Sekularisme: Sikap Positif Umat Beragama - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Diskusi
05/11/2010

Sekularisme: Sikap Positif Umat Beragama

Oleh Siti Rofiah*

Kesalahpahaman terhadap pesan-pesan al Qur’an ini tidak saja dialami oleh orang-orang non Muslim tetapi juga oleh umat Islam. Bagaimana kita mau berdialog dengan umat agama lain kalau kita sendiri tidak memahami seutuhnya agama kita sendiri?

Reportase Diskusi Kampus JIL di IAIN Wali Songo Semarang, 29 Oktober 2010

Munculnya ide-ide pembaruan pemikiran Islam dengan konsep-konsep baru seperti sekularisme, liberalisme dan pluralisme di Indonesia seringkali menuai kontroversi. Bahkan kata-kata tersebut—jika diucapkan tanpa rangkaian kata lain—sudah memiliki konotasi yang negatif.

Terlebih lagi pasca dikeluarkannya fatwa oleh MUI pada tahun 2005 yang mengharamkan tiga paham tersebut. Ada begitu banyak konsep mengenai sekularisme, liberalisme dan pluralisme di masing-masing pemikiran cendekiawan muslim yang tentunya berbeda-beda.

Latar belakang inilah yang menurut Budhy Munawar Rahman perlu ditelaah. Penelitian dan pemetaan yang dilakukannya selama tiga tahun tersebut kemudian dikodifikasi menjadi sebuah buku dengan judul Reorientasi Pembaruan Islam, Sekularisme Liberalisme dan Pluralisme Paradigma Baru Islam Indonesia.

Buku yang tebalnya kurang lebih 800 halaman tersebut didiskusikan pada 29 Oktober 2010. LPM Justisia Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang sebagai panitia penyelenggara menggaet beberapa lembaga seperti eLSA (Lembaga Studi Sosial dan Agama), JIL (Jaringan Islam Liberal) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Syari’ah Komisariat Walisongo Semarang untuk menyukseskan acara tersebut.

Selain Budhy, hadir dua pembicara lainnya yakni M. Solek, Dosen Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo yang juga alumnus Leiden University, dan Abdullah, S.T., M.T. Ketua DPD I HTI Jawa Tengah.

Dalam uraiannya, Budhy menjelaskan latar belakang penulisan buku ini. Reorientasi pembaruan Islam baginya, sangat perlu dilakukan karena perkembangan Islam di dunia saat ini sangat pesat. Momentum tersebut ditandai dengan runtuhnya WTC pada 11 September sembilan tahun yang lalu yang menempatkan Islam sebagai “tertuduh”.

Budhy mengatakan, “fatwa MUI tentang haramnya sekularisme, liberalisme dan pluralisme justru memiliki “hikmah” tersendiri bagi perkembangan pemikiran-pemikiran tersebut”. Ia menegaskan, setelah keluarnya fatwa haram justru banyak definisi atau pembahasan yang baru yang dikembangkan oleh pemikir-pemikir di Indonesia.

Ada begitu banyak konsep sekularisme, liberalisme dan pluralisme oleh pemikir-pemikir Islam. Untuk sekularisme saja, seperti Amin Rais misalnya, membedakannya ke dalam dua jenis yaitu sekularisme sosiologis dan filosofis. Ia menolak sekularisme akan tetapi menerima liberalisme dan pluralisme. Berbeda dengan Amin Rais, Gus Dur justru mendukung penuh tiga konsep tersebut. “Pemetaan bagaimana “warna” konsep-konsep tersebut adalah yang coba saya lakukan” ungkap Budhy.

Pandangan Budhy tentang gagasan pembaruan mendapatkan kritikan dari pembicara kedua, Abdullah. Ketua DPD Hizbut Tahrir itu mengkritik konsep-konsep pembaruan pemikiran Islam seperti sekularisme, liberalisme dan pluralisme. “Islam Liberal gagal memasarkan idenya karena benturan yang sangat keras dengan berbagai kelompok Islam, bahkan di kelompok NU dan Muhammadiyah sekalipun” tegasnya.

Abdullah juga mengatakan kalau demokrasi sebagai sebuah sistem, banyak melahirkan kesenjangan baik di bidang ekonomi dan pergaulan bebas. “Lalu, apakah demokrasi dan sekularisme benar-benar ide yang tepat untuk Indonesia?” tanya Abdullah di akhir paparan.

Sementara pembicara terakhir, M. Solek, M.Ag dengan sangat argumentatif menguraikan pendapatnya tentang gagasan pembaruan Islam. Dengan merujuk pada dalil-dalil al-Qur’an dan referensi kitab klasik, Solek menekankan pentingnya gagasan pembaruan itu. “Saya justru mendukung penuh upaya pembaruan pemikiran Islam” ulasnya.

Pria kelahiran Cirebon dengan tegas mengatakan, sekularisme, liberalisme dan pluralisme merupakan sikap positif dalam kehidupan bernegara bagi umat beragama dan bukan sikap negatif bagi umat beragama.

“Sekularisme merupakan sikap yang baik untuk tidak terjadinya politisasi agama, liberalisme merupakan sikap yang tepat untuk menghindari otoriterisasi penafsiran agama dan pluralisme merupakan sikap yang bijak untuk menghindari pemvonisan agama” tutur Solek.

Namun demikian ia juga menambahkan, jangan sampai sekularisme melahirkan sikap anti agama, liberalisme melahirkan sikap tidak taat beragama dan pluralisme melahirkan sikap tidak meyakini agama.

Untuk itu dalam rangka mengembangkan sikap positif dan mengurangi bahkan menghilangkan sikap negatif maka yang diperlukan oleh umat Islam adalah membaca ulang al Qur’an. Solek menambahkan kalau pembacaan ulang harus dilakukan dengan interrelated skills yang dibutuhkan sehingga pesan-pesannya tidak dipahami sepotong-potong yang mengakibatkan salah paham. Kesalahpahaman terhadap pesan-pesan al Qur’an ini tidak saja dialami oleh orang-orang non Muslim tetapi juga oleh umat Islam. Bagaimana kita mau berdialog dengan umat agama lain kalau kita sendiri tidak memahami seutuhnya agama kita sendiri?

Solek menutup uraiannya dengan mengutip ungkapan Hassan Hanafi: Islam, however, is the only religion which admits all previous revelations such as Jewish and Christian Revelations. Judaism stops short before Christ, denying Christian and Islamic Revelations. Chistianity also stops short after Christ, denying Islamic Revelation. Even natural religion, not stemming from Abrahamic revelations, are also part of the Universal Religion, since there is no society without revelation. Therefore, only Islam is the carrier of the Universal Revelation. Through Islam, the recognition of the past permits a mutual cooperation in the present and sharing a common future.”

*Pengurus LPM Justicia Semarang

05/11/2010 | Diskusi | #

Komentar

Komentar Masuk (21)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Menurutku,
Orang yg gampang “memvonis” adalah orang-orang yg putus asa,
Orang yg tak punya jalan baik yg lain selain jalan menakutkan Allah,
Orang yg kepatuhannya diperoleh dari penakutan-penakutan itu.

Tapi, ya! Takut akan Allah adalah awal segala berkat.
Penakutan oleh vonis orang, apa itu awal pemberkatan?
Ah! Entahlah, bila orang itu harus bergantung kpd orang saja!

Salam Damai!

Posted by Maren Kitatau  on  11/22  at  12:11 AM

memahami hal-hal sepele yg terjadi di sekitar kita saja relatip sulit, gimana mau memahami ISLAM....Islam itu jika di ibaratkan air dia adalah semua air yg ada di semua samudera di atas muka bumi,jika hati dan pikiran anda hanya sebesar gelas atau tempurung kelapa,maka anda takan mampu menyerap lebih banyak air itu, air akan berbentuk seperti gelas jika hati dan pikiran anda seperti gelas,akan berbentuk seperti Teko jika hati dan pikiran anda juga begitu,demikian juga seterusnya...karena itu luaskanlah hati dan pikiran anda menjadi seluas samudera,agar mampu menyerap lebih banyak lagi pesan-pesan ilahi, pahamilah kenapa wahyu pertama yg diterima Nabi Muhammad SAW itu “IQRA” bukan wahyu yg lainnya, kenapa juga Al Qur’an diturunkan sampai 23 tahun,padahal sangat mudah bagi ALLAH untuk menurunkannya hanya dalam sekejap,dan kenapa pula gambaran visual Nabi Muhammad itu di larang oleh ISLAM.
menolak atau mendukung segala sesuatu (misalnya menolak/mendukung sekularisme,liberalisme,pluralisme) TANPA MEMAHAMInya terlebih dahulu sama saja dengan menolak AKAL yg merupakan pemberian ALLAH yg membuat manusia lebih dari mahluk ALLAH yg lainnya, ini berarti tidak “percaya” akan kisah tentang penciptaan manusia, tidak percaya berarti secara tidak langsung tidak mengimani ALLAH
karena itu “Bacalah” bagaimana kondisi umat ISLAM saat ini, ekonominya, moralnya, kemampuan intelektualnya dsb.
kenapa juga orang2 datang dan pergi ke masjid /pengajian/tablik akbar dll. seperti se enaknya di jalan raya,tanpa helm,tanpa kelengkapan surat2 ,apakah ALLAH akan murka jika umat Islam tertib ?
kenapa pula antar masjid saling bersaing,adu keras suara saat melaksanakan ibadah,adakah terjalin koordinasi antar masjid (saya rasa tidak)
kenapa pula negeri yg mayoritas muslim ini dan banyak bergelar haji ini ternyata juga penuh dengan koruptor,dan akan terus bertambah karena yg belum kebagian mendapat kesempatan terus menunggu,apakah mereka tidak haji,tidak ngerti agama,tidak tahu Al Qur’an ,tidak bisa membedakan baik buruk...?

“Bacalah” juga sejarah2 bangsa2 di dunia,dan sejarah Islam di masa lalu(karena Islam pernah menjadi pusat peradaban dunia), apa yg melatar belakangi hadis2 periwayatan dan lain sebagainya
“Bacalah” juga kondisi geopolitik saat ini, kenapa bangsa “Anu” lebih unggul dari bangsa lain. kenapa kota2 mereka bersih,jalan2 mereka teratur,kenapa mereka disiplin dsb.padahal mereka (sebagian besar) bukan muslim (walaupun ada juga yg negatip dari mereka)
jangan terlalu gampang memvonis orang lain,apalagi memakai ayat2 Al Qu’an dan hadis Nabi, kecuali jika anda merasa bahwa anda adalah wakil Tuhan di muka bumi
salam....

Posted by Murhan  on  11/16  at  09:30 PM

Karena tiap agama saat ini disodorkan oleh pemuka2 agamanya, Ego kebenaran. Merasa yg paling benar sendiri. Agama saya adalah agama yg sempurna… No Salvation outside the church.. dsb.. doktrin2 yg ditawarkan sedari kecil sampai saat ini..seperti itu.

Oleh karenanya, saya lebih memilih utk menjadi Agnostik. Tak memilih agama manapun. Cukuplah saya meyakini bahwa Agama merupakan salah satu jalan dari sekian banyak jalan menuju kebenaran Tuhan.
Dengan tetap menjaga diri dari dominasi2 lain selain Tuhan, menjaga diri hati dan pikiran dari kekotoran, memenangkan Nurani daripada Egoisme.

Salam Damai

Posted by k3lana  on  11/16  at  03:38 PM

to: marco
itu kan kata orang islam, kecap mesti nomor satu, makanya dipromot terus, kalo enggak gitu mana bisa laku, karena kompetitornya banyak, belum lagi yang imitasi

Posted by koyongene  on  11/15  at  11:07 PM

alatif wrote; “Muhaimin Abduh wrote;“Sebab Nabi sendiri mengatakan bahwa kaum yahudi dan nasrani yang tidak menganut Islam yang diajarkan oleh beliau adalah ahli neraka. (HR. Muslim dari Abu Hurairah).”

Hadits ini adalah PALSU...yang masuk neraka itu adalah orang2 yg memerangi nabi baik itu dari yahudi,nasrani atau musrik.

Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin [1], siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah [2], hari kemudian dan beramal saleh [3], mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak [pula] mereka bersedih hati. QS 2:(62),

Jelas orang yahudi,nasrani dan mukmin yg benar2 menjalankan perintah2 ALLAH dlm kitab2 masing2 adalah calon2 Syurga.

salam “

sudah jelas dalam wahyu al-qur’an bahwa agama yang paling benar di sisi ALLAH adalah islam.
mau mencari alasan apalagi?

Posted by marco  on  11/14  at  06:11 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq