Tingkat Kecemasan Hidup Menentukan Peringkat Keberagamaan - Komentar - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Wawancara
21/11/2005

Martin L. Sinaga: Tingkat Kecemasan Hidup Menentukan Peringkat Keberagamaan

Oleh Redaksi

Hasil survei Pippa Norris dan Ronald Inglehart tentang tingkat keberagamaan suatu masyarakat mungkin mengejutkan sebagaian orang. Tesis utama keduanya dalam buku The Sacred and the Secular menyatakanbahwa kecenderungan umat manusia untuk beragama sangat terkait dengan tingkat kecemasan hidupnya (existential security). Semakin tinggi kecemasan hidup, semakin beragama suatu masyarakat. Dan begitulah sebaliknya.

21/11/2005 23:29 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (3)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Orang di Jerman juga punya kekhawatiran: angka pengangguran yang tinggi, kriminalitas di kota-kota besar krisis politik yang baru kemarin diakhiri dengan kabinet yang terbentuk. Ibadah di gereja memang sedikit dikunjungi orang, tetapi bukan berarti mereka tidak beragama! Orang Jerman sering berkata: “Wir haben nur andere Frömmigkeit” (tejemahan dinamisnya: kami memang punya bentuk kesalehan yang lain). Di sisi lain adanya kelompok kristen fundamental makin bergerak di sini dengan dukungan beberapa kelompok dari USA, juga ketertarikan orang-orang terhadap agama-agama dari Timur.

Wassalam

#1. Dikirim oleh Christian Batubara  pada  23/11   03:11 AM

Assalamualaikum

Minggu ini JIL memasukan tulisan yang begitu menarik yang mengulas kemanusiaan ditinjau dari beberapa segi yang saling terkait, yaitu: 1. M. Guntur Romli: Saya Sudah di Surga, Ustad! 22/11/2005 2. Wiwit Rizka Fatkhurrahman: Azahari, Fundamentalisme, dan Terorisme. 22/11/2005 3. Martin L. Sinaga:Tingkat Kecemasan Hidup Menentukan Peringkat Keberagamaan. 22/11/2005

Dalam kesempatan ini saya mencoba memberi komentar ketiga tulisan itu seperti di bawah ini. Terkesan, selama ini, memang benar, umumnya para ulama dan tokoh-tokoh agama tidak bersikap tegas terhadap terorisme, buktinya di TV, kita melihat ada para demontrasi terkesan membela teroris, dan para anggauta mereka terus menyembunyikan Noordin M Top, yang jelas-jelas kerjaan dia mengganggu perekonomian kita, entah ada apa di kepala mereka itu. Mengapa mereka beranggapan semua kejadian ini merupakan rekayasa Amerika.(?), kenapa dengan mudah menyalahkan Amerika, apakah ini benar. Seharusnya kita introspeksi, --- bukankah itu telah ”terbukti” merupakan hasil indoktrinasi para oknum ulama, walaupun itu dengan/ tanpa kita sadari, dan ini terbukti dengan mendengar komentar baru Gus Muh, seorang kiai yang hadir dalam pertemuan itu bersama JK:  “Bom bunuh diri haram hukumnya! ”. Kenapa tidak dari dulu (?) seharusnya semua mengatakan bahwa bom bunuh diri itu bukan bentuk jihad yang benar (di Indonesia). Penyebab dan motif berteroris memang beragam; dari alasan politik, ekonomi, sosial-budaya, hingga frustasi. Bagaimana masyarakat kita tidak frustasi, dan tetap tidak menyadari penyebabnya, bahwa kejadian semua ini karena kesalahan sendiri, mereka pada umumnya banyak anak dan orang tidak mampu, yang masih beranggapan anak-anak itu merupakan titipan Tuhan dan membawa rejeki (?), padahal hanya menutupi ketidakmampuan menyekolahkan, memberi makan. Anehnya, para ulama tetap selalu mendengungkan untuk tidak berkeluarga berencana, malahan kalau perlu punya istri banyak. Mungkin ini semua sangat ”diperlukan” agar masyarakat (Islam) merasa cemas dan tetap memeluk agama. The Sacred and the Secular menyatakan bahwa kecenderungan umat manusia untuk beragama sangat terkait dengan tingkat kecemasan hidupnya (existential security). Semakin tinggi kecemasan hidup, semakin beragama suatu masyarakat, dan begitu pulalah sebaliknya. Sehingga jika mau jujur, doktrin agama yang didengungkan itu sudah dimanipulasi, betul-betul menjadi pendorong terkuat (memang sih banyak sejarah perkembangan Islam banyak dimanipulasi, disesuaikan untuk mempertahankan kedudukan, politik, dan uang, seperti menurut Dr. Taha Hussein, seorang profesor dari Mesir, pendapatnya dikutip dalam buku Mizan al Islam karya Anwar Jundi, halaman 170 : “Dalam kasus cerita Abraham dan Ismail membangun Kabah cukup jelas, cerita ini MUNCUL BELAKANGAN disaat Islam mulai berkembang. Islam mengeploitasi kisah ini untuk kepentingan agama” ).  Yang mengherankan tesis tersebut di atas tidak mengenai Ahli kimia yang menyabet gelar doktor di University Of Reading, Inggris itu, lahir di Malaka, 14 september 1957, yang sejak kecil hingga dewasa, ia dikenal sebagai sosok yang cerdas. Di jalur akademis, dosen pembimbingnya tak ragu untuk memberinya rekomendasi guna menempuh program doktoral. Tahun 1990, Azahari meraih gelar Philosophiae Doctor (Ph.D) dalam soal kajian model statistik dengan predikat cum laude. Dengan demikian kecemasan yang dirasakan Azahari adalah cemas nanti agama tidak akan laku dan tidak akan punya alasan rasional lagi untuk diikuti, dan hanya orang-orang bodoh saja yang akan tetap beragama (dia ingin menyangkal bahwa ungkapan Nietzsche bahwa God is dead dan kitalah yang telah mebunuhnya adalah tidak benar). Titik balik hidup Azahari baru bermula tahun 1991. Dia bergabung dalam sebuah kelompok pengajian (usroh) di Skudai. Yang mengherankan, sejak saat itu, jejak langkahnya seolah berbelok haluan. Tanpa banyak diketahui teman maupun dosennya, Azahari aktif di pesantren Lukmanul Hakim, yang belakangan diketahui sebagai tempat Amrozi dan Ali Ghufron alias Muchlas (dua terpidana mati kasus peledakan bom di Bali I) pernah mengaji, dan dapat dibayangkan demikian hebatnya ulama (yang sekarang masih dipenjara itu) memberikan indoktrinasi nya (sebenarnya masih banyak kita dengar di mesjid saat jumatan, apalagi saat pengajian). Mengapa kita tidak mau sadar, dan membantu pemerintahan SBY- Kalla membantu menuju kemakmuran bangsa, berilah kesempatan pemerintahannya sehingga secara ”pasti” kita akan secara bertahap menjadi sejahtera, sehingga mereka yang mengharapkan: semakin religius masyarakat itu dengan cara salah dengan meningkatkan kecemasan dan ketidakpastian, dapat kita hindari. Dengan demikian, walaupun Indonesia banyak orang terlepas dari kemiskinan, agama akan tetap tumbuh subur, yang seharusnya untuk membawa mereka yang korupsi, KKN, tukang balak hutan, menjadi sadar/ dihukum. Memang saat ini tingkat kecemasan hidup masyarakat miskin kita begitu tinggi, dan karena itu para ulama masih membutuhkan agama untuk membalut luka-luka dan ketidakpastian hidup mereka yang miskin, alangkah baiknya jika ulama membimbing dengan benar (tentunya atas dasar fakta sejarah, seperti Masjidil Aqsa belum pernah ada, baru kemudian Masjidil Aqsa itu mulai dibangun oleh Kalifah Umayah pada tahun 691 Masehi. Dan diselesaikan pembangunannya oleh Kalifah Walid pada tahun 715 Masehi. Jadi Masjidil Aqsa mulai dibangun setelah 59 th wafatnya Nabi ), bukan menjadikan mereka teroris. Jangan cemas/ takut, kita menjadi seperti negara-negara maju (Eropa dll), di mana kepastian hidup bisa diprediksi, relevansi agama dalam kehidupan kemungkinan akan menurun dan cenderung tidak akan lagi mereka bicarakan, kita yakin masih banyak masyarakat kita yang mengharapkan agama demi ketenangan batin. Janganlah kita benci pada Amerika karena ternyata masyarakatnya terlihat masih memerlukan para pekerja agama dan rohani seperti para pendeta/ ulama (membantu kita saat terjadi stunami aceh), walaupun hidupnya sangat tergantung pada dompet jemaat, inipun sebenarnya tengah terjadi di kehidupan kita, para da’i / ulama selalu mengharapkan jakat, dsb dengan iming-iming surga, makin besar uang nya makin makmurlah para da’i/ ulama. Di Indonesia para ulama hidup tidak dari pajak yang diurus negara, yang membuat jalur sendiri sehingga mereka jelas tidak bisa tidur karena sudah pasti tidak akan mendapat gaji kalau tidak gembar-gembor mengharuskan masyarakat untuk berjakat. Kenapa kita tidak mencontoh kehidupan di Amerika, mereka selalu bekerja keras untuk mendapatkan uang, sehingga para ulama/ pendeta membuat ajaran agama begitu menarik tanpa harus menjadi teroris sehingga mampu mengumpulkan dana halal sebagai gaji, tentunya, tidak seperti kita (?) Wallahu a’lam!

#2. Dikirim oleh H. Bebey  pada  23/11   05:11 PM

Kalau semua orang Indonesia berpikiran seperti anda-anda semua ini termasuk H.Bebey dengan adanya tukar pendapat antara JIL dan penganut agama lain,saya yakin kalau Tuhan mengijikan; inilah umat yang didambakan oleh Nabi untuk menuju kemakmuran, keamanan, kenyamanan suatu negara. Respek! Teruskanlah silaturahmi kalian. JIL....DANKE BANGET atas tulisan dan wawancaranya ini sudah merupakan suatu siraman dan kenikmatan yang saya baca.

Und nochmal danke dehhhh....!
-----

#3. Dikirim oleh helmut zakaria  pada  24/11   12:11 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq