SBY, Ciketing dan Perlindungan Non-Muslim - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kliping
16/09/2010

SBY, Ciketing dan Perlindungan Non-Muslim

Oleh Abdul Moqsith Ghazali

Umat Islam yang mayoritas di negeri ini perlu memberikan perlindungan kepada kelompok minoritas. Tak boleh yang mayoritas memangsa yang minoritas, sehingga yang minoritas boleh diintimidasi dan hak-haknya dalam menjalankan ibadat juga boleh dihalang-halangi. Sebagaimana Nabi Muhammad dan Umar ibn Khattab menjadikan dirinya sebagai pelindung bagi kelompok lain, maka seharusnya demikian juga perilaku umat Islam di sini, Indonesia.

Artikel ini sebelumnya dimuat di Media Indonesia, “OPINI”, Kamis 16 September 2010

Ciketing, Bekasi, tiba-tiba terkenal ke seantero negeri. Bukan karena di tempat ini ditemukan pabrik pembuat pil ekstasi, melainkan karena di pinggiran Jakarta ini ada peristiwa penusukan-pemukulan terhadap pendeta dan jemaat gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan). Alkisah, pada Minggu pagi (12/9/2010), Luspida Simanjuntak, Sintua Hasian Sihombing dan beberapa anggota jemaat berjalan beriringan menyusuri ruas-ruas jalan menuju sebidang tanah untuk menjalankan ibadat Minggu. Mereka menempuh jarak sekitar 2 kilometer. Tiba-tiba dari arah berlawanan, sekelompok orang dengan mengendarai sepeda motor datang menyerang. Para preman itu menusuk, memukul, dan menendang anggota jemaat. Akibatnya, Hasian Sihombing mengalami luka tusuk parah, Luspida Simanjuntak dan beberapa anggota lain mengalami luka memar.

Menanggapi kasus itu, Kapolres Bekasi dengan cepat menyatakan bahwa peristiwa Ciketing adalah kriminal biasa. Pernyataan pihak kepolisian itu tak pelak memantik kritik keras, terutama dari para aktivis HAM dan Pluralisme. Tidak hanya karena pernyataan itu tak berbasis pada penyelidikan, melainkan juga karena pihak kepolisian dianggap mengabaikan fakta-fakta sebelumnya tentang adanya intimidasi dan pelarangan ibadat jemaat HKBP Pondok Timur Indah di Ciketing Bekasi. Telah lama diketahui, sebagian warga melarang dan menghalang-halangi penyelenggaraan ibadat di tanah Ciketing. Tarik-menarik itu kemudian menimbulkan ketegangan di tengah masyarakat. Namun, alih-alih pihak kepolisian sigap bertindak untuk menjamin hak kebebasan setiap warga negara dalam beribadat. Yang terjadi justeru aparat kepolisian melakukan pembiaran demi pembiaran.

Bagaimanapun kita tetap menyerahkan pengusutan peristiwa Ciketing ini pada polisi. Dan kewajiban polisi adalah segera melakukan penyelidikan, sehingga publik bisa memperoleh informasi benar tentang apa yang sesungguhnya terjadi. Sebab, peristiwa Ciketing ini rentan dimanfaatkan sebagian pihak untuk menyobek kain kerukunan antar-umat beragama di negeri ini. Ketidak-seriusan dan kelalaian aparat kepolisian dalam menangani kasus Ciketing kiranya akan menyalakan api dalam beberapa sekam konflik di Indonesia.

Sebagai respons terhadap peristiwa Ciketing, kalangan civil society menyelenggarakan sejumlah konferensi pers yang berisi ungkapan keprihatinan dan kecaman. Para elit dan pimpinan ormas keagamaan mengutuk para pelaku kekerasan itu. PGI, KWI, NU, Muhammadiyah dan lain-lain berharap agar pemerintah mengambil sikap tegas dengan menyeret para pelaku dan aktor Ciketing ke meja pengadilan untuk diganjar dengan hukuman setimpal. Saya bangga dengan respons cepat para tokoh agama itu, sehingga konflik horisontal antar-umat tak terjadi. Para tokoh agama tersebut memiliki keyakinan kuat bahwa tak ada agama yang menghendaki jalan kekerasan. Agama hadir membawa semangat cinta, rukun, dan damai.

Rahmatan lil alamin

Sikap Islam yang pro-kerukunan dan perdamaian misalnya dapat diketahui dari konsep Islam sebagai rahmatan lil alamin. Betapa untuk tujuan kerukunan, dalam satu paragrap bagian pertama Piagam Madinah tercantum komitmen Nabi Muhammad untuk menjadi pelindung kelompok non-Muslim. Disebutkan, “jika seorang pendeta atau pejalan kaki berlindung di gunung atau lembah atau gua atau bangunan atau dataran raml atau Radnah (nama sebuah desa di Madinah) atau gereja, maka Aku (Nabi Muhammad) adalah pelindung di belakang mereka dari setiap permusuhan terhadap mereka demi jiwaku, para pendukungku, para pemeluk agamaku dan para pengikutku, sebagaimana mereka (kaum Nashrani) itu adalah rakyatku dan anggota perlindunganku”. Itulah penjelmaan Islam rahmatan lil alamin dalam sebuah kebijakan publik di Madinah.

Apa yang dilakukan Nabi Muhammad itu menginspirasi Khalifah Umar ibn Khattab untuk membuat traktat serupa di Yerusalem ketika Islam menguasai wilayah tersebut. Traktat tersebut dikenal dengan “Piagam Aelia”, berisi jaminan keselamatan dari penguasa Islam terhadap penduduk Yerusalem yang beragama non-Islam sekalipun. Salah satu penggalan paragraf piagam tersebut berbunyi, “Inilah jaminan keamanan yang diberikan Umar Amirul Mukminin kepada penduduk Aelia: Ia menjamin keamanan mereka untuk jiwa dan harta mereka, dan untuk gereja-gereja dan salib-salib mereka, dan dalam keadaan sakit maupun sehat, dan untuk agama mereka secara keseluruhan. Gereja-gereja mereka tidak akan diduduki dan tidak pula dirusak, dan tidak akan dikurangi sesuatu apa pun dari gereja-gereja itu dan tidak pula dari lingkungannya, serta tidak dari salib mereka, dan tidak sedikit pun dari harta kekayaan mereka (dalam gereja-gereja itu). Mereka tidak akan dipaksa meninggalkan agama mereka, dan tidak seorang pun dari mereka boleh diganggu”.

Kisah historis itu sengaja disuguhkan agar umat Islam Indonesia tak ragu untuk memberikan jaminan keselamatan kepada umat agama lain. Umat Islam yang mayoritas di negeri ini perlu memberikan perlindungan kepada kelompok minoritas. Tak boleh yang mayoritas memangsa yang minoritas, sehingga yang minoritas boleh diintimidasi dan hak-haknya dalam menjalankan ibadat juga boleh dihalang-halangi. Sebagaimana Nabi Muhammad dan Umar ibn Khattab menjadikan dirinya sebagai pelindung bagi kelompok lain, maka seharusnya demikian juga perilaku umat Islam di sini, Indonesia.

Inspirasi

Sementara bagi aparat pemerintah yang (insyaallah) beragama itu, apa yang dilakukan Nabi Muhammad dan Khalifah Umar ibn Khattab tersebut bisa bermanfaat untuk dua hal. Pertama, bisa menjadi salah satu inspirasi (bukan aspirasi) untuk merumuskan kebijakan publik terkait dengan hak dan kebebasan beribadat seluruh warga negara Indonesia. Dalam kaitan itu, sejumlah aktivis HAM dan Pluralisme telah mengajukan gagasan tentang perlunya menyusun UU Kebebasan Beragama. Dengan UU ini diharapkan tak ada lagi intimidasi dan ancaman dalam beribadat. Kedua, bisa menjadi teladan bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Bukankah sebagai kepala negara di Madinah, Nabi Muhammad telah menggaransikan dirinya demi hak beribadat warganya, baik yang Muslim maupun non-Muslim.

Dengan demikian, sebagai umat Islam dan sebagai kepala negara, Pak Beye (panggilan baru Presiden SBY) seharusnya kian mantap melindungi non-Muslim dan kelompok minoritas lain. Bagi presiden Indonesia yang beragama Islam, memberikan perlindungan terhadap warga negara yang hendak beribadat, di samping sebagai bagian dari menjalankan ajaran agama Islam, juga sebagai bagian dari melaksanakan amanat konstitusi. Dalam UUD 1945 pasal 29 ayat (2) disebutkan,”negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”. Pasal 28E ayat (1), “setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya…..”.

Sebaliknya, kepala negara Indonesia yang membiarkan satu kelompok warga negara menyerang kelompok lain yang menjalankan ibadat agama bukan hanya melanggar konstitusi, melainkan juga melanggar pokok ajaran Islam. Artinya, presiden Indonesia yang beragama Islam yang tak melindungi warga negara dalam beribadat menanggung dosa ganda; dosa kepada negara karena tak menjalankan amanat UUD 1945, dan dosa kepada Allah karena tak melaksanakan ajaran agama Islam. Wallahu A’lam Bis shawab.

16/09/2010 | Kliping | #

Komentar

Komentar Masuk (35)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Assalamu’alaikum wr.wb

Kalau ada yang mau mengubah aqidah Islam, dakwahi dia dengan hujjah yang benar dan dengan cara yang membuatnya paham akan ajaran Islam. Mari kita contoh Rasulullah SAW dalam berdakwah.

Posted by muhammad hakim  on  11/15  at  08:37 PM

baru tahu ya Islam adalah rahmatan lilalamin
tdk perlu ragu lagi tapi apabila aqidahnya di rubah oleh orang yang tidak faham al Qur’an maka wajib dibela, dengan harta jiwa dan raga ok to

Posted by hadi  on  11/06  at  08:43 AM

Assalamu’alaikum wr.wb.

Kita tidak bisa mengendalikan hati dan pikiran orang lain. Biarlah Allah SWT yang memberi balasan kepada orang-orang yang menghina dan menghujat perintah-Nya.

Posted by muhammad hakim  on  11/05  at  02:05 PM

Kalau keadaan orang yang memeluk agama seperti yang terjadi saat ini yang merasa agamanya paling benar, ajarannya paling benar,dll, sehingga terjadi berbagai macam kekacauan yang mengatasnamakan agama itulah tanda bahwa orang atau kelompok tersebut belum memahami agama yang sebenarnya. Padahal kalu kita sama-sama cermati kata agama dari bahasa Sangsekerta adalah “A” = Tidak dan “GAMA” = Kacau. Tapi realitas yang terjadi masih ada KEKACAUN. Itu agama baru ditenjau dari bahasa sansekerta belum lagi kalau ditinjau dari segi bahasa Arab. Benarlah apa kata Allah dalam sebuah hadits Qudsi “ Sesungguhnya Aku tidak melihat rupa dan amalmu melaingkan Aku hanya melihat Niat di dalam hatimu.-

Posted by Zakir.T.M.Hubulo  on  09/26  at  01:56 PM

sebenarnya yang jahil itu orang nasrani, sepatu nike di kasih kaligrafi, hari menggambar nabi muhammad juga orang nasrani, mereka sebenarnya yang mancing emosi ummat islam.  saya sarankan untuk semua ummat islam dan umat nasrani, cari vcd pidato “mantan pendeta waloni” dari manado, anda akan tahu seperti apa antara islam dengan nasrani, dan pelajari isi Al Qur`an. di dalamnya menceritakan sebelum - tengah dan yang akan datang dunia ini. BANYAK KRISTENISASI tapi juga TIDAK SEDIKIT PENDETA YANG MENINGGALKAN KEPERCAYAANNYA DEMI KEBENARAN.

Posted by wong netral  on  09/24  at  08:39 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq