurus), musawah (persamaan), dan
maslahah (kesejahteraan). Tujuan mereka adalah terciptanya keadilan [adalah},
supremasi hukum (tahqiqul hukmi), dan kesejahteraan rakyat (al-mashalih
al-ra’iyah) dalam frame good governance. Semua ini lahir dari cara
pemahaman mereka terhadap teks yang ada pada al-Qur’an, al-Hadis, dan
kitab-kitab ulama yang bertebaran dalam masalah teologi, fiqh,dan tasawuf
(mistisisme) yang kontekstual, metodologis, dan menyejarah. Hasil Muktamar NU
di Cipasung 1992 dan Mukmar Muhammadiyah tahun 2001 yang lalu (yang populer
dengan ijtihad budaya) menunjukkan hal ini.

Melihat realitas faktual ini, sangat jauh kemungkinannya
jika pesantren model NU dan Muhammadiyah dan model pesantren yang lain sampai
melakukan tindakan-tindakan yang ekstrem, radikal, dan fundamentalis, karena
tindakan semacam ini dengan sendirinya menguburkan cita profetik Islam sebagai
agama rahmah, berubah menjadi agama niqmah (siksa), dan nar (neraka). Mereka justru
ingin menampilkan Islam secara humanis, persuasif, dinamis, dan progresif.

Tiga mainstream keilmuan pesantren (tauhid, fiqh dan
tasawuf) sangat menganjurkan umat untuk berbuat kebajikan, kasih sayang,
mengalah demi orang lain, membahagiakan orang lain, menolong dan bekerjasama,
dan sedini mungkin menghindari konflik, konfrontasi, intrik, dan hal-hal
destruktif lainnya. Dengan inilah Islam akan bisa diterima dimuka bumi secara
simpatik dan penuh dengan kesan. Bukan dengan pedang, bom, tembak yang menyisakan
kesan kejam, bengis, dan biadab. Bukankah Rasulullah Muhammad tidak pernah
menggunakan pedang selama masih ada jalan lain yang lebih bijaksana?

Dari sini bisa disimpulkan, kelompok dari rahim pesantren
yang populer dengan “salafi radikal” ini adalah minoritas dari mainstream
pesantren yang ada. Kelompok ini mempunyai aktivitas, gerakan dan target
politik yang jelas, serta jaringan internasional dengan cara dan karakter yang
spesifik. Di sektor dana, pesantren seperti ini juga mempunyai akses yang luas.
Ciri-ciri semacam ini sulit didapatkan di pesantren Indonesia pada umumnya. Oleh sebab itu,
sangat tidak bijaksana apabila ada pihak-pihak tertentu yang melakukan
generalisasi dengan mengatakan semua pesantren layak disebut sebagai sarang
terorisme. []

01/09/2003 | Kolom | #

Komentar

Komentar Masuk (12)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Dengan tuduhan tersebut, ini menandakan pengingaran terhadap Al Qur an, dan As Sunnah. Lalu siapa yang masuk surga, ahli Bid’ah atau ahli sunnah?

Banyak sekali perintah perang dalam Al Qur an, dan perintah lainnya dalam As sunnah, yang berisi jika seseorang memiliki kewajiban perang dan tidak perang hanya bisa berkata-kata, seperti group-group musik yang beredar di planet ini, seolah-olah mereka membela Palestina. Itu adalah munafik!

Memang ada beberapa pesantren yang salah tanggap, mengatakan wajib perang maksudnya semua orang kafir diperangi. Tapi ini hanya sebagian. Kita haram membunuh orang kafir, yang tidak mengganggu kita, dan diwajibkan membunuh orang-orang kafir yang mengganggu agama Allah, seperti George W. Bush. Yang akan membusuk diakhirat.

Sesungguhnya orang-orang kafir dengan kata-kata mereka yang mengatakan, Islam adalah teroris, telah berhasil mengadu domba kita agar mengatakan betul. Dan kita perangi saja umat Islam itu sendiri. Sungguh tertipu oleh Amerika.

Apalagi dengan menuduh mereka yang menentang, seperti salafi, dan muhammadiyah yang biasanya suka menentang bid’ah-bid’ah, mereka dikatakan tersesat dan radikal. Ini pertanda orang tersebut menginginkan dunia saja.

Mereka tidak peduli Rasul dan Allah dengan sebenar-benarnya, dan berharap mendapat banyak manfaat dari orang-orang Amerika, yang sangat pandai menurut orang-orang tersebut, karena bisa membuat pesawat, handphones, nuklir, dan peralatan perang yang canggih. Tapi Orang Islam yang Kaffah tahu kalau orang-orang Amerika itu seperti yang tersirat dalam surat Al Fajr. Yaitu kaum Tsamud, Kaum ‘Ad, kaum Fir’aun. Dan pada jaman Rasulullah saw. mereka yang membangkang disebut kaum munafik! Jika Rasulullah saw. masih ada di dunia ini maka akan ada yang disebut kaum Amerika. Dan mereka adalah yang mencintai dunia.
-----

Posted by Ikhsan Gunawan  on  07/14  at  03:07 AM

Berkacalah pada diri kalian, bacalah diri kalian, apakah kalian sudah tahu, dan apakah kalian tidak memperhatikan bagaimana anda shalat, ingatlah bahwasanya sebelum shalat anda pasti diharuskan berwudhu… apa saja yang dicuci dalam wudhu itu.. dan apa artinya dalam kehidupan mu! Boleh boleh saja anda tidak suka tapi ingatlah syariat “amal maruf nahi mungkar!” sebagai .جندي الله.) החייל של אללה terlebih sebagai seorang muslim maka saya sangat terikat dengan itu. Ingatlah bahwa segala seuatu pasti ada batas dan ukurannya jadi jangalah kalian melampauinya, dan sesungguhnya sudah sangat jelas bahwa kendaran syaitan itu adalah nafsu!

Posted by Jupli  on  09/29  at  08:09 PM

Semoga Allah mengampuni dosa2 orang2 pembuat fitnah tak berdasar. Kayaknya anda sudah jadi “ANTEK” Kaum Kafir AMERIKA nih. Segeralah bertobat, karena sesungguhnya ALLAH MAHA PENERIMA TAUBAT.

Posted by Chanks  on  09/26  at  06:10 AM

pelajari dulu sesuatu yang akan dikaji atau yang akan diungkapkan dan jangan asal menulis artikel karena sesungguhnya dusta itu sesungguhnya dilarang oleh ALLAH Subhana Wa Ta’ala

Posted by rozi putra  on  08/09  at  09:08 PM

Cobalah anda mempelajari islam dengan benar!! jangan hanya memakai otak dan nafsu anda. Ingatlah yang benar akan selalu dalam lindungan allah!!!

Posted by Fauzan Al sundawy  on  06/24  at  10:06 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq