Sejarah Tak Bisa Diubah dengan Senjata - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Wawancara
20/04/2003

Goenawan Mohamad: Sejarah Tak Bisa Diubah dengan Senjata

Oleh Redaksi

Jargon pembebasan rakyat Irak dari tirani Saddam Husein sebenarnya hanyalah kedok untuk menutupi lack of mission yang dimiliki George W. Bush dan kaum neo-konservatif di sekeliling Bush. Sejatinya mereka ingin membuktikan bahwa kedigdayaan Amerika bisa mengubah hitam-putihnya warna dunia. Sayangnya, sejarah tak pernah sudi ditundukkan oleh kekuatan militer manapun.

Demikian pernyataan Goenawan Mohamad, budayawan senior yang minggu lalu berkunjung ke Amerika, ketika diwawancara Ulil Abshar-Abdalla pada Kamis, 17 April 2003. Berikut petikannya:

Anda menulis “catatan pinggir” berjudul Bush, Baghdad (Tempo, 14/4/2003) yang cukup kontoversial. Bagaimana sih Anda melihat kemenangan invasi Amerika Serikat di Irak ini?

Kita harus bedakan antara: 1) tujuan; 2) cara; 3) hasil; dan 4) hasil sampingan. Saya kira, kegembiraan orang Irak dengan tumbangnya Saddam Husein adalah hasil sampingan dari serangan Amerika. Tujuannya atau pretensi legalnya ‘kan melucuti senjata pemusnah massal. Kalau kita membaca Project of the New American Century (PNAC) yang disusun Dick Cheney, Paul Wolfowitz, Donald Rumsfeld dan Richard Perle, sebelum mereka berkuasa, tujuan yang tidak dikatakan adalah mendirikan supremasi, bukan hanya hegemoni, Amerika di dunia, terutama di seluruh Asia.

Seorang aktivis perdamaian Israel pernah mengatakan bahwa serangan ini sama sekali tak ada hubungan dengan tujuan melucuti senjata, tapi untuk minyak. Memang banyak orang menganggap invasi ini untuk merebut minyak. Menurut aktivis Israel tersebut, minyak Irak ini menjadi senjata menghadapi Eropa dan Rusia. Dengan demikian, Eropa dan Rusia tidak bisa sekuat Amerika. Sebab, menurut pendapat orang-orang yang sekarang berada di sekitar Presiden George W. Bush, aliansi itu tidak permanen, tapi ad hoc. PBB itu tidak perlu, dan harus ditinggalkan. PBB itu nantinya menjadi semacam NGO multilateral yang gede saja.  Begitu argumen kalangan Hawkish di sekitar Bush.

Jadi, ada tujuan, cara, hasil dan juga hasil sampingan. Hasilnya adalah jatuhnya Saddam sehingga Amerika bisa berkuasa di sana. Sementara perihal cara, memang tidak bisa dibenarkan sama sekali. Sebab, ini melanggar hukum internasional. Dewasa ini Amerika nampaknya menganggap hukum internasional itu tidak perlu.

Opini kaum neo-konservatif di sekitar Bush mengatakan bahwa pascatragedi WTC 11 September, perlu ada pembalikan kebijakan. Dengan demikian Amerika tak bisa lagi membiarkan orang-orang yang memusuhinya. Bagaimana menurut Anda?

Argumen tadi tidak benar. Dick Cheney dalam sebuah pidato tentang kebijakan luar negeri mengatakan bahwa dengan terjadinya 11 September, maka apa yang kita cari, kita dapatkan, yaitu musuh. Karena tanpa musuh, dengan runtuhnya Uni Soviet, Amerika mengalami persoalan besar. Jadi 11 September hanya dalih dari suatu sikap melihat dunia dengan muram. Dan pada saat yang sama arogan. Itu memang khas pemikiran kaum neo-konservatif yang mengelilingi Bush sekarang.

Bukankah itu perangai yang biasa saja dari sebuah negara imperial di saat mereka merasa kuat?

Sebetulnya tidak bisa dikatakan demikian. Coba saja perhatian! Ketika PBB didirikan, yang bersikukuh mendirikan ialah negara-negara pemenang Perang Dunia II yaitu Amerika, Rusia, Inggris, Prancis, dan Cina. Waktu itu Cina belum kuat, tapi di Pasifik dia dianggap kekuatan yang menang perang melawan Jepang. Tapi justru itulah yang membikin PBB. Jadi tidak dengan penaklukan melalui supremasi militer seperti sekarang, tapi dengan membentuk lembaga internasional, untuk kepentingan sesama mereka juga. Itu dilakukan dalam bentuk negosiasi dan diplomasi.

Jadi tidak benar sikap ini menjadi corak Amerika selamanya. Amerika dulunya tidak begitu. Sekarang ini ada suatu gejala yang baru dan mungkin ada hubungannya dengan perasaan menang atas Uni Soviet. Mungkin juga ada hubungannya dengan luka-luka perang Vietnam dulu, mungkin juga berhubungan dengan banyaknya faham-faham di sana, yang menurut saya agak sakit, yaitu kaum Kristen Kanan di dunia perpolitikan Amerika. Sebab, kaum Kristen Kanan ini ‘kan menganggap bahwa Amerika adalah sebuah Yerussalem baru; negeri yang dijanjikan Tuhan.

Meski bisa disebut Bush seorang Kristen yang saleh, tapi Paul Wolfowitz ‘kan hanya seorang sekuler biasa?

Oh, ya. Beberapa kaum neo-konservatif tidak berdasarkan agama sama sekali. Mereka hanya menggunakan kesempatan ini untuk menguji teori mereka. Jangan lupa, kita harus tetap curiga bahwa invasi ini juga bermotif ekonomi yang sangat vulgar. Yaitu military industrial complex, kompleks industri militer, seperti yang disinyalir Eishenhower. Jangan lupa, bahwa kontrak yang diberikan pada perusahaan-perusahaan untuk merekonstruksi Irak pascainvasi ini ada hubungannya dengan Dick Cheney. Terus, orang yang mau dipasang di Irak sekarang adalah para penjual senjata yang menjual perabotnya untuk pasukan Amerika sekarang. Jadi mungkin juga untuk mengetes bagaimana persenjataan Amerika. ‘Kan kalau mau mengetes itu, tentu bukan dengan yang musuh kuat, tapi melawan yang lemah. Saddam Husein itu ‘kan sudah lemah.

Pembicaraan kini seputar Irak pasca-Saddam. Nampaknya, Amerika tidak menginginkan peran PBB di Irak. Bagaimana Anda melihat masalah ini?

Sekarang ini tendensi untuk mengabaikan PBB di kalangan pengambil keputusan di Amerika kuat sekali. Jangan lupa, Amerika sebelumnya sudah menolak beberapa perjanjian multilateral. Dan jangan lupa pula, bahwa Richard Perle pernah menulis, kalau Saddam jatuh, PBB juga habis. Jadi, mereka memang tidak mau menggunakan PBB. Nah, PM. Inggris Tony Blair sebaliknya, ingin menggunakan PBB. Sebab sebagai negara yang bukan super power, dia memerlukan kekuatan-kekuatan multilateral, negosiasi dan juga hukum internasional untuk melindungi kepentingan dia. Perancis, tentu saja dalam hal ini berpendapat sama. Akan tetapi, resistensi orang-orang Bush terhadap peran PBB di Irak, memang kuat juga. Lihat saja kemarin, pertemuan koalisi tidak mengundang orang PBB sama sekali.

Tapi sekutu Amerika seperti Inggris dan Spanyol mendesak agar PBB mendapat peran?

Seandainya saya menjadi Jenderal Tommy Franks, saya akan mintakan suatu lembaga internasional untuk ikut mengurus Irak pasca-Saddam. Sebab, problem di Irak ini, ternyata ruwet sekali. Memenangkan perang memang sangat mudah (bagi Amerika), karena Saddam sudah tak populer lagi, dan pasukannya pun tak mau lagi membela dia. Tapi, memenangkan damai dengan cara demokrasi, susah sekali, dan butuh waktu yang lama pula. Coba saja sekarang ini perhatikan; beberapa kalangan Syiah yang cukup kuat, mulai menolak perundingan di Nasiriyah. Beberapa di antara mereka mengatakan, “kami tidak butuh demokrasi Barat. Kami ingin Ayatullah yang memimpin”. Nah, kalau orang Syiah ini yang menang dalam pemerintahan transisi, menolak orang Amerika, kemudian bergabung dengan Iran yang sangat galak pada Israel dan juga pada Amerika, maka Amerika akan repot sekali. Jadi, kalau saya jadi Franks, daripada repot sendiri, mendingan melibatkan PBB. Tapi juga, kalau saya jadi PBB, saya tidak mau terlibat.

Tentu Amerika tak bisa meninggalkan gelanggang sama sekali, karena dia telah terlanjur basah. Tapi jika Amerika terlalu lama di Irak, ia akan dituding sebagai penjajah. Di Washington, ada opini bila Amerika memberi peran besar pada PBB, Amerika tak merasa yakin jalannya pemerintahan pasca-Saddam akan sesuai dengan kepentingan Amerika.

Wajar kalau mereka berpikiran seperti itu. Tapi masalahnya sekarang, apa sih sebetulnya yang akan terjadi? Kalau yang terjadi adalah Amerika mampu mengendalikan front nasional anti Saddam, Amerika mungkin akan berhasil. Tapi kalau Amerika tak berhasil, dia akan tertampar sekali. Saya berharap Amerika tidak bisa mengendalikan Irak pasca-Saddam, untuk menunjukkan kalau dia tidak bisa mengendalikan semuanya dengan mudah.

Jadi, mengurus dunia dengan cepat itu ‘kan repot juga. Bagaimana mengubah arah sejarah; apakah hanya dapat dilakukan dengan tekanan militer? Tidak pernah ada sejarah diubah dengan cara demikian. Kalau seandainya kemenangan Amerika berlanjut dengan terbentuknya pemerintah yang demokratis, dan demokratis itu berarti Irak akan dipegang oleh mayoritas yang bisa saja sangat anti-Israel dan radikal, maka sejarah apa yang berubah? Bahkan ini akan memperburuk posisi Amerika. Yang diinginkan Amerika ‘kan enak posisi mereka di sana. Banyak orang yang menentang perang dengan cara damai, mengharapkan suatu pemerintahan Irak yang independen, bahkan militan anti-Israel. Menurut saya, ini bisa memberi pelajaran pada Amerika. Mungkin ini suatu niat yang tidak baik dari saya.

Invasi Amerika menunjukkan ketidakjelasan eksistensi PBB. Tanggapan Anda?

Ini pertanyaan bagus, karena implisit di sana ada perasaan, kalau Amerika tidak mematuhi hukum internasional, PBB tidak bisa menjaga keadilan dunia, maka setiap negara bisa melakukan aksi sepihak. Dengan logika begitu, Indonesia bisa saja melakukan hal yang sama atas Aceh dan Papua. Mudah-mudahan itu tidak terjadi. Sebetulnya selama ini memang sudah tanpa hukum internasional, tapi ada negosiasi untuk mencoba keadaan tanpa hukum ini terkawal oleh traktak-traktat perjanjian, sehingga menjadi semacam hukum. Hukum yang ada masih terbatas, tapi itu yang dirusak Amerika sekarang. Jadi PBB memang harus diubah karena tidak efektif dan efisen lagi. Cuma mengubahnya bagaimana, memang masih jadi persoalan besar. Hanya saja, jangan sampai dengan tidak adanya hukum internasional, kita perlu mengabaikan negosiasi dan diplomasi melalui perjanjian-perjanjian bilateral ataupun multilateral.

Tampaknya hubungan antarnegara ini lebih ditentukan perimbangan kekuatan ketimbang diplomasi. Menurut Anda?

Ya. Sekarang harus diuji. Amerika tidak sabar dengan diplomasi, sehingga diplomasinya hancur-lebur. Kalau dia menyebut koalisinya hampir 40 negara, mungkin itu termasuk pulau-pulau kecil di Pasifik.

Taruhlah ambisi Amerika berhasil di Timur Tengah, kemudian negara-negara di kawasan itu menjadi takut dan tunduk, lalu mengadakan reformasi politik yang signifikan, dan mereka menjadi negara satelit Amerika di sana. Tapi saya kira, kemampuan Amerika untuk mewujudkan hal itu tidak cukup. Pertama, menyangkut masalah ekonomi. Jelas menjadi masalah yang besar. Kedua, kemampuan militer untuk bertempur terus-menerus. Ketiga, perlu adanya suatu ideologi untuk menyatukan agar orang yang menjadi objeknya merasa tidak perlu bertempur. Itu yang sekarang tidak dimiliki pemerintahan Amerika saat ini. Biarpun mereka punya senjata yang hebat sekali, menjadi superpower yang tiada tandingannya, tapi bukan berarti bisa menaklukkan seluruh Timur Tengah, apalagi seluruh dunia.

Apakah “pelajaran keras” Amerika saat ini membuat rezim-rezim di Timur Tengah berhitung ulang?

Amerika mau apa sekarang; mau menggebuk Suriah? Saya tidak mengerti maksud Amerika itu apa. Seandainya reformasi politik, apakah reformasi politik untuk kepentingan Amerika? Maukah mereka mereformasi rezim Arab Saudi atau Kuwait yang menguntungkan mereka?

Apakah segala paradoks Amerika yang begitu telanjang saat ini suatu pertanda akan jatuhnya peradaban Amerika?

Ya. Saya berharap Amerika gagal di sana. Kalau Amerika gagal, itu menunjukkan bahwa sejarah suatu negeri tidak bisa ditundukkan dengan kekuatan militer. Harapan kita, kegagalan itu membuat Amerika rendah hati. Amerika “jatuh” kalau pemerintah baru di Irak nanti tidak seperti yang diharapkan. Itu penting bagi saya. Soal kerusuhan sekarang di Irak mungkin mudah diatasi, tapi belum tentu selanjutnya semudah mengatasi kerusuhan itu.

Yang paling susah adalah membentuk pemerintah yang kredibel?

Betul. Kredibel bagi orang Irak dan menyenangkan buat Amerika. Kedua hal ini belum tentu bisa sejalan, lho! Bila menyenangkan buat Amerika saja, tapi tidak sesuai aspirasi orang Irak, maka timbul pemerintahan yang lemah. Legitimasinya kurang. Akibatnya, Amerika akan di Irak terus- menerus.

Argumen kaum neo-konservatif seolah-olah perang ini bukan hanya kepentingan material, tapi ada suatu “ide gila” yang ingin mereka perjuangkan. Semacam war of mission?

Saya kira, tidak. Tapi saya juga tak setuju kalau perang ini semata-mata karena kepentingan material, dalam artian minyak Irak direbut, lalu uangnya diambil. Karena bisa jadi “ongkosnya” lebih besar dari itu. Bukan juga mission. Salah satu kritik yang saya baca di The New Republic menyatakan bahwa kaum neo-konservatif itu justru kekurangan misi.

Nah, saat ini memang dijual dan dipasarkan ide tentang pembebasan rakyat Irak. Menurut saya, isu itu soal sampingan. Itu bukan hal yang dituju sebenarnya. Yang dituju untuk meneguhkan kekuasaan saja. Tapi untuk apa kekuasaan itu? Inilah problem dari orang-orang yang menganggap bahwa ini adalah real politik. Perang ini adalah areal unjuk kekuatan. Itulah problem real politik yang seolah-olah suatu kenyataan. Sebetulnya mereka ini punya ilusi-ilusi yang sangat besar, dan berpikir tentang dunia dengan logika yang simplistik. Tapi tesis saya ini hanya bisa dibuktikan kalau perkembangan di Irak menunjukkan kegagalan di tangan Amerika.[]

20/04/2003 | Wawancara | #

Komentar

Komentar Masuk (0)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq